T.M.E = Teknisi, Manajer, Entrepreneur

4 April 2013
1165 Views
Comments are off for this post

Intisari materi ini diambil dari buku E-Myth, karangan Michael Gerber. Materi dimodivikasi dengan
gaya bahasa yang lebih mudah dan sederhana, serta contoh-contoh ala juragan.

Michael Gerber melakukan survei dari 1 juta UKM di US. Berikut datanya…

  • 40% Bisnis jatuh (tutup) di tahun ke 2;
  • 80% jatuh di tahun ke 5;
  • 96% jatuh di tahun ke 10;
  • Hanya 4% yang mampu bertahan, Kenapa?

Sebelum menjawab, mari kita kenali 3 elemen bisnis dalam diri kita: TEKNISI, MANAJER,ENTREPRENEUR.

  1. TEKNISI (T), “hidup di masa SEKARANG”, seperti koki di RM, montir di bengkel, banci di salon. Tanpa T, bisnis tak jalan!
  2. MANAJER (M), “hidup di masa LALU”, menganalisa data-data atau laporan, guna melakukan efisiensi dan menyelesaikan masalah.
  3. ENTREPRENEUR (E), “hidup di masa DEPAN”, melihat dan mencari peluang, merencanakan, berkreasi, inovasi, pemimpi!

Ketiga elemen itu ada dalam diri kita sebagai seorang pebisnis, hanya saja prosentasinya berbeda beda.
Awal berbisnis, mungkin komposisinya T=70%, M=20%, E=10%. Bacalah kisah berikut ini…

Joko adalah seorang montir. Karena keahliannya memperbaiki motor, Joko membuka bengkel motor
JOKO MOTOR. Apa yang terjadi jika Joko tetap mempertahankan komposisi itu? Apalagi NAMA Joko
adalah MEREK dari bengkel tersebut.

Awalnya mungkin Joko bangga karena pelanggan sangat (dan hanya) percaya pada Joko. Jika Joko
sakit, pelanggan memilih menunggu. Awalnya mungkin Joko enjoy-enjoy saja, namun setelah 1-2
tahun, mulai kejenuhan itu datang. Bengkel itu adalah Joko! Joko sakit, bengkel sakit. Tak selesai
disitu, karena terlalu bangga dengan kemampuan teknis, Joko jadi lupa tentang ‘servis’. Tempat tak
nyaman, layanan buruk.

Mulailah tetangga samping membuka bengkel serupa. Montirnya mungkin tak sehebat Joko, namun
saat Joko sakit, saatnya mereka menyusup. Ternyata not bad juga tuh, apalagi servisnya lebih bagus,
ruangan aircon, teh atau kopi gratis. Mulailah pelanggan berpaling.

Joko merasa kebakaran jenggot, “Kurang ajar bengkel sebelah, nyerobot pelangganku!”. Kafilah
tetap berlalu… Sementara Joko masih pede (campur sombong) menepuk dada, “Gak ada montir
sebagus gue nih…”. Insyaf bro…! Tak berapa lama, bengkel tetangga membuka cabang di tempat
lain, lebih besar, lebih nyaman, lebih komplit alat-alatnya! Branding adalah keterlihatan, makin
banyak cabang, makin terlihat. Sementara bengkel Joko hanya 1, tetap kumuh dan arogan. Bengkel
Joko tanya ke orang ‘pinter’, katanya ditutupi ‘makhluk halus’. Ehh… percaya juga! Kemenyan dan
sesajipun tetap tidak mempan.

1 tahun 9 bulan 10 hari, TUTUP deh! Dasar nasib Teknisi…

Itulah balada Teknisi yang selalu menepuk dada, tak mau mentransformasi dirinya. Harusnya
bagaimana?

Jika Anda mau terhindar dari tragedi teknisi, Anda harus mentransformasi diri Anda dari T ke M dan
kemudian ke E!

Tidak ada patokan akurat berapa lama harus bertahan di posisi T sebelum pindah ke posisi M dan E.
Tergantung titik awal masing-masing orang. Untuk pemula, usahakan sebelum 2 tahun sudah mulai
mengurangi porsi di T dan mulai beralih ke M. Buatlah sistem!

Faktor penghambat seseorang pindah dari T ke M atau E adalah EGO, karena merasa tidak ada
sepandai dirinya. “Tak ada yang bisa membuat masakan seperti punyaku”. Come on sis, pesawat
terbang saja sudah bisa dibuat, apalagi sekedar pindang!

Jika dulu Anda berucap, “Kalo gak ada AKU, gak jalan”…

Saatnya berucap,”Kalau gak ada KAMU, gak jalan” –> sambil menepuk bahu Teknisi kita. Itulah tahap
Manajer

Kalau Entrepreneur? “Aku gak mau tahu, pokoknya harus jalan!” he he he….

Katakanlah di tahun kedua Anda bisa transformasi menjadi 20%T, 50%M, 30%E, itu sudah bagus…
Caranya? Mulai ikuti training manajemen, delegasikan pekerjaan teknis kepada bawahan Anda yang
teknisi.

Di tahun ke 3, 0%T, 20%M, 80%E, kerja Anda bermain golf, ikut pameran, asosiasi, training, membaca
tren melalui majalah, networking.

Sekali lagi, tak ada patokan brapa lama Anda harus melakukan transformasi. Resiko jika Anda terlalu
lambat melakukan transformasi adalah mengalami kejenuhan (kehilangan momentum) dan tak
dapat melihat peluang.

Bisakah langsung lompat ke E? Bisa saja, beli franchise yang benar-benar memiliki sistem yang sudah
stabil atau rekrut orang-orang yang kompeten di bidangnya. Tentu saja semua itu ada harganya.

Sekali lagi, kuncinya ada di EGO dan KESOMBONGAN, termasuk juga KETIDAKPERCAYAAN terhadap
orang lain!

Teknisi bangga, bisa menyelesaikan masalah sendiri…
Manajer bangga, bisa menyelesaikan masalah melalui orang lain…
Entrepreneur bangga, masalah selesai tanpa ia tahu ada masalah!

[box style=”note”]

www.YEA-indonesia.com
follow twitter : @JayaYEA
fb page : YEA indonesia
email : info@yea-indonesia.com

[/box]