Ibadah Itu Mudah

5 April 2013
1130 Views
Comments are off for this post

Pesan Moral

Jum’at 1 Juni 2012 pembaca : Muhtar Muharram, Lc. (Ka. Unit Sekretariat Universitas)

Dibacakan oleh : Jefta Chleresta

Ibadah Itu Mudah

 

Ada seorang pemuda yang dirundung kemasygulan dan kegundahan. Pasalnya, setelah ia tekun melakukan tafakur (perenungan diri), diam-diam suatu kesadaran menyelinap ke relung kalbunya. Ia merasa bahwa sepanjang hidupnya sering sekali menggunakan suatu yang bukan haknya. Ia teringat pada kelakuannya sendiri yang kerap melirik jam tangan yang melingkar di lengan orang lain, kerena ia ingin mengetahui waktu. Tanpa permisi lagi, ia telah mengambil suatu kemanfaatan tertentu dari barang yang dimiliki oleh orang lain. Kemsygulan yang sama juga muncul manakala memorinya teringat pada kebiasaannya menggunakan penerangan listrik seseorang—untuk membaca suatu catatan, misalnya tanpa ia minta izin dulu.

 

Kegelisahan anak muda itu pun menjadi-jadi: ikhlaskan orang-orang yang barangnya pernah diambil manfaatnya itu? Namun, di tengah kegundahannya itu, suatu kearifan baru menghiburnya. Iya harus berbaik sangka (husnuzhon) kepada para pemilik barang-barang itu. Karena, mereka bukan hanya ikhlas, tapi juga senang jika ada orang lain yang memanfaatkan barang miliknya, lantaran mereka sudah meniatkannya untuk dimanfaatkan oleh umum.

Selain berkisah tentang muroqobah —suatu kesadaran seseorang yang merasa bahwa Allah selalu mengawasi dan memantau dirinya—narasi di atas juga memberikan pelajaran bahwa ternyata ibadah itu amat mudah dan bisa dilakukan sambil lalu. Bahkan tak hanya banyak ragamnya, tapi juga nyaris tak perlu pengorbanan apa pun dari pelakunya dengan penuh keyakinan untuk ibadah sehingga tercatat sebagai amal kebajikan (QS Az-Zalzalah: 7-8).

 

Niat ibadah itu bisa dilakukan misalnya oleh seseorang yang atap rumahnya digunakan untuk berteduh para pejalan atau pengendara sepeda motor saat hujan atau panas yang terik. Bisa pula seorang pengendara motor atau mobil pribadi yang joknya masih kosong lalu memberikan tumpangan. Bukankah bisa dijadikan wahana untuk melakukan amal baik, yaitu dengan mempersilahkan naik orang yang sedang berjejalan antre halte yang tujuannya kebetulan searah dengannya? Rasulullah SAW bersabda “ Barang siapa yang mempunyai kelebihan tempat pada kendaraannya, hendaklah dia memberikannya kepada orang yang tidak punya tempat. Dan, barang siapa yang mempunyai kelebihan perbekalan hendaklah dia memberikannya kepada orang yang tidak mempunyai perbekalan.” (HR Muslim dan Abu Daud).

 

Kemudahan memang merupakan karakter agama Islam. “Sesungguhnya agama itu mudah.” (HR Bukhari). Islam disebut mudah karena ia berbeda dengan agama-agama sebelumnya, di mana Allah telah melenyapkan beragama kesulitan yang dibebankan kepada umat sebelumnya.

 

Dari sisi akidah, pokoknya adalah tauhid yaitu keyakinan yang sejalan dengan fitnah insani, menentramkan hati, dan memuaskan akal. Dalam hal ibadah, shalat hanya dilakukan lima kali sehari semalam, tak seperti umat sebelumnya yang sampai puluhan kali dalam sehari dan dalam jangka yang lama pula. Puasa juga mudah. Ia hanya dari fajar hingga matahari terbenam, juga hanya sebulan dalam setahun. Zakat dan haji juga demikian dimana 2 kewajiban ini hanya ditunaikan oleh yang mampu