FISIP Universitas Al Azhar Indonesia Mengadakan Workshop Metodologi Netnongrafi

10 February 2016
983 Views
Comments are off for this post

Internet menciptakan perubahan besar baik secara teoritis ataupun praktis bagi dunia komunikasi. Dari sisi akademis (teoritis), seperti pernah dinyatakan Chaffee dan Metzger (2001), internet mengubah pemahaman kita mengenai komunikasi massa, di mana komunikasi lebih mengarah pada sisi penerima, pencarian informasi, interaktivitas dan fragmentasi pesan. Dari sisi praktis, internet menciptakan sebuah komunitas virtual. Orang hidup dalam dunia online seperti layaknya dalam kehidupan nyata (offline). Pengguna internet bercakap-cakap dengan pengguna lain, layaknya berada dalam sebuah kampung. Tidak mengherankan jika saat ini praktisi komunikasi (media, public relations, komunikasi pemasaran, konsultan komunikasi politik) harus memperhatikan percakapan mengenai produk ataupun partai di dunia internet.

Perubahan itu membutuhkan cara dan metode baru untuk memahami kehidupan orang di dunia internet. Salah satu metode tersebut adalah netnografi. Netnografi (berasal dari kata Internet dan Etnografi) secara singkat adalah metode etnografi yang dipergunakan untuk menyelidiki kehidupan dunia virtual di internet. Metode ini berusaha untuk memahami secara mendalam kehidupan komunitas virtual dari perspektif pelaku. Objek kajian netnografi adalah netizen dengan aktivitas dan kehidupan mereka di dunia virtual. Metode netnografi adalah salah satu metode yang populer dan banyak dipakai dalam penelitian ilmu komunikasi di banyak negara. Popularitas dari metode ini tidak bisa dilepaskan dari perkembangan internet dan media sosial yang merupakan fenomena global.

Studi komunikasi menggunakan metode netnografi masih jarang dilakukan di Indonesia. Kondisi ini mendorong Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) bekerja sama dengan Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) menyelenggarakan pelatihan metode netnografi dengan tema “Bagaimana Meneliti Kehidupan Komunitas Virtual di Internet”. Pelatihan yang ini berlangsung pada Rabu, 10 Februari 2016 ini dihadiri oleh dua narasumber yaitu Dr. Irwansyah, MA (Pengajar pada Departemen Ilmu Komunikasi dan ahli teknologi komunikasi dan media sosial), dan Amalia E. Maulana, Ph.D (Brand Consultant dan Etnografer)

Dr. Irwansyah, MA, selaku narasumber pada pelatihan ini menyampaikan, perkembangan sekarang yang kita kenal dunia cyber itu menunjukkan bahwa membentuk kultur baru, jadi ada budaya yang berkembang, di dalam orang-orang yang melakukan aktifitas dan  komunitas yang berbasis virtual. “Metodeologi netnografi menunjukkan bahwa indikasi-indikasi kultur tersebut tidak hanya ditangkap secara tersirat tapi juga tesurat dengan menggunakan kemampuan akademis yang efektif. Sehingga kalau kita melihat ada kultur Indonesia yang selama ini tercermin dalam kehidupan atau aktifitas yang berbasis offline”, tambahnya.

Shinta Galuh Tryssa, M.Si, selaku dosen ilmu komunikasi dan penyelenggara pelatihan ini menyampaikan tujuan pelatihan ini adalah memberikan pemahaman secara teoritis mengenai metode netnografi, perbedaan metode ini dengan metode lain juga memberikan contoh aplikasi penggunaan metode netnografi dalam penelitian Ilmu Komunikasi dan komunikasi pemasaran. Pelatihan yang berlangsung selama dua setengah jam ini dihadiri lebih dari 100 orang yang terdiri dari pengajar, mahasiswa S2-S3,  praktisi komunikasi, dan peneliti di bidang etnografi.