• Pentingnya Kultur di Universitas

    16 October 2017
    142 Views
    Comments are off for this post

    Pada intinya universitas adalah tempat untuk meningkatkan kompetensi seseorang baik berupa soft competence ataupun hard competence. Jadi, bukan sekedar tempat kursus atau pelatihan. adalah wajar bila banyak orang percaya bahwa universitas bisa memberikan bekal yang diperlukan bagi masa depan seseorang. Kepercayaan inilah yang harus dipegang oleh para dosen, tenaga kependidikan, dan pimpinan unit-unit universitas. Artinya, mereka tidak boleh menyianyiakan para mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan di universitas. Ini adalah amanah besar yang harus secara ikhlas dijalankan demi masa depan Indonesia yang lebih baik.
    Sebagai konsekuensi logis dari keinginan memberikan yang terbaik kepada mahasiswa, perlu penanganan total dalam menjalankan roda universitas. Campuran antara profesionalisme, kemanusiaan, kekeluargaan, pendidikan, pelatihan dan pengkaderan. Semua ini harus dipahami dan dijalankan oleh para dosen, karyawan, dan para pemegang unit-unit struktural level universitas sampai unit terkecil di program studi. Semua itu dapat menjadi komponen ekosistem universitas yang berpengaruh langsung (direct) dan tidak langsung (indirect) kepada mahasiswa. Untuk mengisi ekosistem pendidikan di universitas, setidaknya harus didekati melalui kultur, struktur, prosedur, dan tool (alat). Keempat unsur itu harus saling mengisi dan melengkapi layaknya komponen sistem terintegrasi dan holistik. Kultur lebih bersifat lunak (soft), adapun struktur, prosedur, dan tool lebih keras (hard).

    Karena sifatnya, kultur yang relatif lunak, cukup sulit untuk dijalankan dan diukur keberhasilannya melalui ukuran-ukuran kuantitatif. Akan tetapi, kultur sangat penting dan bisa menginspirasi serta memayungi komponen keras. Selain itu, bila pendekatan kultural sudah berhasil merasuk ke dalam jiwa individu, maka akan menjadi perilaku yang berdurasi panjang. Bahkan bisa selama-lamanya. Untuk itu, introduksi melalui kultur ini sangat penting dalam pendidikan di universitas. Tidak bisa dianggap mudah, serta tidak boleh dianggap enteng.
    Biasanya para dosen dan karyawan kurang menyadari komponen kultur ini. Sehingga sering terabaikan. Sehingga hubungan dosen dengan mahasiswa cenderung profesional, atau bahkan transaksional. Prosesnya terlalu berbentuk reward and punishment, cambuk dan hadiah. Pendekatan ini kurang menguntungkan para mahasiswa dalam proses pembentukan karakternya. Padahal, untuk jiwa yang tangguh (tough), mempunyai tujuan (purpose), dan mencintai kegiatan atau pekerjaan (passion) harus didekati secara kultural. Adapun turunannya ada reward itu bagian dari dampak logis saja. Jadi bukan tujuan utama.

    Pendekatan transaksional sulit menjamin seseorang dapat bertahan lama dan fokus menjalankan idenya menjadi realita. Padahal, perilaku inilah yang sangat diperlukan dalam kewirausahaan (entrepreneurship). Bila memang universitas berkeinginan untuk membangun calon entrepreneur, maka pendekatan kultural menjadi kunci utama keberhasilan. Karena sifat-sifat entrepreneur ini lebih banyak soft-competence daripada hard-competence. Soft-competence inilah yang akan mendorong seseorang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan untuk menjalani kehidupannya. Dalam perkataan lain, soft-competence itulah yang menstimulir mahasiswa ingin menguasai hard-competence. Selain itu, soft-competence yang bisa memperindah hard-competence. Itulah bedanya tempat kursus dan universitas. Dimana tempat kursus lebih berbobotkan pada hard-competence.

    Pendekatan kultural inilah yang bisa memotivasi mahasiswa untuk bekerja keras, berkreasi, berimajinasi, berpikir jauh ke depan, dan berinovasi. Untuk itu, universitas harus menyuasanakan berkembangnya kultur riset dan wirausaha mahasiswa. Para dosen dan pimpinan unit-unit mengusahakan sedemikian rupa agar kebiasaan riset dan wirausaha mahasiswa dapat tumbuh dan berkembang.  Misalnya dengan mengajak mereka untuk membahas ide-ide riset dan tidak mudah menyalahkan gagasan apapun yang datang dari mahasiswa. Lalu, ide ini tidak berhenti di aspek riset, tetapi bagaimana upaya kelanjutannya sehingga dapat diaplikasikan menjadi solusi. Banyak persoalan yang saat ini sangat memerlukan solusi kreatif yang perlu didiskusikan. Misalnya dalam persoalan energi, pangan, pakan ternak, transportasi, lalu lintas, optimasi sumberdaya alam, dan banyak lagi. Semua itu memerlukan pendekatan lunak (kultur), selain kurikulum di pendidikan tinggi.  Membahas isu-isu itu sulit diserahkan sepenuhnya pada kurikulum. Apalagi bila hubungan dosen-mahasiswa terlalu berbasis pada pola transaksional, kontraktual, atau profesional.
    Sebenarnya aspek struktur, prosedur, dan tool (alat), relatif mudah. Akan tetapi, tidak jarang beberapa universitas yang punya ketiga komponen itu hanya sekedar dokumen. Terutama di aspek prosedur. Bila prosedur hanya sekedar formalitas, maka proses organisasi berjalan secara business as usual, tidak sistematis, dan tidak terukur. Bila sekedar jalan, hal ini bisa saja, akan tetapi akan terjadi inefisiensi, tidak cepat, tidak tepat, atau bahkan merugikan.

    Universitas yang kulturnya lemah, tetapi ingin dikatakan baik dan profesional, pada umumnya akan mempercantik di struktur, prosedur, dan tool. Maka, biasanya strukturnya baik. Dokumen prosedurnya tersedia, serta perangkat fasilitasnya lumayan ada.  Sehingga sering universitas itu ingin mendapatkan sertifikat ISO. Ini memang penting, tetapi tidak cukup. Nessecary but not sufficient. Selain itu, tanpa memahami esensi kultur universitas, sertifikasi manajemen itu sering hanya sekedar rumbai. Ada tapi tidak ada.

    Bila kultur teratur itu tidak ada, maka sertifikat ISO hanya sekedar pajangan untuk menaikkan kelas saja. Sebagai warga orang cerdas, tidak sulit bagi kampus untuk memperoleh sertifikat ISO. Semua itu bisa disiapkan dengan berbagai cara, seperti pelatihan, lokakarya, studi banding, dan penyusunan dokumen-dokumen prosedur. Akan tetapi, tanpa penyadaran akan pentingnya kultur yang dijabarkan dalam bentuk kegiatan sehari-hari, niscaya ISO itu hanya berjalan sebentar. Lalu, para dosen dan karyawan kembali ke business as usual. Asal jalan.

    Memang ada beberapa tools dan prosedur yang harus ada untuk menjalankan kultur. Misalnya untuk kultur hemat energi, selain himbauan untuk tidak sering menggunakan lift, perlu prosedur, teknologi, dan alat (tool) operasionalnya. Misalnya, prosedurnya, sivitas harus menggunakan tangga bila naik hanya satu lantai. Adapun tool-nya, lift tidak akan berhenti bila seseorang naik hanya untuk satu lantai. Teknologi ini, bukan sesuatu yang sulit bagi ahlinya. Tinggal upaya penerapannya. Banyak kasus lainnya yang menyatukan antara kultur, struktur, prosedur, dan tool.
    Dalam proses pendidikan, mahasiswa sebagai unsur sivitas akademika dapat dilibatkan dalam upaya menginntegrasikan empat komponen di organisasi universitas. Sehingga jiwa kerjasama, kebiasaan efisien, efektif, bersih, teratur, hemat, dan disiplin itu terbangun selama mereka di kampus. Dalam hal mempelajari stuktur, prosedur, dan tool, mereka bisa belajar menerapkannya di organisasi mahasiswa. Tentu pada tahap awal mereka harus menyadari dan menguasai filosofi (hakikat, makna) organisasi. Pertanyaan di sekitar mengapa, apa, dan bagaimana organisasi itu harus biasa mereka bahas. Tanpa penguasaan hakekat itu, mereka akan terjebak teknis prosedur yang mekanistis, teknikal, dan kering. Kurang bermakna, tidak mempunyai nilai (values) yang mendasar. Untuk hal ini pun tentu mereka harus belajar. Di sini juga ada peran dosen, agar para mahasiswa tidak terlalu lama mempelajarinya.

    Perilaku-perilaku soft-competence ini tentu bisa mereka terapkan sambil memperkuat hard-competence. Itulah universitas, bukan sekedar tempat mentransfer ilmu tanpa kekuatan karakter. Artinya, tanpa kekuatan kultur, maka universitas hanya akan menjadi tempat kursus dan pelatihan. Hal ini kurang baik bagi karakter mahasiswa. Dalam hal ini kampus-kampus di Indonesia sering tertinggal dibandingkan dengan kampus di negara maju. Kita harus menyadarinya, agar bisa memperbaikinya. Insya Allah kita bisa.

    Asep Saefuddin
    (Rektor Universitas Al Azhar Indonesia/Guru Besar Statistika FMIPA IPB)

    Continue Reading
  • Psychoartic bantu kembangkan semangat  Mahasiswa UAI dalam bidang Literasi

    13 October 2017
    188 Views
    Comments are off for this post

     Jakarta- Jum’at 13/10/2017 Universitas Al Azhar Indonesia kembali mengadakan acara berupa seminar jurnalistik bertemakan Psychoartic bersama Dini Fitria (Penulis Trilogi novel CINTA dan jurnalis ) dengan tema “Mengungkap Rasa Melalui Tulisan” dan didampingi oleh ibu Radhiya Bustan.S.Psi.,M.Soc. selaku Ketua Program Studi Psikologi. Kegiatan ini diadakan oleh mahasiswa Progam Studi Psikologi Universitas Al Azhar Indonesia dalam rangka Psychology For Charity, Art, and Music.

    Selain diadakan dengan tujuan dapat membangkitkan kembali semangat literasi mahasiswa UAI, seminar ini juga diharapkan dapat menginspirasi banyak mahasiswa untuk terus berkarya dalam bidang yang disukai, terutama dalam bidang literasi. Dini Fitria dalam seminarnya menjelaskan bahwa menulis adalah sebuah proses dimana rasa dan emosi yang ada pada diri kita di tuangkan dan diperlihatkan dalam sebuah tulisan. Menulis adalah kegiatan personal dimana ketika melaksanakanya kita harus merasa jujur dan merasa merdeka  karena kedua hal tersebut yang nantinya akan memberikan jiwa pada karya yang kita tulis. “content is a king, and a king is you” kutipan kata yang begitu mengena ini dilontarkan oleh penulis muda  Dini Fitria. Penulis yang menyukai travelling dan lahir serta tumbuh di daerah Padang ini telah memulai kariernya sebagai penulis pada novel pertama yaitu Islah Cinta, kemudian berlanjut pada novel kedua Hijrah Cinta dan Ketiga Muhasabah Cinta. Selain itu Dini juga pernah menjadi produser dan presenter acara yang kemudian mendapatkan penghargaan ditahun 2017. Ia menegaskan bahwa dalam menulis kita juga sangat membutuhkan sebuah value, karena bahkan dalam fitrah kita sebagai manusia pun diciptakan dengan sebuah value atau tujuan. Sehingga nantinya tulisan kita dapat menginspirasi dan bermanfaat bagi orang banyak.

    Ditutup dengan praktisi penulisan yang baik dan benar, serta pembagian hadiah oleh Dini Fitria berupa novel Trilogi cinta. Acara ini diharapkan dapat membangun dan menginspirasi mahasiswa Universitas Al Azhar Indonesia untuk terus menelurkan karya karya yang berkualitas terutama dalam mengembangkan budaya literasi di Indonesia.

    Continue Reading
  • Bedah Prodi Bersama SMA Al Azhar 2 Pejaten, Jakarta Selatan

    12 October 2017
    142 Views
    Comments are off for this post

    Rabu, 12 Oktober 2017. Civitas akademika Universitas Al Azhar Indonesia kembali menerima kunjungan murid-murid SMA. Kali ini UAI kedatangan tamu dari SMA Islam Al Azhar 2 Pejaten. Acara yang telah rutin diselenggarakan Universitas Al Azhar Indonesia ini bertujuan untuk memberikan gambaran kepada siswa-siswi kelas 12 mengenai dunia kuliah secara umum serta program studi yang ada di Universitas Al Azhar Indonesia. Selain memperkenalkan dunia perkuliahan dan program studi apa saja yang ada di Universitas Al Azhar Indonesia

    Pada kunjungan kali ini dibuka oleh sambutan Rektor UAI Bapak Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin M.Sc, dan hadir sebagai pembicara adalah Ibu Siti Rahmawati, M.Psi, Psikolog. Beliau merupakan salah satu dosen yang ada di Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Al Azhar Indonesia, disamping itu beliau merupakan praktisi handal dibidangnya. Dalam kesempatan kali ini beliau memberikan motivasi kepada siswa-siswi dalam memililih Universitas yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Sebagaimana yang diketahui bersama, terkadang dalam memilih Universitas mengalamai kesulitan. Dalam menanggulangi hal tersebut, Ibu Siti Rahmawati, M.Psi, Psikolog juga memberikan tips dan trik agar mampu memotivasi diri sendiri.

    Seperti Bedah Prodi sebelumnya, siswa-siswi juga diberikan pengetahuan mengenai program studi yang ada di Universitas Al Azhar Indonesia. Pemaparan yang disampaikan oleh tim promosi Universitas Al Azhar Indonesia berkaitan dengan jurusan-jurusan.  Semoga apa yang telah dilakukan ini, dapat membuat siswa-siswi SMA Islam Al Azhar 2 Pejaten mendapatkan wawasan mengenai dunia kuliah dan program studi yang mereka inginkan dan tentunya Universitas Al Azhar Indonesia menunggu adik-adik semua untuk bergabung sebagai keluarga besar Universitas Al Azhar Indonesia “An Enterprising University”.

    Continue Reading
  • Ajak Mahasiswa Kritis Terhadap Perkembangan Media, Universitas Al Azhar Indonesia Hadirkan Program Okezone Goes to Campus

    12 October 2017
    234 Views
    Comments are off for this post

    Rabu,( 11/10/2017 ) – Belum Berakhir kemeriahan acara BioDay 2017  kemarin, Universitas Al Azhar Indonesia menghadirkan kesemarakan baru yang tak kalah serunya bersama Program Okezone Goes to Campus. Acara yang dinaungi oleh Program Studi Ilmu Komunikasi ini juga disiarkan secara langsung oleh Website resmi Okezone.com  pada pukul 09.00 – 12.00 WIB. Mengangkat Tema “Tantangan Media Di Era Digital : Media Online VS Media Sosial Indonesia“ diskusi hangat tentang perkembangan media di era digital ini  juga dihadiri oleh Bapak M Budi Santosa sebagai Pimpinan Redaksi Okezone.com, Alif Rizky B Force selaku salah satu youtuber Indonesia dan Bapak Nanang Haroni, SAg M.si Sebagai Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia.

    Okezone.com merupakan portal online berita dan hiburan yang berfokus pada pembaca Indonesia baik yang berada di tanah air maupun yang tinggal diluar negeri. Okezone sendiri resmi diluncurkan (Commercial Launch) sebagai portal berita pada 1 Maret 2007 dan sampai dengan bulan September 2016 Okezone mendapatkan peringkat ke- 15 dari Top 100 Website terpopuler di Indonesia. Okezone Goes to Campus adalah salah satu bentuk kampanye yang diadakan untuk mendukung perbaikan dan perkembangan media masa kini. Seperti yang kita ketahui jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai 83,7 JUTA (e-marketer) dan diperkirakamn akan terus meningkat menjadi 112 juta ditahun 2017. Pertumbuhan ini akan terus meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Revolusi digital telah memberikan masyarakat kemudahan dalam mengakses berita, tren berita Hoax kian menjamur dikalangan para pengguna Media Sosial, meskipun telah ada manfaat besar dari revolusi digital terutama dalam hal aksebilitasi informasi, tetap ada sejumlah kekhawatiran. Dan munculnya teknologi baru membawa banyak peluang potensial untuk eksploitasi. Informasi menjadi sesuatu yang mudah direplikasi tapi tidak dengan mudah diverifikasi. Oleh karena itu isu berita Hoax adalah salah satu masalah yang harus diatasi. Data yang didapat oleh tim Okezone.com  menjelaskan bahwa tingkat kepercayaan publik terhadap media ditahun 2013 lalu masih berada di tingkat 70%, lalu ditahun 2017 lalu MNC Group kembali  mensurvey data tersebut dan menurun menjadi 60%. Maka  sudah jelas tentunya bahwa ini adalah kasus yang sangat memprihatinkan yang terdapat di media masa kini.

    Bapak Nanang Haroni, SAg M.si, ketika membahas akan keresahan sosial bahwa sebagian besar masyarakat bahkan mahasiswanya akan menerima banyak berita hoax secara langsung  tanpa melakukan penyaringan berita terlebih dahulu menjelaskan bahwa,  dalam konteks menyiarkan berita sudah seharusnya mahasiswa memiliki kesadaran untuk menggunakan media secara benar, mengasah logika dengan banyak membaca dan menghindari untuk menjadi bagian dari salah satu pembaca berita Hoax maupun penyebar berita Hoax. Karena tentu saja ini akan berpengaruh terhadap eksistensi sebuah media sebagai penyiar berita.“jadilah betul betul rujukan bagi setiap informasi yang selama ini kabur, yang selama ini tidak terverifikasi. Jadi, meskipun anda memiliki rezim kecepatan jangan lupakan rezim ketepatannya, disiplin verifikasi adalah prinsip yang tidak boleh dilupakan oleh masing masing media. “ tegas beliau.

    Disamping itu masyarakat juga melihat bahwa sosial media memegang pengaruh paling besar dalam menyebarkan informasi maupun berita. Jika dibandingkan dengan media online dan media cetak kecepatan penyebaran beritanya bisa terlampau jauh oleh media sosial. Untuk menjadi generasi yang dapat menggunakan media sosial dengan baik, salah satu tamu pembicara yang merupakan seorang Youtuber Alif Rizky berbagi pengalaman tentang  konsep dan tujuannya menciptakan konten yang menarik di media yang berbasis video ini. Ia berkata “Sekarang kita harus pintar pintar membaca apa saja yang sedang Booming. Harus ada kreatifitasnya dan Funny Content. Tetap memprioritaskan kualitas video, karena tanpa kualitas kita tidak akan mampu bertahan lebih lama di dunia entertainment“ untuk menciptakan sebuah karya kita harus dapat membaca siatuasi, akhir-akhir ini konten negatif bergerak layaknya virus yang sangat banyak diminati oleh masyarakat. Namun as a good creator kita harus kembali pada rumus bahwa karya kita harus memiliki kualitas agar mampu bersaing lebih lama. Membaca situasi yang sudah salah bukan berarti mengharuskan kita untuk juga berbuat salah. Namun merubahnya dengan cara yang lebih baik.

    Kebutuhan akan media digital di teknologi yang semakin maju adalah sebuah hal yang tak bisa dihindari. ada jutaan masyarakat dan tiap perkembangan generasi masa depan yang mana kehidupan sosialnya telah didominasi oleh digital media sosial. Jika tantangan yang kian menjadi belum juga terjawab dan diperbaiki maka akan berdampak pada turunnya kualitas masyarakat dimasa depan. Disini Okezone.com sebagai salah satu portal media online melakukan verfikasi yang ketat yang sesuai dengan kaidah kaidah jurnalistik. Sebagai salah satu langkah untuk menyikapi maraknya berita Hoax yang beredar.  Yaitu dalam arti seluruh berita sebelum dipublikasikan harus melewati tahapan tahapan penyeleksian yang ketat, inilah yang menjadi poin lebih yang dimiliki media online dibanding media sosial. Namun, media sosial tidak melulu memberikan dampak yang negatif bagi masyarakat. Jika digunakan sesuai dengan kaidah, media sosial dapat menjadi ladang untuk mengakses informasi dengan cepat dan mudah, menjadi media distribusi, dan juga komunikasi. Seminar ini banyak menyadarkan mahasiswa dan generasi muda akan peran penting sebuah media dalam membentuk masyarakat dan membuka mata para mahasiswa akan perubahan Media yang lebih baik. Diskusi hangat yang ditutup dengan pembagian hadiah oleh pembawa acara pun mendapatkan apresiasi yang sangat baik dari para mahasiswa.

     

    Continue Reading
  • Rektor UAI Dukung Ide Kreatif Mahasiswa Dalam Teknologi Lingkungan di Acara BioDay 2017

    10 October 2017
    200 Views
    Comments are off for this post

    Jakarta– Mengusung tema  “Recreated to heal our earth with creative ideas”  Program Studi Bioteknologi Universitas Al Azhar Indonesia yang tergabung dalam fakultas sains dan teknologi mengadakan acara BioDay 2017 yang terdiri dari serangkaian seminar dan pameran booth hasil karya kreatifitas mahasiswa UAI. Acara rutin tahunan yang dilaksanakan oleh HIMABIO UAI ini berlangusng pada tanggal 10 Oktober 2017 di Auditorium Arifin Ponegoro dan dihadiri langsung oleh Rektor baru UAI yaitu Prof.Dr.Ir. Asep Saefuddin, MSc, wakil Rektor 3 yaitu Ibu Dr. Nita Noriko, MS, dan ketua Program Studi biologi yaitu Arief Pambudi, S.Si., M.Si.

    Dibuka dengan sambutan oleh ketua acara (Mona Salsa) dan ketua HIMABIO (Nur Aini) acara ini bertujuan untuk mengembangkan ide ide kreatifitas mahasiswa dalam menciptakan teknologi masa depan yang dapat menyelamatkan lingkungan masyarakat maupun usaha pemerintahan dalam menghijaukan lingkungan perkotaan. Karena mengangkat tema kreatifitas mahasiswa dalam mengembangkan teknologi masa kini, BioDay mengundang  dua pembicara yaitu Ibu Ir. Hapsiati  (Directur and Founder of Esha Flora) yang akan membawakan materi kultur jaringan dengan judul “Kultur Jaringan Cara Efisien Budidaya Tanaman” dan Bapak Agung Sedayu, M.Sc (Plant Systematics and Economy Botany Specialist) dengan materi Eco Campus yang berjudul “Eco Campus The Keys Issues of EnvirontmentalSustainability”. Pemilihan kedua tema ini juga diperkuat dengan kutipan sambutan dari ketua program studi bioteknologi yaitu Bapak Arief Pambudi, S.Si., M.Si yaitu  “Mengapa Harus Kultur Jaringan dan Eco Campus ? Karena ini membentuk upaya kami untuk mendukung kehidupan yang berkelanjutan, saat ini masalah lingkungan sudah menjadi tren di masyarakat. Mereka mulai menyadari pentingnya  bersikap dan berbudaya yang berwawasan lingkungan. Dan salah satu yang dapat menangani masalah ini adalah berkembangnya teknik teknik pertanian baru yang dapat mendukung kehidupan manusia dan menghidupkan kembali lingkungan yang berkesinambungan”.

    Kultur Jaringan adalah salah satu teknologi yang memanfaatkan sel dan jaringan tumbuhan untuk nantinya dapat dikembangkan dan divariasikan. Banyak negara negara maju seperti Inggris dan swiss yang sudah menggunakan teknologi ini untuk menyokong kemajuan bidang pertanian di negara mereka. Namun, banyak dari masyarakat Indonesia yang masih ragu dalam menggunakan Kultur Jaringan sabagai salah satu alternatif dalam meningkatkan hasil pertanian. Selain karena dikenal dengan biayanya yang mahal Teknologi Kultur jaringan juga belum diketahui secara luas oleh masyarakat. Disini Ibu Ir. Hapsiati mengenalkan lebih dalam dan memaparkan secara gamblang bagaimana berfikir kreatif dalam menggunakan teknik kultur jaringan yang mudah dan dengan harga yang terjangkau. Sedangkan Eco Campus sendiri adalah salah satu bentuk kampanye Universitas Al Azhar Indonesia Yang sudah dimulai sejak lama. Eco Campus merupakan refleksi dari keterlibatan seluruh civitas akademika yang berada dalam lingkungan kampus agar selalu memeperhatikan aspek kesehatan dan lingkungan di sekitarnya. Populernya isu kepedulian lingkungan oleh banyak perusahaan, sekolah dan universitas menjadikan setiap instansi meyakini bahwa  miniatur lingkungan kegiatan yang hijau dan ramah lingkungan adalah implementasi utama untuk  mengkampanyekan manajemen yang berorientasi pada pengelolaan lingkungan yang baik. Begitupun Bapak Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin Msc, percaya bahwa Indonesia khususnya Universitas Al Azhar Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang menjadi potensi besar untuk kemajuan teknologi lingkungan dimasa depan.

    Selain seminar dan pameran booth hasil karya mahasiswa UAI BioDay 2017 juga mengadakan Lomba  design poster yang bertemakan lingkungan yang bisa diikuti oleh seluruh kalangan mahasiswa. Ditutup dengan persembahan dari mahasiswa bioteknologi dan pengumuman pemenang lomba acara BioDay 2017 pun berjalan dengan lancar.

     

    Continue Reading
  • Perwakilan Mahasiswa Universitas Al Azhar Indonesia Menghadiri Acara The 2nd Asian-African Youth Festival

    10 October 2017
    202 Views
    Comments are off for this post

    Pada tanggal 23-27 September 2017 Ratih Nurfitri (Mahasiswa Prodi Sastra China), Azzahra Putri Islami (Mahasiswa Prodi Bimbingan Penyuluhan Islam), Muhammad Wicaksono (Mahasiswa Prodi Ilmu Hubungan Internasional), dan satu dosen Universitas Al-Azhar Indonesia Ibu Dr. Tri Budianingsih, SS, M.Pd menghadiri acara The 2nd Asian-African Youth Festival, di Beijing dan Xi’an-China. Acara yang diadakan oleh All-China Youth Federation ini, bertujuan untuk mengingatkan kepada pemuda di Asia-Afrika mengenai Konferensi Asia-Afrika yang diadakan di Indonesia, Bandung, tahun 1955 silam, sekaligus mengingatkan para pemuda di Asia-Afrika mengenai hubungan baik yang terjalin antar negara, dan berharap semoga para pemuda dari Asia-Afrika ini dapat meneruskan hubungan baik tersebut di masa mendatang.

    Acara ini diikuti oleh 400 pemuda dari 20 negara di Asia dan 20 negara di Afrika. Delegasi dari Indonesia berjumlah 10 orang, selain dari Universitas Al Azhar Indonesia, juga ada perwakilan dari Staf Kementrian Luar Negeri Indonesia (2 orang), perwakilan dari Staf Kementrian Pariwisata Indonesia (1 orang), perwakilan dari perusahaan (1 orang), perwakilan wartawan dari koran Rakyat Merdeka (1 orang) dan perwakilan dari Universitas swasta lain (1 orang).

    Pada hari pertama, tanggal 24 September 2017, semua peserta yang mengikuti acara ini diajak mengunjungi Tembok Besar China, melalui gerbang Juyongguan yang dikenal Badaling, yang terletak di pegunungan Badalin, China. Setelah satu jam berlalu, seluruh peserta berkumpul dan bertolak ke Crab Island untuk menghadiri seminar “The Belt and Road Initiative”.

    Seminar “The Belt and Road Initiative” mengenai pengenalan gagasan “One Belt One Road” serta pengaruhnya dalam pembangunan global, khususnya bagi kawasan Asia dan Afrika. Tidak hanya bagi China, negara Asia-Afrika yang dilalui kebijakan “One Belt One Road” juga akan merasakan dapak positif dari kebijakan tersebut, misalnya pengembangan ekonomi, peningkatan sarana dan prasarana, peningkatan jumlah turis yang berkunjung, serta pengembangan bidang sains dan teknologi.

    Pada hari kedua kami sudah berada di Xi’an tepatnya di hotel Shaanxi. Pada pukul 09:30 di gedung Great Hall of Shaanxi Hotel mulai Opening Ceremony karena pada tahun ini Xi’an terpilih menjadi tuan rumah. Pembukaan Ceremonial diawali dengan sambutan-sambutan dan welcoming speech dari setiap perwakilan Asian-African Youth Festival.

    Pukul 13:00 kegiatan selanjutnya yaitu Visit the Museum of Terra Cotta Army dimana perjalan dari hotel menuju tempat tujuan sekitar satu setengah jam. Sedikit penjelasan tentang Tentara Terracotta (patung Cina yang disederhanakan: patung Terracotta) adalah kumpulan patung terakota yang menggambarkan tentara Qin Shi Huang, Kaisar Cina yang pertama. seni pemakaman dikubur bersama kaisar pada tahun 210-209 SM dan tujuannya adalah untuk melindungi kaisar di akhiratnya. Angka-angka tersebut, yang berasal dari akhir abad ketiga SM, ditemukan pada tahun 1974 oleh petani lokal di Distrik Lintong, Xi’an, provinsi Shaanxi. Diperkirakan pada tahun 2007, tiga lubang yang berisi Angkatan Darat Terakota menampung lebih dari 8.000 tentara, 130 kereta dengan 520 kuda dan 150 kuda kavaleri, yang sebagian besar dikubur di dalam lubang di dekat Qin Shi Huang’s mausoleum. Tokoh non-militer terakota lainnya ditemukan di lubang lain, termasuk negara bagian, akrobat, orang kuat dan pemusik.

    Hari terakhir acara 2nd Asian-African Youth Festival. Pada pukul 09.00 berkunjung ke beberapa tempat. Sebelumnya dibagi menjadi 12 kelompok yang setiap kelompoknya diisi oleh 3-4 negara. Setiap kelompok mengunjungi tempat yang berbeda. Kelompok 9 yang terdiri dari Indonesia, Niger, dan Pakistan berkesempatan mengunjungi Xian University of Architecture and Technology (XUAT) dan Xian Hi-Tech Industries Development Zone.

    Dalam kunjungan ke XUAT, terlebih dahulu mengunjungi museum universitas tersebut. Hal pertama yang membuat takjub adalah adanya museum di sebuah Universitas. Di Museum XUAT, terdapat foto-foto bersejarah seperti foto ketika pembangunan universitas tersebut pertama kali dilakukan, foto ketika orang-orang penting kenegaraan mengunjungi universitas tersebut, ada pula foto-foto lulusan pertama di XUAT. Tidak hanya foto, mereka juga mengabadikan hasil karya mahasiswanya di museum tersebut. Museum ini juga menyediakan tempat untuk memajang hasil karya mahasiswanya khususnya di bidang teknologi yang diperkirakan akan dipergunakan di masa yang akan datang, dan masih banyak lagi.

    Tidak jauh dari tempat sebelumnya, kurang lebih selama 1 jam perjalanan, akhirnya tiba di Xian Hi-Tech Industries Development Zone. Tempatnya berada di kawasan perkantoran. Ditempat ini dapat dilihat ada banyak contoh-contoh teknologi yang akan dikembangkan oleh China dan juga perencanaan teknologi di China di masa yang akan datang.

    Tibalah saatnya malam puncak acara, yaitu Gala Party. Pada pukul 18.30 menuju Xian Conservatory of Music untuk menghadiri Gala Party. Sesampainya disana, ada 14 penampilan antara lain dari China, Kazakhstan, Ghana, Nepal, Sri Lanka, dan Niger. Acara Gala Party pun diakhiri dengan menyanyikan lagu ‘You and Me’ oleh semua hadirin. Di Penghujung Acara, para Panitia menyiapkan surprise party bagi setiap orang yang berulang tahun di hari itu dan merayakan ulang tahun Bersama seluruh peserta 2nd Asian-African Youth Festival.

    Continue Reading
  • Pelantikan Rektor Baru UAI Bapak Prof. Dr. Ir. Asep Saefudin

    9 October 2017
    266 Views
    Comments are off for this post

    Senin, 9/10/2017 – Universitas Al- Azhar Indonesia (UAI) mengukir sejarah baru dalam perjalanan mencetak generasi Rabbaninya yang unggul. Patah tumbuh hilang berganti, mati satu tumbuh seribu adalah gambaran berlanjutnya tongkat estafet perjuangan Universitas Al Azhar Indonesia yang sudah berdiri sejak tahun 2000 silam. Dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia ke 3 Bapak Prof. Dr. Ing. Baharudin Jusuf Habibie dan Prof. Dr. Jimly Asshidqie selaku ketua Pembina yayasan pesantren Islam Al Azhar. Dalam acara pelantikan rektor baru juga serah terima jabatan dari rektor lama ke rektor baru terasa sangat khidmat.

    Dilantik oleh Prof. Dr. Jimly Asshidqie pada Senin 9 Oktober 2017 di Auditorium Arifin Diponegoro, Prof. Dr. Ir. Asep Saefudin resmi menjadi Rektor ke-4 Universitas Al zhar Indonesia masa jabatan 2017-2021. Dalam usia UAI yang sampai pada tahap yang cukup matang, UAI terus bergerak menjadi motor perubahan bagi lingkungan masyarakat yang luas. Menciptakan generasi yang inovatif dan kreatif untuk kehidupan masa depan yang lebih baik. Tanpa menghilangkan visi dan misi Universitas Al Azhar sebagai Enterprising University, Prof. Dr. Ir.Asep Saefudin percaya bahwa UAI sebagai model Enterprising University sudah barang tentu harus menerapkan GUG (Good University Governance), tridharma entrepreneurship, quadruple-helix, dengan tetap memegang nilai-nilai luhur Islam dan Pancasila. Dengan semangatnya membawa Universitas Al Azhar Indonesia sebagai talent pool, yaitu tempat berkumpulnya mahasiswa penuh talenta, kreatif, inovatif, pekerja keras, open mind, eager to learn, share knowledge, dan kooperatif dalam bekerja, ia yakin semuanya sangat dibutuhkan dalam membangun ekonomi masa depan yang hadir dengan kekuatan digital dan ICT ( Information Communication Technologi ).

    “Kita jadikan Al Azhar sebagai pusat peradaban serta pemikiran untuk kemaslahatan umat manusia dan lingkungan hidup. kerjasama nasional internasional kita teruskan dan perluas. Student and faculty mobilization ke berbagai negara kita siapkan dengan baik “  ujar Prof. Dr. Ir. Asep Saepudin M.sc, saat sambutannya menjadi rektor baru Universitas Al Azhar Indonesia.

    17 tahun yang lalu UAI dibangun dengan semangat para pelopor dengan harapan dapat menjadi wadah dakwah dan pengembangan ilmu pengetahuan yang mumpuni. Menjadi sentral mutu pendidikan yang mahasiswanya dapat bersaing dalam skala nasional maupun internasional. 65 tahun sudah Yayasan Pesantren Islam Al Azhar bahu membahu menciptakan pendidikan islam yang bergerak sesuai dengan pedoman alquran dan hadist.  Begitupun UAI dibawah kepemimpinan Dr. Ir. Ahmad Lubis M. Sc, telah mengantarkan UAI menjadi kampus unggulan dalam kancah nasional maupun internasional, mewujudkan visi misi UAI dan implementasi tri dharma perguruan tinggi sesuai dengan kaidah kaidah an enterprising University. Melaksanakan tujuh elemen dasar UAI secara simultan menuju Universitas yang Unggulan. Dalam sambutan rektor UAI periode 2015-2017 beliau menyatakan harapanya agar UAI sebagai Enterprising University terus berkembang dan mampu memberikan kontribusi kepada perbaikan dan pengembangan ekonomi negara dan kesejahteraan rakyat.

    Ditutup dengan sambutan oleh Prof. Dr. Jimly Asshidqie besar harapan beliau agar UAI ditangan rektor baru dapat berperan lebih dalam mendorong  lebih banyak inovasi dan riset yang mana keduanya kekuatan besar yang mengantarkan keberhasilan sebuah universitas, dan beliau yakin dengan kedua hal tersebut UAI mampu berdiri lebih kuat untuk terus berkiprah dalam kemajuan Indonesia dan masyarakatnya.

    Diharapkan dengan perpindahan kepemimpinan di UAI, mampu menjadikan UAI sebagai Universitas Terkemuka dalam Membentuk Manusia Unggul dan Bermartabat, yang Memiliki Kemampuan Intelektual Berlandaskan Nilai-nilai Spiritual, Moral, dan Etika Islami.

    Continue Reading
  • Executive Lecture with Dr. Jakarin Srimoon

    29 September 2017
    544 Views
    Comments are off for this post

    Jakarta – Melihat pentingnya para generasi muda untuk mengetahui berbagai perkembangan, informasi hubungan antar negara dan juga berbagai peluang yang sangat besar bagi para generasi muda untuk menjadi mahasiswa global dan dapat bersaing di ranah Internasional.

    Universitas Al Azhar Indonesia mengadakan Kegiatan Executive Lecture yang berlangsung mulai pukul 8.30– 10.00 wib di serbaguna, Executive Lecture ini mengangkat tema “Becoming a Global Student” turut dihadiri oleh Rektor UAI, Bapak Dr. Ir. Ahmad H. Lubis, M.Sc., Wakil Ketua Forum Rektor Indonesia Bapak Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, MSc, para dosen HI, juga para mahasiswa program studi Hubungan Internasional. Hadir sebagai narasumber dalam Executive Lecture Dr. Jakarin Srimon (Dean of International Collage of University of the Thai Chamber of Commerce). Dalam acara ini Dr. Jakarin Srimon mengatakan untuk menjadi mahasiswa global kita harus berani membuka diri, berorientasi pada masa depan dan memperluas pertemanan.

    Dalam kunjunganya pada kegiatan Executive Lecture ini beliau sangat senang melihat antusiasme dan juga aktifnya para mahasiswa/i dan Universitas Al Azhar Indonesia dalam memberikan pertanyaan seputar tema yang di angkat.

    Acara ini diakhiri dengan pemberian cinderamata juga foto bersama dengan Dr. Jakarin Srimon. Dengan kegiatan ini diharapkan dapat menambah wawasan juga pengetahuan yang lebih luas lagi bagi para generasi muda dalam mengetahui perkembangan berbagai sektor internasional untuk menjadikan mahasiswa diterima di ranah internasioanal yang tentunya memiliki pengaruh besar terhadap banyak negara di dunia.

    Continue Reading
  • OSMA 17 “Be Outstanding Leader” gen FAST

    15 September 2017
    1106 Views
    Comments are off for this post

    Jakarta, Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) pada hari Senin-Jumat, 7-11 September 2017 melaksanakan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMA) bagi 793 mahasiswa baru UAI. Acara yang diawali dengan briefing pada hari Jumat kemarin.

    Berlokasi Auditorium Arifin Panigoro Acara OSMA dibuka pada hari Senin, 11 September 2017 oleh Bapak Dr. Ir. Ahmad H. Lubis, M.Sc. selaku Rektor UAI. Pembukaan OSMA yang kali ini mengusung tema gen FAST “Fathonah, Amanah, Shiddiq, Tabligh” ini dihadiri oleh segenap pimpinan diantaranya Pengurus Yayasan Pendidikan Islam Al Azhar (YPI Al Azhar), Rektor UAI, para Wakil Rektor, Dekan, dan pejabat struktural lainnya.  Acara OSMA ini dengan pembekalan pengetahuan tentang yayasan, organisasi di UAI, fakultas dan prodi, serta motivasi. Materi yang di berikan tentunya untuk turut memotivasi para mahasiswa dan mahasiswi Universitas Al Azhar Indonesia untuk dapat lebih kreatif dan inovatif sehingga dapat menjadi lulusan Universitas Al Azhar Indonesia yang berkualitas

    Para peserta OSMA wajib untuk melaksanakan sholat Dhuha bersama di Masjid Agung Al Azhar sebelum memulai kegiatan setiap harinya. Semoga dengan kegiatan OSMA ini, para mahasiswa baru semakin siap untuk menghadapi tantangan di dunia perkuliahan dan mampu menjadi mahasiswa yang Fathonah, Amanah, Shiddiq, Tabligh.

    Continue Reading
  • Universitas Al Azhar Indonesia Bersama Liga Muslim Dunia Bertekad Dalam Penguatan Pemikiran Islam Moderat di Tingkat Perguruan Tinggi

    14 August 2017
    3290 Views
    Comments are off for this post

    Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) bersama Rabitah Al Alam Al Islami (Liga Muslim Dunia) menggelar Seminar Internasional yang bertajuk “Peran Perguruan Tinggi dalam Penguatan Pemikiran Islam Moderat” di Auditorium Arifin Panigoro, Universitas Al Azhar Indonesia , Senin, 14 Agustus 2017.

    Hadir secara khusus sebagai narasumber Sekretaris Jenderal (Sekjen) Rabithah Al Alam Al Islami (Liga Muslim Dunia), Dr. Muhammad bin Abdulkarim Al ‘Isa. Pada kesempatan ini, ia menyampaikan tiga pokok bahasan mengenai peran dan tanggung jawab perguruan tinggi, tantangan bagi pemikiran Islam moderat, dan kiat merawat dan melestarikan pemikiran Islam moderat.

    Selain itu, turut hadir Dr. Anies Rasyid Baswedan, Ph.D (Gubernur DKI Terpilih), Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., (Ketua Pembina YPI Al Azhar), H. Muhammad Suhadi, S.Kom (Ketua Yayasan Pesantren Islam Al Azhar), Dr. Hidayat Nur Wahid, MA (Wakil Ketua MPR RI), Prof. Dr. Din Syamsudin, MA (Ketua Dewan Pertimbangan MUI), Prof. Ir. Hermawan K. Dipojono, Ph.D, (Ketua AMKI), Dr. Hani Ali Albalawi, (Doktor bidang Filsafat dan Perbandingan Agama, Universitas Malaya, Malaysia)  dan Dr. Ali Samoh (Director Al Wasatiyyah Research Center)

    Dalam sambutannya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Rabithah Al Alam Al Islami (Liga Islam Dunia), Dr. Muhammad bin Abdulkarim Al ‘Isa, menekankan semangat lembaga untuk meyuarakan hakikat Islam yang sejati dan prinsip-prinsip yang toleran, mengakampayenkan penguatan sikap moderat, memberikan perhatian terhadap fenomena estremisme, dan menunjukkan sikap terbuka terhadap berbagai pemikiran dan kebudayaan dalam kerangka saling memberi dan menerima secara positif dan proposional.

    Rektor Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Dr. Ahmad Lubis, M.Sc,  juga menekankan pentingnya peran pendidikan dalam membangun aqidah, pemikiran, dan pemahaman Islam yang benar di kalangan umat Islam.  “Peran Perguruan Tinggi sangat penting dalam mengajarkan  nilai, hakikat, dan prinsip Islam yang benar dengan tepat serta terbebas dari pemikiran maupun ajaran yang menyimpang”, ujar Ahmad.

    Lebih lanjut, Rektor UAI menegaskan bahwa peran perguruan tinggi dan pengaruhnya dalam menghadapi tantangan dan problematika yang berkenaan dengan pengetahuan, pemikiran, dan wacana moderasi Islam, metode membangun sikap moderat, mengkampanyekan etika dalam menyikapi perbedaan di tengah umat Islam dan berbagai jalan untuk memperkuat semangat kebersamaan di tengah masyarakat dalam rangka mewujudkan kemaslahatan dan mencegah kemudaratan.

    Seminar ini juga mempertegas peran perguruan tinggi dan pengaruh dalam menghadapi tantangan dan problematika yang berkenaan dengan pengetahuan, pemikiran, dan wacana moderasi Islam, metode membangun sikap moderat, mengkampayekan etika dalam menyikapi perbedaan di tengah umat Islam dan berbagai jalan untuk memperkuat semnagat kebersamaan di tengah masyarakat dalam rangka mewujudkan kemaslahatan dan mencegah kemudaratan. (Ratnasari Dewi)

    Continue Reading