PEMBANGUNAN INDONESIA MENGINGKARI HUKUM BESI SEJARAH DAN OLEH KARENA ITU GAGAL DAN AKAN TERUS GAGAL SELAMA TIDAK ADA PERUBAHAN TRANSFORMATIF
oleh: Prof. Sayuti Hasibuan, Ph.D.
Indonesia telah mengalami kemerdekaan politik lebih dari 64 tahun. Tetapi keadaan sosial-ekonomi rakyatnya masih amat jauh dari apa yang dicita-citakan sesuai dengan idiologi yang dianutnya yaitu Pancasila. Yang baik-baik dalam prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa belum dilaksanakan secara konsisten oleh para pimpinan bangsa dan banyak orang lainnya dalam rangka mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab. Ini terlihat antara lain dari luasnya tindakan tidak terpuji berupa korupsi. Perekonomiannya ditandai oleh lebarnya jurang antara yang kaya dan yang miskin. Pengangguran dan kemiskinan tidak kunjung dapat diatasi secara tuntas. Lingkungan hidupnya mengalami kerusakan yang cukup besar termasuk rusaknya hutan sebagai paru-paru dunia dan banjir yang terus melanda secara rutin. Birokrasi pemerintahannya lamban dalam melayani kepentingan rakyat. Dunia bisnisnya cenderung tertinggal dalam bersaing dengan bisnis negara-negara tetangga seperti Cina dan India dan Malaysia. Menurut ukuran dunia pembangunan sdm Indonesia berada pada posisi 111 dari 177 negara, suatu posisi yang amat jauh dari jumlah pemduduk nya yang no. 4 besar di dunia. Di bidang sosial, gejala “permissiveness “ dalam berbagai bentuk seperti kecanduan narkoba, pornografi,d.l.l. juga amat sulit dikontrol. Dan banyak tantangan lain yang dihadapi dalam suasana semakin terintegrasinya Indonesia dengan dunia luar dan semakin bertambahnya jumlah penduduk.
Kenapa ini semua terjadi dan terus terjadi? Masalahnya terletak pada sistem pembangunan sosial-ekonomi yang dianut Indonesia. Idiologi Pancasila mengharuskan sistem pembangunan sosial-ekonomi berbasiskan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa dan kemanusiaan yang adil dan beradab dalam upaya meninkatkan kesejahteraan dan kecerdasan rakyat . Tetapi nyatanya Indonesia menganut sistem pembangunan berbasis kapitalisme dalam bentuk sistem ekonomi campuran. Kapitalisme berisikan nilai-nilai yang berlawanan dengan nilai-nilai Pancasila. Faham-faham pokok kapitalisme diletakkan Adam Smith dalam bukunya The Wealth of Nations yang ditulis pada tahun 1776. Buku ini mengulas bagaimana menciptakan kekayan bangsa-bangsa . Untuk itu Adam Smith membangun teorinya atas dasar empat prinsip pokok yang kesemuanya berlawanan dengan faham Pancasila. Keempat faham pokok tersebut adalah sebagai berikut.
Pertama adalah individualisme. Ini artinya mengutamakan kegiatan dan kepentigan diri sendiri tanpa menghiraukan kepentingan orang lain. Adam Smith percaya kalau masing-masing individu beraktivitas ekonomi dengan bebas maka ada tangan yang tidak kelihatan yang akan mengarahkan terwujudnya kepentingan masyarakat yang optimal. Kepentingan masyarakat adalah pertambahan kepentingan masing-masing orang. Kesejahteraan umum yang terlepas dari kesejahteraan individu secara dasar tidak ada.
Kedua adalah kebebasan penuh. Dengan kebebasan penuh bagi para individu dalam berekonomi maka pastilah tercipta kemakmuran masyarakat dan kemelaratan dan keterbelakangan akan dihindarkan. Ini adalah antitesis dari musyawarah untuk memajukan kepentingan umum.
Ketiga adalah prinsip materialisme yang diwakili oleh uang. Apa yang dituju oleh masing-masing individu? Yang dituju adalah uang. Menjadi kaya adalah memiliki uang yang sebanyak-banyaknya. Tuhan tidak ada dan tidak perlu ada secara publik. Ada dinding tebal memisahkan urusan agama dengan urusan publik.
Keempat adalah prinsip ilmu pengetahuan yang bersifat positivistik. Ilmu bersifat empiris semata, diperoleh manusia melalui pengamatan inderawi semata. Wahyu tidak ada.
Keempat prinsip inilah yang membentuk faham kapitalisme. Dalam dunia modern prinsip-prinsip ini dilaksanakan secara kelembagaan dalam bentuk ekonomi campuran. Ada berbagai varian kebebasan pasar, tidak lagi bebas murni seperti dalam zaman klasik. Tetapi empat prinsip pokok tetap konsisten dipegang. Negara-negara maju menjadi maju dengan menggunakan kapitalisme dalam bentuk ekonomi campuran. Mereka maju karena itulah ide mereka yang dibangun selama ratusan bahkan sebelum Adam Smith menulis bukunya. Prinsip-prinsip ini sudah mendarah daging secara kelembagaan dan cocok untuk mereka.
Bukannya Indonesia tidak berupaya keras melaksanakan Pancasila. Bung Karno mengembangkan ekonomi terpimpin, ekonomi komando karena dianggap kepemilikan kekayaan oleh swasta adalah biang kerok kapitalisme yang harus dienyahkan. Makanya Bung Karno mengembangkan sosialisme ala Indonesia. Perusahan-perusahaan asing dinasionalisasi. Tetapi apa lacur? Korupsi pindah ke perusahaan-perusahan negara. Pengeluaran negara jauh melebihi uang masuk sehingga terjadi inflasi besar-besaran. Produksi macet dan rakyat kurang makan; harus antre untuk memperoleh kebutuhan pokok. Bung Karno dijatuhkan dengan cara yang kurang terhormat.
Pemeritahan diambil alih oleh Pak Harto. Tekad dibulatkan untuk mengamalkan Pancasila secara paripurna dalam semua segi kehidupan berbangsa dan bernegara melalui Ketetapan MPRS No XX/1966 agar amanat penderitaan rakyat dapat diberikan. Sayangnya alat yang dipakai dalam menyusun berbagai rencana pembangunan selama orde baru tetap berbasiskan empat prinsip pokok kapitalisme. Pembangunan berbasis Pancasila gagal lagi.
Syukur Alhamdulillah, dizaman reformasi ilmu semakin terakumulasi dan tekad semakin membulat ekonomi syariah adalah ilmu yang perlu digunakan menerjemahakan Pancasila kedalam praktek kehidupan sosial-ekonomi bangsa. Ilmu ekonomi syariah itulah yang kiranya dapat memenuhi persyaratan hukum besi sejarah, hukum konsistensi pembangunan bangsa-bangsa. Dalam kaitan itulah kita bersama bertemu disini untuk menulis buku teks Dasar-dasar Ekonomi Islam—Pendekatan Pelaksanaan.
Mari bersama kita ciptakan Indonesia yang kokoh bersatu atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa dan kemanusiaan yang adil dan beradab. Mari kita ciptakan musyawarah berbasis ilmu dan bukan uang. Mari kita ciptakan keadilanuntuk seluruh rakyat Indonesia. Sebuah keluarga Indonesia yang miskin berarti seluruh keluarga Indonesia miskin. Para ulama, para profesor dan doktor serta semua intelektual, mari kita angkat posisi Indonesia ketingkat paling tidak nomor 4 di dunia. Mari kita angkat posisi kemanusiaan saudara-saudara kita yang tertinggal di dunia ketempat lebih tinggi. Mari kita tunaikan amanah kemanusiaan ilahiyah, amanah yang ditolak oleh gunung, laut dan langit.
Hanya Allah mengetahui yang terbaik.
Fakultas Ekonomi Universitas Al Azhar Indonesia, Kompleks Mesjid Agung Al Azhar
Sayuti Hasibuan, Dekan.
