• TOBAT SEORANG PENDOSA

    9 July 2014
    1634 Views
    Comments are off for this post

    Disebutkan dalam “Kitab At-Tawwabin” karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy, alkisah, ada seorang lelaki yang tak kunjung berhenti dari perbuatan dosanya. Padahal,dia ingin sekali bertobat dan melepaskan diri dari jerat maksiat. Suatu hari, sang lelaki mendatangi Ibrahim bin Adham, seorang sufi dan alim terkemuka pada masa itu. Beliau dimintai saran oleh si lelaki agar dia bisa keluar dari kubangan dosanya sendiri.

    Ibrahim bin Adham pun menasihatinya.

    “Jika engkau merasa sulit berhenti dari perbuatan dosa, pikirkanlah lima hal ini. Jika memang engkau mampu memenuhinya, boleh jadi engkau menemukan pembenaran atas maksiatmu.”

    “Apa itu, wahai alim?” tanya si lelaki.

    Ibrahim kemudian memerincinya.

    “Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah, pertama, jangan pernah memakan rezeki-Nya yang ada di muka bumi ini;
    kedua, janganlah engkau tinggal di bumi Allah ini jika ingin bermaksiat kepada-Nya;
    ketiga, carilah tempat yang sangat tersembunyi, sangat rahasia, tak terjangkau dan tak diketahui oleh Allah jika engkau sedang bermaksiat di tempat itu;
    keempat, jika malaikat maut datang hendak merenggut nyawamu dalam keadaan engkau berbuat maksiat, mintalah dia menunda ajalmu agar engkau diberi waktu oleh sang malaikat untuk bertobat, berbuat baik, dan menghapus jejak maksiatmu;
    kelima, jika nanti di akhirat malaikat Zabaniah penjaga nerak hendak mencampakkanmu ke neraka akibat maksiatmu di dunia ini, larilah menjauh darinya agar engkau selamat dari api neraka.”

    Mendengar nasihat yang serba mustahil baginya untuk memenuhinya, sang lelaki pun akhirnya menangis bertobat dan menyatakan penyesalannya atas kebiasaan maksiatnya selama hayatnya.

    (Nur Hizbullah)

    Continue Reading
  • Investasi Dunia Akhirat

    30 May 2014
    1778 Views
    Comments are off for this post

    Anak (al walad atau al banun) dan harta ( al maal) adalah dua elemen penting dalam kehidupan manusia, yang sering diungkapkan dalam Al Quran dalam satu ayat.

    Misalnya firman Allah dalam Surat Al Anfaal (8) ayat 28 : “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak anak mu itu hanyalah sebagai cobaan. Dan sesungguhnya di sisi Allah terdapat pahala yang sangat besar.

    Hal yang semakna walaupun dalam konteks yang berbeda misalnya kita temukan dalam firman Allah surat Al Kahfi (18) ayat 46, surat Al Munafiquun (63) ayat 9 dan surat At Taghobuun (64) ayat 14 & 15.

    Para mufassir menyatakan paling tidak terdapat dua pelajaran penting yang bisa diambil kenapa anak dan harta sering dikemukakan dalam satu ayat.

    Pertama: Adalah sudah menjadi naluriah dan fitrah setiap manusia untuk mencintai kedua hal ini. Keduanya sudah build in masuk dalam struktur ruhani dan struktur berfikir setiap manusia tanpa harus diajarkan.

    Kecintaan kepada keduanya adalah lintas suku, lintas profesi dan keahlian, lintas pendidikan, lintas jenis kelamin, lintas status sosial, bahkan juga lintas kebangsaan dan agama.

    Hal ini sebagaimana digambarkan secara jelas dalam Al Quran Surat Ali Imron (3) ayat 14. Bahkan dalam sebuah hadits sahih Rasulullah saw bersabda, “Andaikan seseorang sudah memiliki bongkahan-bongkahan emas yang memenuhi dua lembah pegunungan, pasti ia akan mencari lembah yang ketiganya, dan akan berhenti ketika perutnya sudah menempel ke tanah (mati).

    Kedua : Anak dan harta adalah dua variabel utama dan sangat penting yang menjadi penyebab keselamatan dan kecelakaan manusia.

    Jika anak dididik dengan pendidikan agama dan akhlak yang baik, sehingga menjadi anak sholeh, ia akan menjadi investasi dunia akhirat yang menguntungkan, memberkahkan, menenangkan, sekaligus menjadi penyebab keselamatan kedua orang tuanya.

    Sebaliknya jika tidak dididik dengan pendidikan aqidah dan ibadah yang benar serta akhlak yang mulia, kemudian menjadi anak yang durhaka, ia akan menjadi penyebab kecelakaan kedua orang tuanya.

    Demikian pula harta, jika didapatkan dengan cara yang benar dan dimanfaatkan untuk kebaikan diri, keluarga maupun masyarakat, menjadi sarana ibadah, ia akan menjadi penyebab kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebaliknya jika didapatkan dengan cara yang tidak benar, maka akan mencelakakan dunia dan akhirat.

    Berbagai kasus korupsi yang terjadi sekarang ini, hendaknya menyadarkan kita semua, harta yang didapatkan dengan cara yang tidak benar akan menghancurkan kehidupan kita di dunia ini apalagi di akhirat. Demikian pula anak keturunan kita. Wallahu Alam bi Ash Shawab

     REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: KH Didin Hafidhuddin

    Continue Reading
  • Obat Keresahan Jiwa

    23 May 2014
    886 Views
    Comments are off for this post

    REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: A Ilyas Ismail

    Dikisahkan, orang-orang kafir terus menghalang-halangi dakwah Rasul, dan terus menyerang serta mengolok-oloknya, sehingga Nabi merasa tidak nyaman, bahkan resah. Dalam suasana demikian, diturunkan kepada Nabi saw al-Qur’an surah al-Hijr ayat  97 – 99.

    Dipertanyakan, apakah secara kejiwaan Rasulullah mengalami perasaan gelisah, tidak senang (unhappy) atau sempit dada seperti ditunjuk ayat di atas?

    Menurut pakar tafsir al-Razi dalam Mafatih al-Ghayb, Rasulullah dilihat dari sisi kemanusiaan (basyariyyah)-nya, boleh jadi mengalami perasaan semacam itu. Hanya saja, demikian al-Razi, Rasulullah saw kemudian mendapat petunjuk dan bimbingan secara langsung dari Allah SWT.

    Menunjuk pada ayat di atas, supaya terbebas dari perasaan sedih atau gelisah, Rasulullah saw diperintahkan Allah SWT melakukan empat hal: mensucikan Allah (tasbih), memuji kebesaran dan keagungan Allah (tahmid), melakukan shalat (bersujud), dan ibadah kepada Allah SWT sampai datang kematian.

    Petunjuk ini,  tidak hanya penting bagi Nabi, tetapi lebih penting lagi bagi umat manusia, khususnya kaum beriman.

    Perintah pertama, tasbih, sesungguhnya  dimaksudkan untuk menolak anggapan dan kepercayaan sesat kaum kafir yang  menyangka ada tuhan-tuhan lain selain Allah (QS. Al-Hijr [15]: 96), dan memandang Allah memiliki anak-anak perempuan (QS. Al-Shaffat [37]: 149)

    Tasbih bermakna mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak pantas bagi-Nya. Tasbih juga bermakna mengosongkan pikiran kita dari prasangka buruk (su’u al-zhann) dan sebaliknya membangun prasangka baik, positiv thinking (husn al-zhann) kepada Allah. Positive thinking ini menimbulkan harapan (optimisme) yang mengeliminasi kecemasan.

    Perintah kedua adalah tahmid, yang berarti memuji keagungan dan kebesaran Allah. Tahmid merupakan kelanjutan logis dari tasbih. Logikanya, kalau Allah adalah Tuhan yang Maha suci, bebas dan terlepas dari segala bentuk kekurangan (munazzahun `an al-naqa’ish), maka milik-Nya segala kemuliaan dan keagungan.

    Maka kita ucapkan alhamdulillah (segala puji milik Allah). Jadi, bagi kaum Muslim, tasbih dan tahmid itu [juga takbir] menggambarkan Psychocological Stages yang menjamin ketentraman batin.

    Perintah ketiga sujud (min al-sajidin). Semua pakar tafsir sepakat, maksud sujud ini adalah shalat. Seperti

    dimaklumi, shalat adalah media komunikasi yang ampuh antara manusia dengan Allah, Tuhannya.

    Melalui shalat, orang beriman berdialog (munajat) dengan Allah. Dialog ini mencerahkan dan mendatangkan kebahagiaan. Rasulullah saw sendiri, apabila ditimpa kesulitan, langsung melakukan shalat (HR. Ahmad dan Abu Daud).

    Lalu, perintah keempat adalah beribadah sampai manusia menemui ajalnya. Ibadah di sini, bagi Ibn Katsir, juga Zamahsyari, tak hanya shalat, tapi semua kebaikan dan kepatuhan (kull al-tha`ah) kepada Allah. Bagi kaum beriman, tak boleh berlalu suatu waktu tanpa ibadah dan amal shalih.

    Siapa yang melaksanakan keempat macam ibadah ini, menurut al-Razi, akan mengalami ‘pencahayaan ilahi’ (adhwa’ ‘alam al-rububiyyah) yang membuatnya mampu menghadapi “godaan dunia.”

    Di matanya, dunia menjadi kecil, sehingga kedatangannya tak membuatnya gembira, kepergiannya pun tak mebuatnya berduka. Inilah obat keresahan jiwa yang paling manjur. Wallahu a`lam.

    Continue Reading
  • Melembutkan Hati

    16 May 2014
    642 Views
    Comments are off for this post

    “Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalanganmu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan kalian: dan dia sangat menginginkan (keselamatan dan keamanan) bagi kalian serta amat belas kasih lagi penyayang tehadap kaum mukmin.” (QS at-Taubah: 128).

    Di tengah perilaku kekerasan yang melanda masyarakat kita, diwarnai upaya memaksakan kehendak, melunturnya kepedulian sosial, timbulnya kesenjangan sosial, kekerasan dalam rumah tangga, juga dendam yang diperturutkan, maka sikap lemah lembut menjadi pilihan dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan.

    Becermin dari perilaku teladan Nabi Muhammad SAW, maka sudah selayaknya kita mengambil ibrah dan sirah nabawi dalam bersikap dan bertindak.

    Setidaknya ada tiga perilaku teladan Rasul SAW yang memperlihatkan kelembutan hati, untuk mengantisipasi gejala sosial kemasyarakatan ini , yaitu sikap rela memaafkan, rendah hati (tawadhu), dan memberi tanpa pamrih. Ketiga sikap tersebut bersumber pada luasnya limpahan rasa kasih sayang beliau pada umatnya.

    “Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…” (QS Ali Imran: 159)

    Rasulullah SAW memiliki sikap memaafkan bukan karena terpaksa atau karena tidak mampu membalas, tapi karena kasih sayang dan keikhlasan yang sempurna. Sikap rela memaafkan yang beliau contohkan bukan karena adanya paksaan dari orang lain, atau adanya pertimbangan keuntungan yang akan diperoleh, namun semata-mata dilakukan untuk mendapatkan ridha Allah SWT.

    Menurut Imam al-Ghazali, memaafkan yang hakiki adalah bahwa seseorang itu memiliki hak untuk membalas, mengkisas, menuntut, atau menagih dari seseorang yang tertentu, tapi hak yang dimilikinya tersebut dilenyapkan atau digugurkan sendiri. Sekalipun ia berkuasa untuk mengambil haknya itu.

    Sikap yang kedua adalah tawadhu bukan berarti merendahkan martabat, akan tetapi justru akan menambah ketinggian akhlak. Rasulullah SAW berpesan kepada para sahabatnya, “Rendah hati (tawadhu) itu tidak menambah seseorang melainkan ketinggian. Karena itu bertawadhulah, pasti Allah akan meninggikan derajatmu.”

    Sikap yang ketiga adalah, memberi sesuatu yang kita miliki  tanpa pamrih, sebagaimana firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak.” (QS al-Mudatstsir: 6).

    Salah satu bentuk pemberian adalah berupa harta yang kita miliki, dalam bentuk sedekah. Bersedekah itu tidak memengaruhi harta seseorang, melainkan akan semakin menambah banyak jumlahnya. Karena itu bersedekahlah, pasti Allah akan memberikan kasih sayang-Nya pada kalian semua. (HR ad-Dailami)

    Lebih jauh Rasul SAW bersabda, “Seutama-utamanya akhlak dunia dan akhirat adalah agar engkau menghubungkan tali silaturahim dengan orang yang memutuskan silaturahim denganmu, memberi sesuatu kepada orang yang menghalang-halangi pemberian padamu, serta memberi maaf kepada orang yang menganiaya dirimu.” (HR Thabrani, Baihaqi, dan Ibnu Abi Ad-Dunya).

    Oleh karena itu, nilai moral yang melembutkan hati sebagaimana dicontohkan Rasulullah tersebut layak dihidupkan kembali, minimal dalam kehidupan pribadi, keluarga, hubungan kerja, ataupun masyarakat sekitar kita. Wallahua’lam bish shawwab.

    Continue Reading
  • Kesempatan

    9 May 2014
    681 Views
    Comments are off for this post

    Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS.103:1-3)

    Semua karunia Allah SWT yang diberikan kepada manusia berbeda satu sama lain, kecuali waktu. Apapun kedudukan, warna kulit, suku bangsa, agama, budaya dan seterusnya, waktu yang dimiliki sama. Yakni satu menit 60 detik, satu jam 60 menit, satu hari 24 jam, satu minggu tujuh hari, satu bulan 30 atau 31 hari, dan satu tahun 365 hari (untuk hitungan Qomariyah ada selish 11 hari).

    Barangkali, waktu adalah karunia Allah SWT yang paling mahal dan unik. Ia tak tersentuh indra, datang sesuai sunnatullah, tak pernah berhenti dan jika berlalu tidak pernah kembali.

    Jika kehilangan waktu, ia tak bisa tergantikan dengan apapun. Pepatah Arab menyebutkan : “al waqtu ka al-saif, in lam taqtho’hu qoto’aka (waktu itu laksana pedang, jika kau tak menggunakannnya, maka ia akan memenggalmu)”.

    Begitu pentingnnya, Allah SWT pun bersumpah atas nama waktu agar kita selalu ingat dalam setiap rangkaian waktu melalui shalat fardhu dan sunnah.

    Demi waktu fajar (89:1). Demi waktu shubuh (81:18).  Demi waktu dhuha (93:1). Demi waktu siang (91:3). Demi waktu ashar (103:1). Demi waktu malam (92:1).

    Pada sepertiga malam untuk tahajjud (17:79), hingga waktu sahur sebelum fajar agar istighfar (3:17).  Kita hanya punya satu pilihan yakni lebih baik. Artinya harus ada gerak, perubahan, kemajuan dan dinamika (hijrah).

    Dalam Hadits riwayat oleh Imam al-Bayhaqi dan Ibnu Mubarok, Nabi Muhammad SAW. menyuruh kita menggunakan kesempatan untuk melakukan kebaikan. Ightanim khamsan qabla khamsin (manfaatkanlah lima kesempatan sebelum lima kesempitan.

    Pertama ; syabaabaka qobla haromika (masa muda sebelum tuamu). Banyak yang bisa dilakukan ketika usia muda, tenaga masih kuat, semangat dan cita-cita tinggi.  Masa tua seseorang bisa diprediksi dari keadaannya di waktu muda.  Allah SWT sangat kagum melihat seorang pemuda yang taat di tengah berbagai godaan syahwat duniawi, sehingga dapat perlindungan di Hari Akhir (HR. Muttafaq ‘alaih). Mumpung masih muda bisa ibadah sempurna, belajar yang giat, berbakti kepada orang tua, dan seterusnya. Kalau sudah tua semua menjadi terbatas.

    Kedua ; shihhataka qobla saqomika (masa sehat sebelum sakitmu). Nabi SAW. juga pernah mengingatkan nikmat yang seringkali melalaikan manusia adalah kesehatan. Selagi sehat banyak kebaikan yang bisa dikerjakan. Tapi kesehatan pula yang menjerumuskan kita dalam keburukan.
    Misalnya, makan tidak proporsional dan kerja tak kenal batas waktu. Selagi sehat lakukan kebaikan, karena jika sudah sakit tak bisa berbuat banyak lagi, bahkan menjadi beban bagi orang lain. Mumpung masih sehat, berjamaahlah ke masjid, kerja yang sungguh-sungguh, tunaikan kewajiban kepada Allah SWT., orang tua dan sesama.

    Ketiga ; ghinaaka qobla faqrika (masa kaya sebelum fakirmu).  Orang miskin bisa menjadi kaya dan orang kaya juga bisa miskin. Tidak semua orang diberi kesempatan kaya. Selagi kaya dan berkuasa, gunakan untuk kemaslahatan agama dan umat. Banyak orang kaya tapi sedikit yang dermawan. Bukan kaya-nya yang penting, tapi kedermawanannya. Orang kaya bisa miskin dalam sekejap, tapi orang dermawan akan selalu kaya. Kita patut iri kepada orang kaya yang dermawan. Mumpung masih kaya dan berkuasa, berkaryalah. Jangan sampai jatuh miskin atau tak berkuasa lagi, baru ingin berbuat baik. Terlambat!

    Keempat ; farooghoka qobla syughlika (masa luang sebelum sibukmu). Masa luang juga adalah karunia Allah SWT yang sering melalaikan manusia, sehingga terjerumus kepada kemaksiatan.
    Ada saatnya kita punya waktu luang yang bisa digunakan untuk melakukan kebaikan. Berkumpul dengan keluarga, orang tua, berjamaah di masjid dan mengunjungi orang-orang terlantar.
    Artinya, waktu luang harus bermanfaat bagi kebaikan diri, keluarga dan masyarakat. Karena, jika datang masa sibuk, ketemu anak dan istri pun tak sempat, apalagi shalat berjamaah ke masjid. Hidup seperti mesin, terjebak pada rutinitas yang menjenuhkan.

    Kelima ; hayaataka qobla mawtika (masa hidup sebelum matimu). Penutup dari kelima kesempatan ini adalah hidup dan mati. Selagi masih hidup, gunakanlah untuk menebar kebaikan. Hidup di dunia ini hanya sementara, laksana seorang musafir yang beristirahat di bawah pohon rindang. Perjalanan akan dilanjutkan kembali. Kematian adalah akhir kehidupan menuju hidup abadi. Kematian begitu dekat dan datang tiba-tiba, seakan tak memberi isyarat.

    Tinggal menunggu waktu (ajal). Iman dan amal saleh menjadi bekal, agar mati dalam kebaikan (husnul khatimah). Amin. Allahu a’lam bish-shawab.

    Dikutip dari REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Hasan Basri Tanjung MA

    Continue Reading
  • Mengikis Tabungan Dosa

    2 May 2014
    1023 Views
    Comments are off for this post

    Pepatah mengungkapkan, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Begitulah jika dosa-dosa kecil kita kerjakan secara terus menerus. Karena terasa remeh, boleh jadi banyak perkara yang sebenarnya tercela di sisi Allah SWT, tanpa disadari ternyata sudah menambah saldo dosa kita. Kita pun membiarkannya terus menumpuk.

    Mengenai hal tersebut, Rasulullah SAW sendiri telah mengingatkan umatnya agar bersikap waspada. Beliau bersabda, ”Awaslah kalian dari dosa-dosa kecil yang biasa diremehkan, sebab itu semua dapat terkumpul sehingga dapat membinasakan orangnya.” Lalu beliau membuat perumpamaan, suatu kaum (rombongan) yang turun berkemah di hutan dan ketika tiba waktunya makan, tiap orang keluar mencari lidi serta dahan pohon. Setiap orang mendapatkan satu dahan sehingga terkumpul banyak dan dinyalakan api yang dapat memasak makanan. (HR Ahmad).

    Dalam kehidupan sehari-hari, dosa-dosa kecil tersebut mudah sekali terjadi. Terlambat menepati janji, berkata kotor dan jorok, berlebihan dalam berbicara (dibuat-buat), mengolok-ngolok orang lain, menangguhkan hak orang lain, dan sebagainya, merupakan contoh akhlak yang tercela. Semua itu membawa konsekuensi dosa.

    Dalam Tafsir Ibnu Katsir dikisahkan bahwa dahulu pada masa Rasulullah SAW, orang-orang Yahudi menganggap bahwa mereka hanya sebentar saja kelak mendapat siksa di neraka. Karena itu mereka merasa puas dan untung atas perbuatan dosa atau kejahatannya, sehingga tidak bertobat dari dosa yang meliputi dirinya, dan mereka mati dalam kekafiran.

    Jika tidak hati-hati, anggapan orang Yahudi tersebut mungkin juga menjadi bagian keyakinan seorang muslim. Karena mengganggapnya tidak seberapa, kita lantas menjadi biasa dan semakin berani melakukan dosa-dosa kecil. Padahal Rasulullah SAW telah bersabda, ”Sesungguhnya Anda semua melakukan amal yang lebih kecil dari rambut dalam pandangan Anda semua, meski kami memandangnya (di masa Rasulullah SAW) termasuk perkara yang merusak.” (HR Bukhari)

    Agar kita terhindar dari langkah menabung dosa akibat kesalahan-kesalahan kecil, yang disengaja maupun tidak, maka Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya agar mengerjakan amalan-amalan yang disunnahkan. Banyak hal sunnah tersebut yang dapat menghapuskan dosa seseorang.

    Ada juga kiat lain yang bisa dipakai untuk menipiskan tabungan dosa kita. Sebuah hadis dari Abu Hurairah menjelaskan, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, ”Shalatnya seorang laki-laki dengan berjamaah, melebihi shalatnya di rumah dan di pasar dua puluh lima derajat. Hal ini didapatkannya karena jika ia berwudhu dengan baik, kemudian keluar untuk shalat, ia tidak keluar kecuali hanya untuk keperluan shalat saja. Maka setiap kali ia melangkah pasti akan diangkat satu derajat baginya dan akan dihapus satu kesalahan darinya.” (HR Bukhari Muslim).

    Continue Reading
  • Intropeksi Diri Dari Kesombongan

    25 April 2014
    31303 Views
    Comments are off for this post

    Bapak Ibu civitas akademika UAI yang dirahmati Alloh ….kita ketahui bahwa Sombong Adalah salah satu sifat tercela dan sejarah membuktikan betapa banyak manusia binasa karena sifat ini, sombong diibaratkan seperti api kayu bakar  yang lambat laun akan menghanguskan bangunan kita.

    Salah satu contoh gamblang tentang kesombongan  dan di abadikan dalam Al Qur’an adalah tentang kesombongan Raja Fir’aun yang mengaku melebihi kekuasaan tuhan dimuka bumi ini.

    ADAPUN Definisi sombong sebagaimana disinyalir oleh Rasulullah dalam riwayat Muslim yaitu “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia”(Riwayat Muslim)

    “Sombong adalah keadaan seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri. Memandang dirinya lebih besar dari pada orang lain, Kesombongan yang paling parah adalah sombong kepada Rabbnya dengan menolak kebenaran dan angkuh untuk tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatan ataupun meng esakan-Nya”.

    Orang SOMBONG   merasa lebih dan hebat  pada diri sendiri, kemudian ditambah dengan sifat suka menghina dan merendahkan orang lain.

    Begitu sombongnya Iblis yang enggan sujud kepada Nabi Adam. Tidak cukup dengan kesombongannya kepada Allah, lalu ia berkata : “Mana bisa aku bersujud kepada manusia, kerana aku dijadikan dari api yang mulia, sedangkan Adam dijadikan dari tanah yang hina.

    Penyakit sombong bisa menyerang siapa saja, baik lelaki atau perempuan, golongan bangsawan atau bawahan, pejabatan tinggi sampai pengemis di jalanan.

    Di dalam All-Quran, Allah SWT telah memberikan peringatan  kepada umat manusia akan kebencianNya terhadap manusia yang berlaku  sombong :

    “Dan janganlah engkau memalingkan mukamu (karena memandang rendah) kepada manusia, dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan bersikap sombong; sesungguhnya Allah tidak suka kepada tiap-tiap orang yang sombong takabur, lagi membanggakan diri.” [surah Luqman, ayat 18]

    Sombong juga merupakan perdurhakaan terhadap Rasul dan ajaranNYA, seperti Firaun yang mengaku dan menganggap dirinya tuhan, tidak mengaku Nabi Musa sebagai rasul utusan Allah.

    Begitu juga Abu Lahab serta kaum Quraisy yang enggan menerima Muhammad SAW sebagai nabi akhir zaman.

    Bapak Ibu Civitas Akademika UAI ..mari kita renungkan….? apakah kita sendiri sudah terjangkit  virus sombong  atau tanpa   disadari mungkin sebenarnya  kita adalah salah satu dari orang yg sudah terjangkit/penghidap serius penyakit sombong  selama berpuluh tahun.

    Iman Al-Ghazali menyimpulkan ada tujuh indikasi  untuk mengenali seseorang  mempunyai  penyakit hati yang merbahaya ini :

    • Pertama,  seseorang karena pengetahuannya, dan merasa dengan ilmunya itu hanya dia yang paling hebat dan menganggap semua orang lain tidak mengerti apa-apa , sehingga pendapat orang lain dianggap tidak berguna.

    Orang seperti ini, selalu menghendaki dirinya  dihormati oleh orang lain,disanjung oleh khalayak ramai, oleh atasannya, bawahannya serta sentiasa meminta diberi pelayanan yang baik dan selalu merasa minta dihargai.

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Tidak akan masuk neraka, orang yang di dalam hatinya ada seberat sebiji sawi keimanan, dan tidak akan masuk syurga yang di dalam hatinya ada seberat biji sawi dari kesombongan.” (Hadis riwayat Muslim dan Abu Daud)

    • Kedua, berlebihan dalam  beribadah . Penyakit orang ahli ibadah (seorang abid) yang merasa diri mereka  banyak beribadah  dibandingkan  dengan orang lain sehingga menganggap orang lain tidak mampu beribadah seperti yg mereka lakukan.

    Sedangkan mereka terpedaya dengan tipu daya syaitan. Rasulullah SAW mengingatkan melalui sabdanya:

    “Bahwa siapa yang memuji dirinya sendiri atas suatu amal saleh, berarti sudah tersesat dari rasa syukurnya, dan gugurlah segala amal perbuatannya.”

    Jika kita mempunyai sifat seperti ini, misalkan menghina orang yang tidak sholat atau ketika melihat orang berbuat maksiat lantas bergumam dalam hati , “Apa jadinya dengan kamu semua. Mengapa tidak alim dan shaleh seperti aku,” maka hal demikian adalah dalam kategori  orang yang berpenyakit sombong. Oleh itu, bersegeralah bertaubat atas hal ini.

    •  ketiga  sombong  karena  membanggakan keturunan, asal usul(latar belakang) pendidikan,keluarga  mulia/bangsawan, suka menyebut nama gelar2 dunia yg  berasal dari nenek moyang yang dulunya dikatakan keramat atau hebat.

    Sifat sombong seperti ini tidak ubah seperti kaum Bani Israel yang dilaknat Allah SWT., seperti diinformasikan dalam al-Quran.

    Mereka  melakukan apa saja termasuk membunuh golongan lemah karena ke egoan mereka, menganggap orang lain tidak semulia mereka.

    keempat  merasa diri cantik/tampan dan sempurna dan memandang orang lain dengan hina, seperti merendahkan ciptaan Allah SWT. hingga  menyindir atau menyebut  gelar tidak baik kepada orang lain seperti pendek, berkulit hitam atau gemuk.

    kelima merasa kelebihan HARTA, berbangga diri dengan kekayaan yang ada, rumah besar, mobil mewah hingga memandang rendah orang yang kurang berada.

    Lihatlah apa yang telah terjadi kepada Namrud, Firaun, Haman dan Qarun yang mana mereka ini adalah diantara manusia yang telah diberikan kekuasaan dan kekayaan yang besar di atas muka bumi tetapi bersikap sombong. Mereka telah kembali kepada Tuhan mereka dengan keadaan hina. Kekuasaan dan kekayaan mereka lenyap dengan serta-merta apabila mereka menemui ajal.

    • Keenam,sombong karena kekuasaan. Sehingga semua orang dengan mudah dizalimi dan dibuat tidak merasa nyaman atas  kesewenang-wenangannya
    •  ketujuh kata Imam Ghazali, ialah sombong dan berbangga karena banyak pengikutnya, sepertinya orang alim berbangga dengan banyak  murid yang memuji.

     

    HUKUM SOMBONG

    Sombong haram hukumnya dan termasuk dosa besar. Ayat2 diatas telah dengan tegas menjelaskannya.dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh” maksudnya janganlah kamu menjadi orang yang sombong, keras kepala, lagi berbuat semenamena. Jangan kamu lakukan semua itu yang menyebabkan Allah akan murka kepadamu” (Tafsir Ibnu Katsir 3/417)

    Rasul saw bersabda :“Tidak akan masuk sorga orang yang dalam hatinya ada sifat sombong,

    walaupun hanya seberat biji sawi” (Riwayat Muslim)

    Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Saw:“Sesungguhnya seseorang menyukai kalau pakainnya itu indah atau sandalnya juga baik”  Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt adalah Maha Indah dan menyukai keindahan. Sifat sombong adalah mengabaikan kebenaran dan memandang rendah manusia yang lain” [HR Muslim]

    ” Dari al-Aghar dari Abu Hurarirah dan Abu Sa’id, Rasulullah Saw bersabda: “Allah Swt berfirman; Kemuliaan adalah pakaian-Ku, sedangkan sombong adalah selendang-Ku. Barang siapa yang melepaskan keduanya dari-Ku, maka Aku akan menyiksanya”. [HR Muslim]

     

    BEBERAPA ANCAMAN BAGI ORANG SOMBONG

    1. 1.       Dibenci  Allah  SWT.

    Allah  telah berfirman: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karenasombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (Luqman :18)

    Rasulullah telah bersabda:

    “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian rendah hati,

    hingga tidak ada seorangpun yang bangga atas yang lain dan berbuat

    aniaya atas yang lain” (Riwayat Muslim)

    2. Menjadi Penghuni Neraka

    Orang yang sombong akan diadzab Allah  dengan dimasukannya

    kedalam neraka. Rasulullah bersabda:“Para penghuni neraka adalah orang-orang yang keras kepala, kasar lagi sombong” (Riwayat Bukhari-Muslim)

    Yang demikian itu karena hanya Alah lah yang berhak untuk sombong.Pantaskah manusia yang lemah dan diciptakan dari setetes air mani yang hina bersikap sombong dihadapan Allah??, Olehkarena itu Allah mengharamkan sorga bagi orang-orang yang sombong.

    3. Orang Sombong Akan Mendapat kehinaan

    Orang yang sombong akan mendapatkan kehinaan didunia berupa kejahilan dan tidak diberi petunjuk, sebagai balasan perbuatannya. Allah berfirman:“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku” (AlA’raf : 146)

    Yaitu Aku akan halangi mereka memahami hujjah-hujjah dan dalil-dalil yang menunjukan keagungan-Ku, syari’at-Ku, dan hukum-hukum-Ku

    4. Akan mendapat Kebodohan, pada hati orang-orang yang sombong untuk taat kepada-Ku dan sombong kepada manusia tanpa alasan yang benar. Sebagaimana mereka sombong tanpa alasan yang benar, maka Allah  akan hinakan mereka dengan kebodohan.(Tafsir Ibn Katsir 2/228)

    5. Hatinya Terkunci dari kebenaran

    Orang yang sombong terhadap dirinya sendiri atau menolak kebenaran dan merendahkan manusia, Allah  akan kunci mati hatinya dari menerima kebenaran. Allah  berfirman:“ Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang” (Ghafir : 35)

    Imam As Syaukani mengatakan : “sebagaimana Allah mengunci mati hati orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah, maka demikian pula Allah akan mengunci mati hati orang yang sombong lagi berbuat semena-mena”

    Lanjutnya lagi; “Yang demikian itu, karena hati merupakan sumber kesombongan. Sedangkan anggota badan yang lain tunduk mengikuti hati” (Fathul Qadir 4/492)

    6. Mendapatkan Tempat Yang Paling Buruk Hal ini sebagaimana dinyatakan Allah  dalam firman-Nya: “Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri”

    (AzZumar : 72)

    7.Tidak Diajak Bicara oleh Allah SWT. Pada hari kiamat, Kesombongan pada tingkat tertentu akan mendapat adzab yang pedih. Disamping itu mereka tidak akan diajak bicara Allah  pada hari kiamat kelak. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah

    “Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak disucikan oleh-Nya, dan baginya adzab yang pedih; (yaitu) Orang yang sudah tua berzina, penguasa pendusta dan orang miskin yang sombong” (Riwayat Muslim)

    8. Dikumpulkan Pada Hari Kiamat Seperti Semut Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat bagaikan semut kecil dalam bentuk manusia.

    9. kehinaan dari setiap penjuru, lalu mereka digiring menuju penjara neraka jahannam yang bernama Bulas. Mereka dikelilingi api neraka, yang akhirnya mereka diberi minuman dari perasan penghuni neraka yang merusak” (Riwayat Tirmidzi 2492,Ahmad 2/179, dengan sanadshahih)

    10. orang sombong akan Menjadi Pengikut Iblis

    Allah  berfirman:“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah

    kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan

    takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (AlBaqarah : 34)

    11. Orang Sombong Orang Yang Paling Jelek

    Rasulullah J bersabda:“Maukah aku khabarkan kepada kalian hamba Allah yang paling jelek?

    Yaitu orang yang kasar lagi sombong” (Riwayat Ahmad 2/174 dengansanad shahih)

    Betapa besar ancaman yang akan diderita oleh orang2 yg berprilaku sombong, yaitu kehinaan di dunia dan diakhirat kelak.

    Untuk itu kita sebagai hambaNYA hendaklah selalu ber istigfar memohon ampun dan  perlindungan dari sifat sombong  dan hendaklah senantiasa menyadari bahwa

    Kita adalah  mahkluk ciptaanNYA yang  terbuat dari tanah, tumbuh berkembang secara fisik dan pemikiran itu semua karena karunia Alloh semata.

    Dan hendaklah kita sadari bahwa kehidupan di dunia ini berputar, silih berganti dan segala sesuatu ada batasnya.

    Ingatlah bahwa kita akan berpulang ke padaNYA dan jasad kita akan dikembalikan menjadi tanah sementara RUH kita terus hidup sepanjang masa . Apabila selama ini kita menjadi orang baik maka kehidupan kita akan bahagia selamanya dan sebaliknya apabila kita menjadi orang yg tidak baik (sombong) maka kesengsaraan dan kehinaanlah yg akan diterima, sebagaimana Alloh Firmankan [dalam surah Al Mu’min, ayat 76]

    “Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong .”

    Bapak Ibu Civitas Akademika UAI Jadilah kita manusia yang bersifat tawadhu. Berbicaralah dengan perkataan yang lemah lembut dan baik di antara kita. Janganlah kita menyakiti hati orang lain dengan sikap  dan gaya kita. Karena hal itu merupakan bagian dari kesombongan.

    Continue Reading
  • Larangan Berbuat Sombong

    11 April 2014
    838 Views
    Comments are off for this post

    Manusia diciptakan oleh Allah SWT adalah sebagai khalifah fil ardh. Artinya manusia diberi kewenangan untuk mengatur dan memanfaatkan segala yang ada di bumi guna memenuhi kebutuhannya dengan syarat tetap taat dan patuh kepada aturan Allah SWT.

    Karena sebagai khalifah, maka segala segala yang ada di muka bumi adalah hanya titipan dari Dzat yang Maha Memiliki, yakni Allah Azza Wajalla. Oleh karena itu, tidak sepantasnya kita sebagai hamba bersikap sombong atau takabur.

    Karena sifat ini hanya dimiliki oleh Allah dan manusia dilarang untuk membanggakan dirinya. Sebagaimana Allah berfirman,  “Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman: 18).

    Rasulullah SAW pun dengan tegas melarang umatnya agar menjauhi sifat ini. Dalam suatu riwayat Rasulullah bersabda, “Maukah kuberitahukan kepada kalian siapakah penghuni neraka itu? Yaitu setiap orang yang berperilaku bengis, kasar, dan menyombongkan diri.”  (HR Bukhari-Muslim)

    Banyak dari manusia yang tidak tahu bahwa setan sedang berusaha dengan sekuat tenaga untuk menggelincirkan manusia dari jalan Allah. Mereka menggunakan tipu daya yang seindah mungkin untuk mengajak manusia berada dalam barisannya.

    Manusia yang memiliki iman dan tetap berpegang teguh kepada perintah Allah dan sunah Rasulullah akan mampu menghancurkan siasat dan bujukan setan tersebut. Dan manusia yang jauh dari Allah dan sunah rasulnya yang akan terpengaruhi oleh mereka.

    Hal yang dilakukan syetan salah satunya adalah menanamkan sifat sombong dalam diri manusia, bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna yang memiliki akal dan keutamaan dari pada makhluk lain. Selain itu, hasil yang didapat adalah dari kerja keras sendiri tanpa ada campur tangan Allah SWT. Na’udzubillah.

    Balasan Allah SWT kepada orang-orang yang demikian adalah siksa yang pedih di akhirat nanti. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tiga golongan yang kelak Allah tidak akan berbicara kepada mereka, tidak akan membersihkan mereka (dari dosa), dan tidak akan melihat mereka (dengan pandangan rahmat), sedang mereka akan memperoleh siksa yang amat pedih, yakni laki-laki yang berzina, pemimpin yang berdusta, dan orang miskin yang sombong.”

    Oleh karena itu, wahai saudaraku marilah kita jauhi sifat sombong dan ujub agar kita senantiasa mendapat rahmat dan maghfirah dari Allah SWT serta tergolong dalam barisan umat Rasulullah SAW, dan mendapat syafaat Beliau kelak di akhir zaman. Yaitu dengan senantiasa tetap membentengi diri kita dengan tali agama Allah dan sunah Rasulullah. Wallahua’lam.

     

     

    Continue Reading
  • Menghargai Kerja Keras

    4 April 2014
    2409 Views
    Comments are off for this post

    Syah dan ketika seseorang pemuda berjabatan tangan dengan Rasulullah SAW, tiba-tiba Rasulullah mencium tangan pemuda itu sambil mengataka, “Inilah kedua tangan yang dicintai Allah SWT.” (HR Jamaah).

    Kedua tangan pemuda itu keras dan agak kasar yang mencerminkan bahwa ia seorang pekerja keras yang tidak mengenal lelah. Tergambar pula dari raut wajahnya dan penampilan fisiknya. Ternyata sosok Muslim pekerja keras inilah yang dicintai dan dibanggakan oleh Rasulullah SAW.

    Memang, Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk selalu bekerja dan bekerja dengan penih keikhlasan dankesungguhan, mempersembahkan kerja dan amal yang terbaik (ihsan), baik dalam kaitannya dengan Allah SWT maupun dengan sesame manusia, bahkan dengan dirinya sendiri. Karena, hanya dengan cara inilah seorang Muslim akan meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia ini maupun di akhirat nanti.

    “Dan Katakanlah : “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS at-Taubah [9]: 105).

    “Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu maka berjalanlah di segala penjurunya (bekerja keras) dan makanlah sebahagiaan dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS al-Mulk [67]: 15).

    Rasulullah SAW sangat memuji orang yang berusaha dan bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya, seperti digambarkan dalam hadits di atas danhadits riwayat Imam Bukhari No 1.470; “Sesungguhnya seseorang dari kalian pergi mencari kayu bakar yang dipikul di atas pundaknya itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik diberi atau tidak.” Juga dalam hadits yang lain riwayat Imam Bukhari No 2.072; “Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri dan Nabi Dawud AS juga makan dari hasil usahanya sendiri.”

    Bahkan, jika seseorang tertidur kelelahan karena mencari rezeki yang halal maka tidurnya itu akan dipenuhi dengan ampunan dari Allah SWT (HR Imam Tabrani).

    Sebaliknya, Rasulullah SAW sangat membenci bermalas-malasan, tidak mau bekerja. Dan beliau selslu memohon perlindungan Allah SWT dari sifat malas. “Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasali wal jubni wal harami wa a’udzu bika min fitnatil mahya wal mamat wa a’udzu mika min ‘adzabil qabri” (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari sikap lemah, malas, pengecut, dan kepikunan dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur).” (HR Bukhari).

    Karena itu, kita harus bersyukur dan memberikan apresiasi (penghargaan) yang tinggi kepada generasi muda, seperti pelajar SMK yang telah berhasil membuat mobil dan merakit sebuah pesawat dengan kerja keras sendiri, di bawah bimbingan para gurunya dalam team work  yang solid. Kita yakin masih banyak generasi muda harapan bangsa yang cinta kerja untuk membangun masa depanyya dan masa depan bangsa dan masyarakatnya. Semoga kita dianugerahi kecintaan kepada kerja keras dan dijauhkan dari sifat lemah dan malas. Wallahu a’alam.

    Sumber :http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/01/27/lyfs4q-menghargai-kerja-keras

    Continue Reading
  • Apa Konsepsi Berkah?

    28 March 2014
    649 Views
    Comments are off for this post

    Berkah yang berupa kasih sayang Tuhan itu memunculkan ketenangan secara batin dan mendorong kebahagiaan secara fisik.

    Konsep berkah sangat berkaitan dengan konteks keagamaan. Dia menggambarkan spiritualitas Islam dan sensibilitas yang berkaitan dengan mistisisme. Berkah dikonotasikan sebagai ekspresi sekaligus manifestasi Islam yang universal.

    Berkah diambil dari kata baraka. Allah SWT menggunakan kata ini dalam bentuk jamak, barakat. Artinya adalah rahmat, kasih sayang, dan kekuatan supranatural yang diberikan Tuhan kepada manusia.

    Julia Clancy dalam The Oxford Encyclopedia of The Modern Islamic World, menyatakan orang-orang suci seperti Rasulullah SAW dikategorikan berkah. Begitu juga Alquran. Semua bisa mendapatkan berkah, baik itu yang hidup maupun mati.

    Muslim yang ketika hidupnya mengamalkan kebajikan, kemudian meninggal. Sementara, banyak orang terus merasakan faedah dari amal tersebut. Maka, meskipun sudah mati, orang itu tetap menerima berkah.

    Ketika seseorang mendapatkan berkah maka bisa saja dia mendapatkan keajaiban semisal karamah dari Tuhan. Misal, seseorang mengalami kecelakaan parah. Seharusnya dia mati, tapi tidak. Tuhan ternyata mengintervensi kecelakaan itu sehingga tidak ada korban jiwa.

    Berkah datang dari Allah, baik dalam hal rezeki, pertolongan, dan kesembuhan. Tidak boleh meminta berkah kepada selain Allah. Rasulullah pernah menunjukkan berkah berupa air kepada umat Islam. Dalam sebuah hadis diriwayatkan Bukhari, Rasulullah melakukan perjalanan bersama sahabatnya.

    Ketika itu, persediaan air sedikit. Rasul bersabda, “Carilah air.” Para sahabat membawa bejana berisi sedikit air. Rasulullah memasukkan tangannya. Kemudian berkata, “Kemarilah kalian menuju air yang diberkahi dan berkah itu dari Allah.” Ibnu Mas’ud menjadi saksi yang melihat kejadian itu.

    Banyak ucapan, perbuatan, serta keadaan diberkahi jika seorang Muslim melakukannya untuk mencari kebaikan dengan mengikuti sunah. Dia akan mendapatkan kebaikan dan berkah itu sesuai dengan niat dan kesungguhannya.

    Di antara ucapan-ucapan yang mengandung berkah adalah zikir kepada Allah dan membaca Alquran. Dengan zikir dan membaca Alquran seorang hamba dapat memperoleh kebaikan serta berkah yang banyak. Hal ini dijelaskan dalam hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah.

    “Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang biasa berkeliling di jalan mencari orang-orang yang berzikir. Jika mereka mendapatkan suatu kaum yang berzikir kepada Allah, mereka pun saling memanggil, ‘Kemarilah pada apa yang kalian cari (hajat kalian).” Maka para malaikat pun menaungi mereka dengan sayap mereka sampai ke langit dunia. Lalu, Allah bertanya kepada para malaikat itu, sedangkan Allah Mahatahu, “Apa yang diucapkan para hamba-Ku?’ Para malaikat menjawab, “Mereka bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan memuji Engkau.’

    Allah bertanya, “Apakah mereka melihat Aku?” Para malaikat tersebut menjawab,  “Tidak, demi Allah, mereka tidak melihat Engkau.” Allah bertanya lagi, “Bagaimana sekiranya jika mereka melihat Aku?”

    Para malaikat menjawab, “Sekiranya mereka melihat Engkau, niscaya mereka tambah bersemangat beribadah kepada-Mu dan lebih banyak memuji serta bertasbih kepada-Mu.” Allah bertanya, “Apa yang mereka minta?” Para malaikat menjawab, “Mereka minta surga kepada-Mu.” Allah bertanya, “Apakah mereka pernah melihat surga?”

    Para Malaikat menjawab, “Sekiranya mereka pernah melihatnya, niscaya mereka lebih sangat ingin untuk mendapatkannya dan lebih bersungguh-sungguh memintanya serta sangat besar keinginan padanya.”

    Allah bertanya, “Dari apa mereka minta perlindungan?” Para malaikat menjawab, “Dari neraka.” Allah bertanya, “Apakah mereka pernah melihatnya?” Para malaikat menjawab, “Tidak, demi Allah, mereka belum pernah melihatnya.”

    Allah bertanya, “Bagaimana kalau mereka melihatnya?” Para malaikat menjawab, “Seandainya mereka melihatnya, niscaya mereka tambah menjauh dan takut darinya.”

    Allah SWT berfirman, “Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.” Seorang di antara malaikat berkata, “Di antara mereka ada si fulan yang tidak termasuk dari mereka (orang-orang yang berzikir), dia hanya datang karena ada keperluan.” Allah berfirman, “Tidak akan celaka orang yang duduk bermajelis dengan mereka (majelis zikir).” (HR Bukhari)

    Dari hadis ini diketahui berkah zikir tersebut, dia mengandung pengampunan dosa-dosa dan jaminan masuk surga. Bukan hanya bagi orang-orang yang berzikir, melainkan juga mencakup orang yang duduk bersama mereka. Sedangkan, membaca Alquran termasuk jenis zikir yang paling agung. Di dalamnya terdapat berkah dunia dan akhirat yang tidak ada yang mampu menghitungnya, kecuali Allah. Rasul bersabda, “Bacalah Alquran karena sesungguhnya dia akan datang di akhirat nanti memberi syafaat kepada orang-orang yang membacanya.” (HR Muslim)

    Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/fatwa/13/12/24/mya1s3-apa-konsepsi-berkah

    Continue Reading