Stress

7 March 2014
1422 Views
Comments are off for this post

Stress yang berasal dari bahasa Latin strictus, merupakan konsep yang komplikatif dan terkadang membingungkan. Sekitar akhir tahun 1600-an, Robert Hooke membuat konsep stress berdasarkan prinsip mekanika dari beban (tenaga eksternal), stress (daerah yang mendapatkan tenaga), dan ketegangan (strain, kerusakan sebagai hasil beban dan stress). Penelitian ilmiah tentang stress semula dilakukan untuk menguji bagaimana reaksi makhluk hidup menggunakan sumber dayanya untuk melawan atau lari dari stimulus yang mengancam, baik menghadapi ketegangan fisik (seperti beban yang di luar kemampuannya), atau ketegangan psikologis (seperti kesulitan atau emosi negatif yang dihasilkan dari konflik hubungan sosial). Namun, dalam perkembangannya kata stress semakin meluas. Stress yang semula merupakan konstruk fisika, kemudian dipergunakan juga pada biologi, kedokteran dan psikologi untuk menggambarkan manusia. Orang awam bahkan banyak yang mengatakan bahwa mereka berada dalam keadaan stress ketika mereka hanya sedang berada dalam keadaan penurunan emosi karena kelelahan atau marah. Istilah stress semakin populer. Stress kemudian dianggap sebagai gejala umum masyarakat pada abad modern.

Teori penilaian kognitif tentang stress menyatakan bahwa stress timbul sebagai reaksi subyektif setelah seseorang mengalami beban ketika melakukan perbandingan antara implikasi negatif dari kejadian yang menegangkan dengan kemampuan atau sumber daya yang memadai untuk mengatasi kejadian tersebut.  Dalam teori ini, stress terjadi karena seseorang memandang besar akibat dari beban kejadian yang menegangkan, dan tidak memiliki kemampuan untuk mengatasinya.

Al Qur’an telah mengandung hikmah dengan permisalan yang kaya, memakai prinsip mekanika beban, untuk menggambarkan masalah yang dihadapi manusia.

Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan dan rahmatilah kami. Engkau Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS Al Baqarah 2: 286)

Dalam surat laln dinyatakan:

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (1). Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu (2). Yang memberatkan punggungmu (3). Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu (4). Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (5). Sesudah kesulitan ada kemudahan (6). Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain (7). Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (8). (QS Alam Nasyrah 94: 1 – 8)

Jika dianalisis surat di atas telah memasukkan perspektif subyektif dan obyektif tentang stress sesuai dengan teori psikologi modern.

Lebih lanjut, Al Qur’an memberikan resep untuk menghadapi stress atau beban yang dihadapi manusia. Sumber daya yang paling utama adalah ketakwaan terhadap Allah SWT. Ketakwaan ini harus disertai ikhtiar yang bertahap dan berkesinambungan, detik demi detik, untuk menyelesaikan masalah yang membebaninya itu. Keyakinan bahwa selalu ada kemudahan yang tercipta ketika berikhtiar dalam setiap kesulitan selalu memberikan pengharapan dan tenaga kepada manusia.

 

Oleh: Aliah B. Purwakania Hasan