Getting Real with Neoliberal Capitalism: Does WTO Matter in Our Life?

8 November 2013
1330 Views
Comments are off for this post

Web Banner R

 

Apakah WTO (World Trade Organizatioan) dengan liberalisasi perdagangan akan membuat negara-negara yang tergabung di dalamnya menjadi lebih sejahtera? Apakah besar kesejahteraan petani dan masyarakat UKM (Usaha Kecil Menengah) dapat ditanggung oleh adanya perdagangan bebas? Lalu, bagaimana kerja sistem kapitalisme yang dikatakan ideal bagi kehidupan kita hari ini? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang diangkat ke dalam seminar “Getting Real with Neoliberal Capitalism: Does WTO Matter in Our Life?”. Seminar yang diselenggarakan oleh KOMAHI UAI (Korps Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Al Azhar Indonesia) dan JERK (Jaringan Riset Kolektif) membawa kita untuk melihat berbagai macam efek dari konsep kapitalisme yang diterapkan oleh WTO di Indonesia pada saat ini dan kedepannya nanti.

Indonesia sendiri mulai mengikatkan diri dalam WTO sejak tahun 1994. Ini sejalan dengan diterbitkannya Undang-Undang No.7 Tahun 1994 tanggal 2 November 1994 tentang pengesahaan (ratifikasi) “Agreement Establising the World Trade Organization”, maka Indonesia secara resmi telah menjadi secara resmi menjadi anggota WTO dan semua persetujuan yang ada di dalamnya telah sah menjadi bagian dari legislasi nasional. Pada Desember 2013, Indonesia didaulat menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Menteri kesembilan World Trade Organisation, atau Ministerial Conference 9 WTO (MC 9 WTO), yang akan berlangsung pada 3-6 Desember 2013 di Nusa Dua, Bali. Konferensi ini akan dihadiri oleh para menteri yang membidangi perdagangan dari 159 negara dengan berbagai NGO dan media.

Seminar kali ini merupakan salah satu cara dalam menunjukan hasil riset yang telah dilakukan oleh JERK terkait dengan WTO. Melalui riset ini mereka ingin menunjukan bagaimana kapitalisme konteporer bekerja dengan pola jejaring yang mencoba menyatukan saluran lapisan dunia-mulai dari atmosfer sampai biosfer-dalam jejaring produksi global (GPN, Global Production Network), untuk bahu-membahu menciptakan profit dalam suatu rantai nilai global (GVC, Global Value Chain). Kapitalisme-neoliberal konteporer berhasil membuat seluruh dunia masuk ke dalam logika hutang yang sedemikian rupa membuat seluruh dunia sebagai pengutang yang selurh hidup dan masa depannya didekasikan untuk membayar hutang.

Lebih lanjut lagi dalam hasil riset mereka menemukan bahwa negata yang selama ini dikira sebagai seseutu yang berpihak kepada rakyat, ternyata tidak pernah berpihak kepada kita dalam setiap asumsi-asumsi kebijaknya, melainkan negara telah selalu bekerja untuk memperkuat engsel-engsel pasar. Perlawanan terhadap kapitalisme-neoliberal global degnan demikian harus mempertimbangkan pola-pola baru mekanisme penguasaan dan kontrol paling mutakhir dari kapitalisme neoliberal global. Jika tidak, bukan hanya perlawanan ini menjadi sia-sia, melainkan perlawanan ini hanya menadi rutinitas aktivis bagi parade narsisme indentitas “aktivitas” mereka.

Seminar yang menghadirkan Dodi Mantra (Dosen Program Studi HI UAI), Prasojo (Dosen Program HI UAI), Rengga Dina (Dosen Program HI UAI) dan Hizkia Yosie Polimpung (PACIVIS Center For Global Civil Society Studies UI) mengambil tempat di ruang Auditorium Arifin Panigoro Universitas Al Azhar Indonesia pada Jumat, 08/11/13. Seminar ini merupakan upaya KOMAHI UAI dan JERK dalam memberikan wawasan dan pengetahuan akan WTO, konsep neo liberal dan kapitalisme, serta efeknya bagi Indonesia saat ini dan nanti.

[nggallery id=169]