Suatu Saat di Masa Akhir Usia Kita

31 May 2013
2604 Views
Comments are off for this post

Disampaikan oleh : Asep Maksum, SE

(Ka. Bag. Akuntansi & Pelaporan)

Suatu Saat di Masa Akhir Usia Kita

Saudaraku, hari ini ketika nafas-nafas kita masih berhembus, kita adalah kenyataan yang sekarang kita lakukan entah lakon apa yang kita perankan, yang pasti saat ini kita sedang menjalankan kehidupan ini. Kehidupan yang kita jalankan sudah pasti akan berakhir pada fase kematian. Bukan kematian yang menjadi masaaalah, karena sesungguhnya yang hidup pasti akan merasakan mati. Yang jadi masalah adalah apa yang telah kita lakukan untuk saat terakhir usia kita.

Dalam suatu hadis, Rasul sawa bersabda “ Apabila Allah menghendaki kebaikan atas hanbaNya, maka Dia mempekerjakannya?” Para sahabat bertanya “ Bagaimana Allah memperkerjakannya?” Beliau menjawab “ Allah memberinya taufiq untuk beramal shalih sebelum kematiannya (HP. Ahmad dan Al-Tirmidzi, al hakim dishahihkan oleh Al Albani).

Saudaraku, dalam sebuag cerita seorang bernama Abu Ishak menuturkan pengalamannya yang penuh hikmah tentang akhir hidup seseorang. “Suatu ketika dia didatangi dua orang pemuda yang taas beragama. Keduanya menuturkan kisah yang membuatnya tercenung. “Ketika kami lewat dihadapan sebuah rumah sakit di Mesir, tiba-tiba sebuah mobil dating dan berhenti di depan rumah sakit. Dari dalam mobil itu, dikeluarkanlah seorang perempuan tua yang dalam kondisi sakratul maut. Pemuda itu segera mendatangi perempuan itu dan mengatakan, “Ibu…katakanlah “Lall ilaaha illallah.. Muhammadarasulullah..” Kemudian perempuan itu segera mengangkat telunjuknya dan mengikuti kalimat sahadat tersebut dan tak lama kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. Tak lama setelah itu, datanglah anak laki-lakinya yang begitu terpukul dengan wafat sang ibu. Ia pun menangis karena harus kehilangan ibunya. Kemudian dua pemuda itu mendekatinya dan mengatakan..”saya punya kabar berita yang menggembirakan’. Laki-laki itu bertanya “berita apa?” kemudian dua pemuda tersebut menceritakan apa yang terjadi dimana dalam akhir hayatnya, sang ibu mengucapkan kalimat syahadat. Akan tetapi, lelaki itu justru terkejut dan marah seraya berkata “Celaka kalin, kalian telah menjadikan ibuku kafir. Ibuku adalah seorang Qibti yang beragama Nasrani. Kenapa dia meninggal dengan Islam”

Begitulah hanya dengan hitungan menit, bahkan detik. Sebuah perjalanan hidup seseorang bisa berubah begitu dratis di akhir-akhir hidupnya.

Saudaraku, menilik dari kisah tersebut ada sebuah hikmah yang dapat kita ambil bahwa kita tidak akan pernah tahu dalam keadaaan apa disaat-saat akhir kita. Apakah kita termasuk golongan orang-orang yang sedang melakukan ketaatan atau justru termasuk golongan orang-orang yang sedang melakukan kemungkaran

Yang pasti, kita yang masih diberi sisa nafas kehidupan marilah senantiasa untuk meingkatkan ketaqwaan kita dengan cara perbaiki ibadah kita, perbaiki sholat kita perbaiki hijab kita dan perbaiki semuanya sehingga kita senantiasa ada dalam keadaan taqwa.