Masjid Agung Al Azhar Turut Berperan Dalam Membentengi Umat Islam Dari Pemikiran Menyimpang

5 August 2016
1047 Views
Comments are off for this post

Di era globalisasi, umat Islam menghadapi berbagai macam persoalan yang sangat kompleks, baik di tingkat lokal, nasional, regional, dan juga global. Persoalan itu tidak hanya berdampak bagi situasi internal umat Islam saja, tapi juga bagi hubungan umat Islam dengan masyarakat penganut agama lainnya. Berbagai wajah ditampilkan oleh umat Islam dalam berinteraksi dengan umat agama lain, mulai dari wajah damai, toleran, moderat, sampai penampilan dan sikap yang dapat menimbulkan gesekan bahkan konflik tajam dalam hubungan antarumat beragama.

Sikap intoleran dan tak ramah itu ditengarai timbul akibat pemikiran dan pemahaman umat Islam yang tak mendalam atau bahkan keliru terhadap substansi ajaran agamanya sendiri. Banyak kalangan dari umat Islam mendapatkan sumber informasi, pengetahuan, bahkan pemahaman ilmu agama dari tempat, lembaga, kelompok, ataupun individu yang lebih berpihak kepada kepentingan tertentu, ketimbang mendapatkannya dari pihak-pihak yang dikenal luas memiliki kontribusi luas bagi penyebaran Islam yang damai, ramah, dan toleran. Akibatnya, perilaku kelompok-kelompok di luar mainstream tadi tak jarang mencoreng wajah Islam dan berdampak buruk bagi citra umat Islam di mata dunia dan masyarakat global.

Situasi itu harus segera diatasi dengan pendekatan dan strategi dakwah Islam yang tepat dan efektif. Untuk dapat lebih mendekati dan merangkul seluas mungkin kalangan umat Islam, fungsi masjid sebagai tempat ritual berjemaah sudah semestinya diperkuat dan diperluas untuk dapat menjadi wadah silaturahim umat Islam dari berbagai lapisan di dalamnya, tanpa ada keberpihakan kepada kalangan tertentu ataupun pengkhususan bagi jamaah kalangan terbatas saja. Masjid harus inklusif, terbuka, dan ramah menerima semua kalangan dan lapisan umat Islam tanpa terkecuali, sehingga hubungan intraumat Islam menjadi cair dan menyatu. Masjid harus ditegaskan sebagai wadah utama bagi pembangunan dan pembinaan sumber daya manusia muslim yang berperadaban tinggi. Untuk mewujudkan pemikiran itu, di sisi lain, fungsi dakwah, yang menjadi fungsi kedua setelah fungsi ritual, mutlak harus mengacu kepada sumber agama Islam yang asali, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah, dengan pemahaman yang berpedoman kepada arus utama mazhab pemikiran ulama Islam terkemuka. Dengan demikian, keotentikan sumber materi dakwah tetap terjaga, dan pemahaman yang disebarluaskan oleh para ulama di masjid dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya serta memberikan dampak positif bagi umat Islam. Diharapkan, dengan begitu, umat Islam memiliki pengetahuan, pemahaman, dan praktik keislaman yang benar, sehingga dapat terhindar dari penyebaran pemikiran dan pemahaman keagamaan yang destruktif dan merugikan dunia Islam secara keseluruhan. Apabila hal itu tercapai, insya-Allah, umat Islam akan menjadi pemain penting dan penyumbang sumber daya manusia yang beriman kuat, berislam teguh, dan berihsan tulus, bagi kemajuan masyarakat, bangsa, negara, kawasan, dan juga dunia secara menyeluruh.

Di sisi lain, tidak bisa dinafikan pula, fungsi masjid dan gerakan dakwah Islam juga harus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keduanya sangat perlu dimanfaatkan oleh masjid dan dakwah Islam dalam kepentingan membangun jaringan kerja sama sinergis dan strategis antarmasjid yang dikelola oleh swadaya masyarakat dan masjid yang dikelola oleh lembaga pendidikan tinggi. Itu penting agar dakwah bisa menjangkau seluas mungkin kalangan sehingga penyebaran dakwah menjadi efektif dan berhasil maksimal.

Permasalahan tersebut dibahas dalam seminar yang diselenggarakan oleh Rabithah Al-‘Alam Al-Islami (Liga Dunia Islam) Kantor Indonesia dan Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al-Azhar. Seminar ini bertujuan menegaskan pentingnya peran masjid sebagai wadah pemersatu umat Islam dan wadah penyebaran dakwah yang konstruktif agar umat Islam tidak terpengaruh oleh pemikiran yang destruktif bagi kemajuan umat dan dakwah Islam di Indonesia. Untuk itu, seminar ini mengundang sejumlah tokoh Islam terkemuka untuk menyampaikan gagasan dan pemikirannya tentang topik tersebut, yaitu Wapres RI Drs. H.M. Jusuf Kalla, Sekjen Liga Dunia Islam Syekh Prof. Dr. Abdullah Abdul Muhsin Al-Turki, Syekh Turki mengungkapkan, “Kami sangat senang menjalin hubungan dengan Indonesia beliu merasa senang karena Indonesia merupakan mitra strategis,. Dimana muslim world league yng merupakan salah satu pendirinya merupkn corong bagi umat Islam seluruh dunia”.

Presiden RI ke-3 Prof. Dr. Ing. BJ Habibie, Masjid harus dimanfaatkan utk mengembangkan SDM, produktifitas ditentukan oleh 3 elemen yaitu budaya, agama dan ilmu pengetahuan, ungkap BJ Habiebie. Wakil Ketua MPR RI Dr. Hidayat Nurwahid, M.A., dan Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar. Acara ini dihadiri oleh sekitar 450 orang dari kalangan akademisi, cendekiawan muslim, pengurus masjid se-Indonesia, pengurus masjid kampus se-Indonesia, lembaga dan individu pemerhati maupun praktisi dakwah Islam.