Mengenal Arah Baru Konseling Islam (Dari Deduktif – Normatif Menuju Induktif – Empirik)

17 December 2018
249 Views
Comments are off for this post

Jakarta (17/12)- Senin kemarin Program Studi Bimbingan Konseling Islam Universitas Al Azhar Indonesia menyelenggarakan Seminar Nasional di Auditorium Arifin Panigoro dengan tema “Arah baru Konseling Islam (Dari Deduktif – Normatif  Menuju Induktif – Empirik)”.  Acara yang dibuka oleh Wakil Rektor 1 UAI Dr. Agus Surono, S.H., M.H dan perwakilan dari dosen prodi BKI Bapak Syariful, S.Pd.i., M.Pd ini,  terbagi menjadi dua sesi yang diisi oleh dua narasumber hebat Prof. Dr. M. Noor Rochman Hadjam, S.U (Pakar Psikologi Positif, sekaligus guru besar UGM), dan Nanang Erma Gunawan, S.Pd., M.Pd (Clinical Mental Health and Rehabilitation Counseling, Dosen UNY) dihadiri oleh mahasiswa dari Program Studi Bimbingan Konseling Islam, beberapa guru BK yang tertarik juga turut menghadiri seminar ini. Mereka berharap seminar nasional ini mampu menjadi media  untuk belajar dan memanfaatkan ilmu konseling islami untuk kemudian diterapkan ke anak didik mereka masing-masing di sekolah nantinya.

Negara Indonesia bukanlah negara Islam, namun mayoritas penduduknya merupakan pemeluk agama Islam. Begitu juga dengan ajaran  agama Islam yang sudah pasti dijadikan sebagai pedoman oleh orang yang beragama dan tidak mungkin bisa dilepaskan begitu saja. Terlebih jika berprofesi sebagai konselor atau pembimbing. Melalui seminar ini, Prodi BKI berusaha untuk memberikan pengetahuan dan penerapan ilmu Psikologi Islam dalam pemanfaatannya di bidang Konseling Islami dengan tujuan untuk mengoptimalisasi fungsi sosial movement (pergerakan sosial dalam diri manusia). Mengenai bagaimana kondisi penerapan ilmu psikologi pada bimbingan konseling Islam, Ilmu psikologi Barat Modern di Indonesia memang cenderung mendorong kita berperilaku “apa adanya” sesuai dengan kondisi bawaan kejiwaan kita yg berkaitan dengan stimulus lingkungan, dan sebagainya. Tapi, dalam Konseling Islami yang berdasar pada Psikologi Islam, tidak demikian. Konseling Islami lebih menekankan kepada kita untuk bertindak “bagaimana seharusnya” sebagai bentuk kewajiban fitrah hamba Allah Subhanahu wa ta’ala, yg diatur dalam Al Quran dan Hadits.

Kemudian juga, seminar ini juga membahas bagiamana penerapan ilmu Psikologi yang selama ini lebih memfokuskan pada “kelemahan”,  gangguan mental, dan abnormalitas semata. Sedangkan dalam perkuliahan dan dilengkapi dengan adanya seminar Nasional ini, mahasiswa dan peserta menjadi lebih faham, bahwa fokus  dari pemaknaan Ilmu Psikologi dalam Konseling Islami adalah pada bagaimana manusia mengoptimalkan kekuatan intelektualnya terhadap kedisiplinan untuk tumbuh kembang dan sukses dunia akhirat, sesuai dengan fitrah akal dan hati nurani dari Allah.

“Psikologi positif itu sebetulnya mendorong kita untuk selalu berperilaku dan berpikiran positif. Psikologi positif ini sebetulnya lebih cenderung kepada proses preventif daripada kuratifnya. Saat 2 aspek itu baik, maka mental health kita pun akan baik pula” ujar Prof. Noor ketika membahas bagaimana aspek positif ini sangat dibutuhkan bagi setiap pribadi konselor.

Melalui kegiatan ini, Prodi BKI berharap dapat memberi wawasan kepada para mahasiswa mengenai esensi utama ilmu Psikologi Islam dalam dunia Konseling Islami. Ditanya mengenai kesan yang didapat dalam seminar ini Rizka Hanifah mahasiswi Program Studi BKI ini mengatakan  “Banyak ilmu dan wawasan yg kami terima selaku mahasiswa/i BKI yg mungkin blm pernah kami dapatkan sebelumnya di kelas. Pemateri juga cukup berkesan, karena pendekatan yang diberikan sangat friendly dan mampu menyesuaikan mood mahasiswa. Itu cukup membantu kami dalam memahami materi yang diberikan” ujarnya. Semoga kegitan rutin seminar nasional seperti ini dapat terus diselenggarakan lebih sering kedepannya.