Islam dalam Dinamika Pemikiran, antara Konstruktif dan Destruktif

20 March 2013
1237 Views
Comments are off for this post

Oleh: Dr. Fokky Fuad, SH, M.Hum

Dosen Fakultas Hukum Universitas Al Azhar Indonesia

 

 

Pendahuluan

Screen-shot-2011-12-19-at-9.17.44-AM-160x160Islam merupakan jalan lurus, semua sepakat tentang hal itu. Jika dikaji lebih jauh tanpanya pemahaman atas Islam sebagai jalan lurus memiliki makna ganda. Pada satu sisi jalan lurus dikaitkan dengan penolakan atas segala hal yang berada diluar Islam. Makna di luar Islam acapkali dikaitkan dengan tradisi-tradisi bahkan ritual di luar Islam. Dalam hal ini muncullah gerakan-gerakan keislaman yang hendak memurnikan Islam, bahkan membersihkan Islam dari noda budaya yang dianggap sebagai hal yang mengotori kesucian Islam. Dalam makna yang berbeda jalan lurus juga bermakna memberikan ruang bagi siapapun dan apapun untuk berada dalam jalan Islam. Dalam pemaknaan yang kedua ini, semua hal termasuk tradisi, dapat diterima dalam bingkai Islam. Dalam hal ini Islam dianggap sebagai rahmatan lil alamin. Islam mewarnai kehidupan dunia. Dua hal yang berbeda dan bertolak belakang bahkan saling berhadapan diantara keduanya.

Berdasarkan pemaknaan yang berbeda, maka kemudian muncul teologi yang berbeda pula: teologi kehidupan dan teologi kematian. Tulisan ini hendak melihat bagaimanakah muncul sebuah pemikiran teologi kematian yang tentunya jauh dari alam berfikir masyarakat Indonesia. Sejak masa lampau Islam masuk ke Nusantara melalui jalan-jalan damai, Islam memberikan warna bagi nilai-nilai religius juga seni budaya di Nusantara. Tetapi saat ini kemudian bermunculan pemikiran yang destruktif, menolak perbedaan diantara manusia, saling mengkafirkan, pendirian sebuah Negara Islam Indonesia (NII) hingga bom bunuh diri. Tak ada lagi ruang untuk kemerdekaan berfikir yang pernah menjadi kunci kemajuan peradaban Islam di masa lalu. Dalam tulisan ini saya tidak menggunakan istilah pemikiran atau faham radikal, tetapi lebih memilih untuk menggunakan kata pemikiran destruktif. Alasan saya adalah pemikiran radikal berupaya untuk mencari kebenaran secara mendasar, dan hal ini sah saja, akan tetapi jika pemikiran itu menjadi sebuah pemikiran yang destruktif, maka pemikiran tersebut sudah mampu menimbulkan potensi ancaman bagi peradaban manusia.

Download Untuk Selengkapnya Islam dan Pemikiran