Slow Learner Become A Succsess Motivator (Gardini Oktari, S. Pd,)

20 April 2015
2265 Views
Comments are off for this post

Alhamdullilah, di usianya yang ke empat belas tahun, Universitas Al Azhar Indonesai (UAI) telah berhasil mencetak berbagai lulusan dengan beragam kiprahnya di berbagai perusahaan atau bahkan membuka berbagai lapangan pekerjaan. Tidak sedikit alumni berprestasi yang kami miliki, diantaranya adalah Gardini Oktari.

Gardi biasa ia dipanggil merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, dalam komunitasnya ia biasa dipanggil si anak tuna grahita yang sukses sebagai motivator yang inspirational. Berbagai kekurangan yang dimilikinya sebagai seorang ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) pada awalnya membuat Gardi merasa tidak percaya diri dalam memasuki dunia perkuliahan. Memiliki orang tua yang berlatar belakang dunia kedokteran membuat mereka mencari berbagai info terkait kampus-kampus di Jakarta hingga orang tua dari Gardi berhasil mendapatkan informasi dari Prof. Gutama yang merupakan Dirjen Departemen Pendidikan Nasional dan Beliau menyarankan Gardi berkuliah di UAI dikarenakan UAI merupakan universitas pertama yang memiliki pendidikan S1 dengan program studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD).

Ketidaknyamanan Gardi saat awal memasuki gerbang perkuliahan tentunya sangat besar karena ia merasa berbeda dengan teman-temanya yang lain yang cenderung lebih normal. Setelah menjalani masa perkuliahan lama kelamaan Gardi merasa dapat bersosialisasi dengan baik karena beberapa temanya yang mengatahui kekuranganya dapat menerimanya dengan baik. Gardi sempat mengatakan “Bagi Gardi Universitas Al Azhar Indonesia berperan sangat besar dalam membentuk karakter Gardi di masyarakat, dan ini merupakan salah satu sarana terapi bagi Gardi karena efeknya Gardi dapat berpandangan luas terhadap karakter dan kepribadian setiap orang yang berbeda-beda”.

Berbagai pengalaman di dapatkanya semasa berkuliah di Universitas Al Azhar Indonesia salah satunya ia dapatkan pada saat melakukan Praktek Kerja Lapangan atau PKL yang ia lakukan di salah satu SLB di kawasan Permata Hijau Jakarta. Pernah bersekolah di SLB tidak membuat Gardi merasa minder dan teman-teman yang pada awalnya membicarakan Gardi lama kelamaan semakin mengerti dengan segala keterbatasan yang dimilikinya.

Dalam proses belajar mengajar tentu ia mendapatkan banyak kesulitan salah satunya seperti yang diceritakan Gardi “saat perkuliahan dimulai biasanya Gardi mulai was-was karena pasti yang lain akan cepat mengerti sedangkan Gardi tidak, jadi selesai perkuliahan Gardi langsung print bahan materi belajar lalu Gardi ke ruangan dosen untuk menanyakan langsung mengenai materi yang disampaikan dikelas”

Sampai pada akhir perkuliahan hambatan terakhirnya adalah saat mengerjakan penelitian skripsi, dengan mengambil tema Efek Parenting Untuk Metode Glenn Domen untuk usia 5-6 tahun. Memutuskan untuk mengambil tema tersebut karena Gardi pernah masuk dalam komunitas Glenn Domen tersebut dan efek parenting merupakan saran dari salah seorang dosen pembimbingnya yaitu Ibu Masni Erika Firmiana, S.Sos. M.Si.. Kesulitan dalam penelitian itu terjadi pada saat Gardi mulai meneliti objek penelitianya dimana objeknya adalah anak-anak yang banyak tidak mau di wawancara juga di foto untuk melengkapi penelitianya. Dengan proses yang sangat panjang hampir 2 (dua) tahun Gardi berhasil merampungkan penelitian skripsinya tidak hanya dengan batuan dosen pembimbing melainkan juga dengan bantuan orang tua yang banyak memberikan dukungan kepada gardi yang merupakan anak spesialnya ini.

Dengan seluruh kerja kerasnya Gardi berhasil lulus pada tahun 2013 dengan predikat sangat memuaskan. Setelah lulus kesibukanya semakin bertambah dengan banyak sekali di undang di berbagai seminar. Ia tergabung dalam komunitas orang tua yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus. Sebagai penyandang ABK Gardi merasa sedih ketika anak ABK selalu dikucilkan dan dianggap tidak pantas berada di masyarakat. Gardi telah membuktikan dengan keterbatasan tersebut ia bisa bertahan di lingkungan sosialnya dan berhasil memotivasi banyak orang. Saat ini ia juga aktif sebagai pembicara pada seminar-seminar berskala nasional dan juga sebagai narasumber dari berbagai media nasional seperti Tempo, Majalah Nakita, dan Radio DFM 103.4 FM. Gardi berusaha mendongkrak paradigma bahwa seorang anak berkebutuhan khusus juga layak dan mampu berkompetisi dengan anak-anak lainya.

Kuliah di UAI memberikan banyak pelajaran dan pengalaman berharga bagi Gardi terutama dalam membentuk karakter Gardi. Kesan kesanya dalam bekuliah di UAI tentunya memiliki dosen-dosen yang hebat juga tidak ada senioritas di kalangan mahasiswanya. Semua seperti keluarga dengan rasa kekeluargaan yang besar membuat UAI seperti keluarga bagi Gardi seperti yang ia katakan.

“Meskipun sudah lulus Gardi masih sering menelepon ke dosen-dosen dan teman di UAI kadang kalau ada waktu luang Gardi masih sempatkan main ke kampus untuk menjaga silaturahmi, pastinya Gardi merasa bangga sebagai alumni UAI”.