Kultum Pak Nur Hizbullah, S.Ag., M.Hum.

11 July 2014
1397 Views
Comments are off for this post

Disebutkan dalam “Kitab At-Tawwabin” karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy, alkisah, ada seorang lelaki yang tak kunjung berhenti dari perbuatan dosanya. Padahal,dia ingin sekali bertobat dan melepaskan diri dari jerat maksiat. Suatu hari, sang lelaki mendatangi Ibrahim bin Adham, seorang sufi dan alim terkemuka pada masa itu. Beliau dimintai saran oleh si lelaki agar dia bisa keluar dari kubangan dosanya sendiri.

Ibrahim bin Adham pun menasihatinya.

“Jika engkau merasa sulit berhenti dari perbuatan dosa, pikirkanlah lima hal ini. Jika memang engkau mampu memenuhinya, boleh jadi engkau menemukan pembenaran atas maksiatmu.”

“Apa itu, wahai alim?” tanya si lelaki.

Ibrahim kemudian memerincinya.

“Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah, pertama, jangan pernah memakan rezeki-Nya yang ada di muka bumi ini;
kedua, janganlah engkau tinggal di bumi Allah ini jika ingin bermaksiat kepada-Nya;
ketiga, carilah tempat yang sangat tersembunyi, sangat rahasia, tak terjangkau dan tak diketahui oleh Allah jika engkau sedang bermaksiat di tempat itu;
keempat, jika malaikat maut datang hendak merenggut nyawamu dalam keadaan engkau berbuat maksiat, mintalah dia menunda ajalmu agar engkau diberi waktu oleh sang malaikat untuk bertobat, berbuat baik, dan menghapus jejak maksiatmu;
kelima, jika nanti di akhirat malaikat Zabaniah penjaga nerak hendak mencampakkanmu ke neraka akibat maksiatmu di dunia ini, larilah menjauh darinya agar engkau selamat dari api neraka.”

Mendengar nasihat yang serba mustahil baginya untuk memenuhinya, sang lelaki pun akhirnya menangis bertobat dan menyatakan penyesalannya atas kebiasaan maksiatnya selama hayatnya.

(Nur Hizbullah)