Rumah Sushi – Belajar Bikin Sushi dari YouTube

24 April 2013
1943 Views
Comments are off for this post

rsWisnu Sumarwan dan ketiga orang temannya adalah pemuda-pemuda dibalik restoran Rumah Sushi yang memiliki outlet di beberapa wilayah Jakarta. Ide awal bisnis Rumah Sushi bermula dari sebuah tayangan YouTube tentang resep Sushi.

Tanya (T): Halo, Wisnu. Bisnis apa yang sebetulnya Anda jalankan?

Wisnu (W): Halo. Saya punya Rumah Sushi bareng teman-teman kuliah saya, yaitu Aditra Alfarizi, Riswan Helmy, dan Achmad Ariefin. Di bisnis ini, saya lebih banyak fokus kefinance management-nya. Alhamdulillah, sekarang ada empat outlet dengan 60 orang karyawan.

T: Kalau boleh tahu, berapa omset Rumah Sushi dalam sebulan?

W: Omset? Cukuplah buat bayar gaji semua karyawan dan tetek-bengek. Sebagai catatan, kami (owner) tidak membagi-bagi profit. Kami digaji, meskipun kami adalah owner. Menurut saya sih, bisnis tidak hanya masalah omset. Yang lebih penting adalah finance management. Bagaimana omset dan profit dikelola?

T: Seperti apa finance management yang baik, Menurut Anda?

W: Lebih baik bisnis yang omsetnya 10 juta untung 9 juta. Daripada bisnis yang omsetnya 100 juta tapi untungnya cuma sejuta. Caranya, ya mengatur keuangan. Yang membuat bisnis berjalan adalah omset. Yang membuat bisnis bertahan salah satunya adalah financial management-nya.

82% bisnis hancur karena manajemen arus kas yang buruk. Buruknya arus ka situ seperti kanker. Penyakit yang menyebabkan kematian paling tinggi. Di bisnis tak ada lagi yang lebih parah (dibandingkan arus kas yang buruk). Jangan takut persaingan. Yang penting konsentrasi pada sales dan atur omset sama profitnya. Bisnis yang punya karakter tidak perlu takut.

Ada fakta yang seru lagi. 80% bisnis baru bangkrut dalam tiga bulan pertama. Penyebab utamanya? Owner-nya terburu-buru bagi-bagi duit. Saran saya, pisahkan keuangan bisnis dengan pribadi owner. Uang usaha ya uang usaha. Pribadi ya pribadi. Jangan dicampur-campur.

T: Bagaimana awal mula bisnis Rumah Sushi?

W: Modal berasal dari patungan dengan teman-teman dan itu jumlahnya tidak banyak. Pas buka Rumah Sushi, kita cuma memakai modal kurang dari 200 ribu plus alat-alat dapur punya ibu kami.

Awalnya, gara-gara ngobrol-ngobrol. Kami bertanya sama diri kami, habis kuliah terus mau apa. Apa keliling bawa ijazah (melamar kerja)? Dan kami sampai pada kesimpulan kami malas melamar kerja. Waktu itu kita masih mahasiswa idealisIngin pakai konsep ini, konsep itu, pakai koki handal, dan lain-lain. Tapi semua konsep tersebut bubar! Karena,simply, kita waktu itu belum punya uang.

Sadar tidak punya uang, kami ganti strategi. Gara-gara tidak bisa menyewa koki, jadi kami bikin sushi sendiri dengan belajar dari YouTube.

T: Lalu, apalagi yang ‘diakali’ supaya bisnis ini tetap berjalan?

W: Biaya sewa lokasi. Kami me-lobby yang punya supaya bisa bayar di akhir bulan. Selain itu, waktu buka Rumah Sushi, kami hanya punya satu meja untuk bikin Sushi. Itu juga didapatkan gratis karena punya teman yang sedang pindah rumah. Tidak ada meja pengunjung. Jadi, yang beli harus makan sambil berdiri. Kami juga cuma berempat dan ditambah dua teman yang membantu. Kami juga pernah jual keliling pakai nampan di Taman Suropati Menteng.

T: Tips apa yang bisa di-share oleh Anda tentang berbisnis?

W: Menurut saya dan teman-teman, bisnis itu bukan masalah bagi-bagi cabang, bagi-bagi profit, apalagi bagi-bagi duit. Bisnis itu masalah life achievement. Tips pentingnya adalah jangan serius-serius amat waktu berbisnis. Jalaninnya mungkin berat dan tidak usahdiberatin lagi sama pikiran yang macam-macam. Tips yang kedua adalah tim pemenang adalah tim yang gembira. Ciptakan atmosfer menyenangkan di lingkungan.

T: Sejauh ini, apa kendala terbesar dari Rumah Sushi?

W: Kendala terbesar kami saat ini adalah pengembangan SDM. Sebagian besar karyawan kami adalah pemuda putus sekolah. Untungnya, mereka hebat. Yang kami sadari dari awal adalah komponen terpenting bisnis adalah manusia. Apapun bisa dicapai dan diperjuangkan kalau manusianya siap.

Menyentuh karyawan dengan tulus dan menyatukan visi 60 orang ternyata tidak gampang. Tapi, itu ujian bagi kami untuk ‘naik kelas’. Untuk memperbesar kapasitas. Karyawan itu bukan babu. Apalagi budak. Kami yakin, kalau kami ingin Rumah Sushi membesar, kami harus jalan bareng sama mereka. Sukses bersama. Karyawan itu bukan alat. Karyawan adalah partner.

T: Twitter Rumah Sushi sudah punya followers yang jumlahnya melebihi empat ribu. Bagaimana cara promosinya?

W: Simply, jaga kualitas. Kalau kami, pantang memuji diri sendiri. Jangan membandingkan diri dengan kompetitor. Konsen pada konten. Berkomunikasi dua arah dengan style yang sesuai target.

 

Dikutip dari wawancara BukaLapak dengan Wisnu Sumarwan.