Nak, Ayah Tak Bisa Menemani Kalian Berlebaran Lagi Tahun Ini

18 July 2014
1710 Views
Comments are off for this post

Oleh Akhmad Safik[i]

Anak-anakku, belahan jiwaku,

tak terasa waktu berlalu begitu cepat,

Bulan Ramadhan yang jatuh di musim panas tahun ini,

sebentar lagi meninggalkan kita semua,

lebaran tahun lalu, dan lebaran yang sebentar lagi datang menjelang,

menjadi pertanda yang ayah tak pernah kan lupa,

karena lebaran tahun ini,

sebagaimana lebaran tahun yang lalu,

ayah tidak bisa merayakannya bersama bunda dan kalian semua,

 

perasaan sedih yang menggumpal di dada,

dengan senyum yang kadang tertahan, datang bergantian,

ribuah foto bunda dan kalian yang tersimpan di laptop ayah,

tidak cukup, dan tidak akan pernah bisa menggantikan kehadiran kalian,

bahkan seringkali foto-foto itu,

mengantarkan ayah kepada saat-saat indah,

yang selalu kita lewati bersama di hari-hari suci bulan Ramadan,

 

ayah merindukan indahnya saat berbuka puasa, taraweh dan sahur,

saat-saat kebersamaan, yang lebih indah daripada biasanya,

dimana ayah mengajari kalian berpuasa,

dengan kemampuan kalian yang masih sangat belia,

 

saat-saat dimana ayah membangunkan kalian,

ditengah nikmatnya tidur,

di kala pagi yang masih buta,

 

masih segar dalam ingatan ayah,

ketika bunda harus menyuapi kalian,

sambil sesekali kalian menguap,

karena rasa kantuk yang masih begitu berat kalian rasakan,

ayah tahu itu tidak mudah,

tapi ayah yakin bahwa kalian dapat melakukannya,

sebagaimana juga kakek dan nenek ajarankan kepada ayah dan bunda dulu,

suatu hari nanti, kalian juga akan mengerti,

tentang apa itu puasa, latihan menahan lapar dan dahaga,

ibadah yang diwajibkan bagi kita,

sambil melatih kepedulian kepada sesama,

 

masih tampak jelas di mata ayah,

saat-saat berbuka tiba,

kalian begitu semangat menyantap hidangan di meja makan,

yang belum sepenuhnya bunda sajikan,

ayah kerap tersenyum,

karena seringnya bunda mengingatkan kalian,

yang sering lupa berdoa sebelum makan,

demikian juga  cerewetnya bunda kepada kalian,

untuk makan sayur dan buah, demi menjaga kesehatan,

kata bunda, semua jenis penyakit, sumber utamanya dari makanan,

 

walau masakan bunda sederhana dan sedikit ragamnya,

terasa begitu istimewa bagi kalian,

karena bunda sangat paham selera makan kalian,

itulah yang membuat bunda merasa bangga dan juga istimewa,

menjadi orang tua bagi anak-anak yang sholeh dan pintar seperti kalian,

 

saat isya dan taraweh tiba,

kalian tak sabar pergi ke masjid atau mushola,

dengan baju koko, hadiah dari kakek lebaran tahun silam,

yang masih terlihat pas di badan,

dengan kopiah yang sedikit longgar dan tampak keberatan,

mukena warna merah muda itu,

dengan motif batik yang bunda belikan dulu,

begitu serasi dengan wajah dan kulitmu,

yang bening dan bersih,

karena bunda yang tidak pernah letih,

mengajari kalian bersuci dan merawat diri,

sebagai ungkapan syukur atas anugerah Illahi Rabbi,

 

ayah tahu di masjid kalian tidak saja beribadah,

tapi juga bercanda dan bermain dengan teman sebaya,

karena bermain adalah fase pertumbuhan kalian,

walau sedikit mengganggu orang-orang yang beribadah,

namun ayah pikir masih wajar adanya,

saat ayah seumur kalian, juga melakukan hal yang sama,

suatu proses pendidikan komunitas dan pendewasaan alamiah,

yang tak mungkin dipercepat atau dilompati fase-nya,

sebagaimana pohon besar,

ia tumbuh dari sebuah biji atau benih,

yang berkembang menjadi tunas, akar, dan batang,

yang semakin hari bertambah besar,

disertai tumbuhnya dahan, daun, bunga, dan buah yang dihasilkannya,

 

ketika kalian melangkah menuju masjid atau mushola,

ayah dan bunda sering tertegun memandang kalian semua,

sambil bergumam lirih,

bahwa kalian semakin besar dan begitu mempesona,

ganteng, cantik, unik, lucu dan menaburkan cinta dengan berjuta harapan,

ayah dan bunda yakin bahwa kalian adalah generasi yang sangat menjanjikan,

sebuah generasi pengabdi,

yang akan menjadi tulang punggung bangsa di masa depan,

 

saat sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan tiba,

ayah mengajari kalian apa itu I’tikaf Ramadan,

berdiam diri dan beribadah di dalam masjid,

merenungkan keagungan Allah Yang Maha Kasih,

meraih keheningan malam lailatul qadr,

yang lebih mulia daripada seribu bulan,

walau kalian masih belia,

jiwa dan semangat kalian tampak menggelora,

itulah yang selalu ayah panjatkan kepada Allah SWT,

agar kalian menjadi penyejuk pandang,

bagi keluarga, masyarakat dan bangsa,

 

di penghujung bulan nan mulia,

kerinduan ayah makin tak tertahankan,

ayah begitu sedih,

tak bisa menemani kalian memilih baju lebaran,

yang sudah kalian impikan  sejak awal Ramadan,

walau ayah yakin, bunda adalah yang terbaik,

dalam memilih apa yang kalian idam-idamkan,

ayah juga tak bisa menemani bunda membuat kue lebaran,

dan menyajikannya di tempat-tempat kue cantik,

yang bunda beli di supermarket,

tak begitu jauh dari sekolah kalian,

 

tanpa ayah sadari,

air mata ayah telah mengembang,

terngiang dengan jelas,

saat-saat takbir menggema,

yang kalian ikut melafalkannya dengan terbata-bata,

sambil bergelayut manja didalam dekapan ayah dan bunda,

 

kalian juga setia menemani bunda,

mengantar bingkisan dan zakat fitrah,

kepada mereka yang tidak berpunya,

yang tinggal di sekitar rumah kita,

karena lebaran esok hari,

adalah saat nan indah bersilaturahmi,

dan momen penting untuk berbagi,

bukan kompetisi busana dan perhiasan duniawi,

 

menjelang fajar 1 syawal,

dengan sabar, kalian, bunda bangunkan,

sembari menyiapkan air hangat,

agar kalian tidak kedinginan mandi di pagi buta,

pakaian kalian pun sudah rapi bunda siapkan,

selagi kalian terlelap, setelah capai bermain seharian,

saat matahari belum meninggi,

kita sudah jalan bersebelahan,

melangkah ringan menuju lapangan,

sambil mengumandangkan takbir, tahmid  dan tasbih,

allahu akbar, allahu akbar, laa ilaaha illa allahu allahu akbar,

allahu akbar walillahil hamd,

 

anak-anakku, permata hatiku,

lebaran kali ini, ayah tidak ada lagi bersama kalian,

janganlah kalian ikut bersedih,

karena ayah akan selalu hadir dalam hati sanubari kalian,

ingatlah ketegaran yang selalu bunda ajarkan,

bahwa kehidupan berisi kemudahan dan kesusahan,

janganlah kalian berani hanya di kala mudah,

dan menyerah di kala susah,

karena keduanya bukanlah pilihan,

sedang kita tidak pernah tahu kapan dan dimana keduanya datang,

mewarnai kehidupan kalian yang masih panjang,

 

inilah kenyataan hidup,

yang kalian harus jalani,

memang tidak mudah,

apalagi ketika melihat teman-teman,

yang merayakan lebaran,

lengkap dengan ayah dan bunda mereka,

 

kalau diantara teman kalian ada yang bertanya,

dimana ayah kalian saat ini,

jawablah dengan tenang,

ayah kami sedang menuntut ilmu,

jauh-jauh sekali di negeri orang,

agar bisa mengabdi kepada negeri,

yang pemimpinnya banyak yang lupa diri,

yang tak pernah lekang dari masalah, tanpa solusi,

 

anak-anakku,

di hari yang fitri ini,

hampir tak kuasa ayah berucap, “Selamat Idul Fitri”

maafkanlah semua kesalahan ayah,

yang tak bisa menemani kalian bergembira di hari kemenangan,

yang tak bisa menemani bunda mengurus kalian sendirian,

hanya satu pesan ayah,

buatlah bunda tersenyum,

dengan menjaga perkataan, sikap dan perbuatan,

agar surga menjadi tempat yang paling layak bagi kalian,

dan jangan lupa berdoa,

agar ayah tegar hidup sendiri di negeri orang,

agar dimudahkan mendalami ilmu dan pengetahuan,

dan menjadi pribadi,

yang selalu kalian dapat banggakan.

 

 

Seattle, 5 September 2010.



[i] Alumnus University of Washington School of Law, Seattle US dan Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Al Azhar Indonesia