• Kuliah Umum – “Perdagangan Orang dalam Perspektif Psikologi Media” yang diselenggarakan oleh Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Al-Azhar Indonesia, di Jakarta, 30 Juli 2014

    3 July 2014
    6715 Views
    Comments are off for this post
    Universitas Al Azhar Indonesia

    Catatan Singkat untuk Diskusi

    Andy Yentriyani- Komisioner, Komnas Perempuan

    Meretas Perdagangan Orang Melalu Kerja Media

     

    Ada tiga pertanyaan yang diajukan dalam diskusi ini, yaitu tentang (a) bagaimana meliput Human Trafficking; (b) Bagaimana media membantu mencegah dan memerangi Human Trafficking; dan (c) menempatkan isu Human Trafficking dalam konteks lokalisasi dan ketenagakerjaan.

    • Perdagangan orang adalah salah satu bentuk kejahatan yang telah berlangsung ratusan tahun. Karena perbudakan masih menjadi kebiasaan, diskusi awal tentang tindak kejahatan ini lebih banyak memfokuskan diri pada penjualan orang berkulit putih.
      • Baru pada tahun 1921, kata perdagangan orang (trafficking) secara resmi diperkenalkan dalam dokumen internasional, yaitu lewat Konvensi Internasional untuk Menghentikan Perdagangan Perempuan dan Anak.
      • Pada tahun 1949, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadopsi Konvensi Internasional untuk Menghambat Perdagangan Orang dan Eksploitasi dalam Prostitusi dan Lainnya. Konvensi ini mendiskusikan hubungan antara perdagangan dan prostitusi dan juga tentang consentI atau persetujuan.
      • Pasal 6 Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) , yang diadopsi PBB pada tahun 1979, menyerukan tanggungjawab negara untuk melindungi perempuan dari perdagangan dan eksploitasi berbentuk prostitusi
      • Tahun 2000, PBB mengadopsi Konvensi Melawan Kejahatan Terorganisir Transnasional, dimana di dalamnya memuat tentang Protokol untuk Mencegah, Menghentikan dan Menghukum Tindak Perdagangan Orang, khususnya terhadap Perempuan dan Anak
      • Indonesia telah meratifikasi CEDAW melalui Undang-Undang No. 7 Tahun 1984, dan mengeluarkan UU No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Perdagangan Orang (UU PTPPO)
    • Perdagangan Orang dapat dipahami sebagai “tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi” (Pasal 1 (1), UU PTPPO)
    • Eksploitasi adalah tindakan dengan atau tanpa persetujuan korban yang meliputi tetapi tidak terbatas pada pelacuran, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktik serupa perbudakan, penindasan, pemerasan, pemanfaatan fisik, seksual, organ reproduksi, atau secara melawan hukum memindahkan atau mentransplantasi organ dan/atau jaringan tubuh atau memanfaatkan tenaga atau kemampuan seseorang oleh pihak lain untuk mendapatkan keuntungan baik materiil maupun immateriil. (Pasal 1 (7), UU PTPPO)
    • Eksploitasi Seksual adalah segala bentuk pemanfaatan organ tubuh seksual atau organ tubuh lain dari korban untuk mendapatkan keuntungan, termasuk tetapi tidak terbatas pada semua kegiatan pelacuran dan percabulan. (Pasal 1 (8), UU PTPPO)
    • Berdasarkan UU PTPPO, pelaku perdagangan orang dan mereka yang terlibat dapat dikenai pidana 3-15 tahun penjara dan/atau denda 120-600 juta rupiah.
    • Jumlah korban tindak perdagangan orang secara pasti sulit diperoleh. Hanya sedikit negara yang memiliki data yang termutakhir secara rutin. Diperkirakan 3-5 juta orang diperdagangkan setiap tahunnya. Lebih 79% adalah untuk tujuan eksploitasi seksual, dimana sebagian besar korban adalah perempuan dan anak. Data UN on Drugs and Crime menunjukkan bahwa saat bersamaan, jumlah perempuan yang terlibat sebagai pelaku traficking meningkat dan lebih banyak daripada laki-laki (https://www.unodc.org/unodc/en/human-trafficking/global-report-on-trafficking-in-persons.html )
    • Data tahunan rutin dan terpilah tentang tindak kejahatan perdagangan orang di tingkat nasional juga belum tersedia meski di Indonesia telah ada gugus tugas khusus untuk ini berdasarkan perintah UU (http://www.gugustugastrafficking.org ) dan telah ada Peraturan Daerah tentang PTPPO di hampir semua provinsi.
      •   Dalam laporan pemerintah ke Komite CEDAW pada tahun 2011, misalnya, digunakan data organisasi migrasi internasional (IOM) yang melaporkan bahwa dalam kurun Maret 2005 ke Juni 2009 terdapat sekitar 3476 korban yang dibantu dimana 90%nya (3.113 orang) adalah perempuan.
      •   Catatan Tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menunjukkan bahwa jumlah kasus trafficking yang ditangani oleh lembaga penanganan kekerasan terhadap perempuan terus bertambah. Jumlah bertambah 3 kali lipat dalam waktu tiga tahun, yaitu dari 289 kasus pada tahun 2012, menjadi 403 kasus pada tahun 2012, dan naik menjadi 614 pad atahun 2013.
    • Akibat perdagangan orang, korban dapat mengalami penderitaan:
      • Fisik, seperti luka-luka, cacat, bahkan meninggal dunia,
      • Psikis, seperti ketakutan, trauma, kehilangan kontrol diri,
      • Seksual, seperti rusaknya organ dan fungsi seksual dan reproduksi
      • Ekonomi, seperti pemiskinan, terlilit hutang,
      • Sosial, seperti stigma, dikucilkan, diusir dari lingkungan
    • Peliputan media tentang kasus-kasus perdagangan orang, dengan maksud turut mencegah dan memerangi perdagangan orang, perlu dilakukan dengan:
      •   Empatik: mengenali dan memahami penderitaan yang dialami oleh korban, tidak menghakimi apalagi melahirkan stigma dan kriminalisasi pada korban. Hal sebaliknya gampang terjadi,t erutama dalam peliputan kasus perdagangan orang untuk tujuan eksploitasi seksual dimana perempuan korban dianggap terlibat, membiarkan diri, terlalu gampang menerima bujuk rayu yang berujung pada tindak perdagangan orang itu.
      •   Investigatif: informasi dihadirkan melalui penelusuran pada motif, pola dan jaringan pelaku tindak, dan pertanggungjawaban pada pemenuhan hak-hak korban atas kebenaran, keadilan dan pemulihan
      •   Solutif: mengenalkan akar masalah dan dampak, serta mendorong pelaksanaan dukungan yang tersedia dan/atau mencetuskan dukungan baru dari pihak negara maupun masyarakat untuk memulihkan korban, memutus impunitas, dan memastikan ketidakberulangan
      •   Sesuai dengan kode etik jurnalistik  (Keputusan Dewan Pers No 03/ SK-DP/ III/2006), a.l.:
        • selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.
        • tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.
        • tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak pelaku kejahatan
        • tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap
        • menggunakan hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak mau diberitakan identitasnya
        • Tidak menuliskan atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi atas dasar apapun, dan tidak merendahkan martabat orang lemah
        • Menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya
    • Sejumlah hal yang merintangi media menjalankan peran positif dalam mencegah dan memerangi perdagangan orang:
      • Komodifikasi berita kerap menyebabkan redaksi kurang memperhatikan aspek empati dan bahkan kerap melanggar kode etik jurnalistik
      • Aspek humanis vs. “bombatis”: perdagangan orang sebagai isu kronis namun telah berlangsung lama sehingga kerap luput dari pemberitaan kecuali memiliki aspek bombastis, seperti penganiayaan yang sadis, jumlah masif, dll.
      • Bentuk media: media online mengandalkan kecepatan pemberitaan dengan format berita sehingga sulit menggunakan pendekatan investigatif dan solutif
      • over-generalization: semua kasus diperlakukan sama
      • over-simplification: pemberitaan terjebak dalam diskusi pragmatis,  misalnya setuju tidak penutupan lokalisasi tanpa menyoal akar masalah dan dampak yang kompleks sifatnya
      • Kapasitas jurnalis: keterbatasan kemampuan analisa persoalan sosial, minim perspektif keadilan, dan kurang akses pengembangan kapasitas akibat perusahan media tidak menempatkan itu sebagai prioritas pengembangan SDM
      • Perlindungan bagi jurnalis: intimidasi dari pelaku trafficking, yang kerap berwujud sindikat dan berindikasi keterlibatan aparat negara.
    • Menghadapi rintangan ini, beberapa aspek perbaikan yang perlu didorong
      • Pengawasan muatan berita baik oleh Dewan Pers, Komisi Penyiaran Indonesia maupuan organisasi jurnalistik
      • Pelatihan bagi jurnalis dan editor
      • Pengembangan sistem perlindungan bagi jurnalis
    • Dalam memerangi perdagangan orang, sejumlah negara memberlakukan hukum yang merintangi migrasi- perpindahan orang dari satu negara ke negara lainnya. Hukum serupa ini dinilai proteksionis dan menghambat penikmatan hak asasi manusia atas mobilitas, yang utamanya dilakukan dalam rangka memperoleh penghidupan yang lebih baik.
    • Indonesia sebagai negara sumber, transit maupun penerima korban perdagangan orang, baik dalam negeri maupun antar negara, memiliki kewajiban untuk memikir ulang tata kebijakan dan infrastruktur memerangi perdagangan orang dengan tidak menghambat mobilitas dan kesempatan kerja, a.l.:
      • Pasca ratifikasi Konvensi Perlindungan Migran dan Keluarganya, Indonesia perlu memperbaiki UU No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri guna memperkecil kemungkinan perdagangan orang untuk eksploitasi tenaga kerja di luar negeri
      • Meninjau ulang butir pengaturan dan pelaksanaan UU No 40 Tahun 2008 tentang Pornografi yang berkontradiksi dengan UU PTPPO dalam hal melindungi korban perdangangan orang untuk tujuan eksploitasi seksual
      • Mengevaluasi dan memantapkan kinerja Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tinda Pidana Perdagangan Orang yang telah dibentuk sejak tahun 2008 dan dipimpin oleh Menkokesra
    • Dalam hal keterkaitan tindak pidana perdagangan orang dan prostitusi:
      • Perdagangan orang untuk tujuan eksploitasi seksual termasuk tetapi tidak terbatas dalam bentuk prostitusi. Perdagangan orang untuk tujuan seksual, eksploitasi seksual dan prostitusi paksa adalah 3 jenis kekerasan seksual yang bertumpangtindih namun saat bersamaan memiliki perbedaan sehingga dapat diperlakukan sebagai tiga tindak kejahatan terpisah.
      • Dalam paradigma perdagangan orang, korban dikenali sebagai pihak yang tidak dapat memberikan persetujuan murni  (consent).  Keberadaan korban dalam prostitusi, karenanya, dipahami sebagai akibat dari ‘keterpaksaan’, termasuk oleh situasi sistemik/struktural serupa kemiskinan, ketiadaan lapangan kerja sebanding, juga hirarki tidak setara perempuan-laki-laki (sebab sebagian besar korban masih perempuan, meski ada laki-laki yang terlibat menjadi korban).
      • Keterpaksaan juga dapat diperhitungkan dari ketidaksiapan masyarakat menerima integrasi korban prostitusi. Hal ini berkait dengan stigma pekerja seks sebagai manusia (utamanya perempuan) tidak bermoral dan sampah masyarakat. Contoh ketidaksiapan masyarakat tampak pada cerita pengalaman mantan pekerja seks yang tidak bisa mendapatkan pelanggan untuk usahanya baik di bidang tata boga maupun salon kecantikan, serta penangkapan waria mantan pekerja seks yang membuka usaha menjual hamburger di Aceh sebab terus dicurigai menjadi tempat transaksi terselubung.
      • Penyelesaian prostitusi menuntut perbaikan dari akar masalah ‘keterpaksaan’. Lokalisasi dapat dilihat sebagai cara penyelesaian darurat, untuk memperkecil peluang perdagangan orang, khususnya anak; isolasi zona penyebaran dampak kesehatan dan sosial akibat prostitusi, serta untuk mempermudah pelaksaan program intervensi pengentasan korban.
      • Penutupan lokalisasi yang tidak disertai dengan upaya sungguh-sungguh dalam menuntaskan akar masalah dan dampak ditenggarai berakibat pada prostitusi terselubung yang menyebar dalam masyarakat, yang pada akhirnya memiliki implikasi sosial yang lebih besar daripada kehadiran lokalisasi itu sendiri.
      • Karena itu, penyikapan soal penutupan lokalisasi sebaiknya dilerai dari dikotomi setuju tidak setuju prostitusi- melainkan lebih pada perbedaan titik pandang pada akar masalah prostitusi dan langkah penuntasannya.

    Referensi

    Altink, Sietske. 1995. Stolen Lives: Trading Women Into Sex and Slavery. New York: Harrington Press.

    Hollifield, James. 2008 “The Politics of International Migration” in Migration Theory: Talking across Disciplines,” 2008, edited by C. Brettell and J. F. Hollifield, New York: Routledge

    Lainez, Nicolas. 2010. “Representing Sex Trafficking in Southeast Asia? The Victim Staged” in Sex Trafficking, Human Rights and Social Justice. Pp.134-149. Edited by Tiantian Zheng. London: Routledge.

    Mackintosh, Mureen. 1981. “Gender and Economy: The Sexual Division of Labour and the Subordination of Women” dalam Kate Young, (ed.), Of Marriage and the Market: Women’s Subordination Internationally and Its Lessons, London: CSE Books, 1981

    Mies, Maria. 1986. Patriarchy and Accumulation on A World Scale, London:Zed Books.

    Sassen, Saskia. 2003. “Global Cities and Survival Circuits” in Global Woman: Nannies, Maids, and Sex Workers in the New Economy. Pp.2 54-274. Edited by Barbara Ehrenreich and Arlie Russell Hochschild. New York: Metropolitan Books.

    Wijers, Marjan & Lin Lap Chew.1999. Trafficking in Women, Forced Labour and Slavery Like Practices in Marriage, Domestic Labour and Prostitution. Netherlands: Foundation Against Trafficking in Women & Global Alliance Against Trafficking in Women.

    Kerangka Hukum Internasional dan Nasional

    • Supplementary Convention on the Abolition of Slavery, the Slave Trade and Institutions and Practices 
Similar to Slavery
    • International Convention for the suppression of traffic in Women and Children,
    • International Convention for the Suppression of Traffic in Persons and of the Exploitation of the 
Prostitution and Others
    • Protocol to Prevent, Suppress and Punish Trafficking in Persons, Especially Women and Children, attachment 
to the Convention against Transnational Organized Crime
    • Undang-Undang No. 7 Tahun 1984, dan mengeluarkan UU No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Perdagangan Orang

    Situs:

    https://www.unodc.org/unodc/en/human-trafficking

    kode etik jurnalistik http://www.dewanpers.or.id/page/kebijakan/peraturan/?id=513

    Andy Yentriyani

    Jl. Garuda No. 22 H, Kemayoran, Jakarta Pusat,  10620, Indonesia

    Mobile +62 813 1712 8173, twitter @andykomnaspr

    e-mail: andykomnaspr@gmail.com

     

    Publications

     

    a. Book, Journal, Article

    2013

     

     

    2008

    • Overview of 8 years implementation of Anti Domestic Law in Indonesia: Its Success and challenges, (German ed.);  Gewalt gegen Frauen in Südostasien und China, Regiospectra Verlag Berlin; Auflage
    • Perkawinan dalam Kajian Ekopolin Ilmu Hubungan Internasional, “Gender &Hubungan Internasional”, Jalasutra, Indonesia
    • Preserving Our Autonomy on Body and Sexuality: Indonesian Women’s 2008 Agenda, Women for Women’s Human Rights (WWHR) – New Ways, Turkey

    2007

    2005

    • Towards Better Recognition of the Rights of Foreign Brides. Proceeding of International Conference on Border Control and Empowerment of Immigrant Brides. Taipei, 29-30 September 2007
    • To Pursue Luck or Ill Fate?: Trafficking in Women through Indonesia-Taiwan Transnational Marriages in the World Systems Framework, “Indonesian Women in a Changing Society”, The Asian Center for Women’s Studies (ACWS), South Korea

    2004

    • The Politics of Trafficking in Women (in Indonesian language), Galang Press &The Ford Foundation, Yogyakarta, Indonesia

    2002

    • “The Portrayal of Trafficking in Women in Indonesia “, Human Rights Discourse, (in Indonesian), The National Commission on Human Rights, Jakarta

    2000

    • “Trans-national Marriage between Indonesian-Chinese Women and Taiwanese Men: A Model of Trafficking in Women in Indonesia”, Indonesian Women in Changing Society (selected articles- Indonesian), Women Studies, Postgraduate Program, University of Indonesia, Jakarta

     

    1. Publications for Komnas Perempuan/National Commission on Violence Against Women (Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan)

    2013

          2012

    • “Antara Perlindungan dan Pengawasan: Pengawasan Isi Siaran Bermuatan Seksualitas dan Perempuan”, a review on the role of National Commission on Broadcasting  (et.all)
    • “Menakar Pengawal Demokrasi”, 2nd  Review on the Role of Media on combatting sexual violence against women  (et.all)

    2011

     

    2010

    2009

    • “Menilik Pemberitaan Media tentang Kekerasan Seksual”, review on 8 newspaper compliance to ethic in reporting sexual case   (et.all)
    • NAPAK REFORMASI, a practical guide to build memorialization initiative on violence against women occurred during the May 1998 Riots in Indonesia.  (et.all)
    • Sexual Violence Against Women: Recognize, Respond (campaign materials)
    • Taking a Stand: Four Decades of Violence Against Women in the Nation’s Journey
    • In the name of Regional Autonomy: Institutionalization of Discrimination through State Policies; a human rights report

    2008

    • “Ensure Their Safety” (a documentation report on the most recent situation of the women victims of sexual violence committed during the May 1998 riots in Jakarta and various big cities in Indonesia, co-writer, in Indonesian language)

    2007

    • Aceh Women’s Experience in Accessing Justice. (a documentation report on Aceh Women’s Access to Justice during armed conflict, post tsunami and in relation to the implementation of Sharia law, co-writer,  Indonesian & English)
    • Formats to Monitor Status of Women’s Rights in IDPs Camps (Indonesian)
    • 13 Key Questions on Comprehensive Recovery for Women Victims of Violence  (Indonesian)
    • As Editor & expert reader for:

    –           Guidelines to Monitor Local Regulations with Human Rights and Gender Justice Framework (Indonesian)

    –           Women’s Rights in Inheritance and Children Guardianships: Ensuring Women’s Access to Justice in Post Tsunami & Post Conflict of Aceh (Indonesian & English)

    –           Struggle in Pressures: Documentation Report on Women’s Human Rights Defenders’ experiences of violence and vulnerabilities. (Indonesian & English)

    2006

     

    • Status of Human Rights of Aceh Women IDPs: A Report on Experience of Violence and Discrimination Against Women IDPs in Aceh  (co-writer, Indonesian & English)

       2004

    • Indonesian Women’s Experience in Torture: A Country Report (in English,  submitted to the Asia Pacific Forum on National Commissions)

    2003

    • “Ceritakan Sekali Lagi” (Tell Me Once Again- in Indonesian), a short documentary film on mass rape and other sexual assault against ethnic Chinese-Indonesian women during  May Riots 1998 in Indonesia

    2002

    • Women in Conflict Area”, Mapping the Indonesian Women’s Experience of Violence (in Indonesian),
    • Echoing the Rights of Victims: A documentation on 16-Days Activisms Against Violence Against Women in Seven Regions in Indonesia (in Indonesian)

    2001

    • Format to Document Cases of Violence Against Women as Violations of Human Rights ( in Indonesian)

     

     

    Professional Background

     

    2010 – 2014    Commissioner, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Indonesia’s National Commission on Violence Against Women)

     

    Since                Lecturer on Gender and International Relations

    March 2006     Department of International Relations,

    Faculty of Social and Political Sciences, University of Indonesia

     

    Research related working experience

    Dec 2009         Senior Researcher of the National Commission on Violence Against Women

    Feb 2005         Komnas Perempuan) to assist documentation conducted by Special Rapporteur on Sexual Violence against Women Occurred during May Riots 1998 (August 2007 – current), and by Special Rapporteur on Aceh (February 2005- July 2007) on women’s experiences of gender based violations of human rights.

     

    Sept 2003-       Coordinator for Public Education Division of Komnas Perempuan, organized data

    Jan 2000          gathering on cases of gender based violence against women in various conflict areas in Indonesia, developed strategies to utilize the data to raise public awareness and also, policy reforms.

    Jan 2000 –         Radio Journalist for women radio program at Internews Indonesia

    July 1999         (Program broadcasted by almost 50 radio stations as Internews’ networks all over Indonesia)

     

    Academic and trainer/facilitator

    Current-           Facilitator on women’s human rights’ trainings; specialising in gender based

    Feb 2005         violence in the context of armed conflict, and in the raise of religious/ethnic fundamentalism.

    Trainer on documentation of cases of gender based violence and other forms of human rights violations.

     

    1997 – 2009    Independent translator and interpreter (English-Indonesia)

     

    Jan– July 2000             Lecturer Assistant for Modern Diplomacy subject and

    Sep–Dec 1999 Lecturer Assistant for Strategy Analysis subject; Department of International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, University of Indonesia

    August 1997    Lecturer Assistant for Social Statistics subject

    – 1998             Department of Sociology, Faculty of Social and Political Sciences, University of Indonesia

     

    EDUCATION

    transcripts and certificates are prepared and authorized by respective institutions

     

    A. Degree

    2004 – 2005    MA in Media and Communication Studies

    Goldsmiths College, University of London

    Study was supported by Chevening Sholarships program

     

    2000 – 1995    BA in International Relations Studies

    Faculty of Social and Political Science, University of Indonesia

     

    B. Trainings & Courses

    August 2012    Course on Minority Rights,

    Minority Rights Groups, an international organization on minority rights advocacy

     

    March 2007     Course on Women and Islam

    In-house course by FAHMINA Institute, an Islamic based organization,

     

    January 2005   Course on Sexuality

    In-house course sponsored by TARSHI- South East Asia resource centre on sexuality, based in India

     

    June 2001        Training of trainers “Step by Step Women’s Human Rights”

    The Asia Foundation (Jakarta) in cooperation with Women, Law and Development International

     

    August 2000    Summer School in International Relations Studies,

    Asia-European Foundation (ASEF) in cooperation with Raoul Wallenberg Institute, Sweden

     

    July 1999         Feminist radio journalist in-house training,

    Internews Indonesia, Jakarta

    July 1997         Training of Social Researcher

    Department of Sociology, University of Indonesia                     

     

    May 1997        Journalist In house training

    Indonesian Journalists Alliance (AJI) and Kampus dan Kita (KQ)- student press

    Continue Reading
  • Kuliah Umum PAUD PRASARANA DAN SARANA PAUD SERTA SEKILAS SNI-ISO: 8124

    11 April 2014
    3242 Views
    Comments are off for this post
    Mainan PAUD (9) (1024x683)

    Mainan. Sebuah benda yang sangat disukai oleh anak-anak. Dunia anak-anak memang erat dengan dunia bermain. Dengan bermain anak tidak hanya menjadi senang namun ada banyak aspek yang dapat dilatih dan dipelajari melalui permainan. Belajar mengenai konsep suatu benda, menggerakan badan serta melatih syaraf motorik dan tidak ketinggalan daya imajinasi serta nalar anak dapat dilatih melalui bermain. Tapi tahukah kamu jika mainan itu harus memiliki standarisasi tertentu baik dalam segi keamanan, kenyamanan serta konsep? Inilah yang menjadi konsern bagi Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Psikologi UAI dalam melihat dunia bermain anak.

    Melalui kuliah umum yang diadakan pada 2 April 2014 di ruang serbaguna lantai 2 UAI, para mahasiswa dari prodi paud dan psikologi diajak untuk memperdalam ilmunya dalam dunia bermain anak. Hadir sebagai pembicara pada kuliah umum tersebut adalah Dra. Nunuk Pramudyawati, Psi. Beliau merupakan dosen psikologi anak serta pengusaha mainan anak yang tergabung dalam ITORCH (Indonesia Toy Center & Research). Dalam pemamparannya beliau menjelaskan berbagai hal yang terkait dengan Sarana Prasaran PAUD dan dunia main anak-anak.

    Dalam pemaparan beliau menjelaskan bahwa Prasarana adalah “suatu fasilitas yang dapat menunjang terlaksananya kegiatan pendidikan” Sedangkan Sarana itu adalah “perlengkapan pembelajaran yang digunakan secara langsung yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan”. Berdasarkan Child Care Design & Technical Guideline kota Toronto tahun 2012, Prasarana bagi Childcare (PAUD) harus memenuhi berbagai macam syarat yakni terencana (planned), tertata (managed), dan mendukung (supportive) bagi perkembangan anak, merespon dan menghargai kebutuhan dan pilihan dari orangtua anak, dan memberikan manfaat bagi anak, keluarga, guru, dan publik, tambah beliau saat menjelaskan ke mahasiswa yang hadir. Berdasarkan Child Care Design & Technical Guideline kota Toronto tahun 2012, Sarana bagi Childcare (PAUD) harus aman dan memberikan manfaat bagi anak. Setiap sarana yang bersentuhan langsung dengan anak harus mendukung setiap aspek perkembangan anak. Dalam memilih, sarana untuk anak haruslah aman dalam segi bentuk dan konsep.

    Sedangkan untuk konsep mainan beliau mejelaskan bahwa Setiap mainan adalah sarana belajar, mainan juga harus aman, mainan harus dirawat dan dipelihara dengan baik, mainan harus aman dalam segi bentuk dan konsep. Berbicara tentang keamanan mainan di Indonesia, sebagai seorang pengusaha mainan beliau menjelaskan bahwa kemanan mainan di Negara kita telah diatur dalam SNI-ISO:8124 tentang Keamanan Mainan. Saat ini di Indonesia, untuk mengatur keamanan mainan, telah berlaku Wajib SNI ISO 8124 yang terdiri dari 4 bagian, dengan judul utamanya Keamanan Mainan, yaitu: Aspek keamanan yang berhubungan dengan sifat fisis dan mekanis, Sifat mudah terbakar, Migrasi unsur tertentu, serta Ayunan, seluncuran dan mainan aktivitas sejenis untuk pemakaian di dalam dan di luar lingkungan tempat tinggal.

    Melalui kuliah umum ini semoga mahasiswa dapat memperolah sumber ilmu yang dibutuhkan bagi proses belajar mengajar. Disamping itu, kuliah umum ini juga diharapkan mampu menghasilkan pembuat mainan yang memiliki tanggung jawab dalam membuat mainan bagi anak.

    [nggallery id=191]

    Continue Reading
  • Seminar Psikologi “Kompetensi Dasar Tes Psikologi” Untuk Sarjana Psikologi

    12 March 2014
    2116 Views
    Comments are off for this post
    IMG_7227 (1024x683)

     IMG_7227 (1024x683)

    Dalam mempersiapkan lulusan psikologi yang kompeten di bidangnya serta mampu memenangkan kompetisi ke depannya, Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Al Azhar Indonesia mengadakan Seminar Psikologi “Kompensasi Dasar Tes Psikologi” Untuk Sarjana Psikologi. Dengan narasumber Dr. Elmira N. Sumintardjo, Psikolog dan Dra. Eny Suwarni M.Si, Psikolog. Mengambil tempat di ruang 317C seminar ini dihadiri mahasiswa psikologi dari berbagai semester.

    Seminar ini sendiri membahas bagaimana tes-tes psikologi dapat dilakukan. Di dalam melakukan tes psikologi, seorang lulusan psikolog, psikolog ataupun ilmuwan psikolog harus mampu memahami beberapa hal yang terkait dengan situasi yang dihadapi. Ada beberapa hal yang perlu dipahami sebelumnya agar tes psikilogi dapat berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan. Diantaranya konsep serta acuan dalam mengadakan tes psikologi, validitas tes psikologi yang akan diterapkan, juga yang tidak kalah penting adalah kerahasian narasumber yang akan mengikuti tes psikologi tersebut.

    Semua hal tersebut tentunya berkaitan juga dengan kode etik yang menjadi bagian terpenting bagi profesi psikolog. Seorang psikolog harus benar-benar paham dengan apa yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Terlebih lagi jika hal tersebut terkait dengan kerahasian narasumber yang mengikuti tes tersebut. Seorang psikolog juga tidak boleh lalai dalam menjaga alat tes yang mereka gunakan dalam melakukan tes psikologi.

    Diharapkan dengan adanya seminar ini membuat para mahasiswa mendapatkan ilmu yang bermanfaat bagi kelangsungan pencarian ilmu mereka.

    [nggallery id=185]

     

    Continue Reading
  • Pelatihan Konselor Pendampingan Psikologis Orang Dengan HIV/AIDS

    12 November 2013
    2921 Views
    Comments are off for this post
    HIV banner

    HIV banner

    Hakikat keremajaan adalah dinamis “selalu tidak pernah diam” dalam menentukan tujuan hidupnya. Maka para remaja perlu menfokuskan diri ke arah yang positif, keremajaan ditandai dengan berbagai perubahaan sebagai berikut, perubahaan fisik, perubahan psikis dan perubahan sosial. Dalam perubahan tersebut remaja sering kali mendapati dirinya dalam sebuah “percobaan mencari sensasi hidup”. Sayangnya, dalam “percobaan mencari sensasi hidup” kadang seorang remaja belum dapat memutuskan apakah hal tersebut baik atau tidak bagi dirinya. Jika hal tersebut baik, sudah barang tentu hal tersebut akan memberikan manfaat bagi dirinya dan orang lain. Namun jika tidak baik, tentu hal tersebut membawa permasalahan baginya. Salah satu dari sekian permasalahan yang dihadapi remaja adalah HIV dan AIDS.

    HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh (sel darah putih) pada manusia. Jika virus HIV ini sudah ada di dalam tubuh manusia dalam kurun waktu yang cukup lama maka akan membawa seseorang ke dalam penyakit AIDS. AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan tanda gejala penyakit atau menurunnya kekebalan tubuh seseorang karena virus HIV. HIV dan AIDS bisa menyerang siapa saja. Virus HIV dapat menular dari satu orang ke orang lain lain melalui, cairan darah, cairan mani, cairan vagina dan air susu ibu. Seks bebas yang tidak bertanggung jawab serta penggunaan jarum suntik narkotika secara bergantian merupakan perilaku negatif yang bisa menyebabkan perpindahan virus tersebut dari satu orang ke orang lain.

    Jika seseorang sudah dipastikan terkena virus ini tidak hanya secara fisik dia akan down, namun psikologi orang tersebut juga akan down. Oleh sabab itulah, dalam membekali mahasiswa sebagai Psikolog handal, Program Studi Psikologi Universitas Al Azhar Indonesia bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi DKI Jakarta (KPAP DKI Jakarta) serta Ikatan Psikologi Klinis-HIMPSI (IPK HIMPSI) mengadakan Pelatihan Konselor Pendampingan Psikologis Orang Dengan HIV/AIDS. Dalam pelatihan tersebut hadir sebagai pembicara Dr. Maya Trisiswati MKM, beliau adalah satu orang penting dalam lembaga KPAP DKI Jakarta dan salah seorang penggiat HIV/AIDS di Indonesia. Dalam kesempatan kali ini, beliau mengajak mahasiswa psikologi UAI untuk lebih memahami permasalahan HIV/AIDS ini. Orang seringkali menstigma ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) dan menjauhi ODHA karena takut tertular virusnya. Seharusnya virusnya yang dijauhi bukan orangnya. Inilah sudut pandang yang harus dipahami oleh para calon psikolog. Diharapkan dengan pelatihan ini, mahasiswa jadi lebih paham mengenai bahaya HIV/AIDS dan para calon psikolog mampu menjadi konselor HIV/AIDS serta membantu ODHA dengan baik.

    [nggallery id=170]
    Continue Reading
  • Faza Fairuza Az-Zahra, Student of Psychology Al Azhar Indonesia University, Who Take Part In The Global Youth Forum 2012

    27 April 2013
    2673 Views
    Comments are off for this post
    2

    2

    Alhamdulillahirrabbil ’alamin. I was chosen as a volunteer for  “Global Youth Forum 2012”. The conference was held in Bali, Indonesia, from 4 to 6 December 2012 in the context of the review and follow up to the implementation of the Programme of Action of the International Conference on Population and Development beyond 2014 in order to produce recommended actions for the outcome report of the review and for the post -2015 United Nations development agenda, as well as to generate a new consensus on putting youth rights at the heart of development.

    The conference was preceded by extensive interaction at national and global levels on the themes of staying healthy; comprehensive education; families, youth – rights and well -being, including sexuality; transition to decent work; and leadership and meaningful participation.

    In this conference, I was assigned as the virtual communicator in the secretariat station. My duty was to read all of the recommendations from the youth around the world that really concern with some issues that putting youth-rights at the heart of development ( Staying healthy, comprehensive education, Families, Youth Rights, Well-being and Sexuality, The right to decent work, and leaderships). And after that, me and my team tried to filter all the recommendations to produce recommended actions for the outcome report of the review and for the post – 2015 United Nations development agenda. By that, I had a lot of new views about the living of youth in the world, especially who lives in injustice to get a comprehensive education, well-being and information about sexual & reproductive health. It’s really important for me, as a youth, to make a great strategy to develop the brightest future for the youth around the world.

    So, this thing is one of the biggest achievement in my life. That was the first thing where I could meet, work together, and contribute for the youth around the world. That event gave remarkable and unforgetable memories for all of my life. Working with a solid team, gathering and making a good friendship with indonesian and foreign people, and not only being the witness of that event, but also becoming a part of a big movement to build a better youth future make me to be more alive than ever.

    Faza Fairuza Az-Zahra (Fay)

    Psikologi 2010

    [nggallery id=150]

    Continue Reading
  • Pentas SINAR (Pentas Seni dan Seminar)

    26 April 2013
    1849 Views
    Comments are off for this post
    Pentas SINAR (7)

    Pentas SINAR (7)

    Sering kita mendapati ada anak-anak yang kelihatannya cerdas kalau di rumah, tapi nilainya di sekolah biasa-biasa saja, bahkan mungkin kurang baik. Juga sebaliknya kita kadang menemukan orang yang waktu sekolah dikira tidak pintar, ternyata setelah dewasa terbukti sukses berkat kemampuannya. Mengapa bisa demikian? Apa faktor-faktor yang berperan di sini? Apa yang bisa dilakukan untuk mendapatkan hasil yang baik? Salah satu cara untuk menjawab pertanyaan ini mungkin terdapat pada seminar yang kemarin (Kamis, 25 April 2013) diadakan oleh Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Psikologi dan Pendididkan Anak Usia Dini, Universitas Al Azhar Indonesia berkutat seputar optimalisasi otak kanan dan otak kiri.

    Mengapa kita perlu untuk mengoptimalkan otak kanan dan otak kiri kita? Ternyata pengoptimalan otak kanan dan otak kiri dapat membuat otak kita melakukan kinerjanya lebih maksimal lagi. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa otak manusia terdiri dari dua bagian yaitu, otak kanan dan otak kiri. Dimana setiap otak memiliki perannya masing-masing. Otak kanan berperan untuk dibagian imajinasi, kreativitas, irama/nada, seni, emosi, faham tanpa berpikir, dan berpikir secara menyeluruh. Sedangakan otak kanan digunakan untuk bermain dengan logika, matimatika, menghafal, bahasa, faham dengan berpikir, dan berpikir step by step. Dengan mengoptimalkan fungsi kedua otak yang dimiliki, bukan tidak mungkin kita mampu mendorong kinerja otak kita kebatasan maksimal.

    Dalam rangka membantu tumbuh kembang anak Indonesia, serta merayakan Hari Kartini, Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Psikologi dan Pendididkan Anak Usia Dini Universitas Al Azhar Indonesia, mengadakan Seminar “Optimaslisasi Otak Kanan dan Kiri Anak Negeri”. Hadir sebagai pembicara adalah Tri Gunardi, AMd. OT, S.Psi, S.Ked. Beliau adalah Pakar Terapi untuk Anak Dengan Kebutuhan Khusus, disamping sebagai terapis beliau merupakan Dosen Vokasi Kedokteran Universitas Indonesia

    Disamping Seminar “Optimaslisasi Otak Kanan dan Kiri Anak Negeri”. Prodi PAUD juga mengadakan lomba mewarnai dan tari kreasi. Peserta lomba mewarnai dan tari kreasi merupakan anak-anak PAUD dan Taman Kanak-Kanak se-Jabodetabek.

    [nggallery id=149]
    Continue Reading
  • Seminar Sehari Salespreneur

    17 December 2011
    1401 Views
    Comments are off for this post
    Prime

    “Orang yang sukses adalah orang yang bisa menjual.” Begitu kata Pak Antonius Karya saat membuka Seminar Selespreneur yang diadakan oleh Program Studi Psikologi Universtas Al Azhar Indonesia.  Seminar yang diadakan pada, Sabtu, 17 Desember 2011, di ruang 317A-317B Universitas Al Azhar Indonesia, mengundang Bapak Antonius Karya. Bapak Antonius Karya adalah seorang Sales-preneur, sales-chologist, profesional speaker, trainer, coach dan independen financial planner.

    Dalam paparannya Pak Antonius berkata bahwa setiap orang harus bisa menjual, baik dirinya sendiri maupun produk atau jasa yang ditawarkannya. Kunci terbaik dalam menjual adalah mendengarkan, mengapa? Karena dengan mendengarkan para penjual jadi tahu apa yang dibutuhkan oleh orang lain. Jadi, setidaknya jika anda ingin menjadi penjual yang baik, anda harus bisa mendengarkan dan memahami apa yang dibutuhkan oleh orang lain. Porsinya adalah 20% berbicara dan 80% mendengarkan. Menurut beliau, banyak penjual yang bisa berbicara dengan baik dalam menawarkan produk atau jasa yang dijualnya, namun hanya sedikit penjual yang mau mendengarkan apa yang dibutuhkan oleh orang lain atau konsumen.

    Selain mendengarkan dengan baik, penjual yang baik juga harus bisa bertanya tentang apa yang dibutuhkan oleh orang lain. Saat bertanya orang lain atau konsumen akan menjabarkan apa yang ia butuhkan, dan pada saat orang lain atau konsumen tersebut menjabarkan apa yang ia butuhkan, disinilah titik dimana penjual harus dengan seksama mendengarkan jawaban serta memahami kebutuhan orang tersebut.

    [nggallery id=105]

    Dalam seminarnya, Pak Antonius mengajarkan bagaimana menjadi seorang salespreneur, bukan menjadi seorang salesman. Menurut beliau, salespreneur adalah mengejar peluang tanpa memperdulikan yang saat ini ada di bawah kendali. Jadi, secara tidak langsung beliau berkata untuk tidak perlu susah mempermasalahkan modal uang dalam menjadi seorang salespreneur. Menurutnya, modal utama dalam menjadi seorang salespreneur adalah disiplin. Dengan disiplin, salespreneur dapat dengan mudah membangun bisnisnya. Seorang salespreneur juga harus mampu melihat peluang, memanfaatkan networking, serta memiliki nilai orientasi bekerja dalam tim.

    Selanjutnya, menurut beliau seorang salespreneur juga harus dapat mengetahui cara berhadapan dengan orang lain. Setidaknya, seorang salespreneur harus dapat membaca karakteristik orang lain dan mampu menggunakan cara yang berbeda saat bertemu dengan banyak orang lain. Seorang salespreneur juga harus memiliki kemampuan mengendalikan sumber daya dan orang lain yang tidak dikendalikannya, berorientasi tim dan nilai alih-alih promosi dan bayaran, pembelajar yang aktif, pendidikan yang umum alih-alih terspesialisasi serta berani bertanggung jawab secara keseluruhan terhadap bisnis yang dibangunnya.

    [nggallery id=106]

    Continue Reading