Kuliah Umum Sastra Jepang “Recovery from The Great East Japan Earthquake”

12 June 2012
1463 Views
Comments are off for this post

Pusat studi Jepang Universitas Al Azhar Indonesia mengadakan kembali kuliah umum yang bertema Recovery from The Great East Japan Earthquake. Kuliah ini disampaikan oleh bapak Tadashi Ogawa selaku direktur jendral The Japan Foundation, Jakarta. Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al quraan oleh mahasiswa sastra Jepang, lalu sambutan yang disampaikan oleh dekan Fakultas Sastra UAI bapak Murni Djamal.

Sebelum bapak Tadashi Ogawa menyampaikan kuliah yang menarik ini, beliau melayangkan  pertanyaan, bagaimana kebudayaan berjuang dalam mengatasi bancana alam? Sebelum dijelaskan, mahasiswa UAI dipersilahkan untuk melihat video yang berisi tentang Light Up Nippon yang digagas dan didirikan oleh pemuda Jepang Yoshitake Takada. Light Up Nippon adalah proyek peluncuran kembang api di wilayah Tohoku daerah yang terkena bencana yang diadakan pada 11 agustus 2011.

Masyarakat Jepang mempercayai kembang api dapat menangkal nasib buruk dan dapat mengantarkan arwah leluhur menuju surga. Pementasan kembang api ini diadakan guna memperlihatkan ketegaran dan semangat Jepang dalam mengatasi tiga bencana sekaligus. Betapa berpengaruhnya budaya kembang api ini guna menyembuhkan luka korban yang ditinggal oleh orang yang mereka kasihi.

Selain menjelaskan tentang budaya yang disebut Hanabi (hana= kembang, bi= api) ini, bapak Tadashi Ogawa juga menjelaskan teknologi transpotasi Jepang yaitu Shinkansen ketika menghadapi bencana. Pada Shinkansen terdapat sistem peringatan gempa yakni berupa sensor. Ketika gempa terjadi, sensor ini dapat mendeteksi secara mendalam, lalu sensor ini mengirimkan sinyal ke computer system, computer system ini secara otomatis akan memberhentikan Shinkansen secara perlahan. Alhasil, kecelakaan jarang sekali terjadi di wilayah yang memang sering terjadi gempa. SugoiiJ

Bapak Tadashi Ogawa juga menyampaikan bahwa Jepang banyak sekali menerima bantuan, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, termasuk Indonesia. Semua kalangan turut membantu baik secara psikologis, tenaga, dan materi. Masyarakat minoritas Jepang yang beragama Islam bekerjasama dengan komunitas Islam dari luar negeri, termasuk Indonesia untuk membantu masyarakat Jepang. Bantuan mereka salah satunya adalah memberikan motivasi dan keceriaan kepada mereka dengan bermain angklung bersama, bernyanyi bersama, dan melupakan kejadian yang dapat membuat mereka merasa tersisihkan, depresi, dan putus asa.

Setelah kuliah disampaikan, sesitanya-jawab pun dipersilahkan kepada mahasiswa dan dosen. Terakhir, kuliah disampaikan secara singkat oleh dosen sastra Jepang UAI yang tahun lalu juga merasakan bencana di Jepang. Beliau merasakan ikatan (kizuna) yang begitu kuat antara masyarakat dalam membangun kembali negara Jepang setelah keterpurukan. Beliau juga merasakan optimism Jepang. Masyarakat meyakini setelah bencana ini berlalu, negara Jepang pasti akan menemukan yang lebih baik. (Hafiza Rahmi, Sastra Jepang 2010)