• Bedah Buku dan Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

    5 December 2013
    5677 Views
    Comments are off for this post
    IMG_1338 (800x533)

    IMG_1338 (800x533)

    Keluarga Ilmu Komunikasi (KOMIK UAI) Universitas Al Azhar Indonesia bekerja sama dengan Ikatan Mahasiswa Djakarta (IMADA) serta Soraya Intercine Film menyelenggarakan bedah buku dan film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Film ini diangkat dari novel karya sastrawan legendaris Indonesia, Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama Hamka. Novelnya sendiri mengangkat tema persoalan adat yang berlaku di Minangkabau dan perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih hingga berakhir dengan kematian. Diterbitkan sebagai novel pada tahun 1939, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck terus mengalami cetak ulang sampai saat sekarang. Novel ini juga diterbitkan dalam bahasa Melayu sejak tahun 1963.

    Tidak berbeda jauh dengan novelnya, film ini mengisahkan kisah Zaenuddin (diperankan oleh Herjunot Ali) yang berlayar menuju tanah kelahiran ayahnya di Batipuh, Padang Panjang. Diantara keindahan ranah negeri Minangkabau ia bertemu Hayati (diperankan oleh Pevita Pearce), gadis cantik jelita, bunga di persukuannya. Kedua muda mudi itu jatuh cinta. Apa daya adat dan istiadat yang kuat meruntuhkan cinta suci mereka berdua. Zainuddin hanya seorang melarat tak berbangsa, sementara Hayati perempuan Minang keturunan bangsawan. Lamaran Zainuddin ditolak keluarga Hayati. Hayati dipaksa menikah dengan Aziz (diperankan oleh Reza Rahardian), laki-laki kaya berbangsa yang ingin menyuntingnya. Perkawinan harta dan kecantikan mematahkan cinta suci anak manusia. Zainuddin pun memutuskan untuk berjuang, pergi dari ranah minang dan merantau ke tanah Jawa demi bangkit melawan keterpurukan cintanya. Hingga akhirnya Zainuddin dan Hayati dipertemukan kembali oleh waktu, perkawinan harta dan kecantikan bertemu dengan cinta suci yang tak lekang waktu. Pada akhirnya kisah cinta Zainuddin dan Hayati menemui ujian terberatnya, dalam sebuah tragedi pelayaran kapal Van Der Wijck.

    Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck disutradai dengan apik oleh Sunil Soraya. Film ini diperankan Herjunot Ali, Pevita Pearce, Reza Rahardian dan beberapa bintang lainnya. Hadir pada kesempatan bedah film dan buku kali ini adalah Herjunot Ali, Pevita Pearce, dan Kevin Andrean. Selain mempromosikan filmnya, mereka hadir ke tengah-tengah mahasiswa untuk berbagi pengalaman-pengalaman dalam membuat film tersebut. Tentunya pengalaman-pengalaman ini bisa menjadi informasi bagi mahasiwa. Bedah buku dan film yang diselenggarakan pada Rabu (04/12/13) ini merupakan salah satu cara dalam mencari sumber informasi-informasi yang berguna untuk perkuliahan para mahasiswa. Disamping itu kegiatan ini merupakan cara dalam menerapkan ilmu yang telah mahasiswa dapatkan di dalam kelas.

    [nggallery id=173]
    Continue Reading
  • Bedah Buku Dan Diskusi Film 99 Cahaya di Langit Eropa.

    7 November 2013
    3729 Views
    Comments are off for this post
    Web banner

    Web banner

     

    Eropa, benua besar dengan perkembangan dan kemajuan manusianya ternyata menyimpan banyak rahasia yang terkait dengan dunia islam. Pengalaman inilah yang dirasakan oleh Hanum Salsabila Rais dan telah dibukukan ke dalam novel 99 Cahaya di Langit Eropa. Pengalaman yang beliau rasakan saat menemani suaminya belajar di benua eropa selama beberapa tahun. Hasil karya dari anak tokoh reformasi Amin Rais ini kemudian diadaptasi oleh Maxima Pictures ke dalam sebuah film yang dengan judul yang sama.

    Dalam rangka memperkenalkan buku dan film tersebut ke khalayak, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar bekerjasama dengan Maxima Pictures menyelenggarakan Bedah Buku dan Diskusi Film 99 Cahaya di Langit Eropa. Bedah buku dan diskusi film ini merupakan ajang pengenalan karya anak bangsa yang akan diputar di bioskop pada 5 Desember 2013 yang akan datang. Selain itu, bedah buku dan diskusi film ini dapat menjadi salah satu proses mahasiswa dalam mendapatkan sumber informasi yang berguna dan dapat diterapkan ke dalam dunia perkuliahannya.

    Bedah buku dan diskusi film 99 Cahaya di Langit Eropa menghadirkan beberapa pembicara yang terkait dengan buku dan film tersebut. Hanum Salsabila Rais (Penulis Buku 99 Cahaya di Langit Eropa) dan Ody Mulya Hidayat (Produser Film 99 Cahaya di Langit Eropa). Disamping penulis buku dan produser film 99 Cahaya di Langit Eropa, hadir juga beberapa pemeran yang terkait dengan film tersebut diantaranya Abimana Aryasatya (sebagai Rangga), Dewi Sandra (sebagai Marion), Alex Abbad (sebagai Khan), dan Ayse (sebagai Geccha Qheagaventa). Dalam bedah buku dan diskusi film tersebut penulis, produser maupun para pemeran berbagi pengalamanya tentang karya yang telah mereka buat. Pengalaman tersebut tidak hanya terkait dengan film dan buku yang telah dibuat, namun juga bagaimana keadaan yang mereka alami mampu membawa efek yang luar biasa dalam kehidupan masing-masing  pembicara.

    Semoga dengan adanya bedah buku dan diskusi film kali ini, mampu memberikan inspirasi kepada kita untuk terus berkembang menjadi manusia yang lebih baik.

    [nggallery id=168]
    Continue Reading
  • Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia Meraih Penghargaan Best School of Communication 2013 Dari Majalah MIX

    6 September 2013
    5253 Views
    Comments are off for this post
    hargaan

    Ini dia kali keempat majalah “MIX Marketing Communication Indonesia” menyelenggarakan survey untuk memilih Indonesia Best School of Communication and Management 2013. Pemilihan Sekolah Komunikasi dan Manajemen (termasuk Marketing) terbaik setara S1 di Indonesia ini dilakukan berdasarkan wawancara kepada stakeholder kampus yang terdiri dari calon mahasiswa, para orangtua serta praktisi Human Resource di perusahaan (sebagai user).

    Akhirnya, inilah top 10 Sekolah Komunikasi dan Manajemen di Indonesia berdasarkan survey yang diadakan oleh majalah “MIX Marketing Communication Indonesia”. Adapun Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia berada di urutan ke 2 (dua), dalam Kategori Fakultas/Jurusan/Program Studi ILMU KOMUNIKASI PTS Akreditas A.

     

    Indonesia-best-schools-of-communications-and-management-2013-copy

     

    1. Perguruan tinggi yang diikutkan dalam program ini adalah perguruan penyelenggara program S1:
      • Manajemen yang mendapatkan akreditas A (57 sekolah) dan B (55 sekolah) dari Badan Akreditas Nasional perguruan Tinggi (BAN-PT) Departemen Pendidikan nasional (masa berlaku akreditasi belum habis ketika survey dilakukan)
      • Komunikasi yang mendapatkan akreditas A (18 sekolah)
      • Desain Komunikasi Visual akreditasi A yang berkedudukan di Jabodebek dan Bandung (3 sekolah)
      • Sekolah Komunikasi dan Manajemen yang pada tahun lalu masuk Top 10 hasil survey yang sama, namun pada akreditasinya tidak diperbarui (…. sekolah)
    2. Ada delapan variable persepsi tentang perguruan tinggi tersebut yang ditanyakan kepada responden yaitu:
      • Reputasi
      • Kualitas Lulusan
      • Kesesuaian antara biaya dan nilai/manfaat yang diperoleh
      • Kesetaraannya dengan perguruan tinggi berkualitas di luar negeri
      • Fasilitas pendidikan
      • Kontribusi sosial bagi lingkungan sekitar (Corporate Social Responsibility)
      • Prestasi dan pencapaian-pencapain yang sudah diraih
      • Rekomendasi
    3. Sampel survey diambil dari populasi:
      • Siswa SMA kelas 3 dan orang tua siswa di lima kota besar: Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi), Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan. Total responden siswa SMA dan orang tua adalah 2.100 dimana 900 diantaranya berdomisili di Jabodetabek, dan masing-masing 300 responden di daerah lain.
      • Survey yang digunakan kepada responden kategori ini dilakukan secara face to face.
      • Praktisi Human Resource (HR) diberbagai perusahaan di Indonesia sebagai User lulusan perguruan tinggi yang disurvey ada 80 HR untuk Sekolah Komunikasi.
    4. Survey diselenggarakan pada April-Juni 2013 ini dilakukan dengan metode multistage random sampling dimana kesalahan samplingnya sekitar 5,99% pada interval 95%.
    5. Pemeringkatan hasil survey dihitung berdasarkan indeks rata-rata ke-8 Variabel persepsi tersebut.
    Continue Reading
  • Diskusi Publik & Launching Buku “Dilema Pengaturan Keamanan Nasional (Polemik RUU Keamanan Nasional)”

    23 May 2013
    1735 Views
    Comments are off for this post
    IMG-20130409-00130

    IMG-20130409-00130

    Selasa, 9 April 2013. FISIP UAI mengadakan Diskusi Publik & Launching Buku “Dilema Pengaturan Keamanan Nasional (Polemik RUU Keamanan Nasional)”. Dalam acara tersebut hadir sebagai pembicara Mayjen TNI Hartind Asrin (Staf Ahli Kementerian Pertahanan), Yoris Raweyai (Anggota Komisi 1 Pertahanan DPR RI), Munafrizal Manan (Ketua Badan Pelaksana PSPP Universitas Al Azhar Indonesia), Said Ikbal (Anggota Koaalisi Masyarakat Sipil Untuk Reformasi Sektor Keamanan) dan Al Araf (Direktur Program Imparsial)

    Dalam diskusi tersebut dibahas mengenai berubahnya strategi dan sistem keamanan sebuah negara merupakan sesuatu hal yang niscaya terjadi. Strategi dan sistem keamanan bukanlah sesuatu hal yang statis melainkan bersifat dinamis dimana perubahan strategi dan sistem keamanan  sangat di pengaruhi dari dinamika lingkungan strategis yang terus berkembang dan terus berubah.

    Derasnya arus gelombang demokratisasi, kecenderungan konflik dari inter-state menjadi intra-state, kemajuan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat, pengakuan universalitas HAM serta kompleksitas ancaman yang berkembang pasca perang dingin tentulah menjadi faktor-faktor yang secara langung maupun tidak langsung memaksa banyak negara untuk kembali menata ulang strategi dan sistem keamanannya.

    Di Indonesia, melalui proses reformasi sektor keamanan berbagai tetapan-tetapan dan capaian-capaian positif di bidang keamanan telah dihasilkan di masa reformasi guna memperbaiki dan memperkuat sistem keamanan. Perubahan-perubahan itu meliputi perubahan di level regulasi,  perubahan peran dan fungsi aktor-aktor keamanan. Beberapa capaian dibidang regulasi diantaranya pembentukan UU Pertahanan Negara no 3/2002, UU TNI no 34/2004, maupun UU Polri no 2/2002. Sebelum beberapa peraturan perundangan tersebut, terbentuk juga terdapat TAP MPR No.VI/2000 dan TAP MPR No.VII/2000 tentang pemisahan peran dan struktur antara TNI dan Polri yang menjadi pijakan awal dalam melakukan perubahan di sektor keamanan di masa reformasi.

    Perubahan tersebut, di nilai pemerintah masih belum cukup memadai di dalam membangun sistem keamanan nasional yang komprehensif (comprehensive security). Atas dasar itulah pemerintah menginisiasi pembentukan RUU Keamanan Nasional dengan harapan adanya perumusan kebijakan yang komprehensif di dalam menghadapi dinamika ancaman yang terjadi.

    Namun demikian, RUU Kamnas yang sudah dibuat pemerintah dan telah diserahkan ke DPR masih mendapatkan kritik dari berbagai elemen masyarakat baik kritik dari aspek redaksional maupun substansial khususnya terkait dengan persoalan HAM dan kehidupan demokrasi.

    IMG-20130409-00132

    Continue Reading