AMBISI AKHIRAT

17 January 2014
1725 Views
Comments are off for this post

Dunia dengan berbagai keindahan dan kelezatannya sangat menggiurkan dan menjanjikan, maka tak jarang manusia yang lemah pondasi imannya akan mudah terseret bahkan menjadi budak dunia. Agar terlepas dari jerat ini maka seorang muslim yang baik hendaklah membekali dirinya dengan keimanan dan ketakwaan serta memompa dirinya agar memiliki ambisi akhirat yang sangat tinggi. Jika seorang muslim yang memiliki ambisi akhirat, maka ia akan selalu mengingat akhirat dalam setiap urusanya : bekerja, di perjalanan, juga saar sedang belajar. Allah SWT menjanjikan sejumlah kenikmatan bagi umatNya yang berambisi mengejar akhirat.

 

Pertama : Anugrah persatuan. Jika kita berambisi mengejar akhirat, maka Allah SWT akan menganugerahi ketentraman, ketenangan, menghimpun pikirannya, mengurani kelupaannya, menyatukan keluarganya, menambah rasa kasih antara dia dan mereka, memudahkan mereka untuknya, mempersatukan semua kerabatnya, menghindarkannya dari perpecahan dan pemutusan hubungan Rahim. Dengan begitu, seluruh dunia bersatu untuknya. Dunia berastu untuk kepentingannya dan semua apa yang diinginkannya dalam berbuat ta’at kepada Allah SWT.

 

Kedua : Anugrah Kaya Hati

Ini merupakan nikmat yang amat besar yang dianugerahkan AllahSWT khusus bagi hamba yang dikehendaki-Nya. Allah SWT berfirman “Maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (QS. An-Nahl: 97). Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut dengan keridhaan dan kepuasan hati yang tidak lain adalah kaya diri dan kepuasannya dengan apa yang dianugerahkan melalui dosa yang sungguh-sungguh.

Kekayaan bukan segala-segalanya, bahkan terkadang ada orang yang dibuat letih oleh hartanya. Sedangkan orang yang menjadikan akhirat sebagai ambisinya, dia akan selalu ridha, puas diri, bahagia, ceria dan baik jiwanya. Ia tidak tamak kepada dunia. Ia juga bekerja sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah di dalam mencari (rizki)”. Yakni, berusahalah dengan usaha yang diterima, yang diperbolehlah di dalam mendapatkan dunia. Janganlah seseorang menjadikannya sebagai ambisi yang menyibukkan dirinya yakni ia habiskan semua waktunya untuk dunia.

 

Ketiga : Dunia Datang dan Cinta Kepadanya

Dunia ini memang aneh; bila dikejar, ia akan lari; tetapi bila berpaling darinya ia akan mengejar. Banyak orang shalih menyebut kondisi mereka dengan dunia, “Kami sibukkan diri dengan urusan dunia, lalu dunia pun menyongsong kami”.

Sebaliknya, siapa saja yang menjadikan dunia sebagai ambisinya dan segala sesuatu ia jadikan demi dunia; seperti ridha, marah, senang, benci, ceria, bicara, mencela dan sebagainya, maka orang yang kondisinya demikian akan diberi hukuman oleh Allah SWT dengan tiga hukuman yang disegerakan :

Pertama, Mencerai-beraikan Persatuannya

Ia akan menjadi orang yang hatinya tercerai-berai, pikirannya kacau, banyak cemas terhadap urusan-urusan dunia, sekalipun hanya sepele. Harta, keluarga dan tanggungannya membuatnya terpisah, sekalipun mereka berada di hadapan matanya, sebagai akibat dari mementingkan dunia saja.

Kedua, Dilanda Kefakiran

Ia tidak pernah merasa puas, sehingga membuatnya selalu berhajat di balik kesenangan dunia dan perhiasannya. Hal ini akan membuatnya semakin letih, sedih dan cemas. Ia boros terhadap kesenangan dunia dan hal yang bersifat hura-hura, namun amat Khalil di dalam bersedah dan berbuat kebijakan.

Ketiga, Dunia Lari Darinya

Ia mencarinya namun dunia menjauhinya. Ia berlari mengejar dan meminum darinya seperti orang yang menimba air laut untuk diminum; namun setiap diminum, ia semakin merasakan haus dan dahaga. ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ambisi dunia adalah kegelapan di hati, sedangkan ambisi akhirat adalah cahaya di hati”’.

 

Oleh : Masni Erika Firmiana, S.Sos., M.Si