PEMANUSIAAN MANUSIA DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN ISLAM

Bidang Psikologi Islam | Comments Off

oleh: Abdul Mujib (Dosen FAI dan Fakultas Psikologi UAI)

Konon, di sebuah pulau kecil sebelah Negara India, terdapat sekawanan hewan yang mendirikan sekolah. Peserta didiknya terdiri dari ikan, tupai dan burung, sedang kurikulumnya terkonsentrasi pada renang, loncat dan terbang. Sang guru mencoba menerapkan ketiga isi kurikulum itu pada semua peserta didiknya. Ikan yang biasa berenang dilatih meloncat dan berterbang, tupai yang biasa meloncat dilatih berenang dan berterbang, dan burung yang biasa berterbang dilatih berenang dan meloncat. Tujuan penerapan semua isi kurikulum pada semua peserta didik tersebut adalah agar mereka tercipta sebagai kader yang sempurna dan serba bisa, sekalipun mereka memiliki keunikan masing-masing.

Akhir dari proses belajar-mengajar tersebut diperoleh hasil bahwa masing-masing peserta didik hanya dapat mengembangkan kemampuan puncaknya ketika proses belajar-mengajar difokuskan pada pengembangan potensi bawaan, dan sulit mengembangkan kompetensi tertentu di luar potensi bawaan. Potensi bawaan ikan adalah berenang, tupai melopat dan burung beterbang, dan akan sulit jika potensi itu dikebangkan pada kurikulum yang tidak sesuai dengan kodrat aslinya. Burung akan sulit terbang jika sayapnya basah. Atas dasar fabel ini, rekomendasi yang diajukan adalah Didiklah peserta didik sesuai dengan potensi bawaan, jangan berusaha mengubah kodratnya, karena hal itu akan menjadikan kesia-siaan.

Fabel di atas lazim dikemukakan oleh psikolog atau teoritikus pendidikan yang menekankan arti pentingnya potensi bawaan pada peserta didik. Mereka kurang berminat mengembangkan teori pendidikan dengan model-model pengkondisian dari lingkungan, sebab apapun usaha manusia yang menyalahi kodrat bawaan akan mengalami kegagalan. Apa yang mereka katakan tidak salah sepenuhnya, sebab memang bawaan menjadi bagian dari faktor pengembangan kepribadian anak. Namun sayangnya, subjek fabel tersebut pada sekawanan hewan yang berusaha meningkatkan potensi dirinya dalam suatu sekolah, tetapi rekomendasinya dialamatkan kepada manusia. Mungkinkan hewan yang potensi bawaannya tidak dinamik disamakan dengan manusia yang potensinya dinamik. Apakah layak teori-teori yang bersumber dari eksperimen terhadap hewan digunakan untuk manusia?

Manusia, khususnya yang tergambar dalam literatur keislaman, benar-benar unik. Sekalipun ia memiliki potensi bawaan, tetapi ia berpeluang untuk berkembang bahkan berubah dari citra aslinya. Manusia memiliki kebebasan memilih dan menentukan nasibnya sendiri. Hal itu menantang para teoritikus untuk menelaah kembali apa dan bagaimana sesungguhnya manusia, agar dalam proses belajar-mengajar tidak mengalami kesalahan dan kegagalan. Mereka seharusnya menentukan pendidikan anak bersumber pada psikologi manusia, bukan berdasarkan psikologi binatang. Anak yang jahat sekalipun tidak boleh diperlakukan seperti binatang, dicambuk, dipukul, dan tindak buillying yang lain, apalagi anak-anak yang baik. Anak ya anak, ya manusia, ya amanah Allah SWT yang perlu dididik secara manusiawi. (Dikutip dari Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2006).