CERMAT BIDIK PASAR, BISNIS FASHION BERKIBAR

5 March 2013
7123 Views
Comments are off for this post

Selain menunjang penampilan, pakaian merupakan pelindung tubuh. Jumlah manusia yang terus bertambah pun mendongkrak kebutuhan pakaian. Peluang usaha ini
masih lebar, potensinya besar asal cermat mengincar pasar.
Sandang, pangan dan papan. Itulah kebutuhan pokok kita sebagai manusia. Sadar atau tidak, kebutuhan akan pakaian, membuat manusia tak pernah alpa membelanjakan sebagian uangnya untuk membeli kain penutup tubuh ini. Minimal setahun sekali, dalam hitungan bulan, minggu, atau sampai hitungan hari, kita pasti akan belanja pakaian, baik untuk menambah koleksi pakaian, ataupun untuk mengganti model lama dengan yang baru.
Besarnya keterikatan manusia terhadap pakaian, membuka peluang yang besar pula untuk memulai usaha di bidang ini. Bisnis ini boleh dibilang murah meriah. Dengan modal mungil, potensi margin lebih dari 20%. Anda pun bisa mengawali dari usaha reseller kecil-kecilan, konveksi hingga garmen dengan skala produksi lebih besar.
Apalagi di Indonesia, dengan tingkat keragaman masyarakat yang tinggi, jenis produk pakaian yang dijajakan sangat luas dan terus berkembang. Karena itu, untuk memulai usaha ini, ada baiknya, Anda fokus ke segmen pasar tertentu. Segmen pasar bisa dibedakan berdasarkan usia, jenis kelamin dan gaya hidup.
Kunci fokus dalam menggarap satu segmen pasar menjadi keberhasilan beberapa pengusaha pakaian. Tengok saja, brand Gaudi yang dikembangkan oleh Nathalia Napitupulu dan Janet Dana. Mereka sukses membangun Gaudi hingga memiliki 26 gerai, lantaran fokus menggarap pasar remaja hingga pekerja muda. Dua sahabat ini pun bisa meraup omzet hingga miliaran rupiah dari penjualan produk fashion-nya.
Dengan menyajikan model-model yang up to date plus fitting yang enak, Gaudi mendapat respons pasar yang cukup baik. Label harga yang terjangkau pun menjadi nilai lebih untuk memikat konsumen.
Tak hanya Gaudi, Romantic Cotton juga mengantongi sukses di bisnis fashion berkat fokus ke segmen tertentu. Monica Subiakto, pemilik Romantic Cotton, memilih pasar menengah ke atas, dengan alasan lebih menguntungkan.
Meski hanya memasarkan produknya melalui pameran, koleksi Romantic Cotton selalu ditunggu dan diburu para pelanggannya. Kini, Monica bisa membukukan omzet hingga ratusan juta setiap bulan.
CMT dan konveksi
Apakah Anda tertarik menggeluti usaha ini? Jika ingin modal ringan dan risiko tak terlalu besar, Anda bisa memulai usaha dengan menjadi reseller. Cukup dengan modal Rp 500.000, Anda sudah bisa menjadi agen dari produsen busana dengan sistem beli dan jual kembali.
Jika Anda sudah mengenal pasar dengan baik, tidak ada salahnya memiliki label dan membuat produk fashion sendiri. Namun, untuk menjadi produsen, ada beberapa poin yang harus diperhatikan.
Pertama, Anda harus paham benar soal pasokan bahan baku, baik kain dan aksesori pelengkapnya. Tentu saja, Anda harus mengetahui tempat berburu bahan baku yang berkualitas dengan harga miring.
Kedua, Anda harus memutuskan proses produksi ini, dengan menjahit sendiri atau menyerahkan proses produksi ke pihak luar. Jika ingin menjahit sendiri, Anda harus menganggarkan modal lebih besar untuk membuat konveksi.
Anda juga bisa mengadopsi sistem maklun atau cut, make, & trim (CMT), yakni menyerahkan pakaian contoh ke perusahaan konveksi. Tentu saja, jika memilih cara kedua, Anda harus mencari konvektor yang mampu menggarap pakaian sesuai dengan spesifikasi Anda.
Monica menerapkan strategi maklun ini dalam menjalankan usahanya. Ia memasok bahan baku dan sampel pakaian yang akan dibuat. “Perusahaan konveksi itu sekaligus akan membuat turunan pakaian dalam beberapa ukuran,” jelas dia.
Kamalkrishnan, Marketing Manager PT Laxmirani Mitra Garmindo, menuturkan bahwa modal minimum yang harus dipersiapkan untuk usaha garmen adalah Rp 10 juta. Modal itu sudah bisa digunakan untuk membeli 100 kg kain kualitas standar yang dapat menghasilkan 500 potong kaos V-neck.
Sementara itu, Anda juga bisa menjahit sendiri atau membuat perusahaan konveksi kecil-kecilan. Hengky Eko S, seorang konsultan usaha, menyebutkan usaha konveksi bisa diawali dengan modal terkecil Rp 10 juta. Dengan modal sebesar itu, Anda bisa membeli dua buah mesin jahit, mempekerjakan dua penjahit, biaya untuk pembelian kain, benang, dan peralatan penunjang seperti gunting dan jarum jahit.
Namun, jika mempunyai konveksi sendiri, Anda juga harus pintar-pintar membagi waktu. Maklum, seperti bisnis lainnya, di usaha konveksi, selain produksi Anda juga harus memikirkan promosi, strategi pemasaran, hingga mengurus stok.
Belum lagi, pakaian merupakan jenis produk yang sangat dipengaruhi oleh tren. Maka, Anda juga harus jeli melihat tren-tren terbaru yang disukai pasar. Selain desain, ada juga tren warna dan jenis bahan yang dipakai.
Maka, jika usaha garmen Anda sudah berskala besar, tak ada salahnya untuk memperhatikan poin ketiga, yakni sistem manajerial yang lebih matang. Misalnya, Anda harus mempersiapkan pengelola di bagian direksi, promosi dan pemasaran, produksi, serta administrasi dan pencatatan keuangan.
Setiap bagian harus dipisahkan dengan pembagian tugas masing-masing. Hal ini untuk menghindari tumpang tindih wewenang yang bisa berujung pada sulitnya pengawasan dan transparansi, terutama dalam arus kas.
Namun, bila jumlah karyawan Anda terbatas, sebagai pemilik, Anda dapat sekaligus menjadi direktur, pemasaran, administrasi dan pencatat keuangan. Walau akan lebih repot, namun hal ini baik untuk mengetahui secara menyeluruh seluk-beluk usaha Anda dengan berbagai kesulitan di setiap bagiannya.
Keempat, ketahui dan kenali potensi diri Anda. Anda harus melihat keahlian apa yang sudah dimiliki sekarang dan yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha garmen ini. Jangan ragu untuk bertanya dengan rekan yang lebih berpengalaman atau mengikuti berbagai seminar dan pelatihan.
Nah, terakhir, sebagai pengusaha, bulatkan tekad untuk maju dan teruslah belajar, baik soal manajemen waktu, desain hingga teknologi yang terus berkembang. Jadi, siapakah Anda memulai usaha ini?