• Seminar Pengawasan dan Perkembangan Industri Jasa Keuangan di Indonesia

    20 March 2014
    1516 Views
    Comments are off for this post
    IMG_8453 (1024x683)

     IMG_8453 (1024x683)

    Indonesia akan menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015. Saat hal tersebut terwujud, investasi oleh investor domestik dan asing di Indonesia diperkirakan akan meningkat seiring dengan bertambahnya dengan bertambahnya perusahaan di Indonesia. Bertambah dn masuknya perusahaan tersebut tentu akan meningkatkan akses pembiayaan melalui Pasar Modal sebagai bentuk pendanaan. Sebagai salah satu bentuk industri jasa keuangan, Pasar Modal masih belum dilirik oleh masyarakat Indonesia.

    Data pada 2011 dari 10.000 penduduk di Indonesia hanya 15 penduduk yang mengakses salah satu produk jasa keuangan tersebut. Secara keseluruhan berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Worldbank, Global Finncial Inclusion Index pada tahun 2011, hanya 20% masyarakat Indonesia yang mengakses jasa keuangan di Indonesia. Oleh sebab itulah dalam memberikan pemahaman mengenai seluk beluk jasa keuangan yang ada di Indonesia, Fakultas Ekonomi UAI bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Indonesia melaksanakan Seminar Pengawasan dan Perkembangan Industri Jasa Keuangan di Indonesia.

    Hadir sebagai pembicara Biger A. Maghribi, SE., M.Bus (Auditor AIMPRK OJK). Dalam seminar yang diadakan pada Selasa, 18 Maret 2014 di Auditorium UAI beliau memaparkan tentang latar belakang didirikannya OJK, visi dan misi, bentuk organisasi OJK, serta ruang lingkup pengawasab OJK. Lebih jauh lagi beliau juga memaparkan produk dan layanan keuangan apa saja yang ada di Indonesia. Disamping itu beliau juga menjelaskan tentang plus minus investasi yang bisa dilakukan. Beliau juga memaparkan bagaimana cara investasi yang aman.

    Seminar yang juga dibuka oleh Prof. Dr. Ilya Avianti, S.E., M.Si., Ak, CPA sebagai anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan tambahan bagi mahasiswa dan civitas akademika UAI dalam dunia industri jasa keuangan di Indonesia.

     

    Berita Terkait:

    Warta Ekonomi

    JPNN.com

    [nggallery id=187]
    Continue Reading
  • Business Launching #6 “Membangun Entrepreneur Muda Yang Berkarakter Islami”

    9 January 2014
    1788 Views
    Comments are off for this post
    BL #6 (5)

    BL #6 (5)

     

    Rabu, (08/01/14) Fakultas Ekonomi Universitas Al Azhar Indonesia mengadakan Business Launching #6 dengan tema “Membangun Entrepreneur Muda Yang Berkarakter Islami”. Business Launching ini merupakan salah satu kegiatan belajar yang ada di Universitas Al Azhar Indonesia dimana mahasiswa dituntut untuk bisa membangun dan mengembangkan sebuah usaha. Dari usaha yang mereka rintis tersebut diharapkan akan lahir banyak entrepreneur muda di Indonesia. Jiwa entrepreneur yang diharapkan tidak hanya mampu menjawab tantangan jaman saja, namun UAI juga mengupayakan pengintegrasian antara pengembangan jiwa entrepreneur dengan nilai-nilai islam. Diharapkan melalui pengintegrasian ini akan lahir entrepreneur yang mampu membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.

    Pada tahun ini ada 20 Mahasiswa yang ikut serta dalam Business Launching #6. Ke-20 mahasiswa tersebut telah memiliki berbagai macam usaha, mulai dari Food & Beverages, Fashion hingga Jasa seperti rental mobil. Pada kesempatan kali ini juga usaha-usaha mahasiswa tersebut di-launching oleh Wakil Dekan Fakultas Ekonomi, Kuncoro Hadi, S.T., M.Si. melalui pengguntingan pita. Pak Kuncoro berharap bahwa usaha yang dirintis oleh mahasiswa UAI dapat berkembang dengan baik dan mampu sejalan dengan nilai-nilai islam.

    Disamping launching business, pada acara kali ini juga diadakan seminar Membangun Entrepreneur Muda Yang Berkarakter Islami dengan pembicara Mas Mono/Agus Pramono. Agus Pramono merupakan pendiri restaurant Ayam Bakar Mas Mono. Usaha ayam bakar yang dirintisnya di tahun 2001 tak disangka meledak di pasaran. Kini, setidaknya ia telah memiliki 20 cabang dengan omset puluhan juta per hari serta melego franchisenya seharga 500 juta rupiah. Sebelum sesukses ini, pria tamatan SMA ini pernah menjadi office boy, sales dan bahkan tukang gorengan. Terkait dengan tema yang diangkat beliau menjabarkan konsep Spiritual Company. Dalam membangun perusahaannya beliau mengacu kepada konsep pesantren. Beberapa cara yang diterapkan oleh beliau adalah dengan mengganti absen dengan shalat dhuha, libur pada hari jum’at, berbagi qur’ban, melakukan pengajian rutin, umroh bareng karyawan hingga karyawannya dilarang merokok. Melalui konsep ini beliau mencoba mengajak kepada para entrepreneur muda untuk membawa bisnisnya ke jenjang lebih tinggi.

    Selain mendapatkan pengetahuan tambahan mengenai entrepreneurship dari Mas Mono, peserta yang hadir juga mendapatkan sharing ilmu dari senior dan alumni Fakultas Ekonomi UAI yang sekarang telah menjalankan usaha masing-masing. Mereka adalah Muhammad Ali Akbar Taufani pemilik Comic Denim & Jeans dan Dinyahari Gumilang pengusaha yang bergerak di bidang F&B serta trading. Peserta yang hadir juga menikmati penampilan dari Ardani (Finalis Indonesia Mencari Bakat Jilid 3). Semoga dengan adanya Business Launching ini mampu menginspirasi mahasiswa untuk menjadi entrepreneur muda yang berkarakter islami.

    Berikut ini adalah nama-nama mahasiswa peserta Business Launching #6

    Nama Usaha
    1. Dikari Aliefta Hevirly2. Bey Nurul

    3. Zsa-Zsa Salsabila

    4. Novita Sari

    5. Vannesa CR

    6. Mutiara Rahmawati

    7. Ishlah Bio A

    8. Fauzia Rifani

    9. Silvani Faisal

    10.Yayang Yufinza

    11. Husna Sugiana

    12. Very Hasan Putera

    13. Yogi Pratama Bayu

    14. Fadli Reza

    15. Syahreza Falevi

    16. Tres Gantara

    17. Anovta Hermoza

    18. Lili Nurindah Sari

    19. Andi Samarna

    20. Ade Mario

    D’House (Kosan Khusus Karyawati)Citra Rent Car and Trading

    That’s Life Coffee

    Dimsum Eat

    Sebastian Coffee

    TB. Sinar Bangunan

    Handy Talk (HT)

    City Sport

    KOPLOCK

    WF Textile

    BRC (BSN Rims Center)

    Covin Java

    Web Development

    Hot Cane-Cane

    Chillus

    Steamboat Pataya

    Car Wash

    Jakarta Frame Color (WO)

    Sentral Qurban

    ALMARIZ Rent Car

    [nggallery id=178]
    Continue Reading
  • Accounting Series 8th Edition:Peluang dan Tantangan Bank Syariah di Indonesia Menghadapi Pasar Bebas ASEAN 2015.

    20 April 2013
    1539 Views
    Comments are off for this post
    Accounting Series 8 (7)

    Accounting Series 8 (7)

    Kegiatan Accounting Series 8th Edition kembali diadakan di semester genap 2012/2013. Pada Accounting Series kali ini para peserta akan mendiskusikan tentang Peluang dan Tantangan Bank Syariah di Indonesia Menghadapi Pasar Bebas ASEAN 2015.

    ASEAN adalah salah satu kawasan yang berisikan Negara-negara di benua Asia bagian Tenggara. Kawasan yang beranggotan sepuluh Negara ini, telah menandatangani perjanjian untuk melaksanakan kawasan ekonomi bebas pada tanggal 20 November 2007. Kesepakan yang akan efektif berjalan pada 1 Januari 2015 meliputi sektor riel dan keuangan. Kesepakan tersebut tentunya menjadi sebuah peluanga sekaligus tantangan tersendiri bagi perkembangan Bank Syariah di Indonesia.

    Bank Indonesia (2013) melaporkan bahwa bank Syariah di Indonesia tumbuh dengan pesat antara 40-60% per tahun. Menurut bank Indonesia (2013) saat ini terdapat 11 Bank umum Syariah (BUS), 24 Unit Usaha Syariah (USS) dan 158 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) sampai degnan tahun 2013. Dengan diberlakukannya Pasar Bebas ASEAN pada tahun 2015, Bank Syariah di Indonesia memiliki peluang sekaligus tantangan dalam mengembangkan dan meningkatkan kontribusi bank Syariah terhadap industry perbankan di Indonesia. Untuk itu tentunya diperlukan strategi yang tepat dan efektif untuk dapat mewujudkan bank Syariah yang sehat dan kuat secara finansial dan senantiasa patuh prinsip-prinsip Syariah.

    Dalam kegiatan Accouting Series 8th yang diadakan pada 10 April 2013 tampil sebagai pembicara yaitu Bapak Herwin Bustamana, MBA dan Dr. Rini, SE, MSi. Ak. Bapak Herwin Bustaman saat ini merupakan Kepala Unit Usaha Syariah (USS) Bank International Indonesia. Sebagai seorang banker di Perbankan Syariah, Bapak Herwin Bustaman memiliki keahlian dan pengetahuan yang sangat memadai dengan sarat pengalaman nasional dan internasional. Beliau menyelesaikan pendididkan terakhir pada program MBA dan International Islamic University Malaysia (IIUM). Tampil juga sebagai pembicara adalah Dr. Rini, SE, MSi. Akt, Dr. Rini merupakan dosen senior di Universitas Islam Negeri Syarif Hidyatullah dan juga tercatat sebagai dosen luarbiasa di Program Studi Akutansi Fakultas Ekonomi Universitas Al Azhar Indonesia. DR. Rini memiliki pengalaman akademik yang mumpuni dan merupakan koordinator bidang Pengembangan Kurikulim Akutansi Syariah Konsorsium Program Studi Akuntasi di Indonesia.

     

     [nggallery id=145]

    Continue Reading
  • Laporan Kunjungan Prodi Studi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Surakarta ke Laboratorium Bank Mini Syariah Fakultas Ekonomi Universitas Al Azhar Indonesia

    28 December 2012
    2716 Views
    Comments are off for this post

    Pada tanggal 17 Desember 2012, Fakultas Ekonomi UAI mendapat kunjungan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk melakukan studi banding Laboratorium Bank Mini Syariah.  Rombangan dipimpin oleh Ir. Maulidyah Indira Hasmarini, M.Si, selaku ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Eni Setyowati, SE, M.Si selaku manager opersional Bank Mini Syariah UMS.

    Agenda utama dari kunjungan ini adalah mengetahui Pelaksanaan Bank mini syariah di Fakultas Ekonomi UAI.  Masalah yang dibahas antara lain  proses prekrutan karyawan pengelola bank mini, proses pembelajaran kepada mahasiswa tentang operational banking, modul pelaksanaan praktikum Bank Mini syariah, keberadaan praktikum dalam kurikulum serta kujungan langsung ke Bank Mini Syariah  di Lantai 6.  Rombongan Prodi Studi Pembangunan UMS diterima langsung oleh Dekan Fakultas Ekonomi UAI, Prof Sayuti Hasibuan Ph.D bersama Kaprodi Manajemen , sekertaris jurusan dan Prof. Dr Ahmad Muslim.  Pada kesempatan yang baik tersebut juga dilakukan pemaparan tentang Visi dan Misi fakutas Ekonomi oleh Dekan Fakultas Ekonomi sebagai salah satu pengerak pengajaran ekonomi syariah dan dibahas juga tentang  pentingnya pelaksanaan Hukum Konsistensi dalam menjalankan roda pemerintahan pada suatu Negara. Pelaksanaan Al Qur’an dan Hadist merupakan suatu keharusan di Indonesia sebagai yang berpenduduk muslim terbesar dan sesuai dengan sila pertama pancasila yaitu Ketuhanan yang Maha Esa sebagai prinsip pokok pelaksanaan Negara dan harus dilasaknakan secara konsisten.  Masalah besar yang dihadapi secara bersama sama oleh para ilmuan Islam saat ini adalah bagai mana mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam melaksanakan kehidupan bernegara. Ada hal yang  menarik dimana beberapa dosen Universitas Muhamadiah Surakarta cukup antusias  dengan program pelaksanaan Hukum Konsistensi yang diterapkan dalam Fakultas Ekonomi UAI. Mengapa demikian? Sebab UMS secara sejarah memiliki tujuan yang selaras dengan Hukum Konsistensi.

    Continue Reading
  • Seminar Nasional Membangun Ekonomi Bangsa : Pelajaran Dari Sang Penyelamat, Sjafruddin Prawiranegara

    14 June 2011
    2107 Views
    Comments are off for this post

    Nama Syafruddin Prawiranegara, mungkin tidak seterkenal Soekarno, Muhamad Hatta, Jenderal Besar Sudirman, Soeharto atau Sri Sultan Hamangku Buwono IX.

    Lima tokoh yang memiliki peran sangat penting dalam perjuangan dan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia itu, dikenal semua masyarakat negeri ini, termasuk generasi muda sekarang.

    Dalam buku-buku sejarah perjuangan bangsa, orang bisa dengan mudah menemukan Soekarno, Muhamad Hatta, Jenderal Besar Sudirman, Seoharto dan Sri Sultan Hamangku Buwono IX,

    Namun nama Syafruddin Prawiranegara justru sulit ditemukan, padahal peranananya cukup penting dalam masa perjuangan. Sederet jabatan penting pernah diembannya seperti Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), Gubernur Bank Indonesia, Menteri Keuangan, Menteri Kemakmuran dan Wakil Perdana Menteri.

    Bahkan ketika negara dalam kondisi genting, pada 1948 karena para pemimpinnya, termasuk Soekarno dan Muhamad Hatta ditangkap dan diasingkan ke Bangka, Syafruddin yang asli putera Banten itu, diberi mandat oleh Presiden Soekarno untuk membentuk pemerintahan darurat.

    Pada 19 Desember 1948, Syafruddin yang waktu itu menjabat Menteri Kemakmuran pun melaksanakan mandat itu dan membentuk PDRI, dan dia menjadi ketuanya. Syafruddin tidak menamakan dirinya presiden.

    Dalam buku berjudul Presiden Prawiranegara yang ditulis Akmal Nasery Basral, Syafruddin menolak disebut sebagai presiden, walaupun waktu itu menjadi kepala pemerintahan dan “memiliki” sejumlah menteri sebagai pembentu dan penglima perang.

    Untuk memperingati  1 abad Mr. Sjafruddin Prawiranegara, pada hari sabtu tanggal 11 juni 2011 bertempat di aula Arifin Paniggoro Universitas Al Azhar Indonesia, telah berlangsung Seminar nasional yang bertemakan “MEMBANGUN EKONOMI BANGSA : PELAJARAN DARI SANG PENYELAMAT, SJAFRUDDIN PRAWIRANEGARA”.

    [nggallery id=18]

    Seminar Nasional yang merupakan hasil kerjasama 4 lembaga besar ini, yaitu Panitia Nasional 1 Abad MR. Sjafruddin Prawiranegara, Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar (YPIA), Fakultas Ekonomi Universitas Al Azhar Indonesia (FE UAI), dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Azhar Indonesia (FISIP UAI) berhasil dilangsungkan dengan diisi oleh tokoh dan pakar yang kompeten di bidang politik, hukum dan ekonomi. Bapak Hatta Rajasa, Menko Perekonomian RI, didaulat sebagai keynote speaker menyampaikan ulasan apik tentang pelajaran yang dapat dipetik dari Mr. Sjafruddin Prawiranegara.  Bertindak sebagai nara sumber Sesi I Bidang Politik disampaikan oleh Prof. Dr. Adnan Buyung Nasution dan Prof. Dr. Yahya A. Muhaimin (Dekan FISIP UAI).  Sedangkan nara sumber Sesi II Bidang Ekonomi Islam disampaikan oleh Dr. M. Arie Mooduto, seorang pakar Ekonomi Syariah dan Prof. Sayuti HAsibuan, Ph.D. (Dekan FE UAI).

    Pada sesi pertama, Bang Adnan Buyung dan Prof. Yahya Muhaimin menjelaskan peran Mr. Sjafruddin menyelamatkan bangsa ketika Soekarno dan Hatta ditahan oleh Belanda. Beliau mengambil inisiatif memproklamirkan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari beliau. Salah satunya adalah kejujuran dan sifat amanah Mr. Sjafruddin saat Soekarno kembali ke tanah air, beliau menyerahkan kembali mandat pemerintahan kepada Presiden Soekarno.

    Bang Adnan Buyung juga menjelaskan bahwa telah terjadi kebohongan sejarah, khususnya tentang peristiwa PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia). Bang Buyung mengungkapkan bahwa Mr. Sjafruddin bukanlah seorang pemberontak atau separatis, tapi tindakan yang diambil Pak Sjafruddin adalah tindakan koreksi atas kebijakan Presiden Soekarno yang merubah pemerintahan dari sistem parlementer ke sistem demokrasi terpimpin. Sistem demokrasi terpimpin ini memungkinkan presiden menjadi seorang Diktator. Tentu saja banyak generasi muda saat ini yang tidak mengetahui kebenaran akan fakta tersebut. Anak-anak mudah sekarang hanya tahu bahwa PRRI adalah salah satu peristiwa pemberontakan yang pernah ada di bumi Indonesia ini.

    Dalam sesi kedua yang membahas bidang ekonomi Islam, dua orang pakar bidang Ekonomi Islam berskala internasional yang menjadi nara sumber adalah Prof. Sayuti Hasibuan, Ph.D. pembicara dan penulis aktif pada seminar-seminar Nasional maupun Internasional, mantan deputi Bappenas, dan sekarang menjabat sebagai Dekan FE UAI. Pakar ekonomi syariah lainnya adalah Bapak Dr. H. M. Arie Mooduto pembicara dan penulis aktif di dalam dan luar negeri, dosen Pascasarjana pada Universitas Airlangga Surabaya, dan sebagai profesional pernah menjabat sebagai Direktur Bisnis di Bank Muamalat Indonesia.

    Sesi yang berlangsung hingga petang diikuti dengan antusias oleh para hadirin yang mewakili berbagai unsur masyarakat, seperti tokoh masyarakat, wakil rakyat di DPD, wakil ormas, wakil organisasi politik, akademisi, entrepreneur, mahasiswa, dan unsur-unsur masyarakat lainnya, sehingga menjadikan sesi ini penuh warna dan semarak. Pemaparan para nara sumber pun amat lugas dan menarik sehingga tampak antusias hadirin hingga akhir acara.

    [nggallery id=19]

    Pemaparan sesi bidang Ekonomi Islam dimulai dengan pemaparan yang disampaikan oleh Prof. Sayuti Hasibuan, Ph.D.  Secara lugas dan gamblang beliau menegaskan bahwa sistem ekonomi yang diterapkan di Indonesia tidak sejalan bahkan bertentangan dengan nilai-nilai bangsa Indonesia yaitu Pancasila, lebih jauh beliau menegaskan bahwa selama ketidakkonsistenan antara nilai dengan sistem tersebut tidak segera dikoreksi, maka bangsa Indonesia akan tetap sulit untuk bangkit dan melepaskan diri dari kondisi permasalahan multidimensi yang saat ini terus menerus dihadapi oleh bangsa Indonesia ini. Beliau menguraikan dasar dari sistem ekonomi yang saat ini digunakan terdiri atas 4 (empat) hal, yaitu: materialism, individualism, freedom of choice, dan empirical positivism dimana seluruh dasar tersebut bertentangan dengan nilai yang terumuskan dalam Pancasila. Disisi lain, ekonomi Islam yang bertumpu kepada 5 prinsip syariah yang dikenal sebagai maqashid syariah yaitu bahwa syariah Islam bertujuan menjaga dan meningkatkan: Kualitas keimanan, kualitas intelektual, kualitas keturunan, kualitas kesehatan, dan kualitas kesejahteraan amat sesuai dengan nilai-nilai bangsa yang tertuang dalam Pancasila tersebut. Sehingga Prof. Sayuti Hasibuan secara tegas menyatakan bahwa sistem ekonomi yang sekarang berlaku di Indonesia harus dikoreksi agar kesejahteraan bangsa Indonesia dapat diraih dan sistem ekonomi yang paling tepat untuk bangsa Indonesia adalah sistem ekonomi Islam. Bagaimana dengan pemikiran Pak Sjafruddin Prawiranegara di bidang ekonomi? Prof. Sayuti Hasibuan menegaskan bahwa ternyata pemikiran  Mr. Sjafruddin Prawiranegara selain konsisten dengan nilai-nilai bangsa, juga selaras dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam.

    Pemaparan selanjutnya disampaikan oleh Dr. H. M. Arie Mooduto dengan menggunakan sudut pandang yang berbeda dari Prof. Sayuti Hasibuan. Beliau menguraikan secara meluas menyentuh bidang-bidang selain ekonomi, yaitu bidang hukum dan politik. Bahkan menguraikan berat dan besarnya peran dan tanggungjawab pimpinan bangsa yang memimpin bangsa dengan menggunakan sistem yang tidak sejalan dengan sistem yang telah digariskan oleh agama, bahkan ditegaskan oleh beliau para pemimpin yang menyimpang akan mendapakan ganjaran yang amat pahit dan keras. Penyimpangan-penyimpangan yang bersifat multidimensi antara lain dipaparkan dengan contoh-contoh penyimpangan di bidang ekonomi, hukum, dan politik. Penyimpangan yang terjadi dikarenakan penerapan sistem yang bertentangan dengan prinsip Islam yang rahmatan lil alamin. Beliau tegaskan pula bahwa konsep dari sistem ekonomi mainstream (yang berlaku umum di dunia saat ini) secara tegas menyatakan bahwa spiritual dan moral tidaklah menjadi bagian dari sistem ekonomi mainstream tersebut, secara berkelakar beliau menambahkan bahwa pernyataan tersebut seharusnya diucapkan bukan oleh pakar ekonomi melainkan oleh iblis. Beliau secara tegas, walaupun dari sudut pandang yang sedikit berbeda dari paparan Prof. Sayuti Hasibuan namun memiliki kesamaan kesimpulan, menyatakan bahwa sistem ekonomi dan sistem-sistem lainnya yang diberlakukan di bumi Indonesia ini haruslah berbasis Islam.

    [nggallery id=20]

    Terkait dengan pemikiran Pak Sjafruddin Prawiranegara, beliau menegaskan bahwa pemikiran Pak Sjafruddin Prawiranegara sudah selaras dengan ekonomi Islam, namun khusus mengenai bunga bank memang kurang sesuai, namun dapat dimaklumi karena pada saat diutarakan oleh Pak Sjafruddin Prawiranegara, masalah bunga bank belumlah dibahas secara luas dan mendalam (hal itu disampaikan oleh beliau sebelum sesi kepada moderator).

    Fakultas Ekonomi UAI memperoleh masukan yang amat berharga dengan adanya Seminar Nasional 1 Abad Pak Sjafruddin Prawiranegara tersebut, yaitu semakin mantap menjadi fakultas yang mengkhususkan diri kepada pengembangan dan pengajaran ilmu-ilmu di bidang ekonomi Islam, dimana ilmu Ekonomi Islam bukanlah merupakan sistem alternatif (pilihan) melainkan satu-satunya sistem ekonomi yang baik dan benar bagi kemaslahatan umat se dunia.

    Semoga lewat seminar ini, masyarakat dapat menerapkan sistem ekonomi yang dipelajari lewat semiar ini, sehingga perekonomian bangsa dapat lebih maju dikedepannya nanti.

    Continue Reading