Fokus Grup Diskusi (FGD) Forum Rektor Indonesia 2017 “ RISET PENTING TETAPI BELUM DIANGAP PENTING”

4 December 2017
330 Views
Comments are off for this post

Hal Tersebut dikemukakan oleh Prof. Richardus Eko Indarjit, M.Sc, M.BA, Guru Besar Informasi (salah satu narasumber ), menyikapi perkembangan dunia akademisi di Indonesia dalam acara Forum Rektor Indoensia 2017 dengan tema “ HILIRISASI RISET, PENGUATAN DAN PENGEMBANGAN INOVASI DALAM MENGHADAPI ERA DISRUPSI: ANTARA KEBIJAKAN IMPLEMENTASI”- DI Universitas Al Azhar Indonesia, 4 Desember 2017.

Forum Rektor dibuka dengan sambutan Rektor Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Prof. Dr. Ir. Asep Saefudin, M.Sc. dan ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) Prof . Dr. Suyatno, M.Pd. serta dimeriahkan dengan panduan suara mahasiswa tiga perguruan tinggi Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Universitas Bina Nusantara (Ubinus) dan Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA).

Kegiatan FGD ini merupakan salah satu tugas dari kelompok kerja pokja Inovasi Forum Rektor Indonesia (FRI) 2017 yang periodenya akan berakhir pada bulan Februari tahun 2018. FRI menjalankan amanah Konvensi FRI 2017 yang dbuka oleh Presiden dimana perguruan tinggi harus harus meghasilkan inovasi dan hasil dari perguruan tinggi hendaknya dapat menyokong sektor ekonomi sebagai bagian dari program nawacita ke-6.

Dr. Ir.Prakoso,M.M, Sekretaris Direktorat Jendral Penguatan Riset Dan Pengembangan Kemenristek Dikti mengemukakan tentang indikator kinerja di kemenristekdikti diantaranya adalah menghasilkan tenaga kerja yang terampil dan mampu bersaing. Salah satu dukungan pemerintah untuk akademisi agar menghasilkan inovasi dari hasil riset. Pemerintah mengalokasikan dana sebesar 23,4 Triliun untuk tahun 2017 selain adanya ketersediaan dana dari sumber – sumber pendanaan lain. Namun demikian hilirisasi hasil penelitian amatlah penting untuk menjamin kesiapan terapan melalui tngkat kesiapan hasil hasil penelitian sehingga dibutuhkan peningkatan kerjasama dengan industri.

Peluang untuk terwujudnya Research University  adalah dengan melakukan riset yang memanfaatkan teknologi hingga menghasilkan inovasi dikemukakan oleh Prof. Richardus Eko Indrajit, M.Sc, M.BA, Guru Besar Informasi. Hanya perguruan tinggi yang memiliki DNA riset yang berpeluang menjadi Research University bukan sekedar Teaching University sehingga riset seyogyanya merupakan jalan untuk mencapai tujuan. Artinya, riset harus bisa memiliki nilai jual yang tinggi. Berbagai jenis riset dan pengabdian masyarakat juga dapat menjadi sumber penghasilan bagi perguruan tinggi, sebagai contoh adalah hasil risetnya terhadap 6 perguruan tinggi (Harvard, UCLA, Yale, University of Arizona, Oklahoma University, London School of Bussines) menjadikan riset dan dana abadi sebagai sumber penghasilan utama. Eko juga menekankan perlu diciptakan Research Market untuk mendorong pemasaran hasil riset dan untuk menjadi World Class University sivitas akademika hars kreatif dan inovatif dalam menjalankan riset. Disayangkan bahwa riset di Indonesia hingga saat ini masih hanya dianggap penting namun bukan hal yang genting. Memulai riset hendaklah fkus dari problem problem yang ada di negara Indonesia sehingga riset yang dilakukan perguruan tinggi bermanfaat memberikan solusi bagi berbagai persoalan bangsa.

Dr. Wihatmoko Waskitoaji, Ka Subdit Pengembangan Sistem dan Jaringan Inovasi Direktorat Sistem Inovasi Ditjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti. Menguraikan bahwa inovasi dilahirkan dari irisan 3 teknologi, marketing dan bisnis. Penjelasannya lebih lanjut adalah tentang paradigma inovasi, tipe inovasi, proses inovasi, berikut contoh- contoh inovasi yang melahirkan bisnis yang sedang trend saat ini seperti Alibaba.com, Uber, Aribnb dan Facebook. Wihatmoko juga mengingatkan tentang UUD Pasal 33 ayat 2, bahwa cabang- cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara dan harus menunjang lahirnya inovasi.

Sistem Inovasi Nasional yang diadopsi di Indonesia juga dapat tercipta dengan adanya hubungan kerjasama tiga pilar yaitu akademik, Industri  dan pemerintah. Dalam paparanya contoh – contoh studi kasus jaringan inovasi. Perguruan tinggi harus bergeser menjadi perguruan tinggi yang profesional, melakukan riset yang excellent dan menghasilkan produk yang inovatif. Untuk membawa hasil riset sampai menjadi komoditas yang dimanfaatkan oleh konsumen diperlukan  tahapa yang cukup panjang sehingga diperlukan dukungan pemerintah.