Menyikapi Ekonomi Disrupsi

25 October 2017
293 Views
Comments are off for this post

Akhir-akhir ini kita sering mendengar berbagai disrupsi (penghancuran) perusahaan besar yang tidak mampu merubah paradigma disertai implementasi teknologi. Dengan kecepatan teknologi digital yang hampir tidak mengenal waktu dan ruang itu tentu sangat berbeda dengan kondisi masa lalu yang serba terlihat dengan jumlah relatif kecil. Saat ini, kecepatan arus lalulintas informasi, transaksi, berbagai model aplikasi, dan dalam jumlah yang sangat besar telah melahirkan fenomena big data (data besar).

Data besar ini sebenarnya juga harus menjadi bagian dari paradigma berpikir dan bertindak. Karena karakteristik volume, ukuran, model sirkulasi, dan pencatatannya menjadi berbeda dengan tipe data kecil. Bila fenomena data besar ini didekati dengan paradigma data kecil, sulit kita akan bertahan. Sudah pasti akan tergilas oleh kecepatan arus data besar yang dilengkapi dengan teknologi digital. Di sinilah fenomena disrupsi terjadi, banyak perusahaan pada tumbang.

Kejadian institusi berguguran itu tidak saja di kelompok bisnis dan ekonomi. Tetapi juga menggerus lembaga nirlaba yang begitu-begitu saja, termasuk Perguruan Tinggi. Sivitas akademika yang terlena dan terninabobokan oleh kejayaan masa lalu, sulit untuk mengikuti perubahan yang dahsyat ini. Seharusnya, para saintis di kampus paham bahwa perubahan ini secara alamiah musti terjadi. Bukankah Thomas Kuhn (1963, 1972) pernah mengingatkan adanya ilmu-ilmu normal dan revolusi keilmuan. Dia menyodorkan konsep, bahwa basisnya terletak dalam paradigma, pola pikir. Bagaimana kita memandang dan mengantisipasi perubahan itu.

Mungkin saat ini perubahan begitu cepat, sehingga sulit diantisipasi, apalagi bila masih memakai kacamata (konsep) lama. Niscaya para pengelola kampus akan pusing. Dalam istilah Kuhn, keadaan disrupsi ini berupa anomali sebelum terbentuknya struktur normal, atau ilmu normal dengan konsep yang kokoh. Namun, hal ini pun terus berubah, baik cepat atau lambat.

Prediksi terhadap big data, digitalisasi, dan disrupsi ini oleh kampus-kampus luar (misalnya USA) disiapkan dengan penguatan kurikulum di satu pihak, serta model pembelajaran di pihak lain. Beberapa kampus membuka program-program yang relevan dengan kebutuhan zaman, seperti S2 analisis data besar, atau lebih luas lagi tentang data science. Mahasiswa dikenalkan dengan kasus-kasus riil yang harus didekati, dianalisis, dan diprediksi menggunakan metode-metode canggih campuran berbagai ilmu. Secara alat, peranan matematika, statistika, dan komputasi sudah menjadi makanan pokok para mahasiswa. Apapun program studinya.

Asep Saefuddin
(Rektor Universitas Al Azhar Indonesia/Guru Besar Statistika FMIPA IPB)