Diskusi Hasil Penelitian “Budaya Kekerasan dan Bullying di Sekolah Menengah Atas”

26 September 2014
6694 Views
Comments are off for this post

PUSAT KAJIAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS AL AZHAR INDONESIA

Menyelenggarakan:

Diskusi Hasil Penelitian

“Budaya Kekerasan dan Bullying di Sekolah Menengah Atas”

Kamis, 25 September 2014 

Jakarta – Fenomena kekerasan yang di kalangan remaja, termasuk siswa sekolah,  tampaknya makin memprihatinkan. Kita dikejutkan bukan hanya oleh perkelahian dan tawuran, tapi juga bullying atau perundungan, sebuah istilah yang menggambarkan danya kekerasan dalam atau karena relasi tak seimbang antara pelaku dan korban.

Apakah kekerasan ini sudah atau sedang terus mengental menjadi budaya? Mungkin. Atau jika semua pihak hanya menonton, bisa dipastikan jawabannya, iya.

Merespons hal ini, Pusat Kajian Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia (Puskakom UAI) mengadakan penelitian Februari 2014 lalu. Penelitian ini sendiri merupakan kegiatan rutin Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) didukung Puskakom UAI dan bagian dari Pengabdian Masyarakat.  Kali ini penelitian dilakukan di sekitar wilayah kampus UAI, tepatnya di SMA Negeri 70, Bulungan, Jakarta Selatan, sekolah dengan catatan sejarah atau peristiwa kekerasan yang terbilang tinggi. Diskusi atas hasil penelitian ini diselenggarakan Kamis, 25 September 2014, pukul. 13.00 WIB di Universitas Al Azhar Indonesia.

Diskusi Hasil Penelitian “Budaya Kekerasan dan Bullying di Sekolah Menengah Atas” Puskakom UAI, diharapkan menghasilkan solusi untuk memutus budaya kekerasan dan bullying di SMA berdasarkan contoh kasus yang terjadi pada SMA Negeri 70 Bulungan, Jakarta. Dan penyebaran hasil diskusi melalui media massa, sama pentingnya sebagai bentuk penyadaran, pembelajaran masyarakat maupun orangtua serta bahan masukan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pendidikan di masa mendatang.

‘’Ada kaitan antara komunikasi peer-group dengan aktivitas kekerasan di sekolah. Itu kecurigaan awal yang mendorong kami melakukan penelitian,’’ kata Ketua Puskakom UAI, Nurul Robbi Sepang, M.Si. ‘’Jadi, komunikasi peer-group tentang konsep kekerasan dan bullying di sekolah menjadi fokus penelitian kami,’’ lanjutnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan memang terjadi di SMA Negeri 70, dimana kekerasan fisik dan verbal lebih banyak terjadi pada siswa laki-laki, seperti ditampar, dipukul, dijambak, dan ditendang, sedangkan siswa perempuan cenderung mengalami kekerasan verbal saja seperti dibentak, dimaki, diledek. Tindakan kekerasan ini umumnya dilakukan siswa senior pada siswa junior, yang meneguhkan bahwa senioritas adalah unsur penting dalam kekerasan di sekolah.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa siswa memahami bahwa bullying sebagai bentuk tindakan kekerasan dengan ciri-ciri; ditujukan untuk menyakiti orang lain, dan untuk menunjukkan kekuasaan yang dimiliki senior pada junior. Bentuk bullying yang mereka alami adalah penggencetan, perpeloncoan dan intimidasi. Selain itu, siswa mengalami situasi yang “membingungkan” antara memilih mengikuti nilai-nilai yang dianut peer-group atau sekolah. Catatan penting diberikan pada “keunikan” budaya kekerasan di SMA Negeri 70 yang melibatkan adanya tradisi militer sebagai pengikat yang meningkatkan kohesivitas.

Selain melibatkan dosen, pengamat masalah sosial, mahasiswa, dan pers, diskusi juga menghadirkan alumni SMA Negeri 70 Bulungan. Mereka berbagi pengalaman terkait fenomena kekerasan di zaman mereka, dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa terakhir.  Diskusi ini menghasilkan beberapa poin penting; 1) budaya kekerasan yang ada di SMA Negeri 70 Bulungan adalah cermin dari budaya kekerasan yang berlangsung dalam masyarakat;  2) budaya kekerasan yang ada harus “diputus” dengan melibatkan elemen lain di luar institusi sekolah; 3) Pemutusan budaya kekerasan disarankan dengan menggunakan perspektif siswa, yaitu dengan menggunakan “senioritas”;  4) alumni menjadi unsur penting yang selama ini dilupakan untuk dilibatkan dalam pemutusan budaya kekerasan; 5) pemutusan budaya kekerasan pada siswa harus dipandang sebagai tanggung-jawab tidak hanya tanggung-jawab siswa dan sekolah serta orangtua, melainkan juga tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, termasuk alumni dan masyarakat sekitar dan terakhir, 6) pembentukan identitas baru dengan cara yang berbeda dirasa perlu untuk memutus budaya kekerasan di sekolah.

Para Pembicara:

Puskakom UAI:

  1. Nurul Robbi Sepang, M.Si
  2. Soraya Fadhal, M.Si

Alumni SMAN 70:

  1. Tunggul Wulung

Pengamat Sosial:

  1. Dr. Sari Monik Agustin, M.Si

Moderator: Irwa R. Zarkasi, M.Si