• Berita Duka Cita

    21 May 2018
    560 Views
    Comments are off for this post

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Innalillahi wa inna ilaihi roji’un
    Telah berpulang ke Rahmatullah  Ibunda dari Ibu Aliah Bagus Purwakania Hasan, S.Psi., M.Kes. (Dosen Tetap Program Studi Psikologi) pada hari Jumat, 18 Mei 2018 di RS. Mitra Keluarga Cibubur pada pukul 13.40 WIB dan Istri tercinta dari Bapak Suheimi Nurusman (Pensiunan Pegawai UAI) pada hari Minggu, 20 Mei 2018 di Depok .

    Semoga amal ibadah almarhumah diterima Allah SWT dan mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Nya. Dan bagi keluarga yang ditinggalkan, diberikan kesabaran….​‎​‎​آمِيّنْ يَ رَ بَّلْ عَلَمِيّ

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    Continue Reading
  • Wujudkan Generasi Muda Kreatif Pembangkit Bangsa di seminar FISIP Week 2018

    11 May 2018
    889 Views
    Comments are off for this post

    “Generasi yang selalu ingin cepat itu bagus, apalagi dalam konteks studi dan karier. Tapi, kalau sudah dibilang generasi Instan itu jelas engga baik” Papar Kak Billy dalam Seminar FISIP Week 2018, di Auditorum Arifin Panigoro.

    Jakarta (11/05) – Hari ini Universitas Al Azhar Indonesia diramaikan dengan kehadiran para kreator muda menarik dan inspiratif masa kini. Seminar yang merupakan rangkaian acara dari program kerja FISIP Week tahun ini, mengangkat tema “Gerasi Muda Kreatif Pembangun Bangsa” yang diisi oleh 3 narasumber yang ahli dibidangnya yaitu  Billy Boen (CEO Founder Young On Top), Ajeng Patria Meilisa (Top 5 finallis Puteri Indonesia) dan Abdur Arsyad (Aktor &Stand Up Comedian). Selain seminar, FISIP Week juga mengadakan lomba Fotografi dengan tema “Ekspresi untuk Indonesia” dan Speech & Debate dengan tema “Gizi buruk, Pendidikan Indonesia dan UU MD3” yang telah dilaksanakan pada tanggal 28 April 2018. Seminar ini sendiri dihadiri oleh beragam mahasiswa dari luar dan dalam kampus dan  berhasil memberikan energi baru bagi para peserta untuk bersama mewujudkan generasi muda yang kreatif demi Indoneisa yang lebih baik dimasa depan.

    Dibuka dengan sambutan oleh Dr.Agus Surono SH.,MH.  (Wakil Rektor 1 Universitas Al Azhar Indonesia) dan  Heri Herdiawanto S.Pd.,M.SI (Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) acara segera dimulai dengan seminar pertama yang dibawakan oleh Billy Boen  dengan tema generasi muda kreatif. Pemuda yang berhasil menjadi manager di usianya yang ke 26 tahun ini menceritakan perjalanannya dalam menempuh puncak kariernya  saat ini. Billy percaya dalam membangun sebuah company atau perusahaan yang besar bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dengan instan.  Ada tahapan dan proses yang tidak mudah untuk mencapai puncak yang kita inginkan, dan ia percaya setiap generasi memiliki kriteria dan cara masing masing sesuai dengan kondisi lingkungan pada saat itu. Perkembangan teknologi masa kini, telah membawa perubahan yang tidak sedikit pada pola pikir generasi muda. Begitupun yang Billy temukan dalam perkembangan yang dimiliki oleh generasi millenials masa kini. Ada switching pegerakan yang berubah di tahun 2016 dan 2017 yaitu dimana generasi millenials mulai memasuki lapangan pekerjaan. “Mereka, millenials kerap memiliki  purpose yang sangat besar dalam membentuk masa depannya. Inilah sesuatu yang sangat istimewa yang tidak didapati pada generasi generasi sebelumnya” paparnya yang disambut dengan riuh tepuk tangan peserta seminar yang hadir. Namun, ada hal lain yang harus diawasi dari karakter millenials itu sendiri, generasi yang telah banyak didominasi oleh perkembangan teknologi dan sosial media ini kerap memiliki keinginan segala sesuatu harus serba instan dan cepat. “Generasi yang selalu ingin cepat itu bagus, apalagi dalam konteks studi dan karier. Tapi, kalau sudah dibilang generasi Instan itu jelas engga baik” jelas Billy Boen.

    Dilanjutkan dengan sesi kedua oleh Ajeng Patria yang juga berbagi pengalamannya mengikuti pemilihan putri Indonesia ditahun 2008. Yang ditutup dengan sesi pertanyaan dan pemberian kenang kenangan. Disesi terakhir seminar diisi dengan stand up comedy dari Abdur Arsyad yang berhasil memecahkan tawa seluruh penghuni auditorium. Abdur memberikan potongan cerita lucu yang tetap berkaitan dengan tema acara yaitu generasi muda yang kreatif. Acara yang diketuai oleh Syifa Afiah, mahasiswa jurusan ilmu komunikasi 2015 ini berlangsung dengan baik dari awal hingga akhir acaranya. Ia berharap seminar yang dibungkus dengan dekorasi dan materi yang sangat dekat dengan anak muda ini, mampu menyampaikan pesan besar yang kemudian diterima dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan generasi muda masa kini. Syifa percaya setiap generasi muda berisi segudang kreativitas dan aspirasi yang belum sepenuhnya tersampaikan pada publik, dan seminar ini sengaja diadakan untuk menjadi wadah bagi hal tersebut.

    Belum berakhir hari ini, sabtu besok FISIP Week mengadakan Ekslusif Coffee Workshop yang diadakan di ruang diskusi Universitas Al Azhar Indonesia. Trend kopi yang digandrungi oleh generasi muda, mampu menjadi wadah tersendiri untuk terus mengembangkan kemampuan dan skill kreativitas pemuda Indonesia. Semoga kedepannya acara ini dapat terus ditingkatkan hingga semakin banyak mahasiswa yang terisnpirasi dan termotivasi untuk menciptakan Generasi Kuat, Indonesia Hebat.

    Continue Reading
  • Menjembatani Isu Agama dan Politik di Seminar Nasional “Politisasi dan Legitimasi Agama” Universitas Al Azhar Indonesia

    10 May 2018
    439 Views
    Comments are off for this post

    Politisasi dan legitimasi agama itu boleh asalkan demi kemaslahatan umat, yang ditempuh dengan cara cara yang baik,  tidak melanggar moral, Undang Undang dan peraturan Negara”. Ujar Prof. Dr. H Haris Supratno selaku keynote speaker dalam Seminar Nasional, Universitas Al Azhar Indonesia.

     Jakarta (10/05) – Menjelang Pilkada 2018 dan Pemilu 2019 di Indonesia, agama dan politik ibarat dua sisi mata uang. Isu agama dalam politik bisa menyatukan namun bisa juga menyebabkan perpecahan. Oleh karenanya, memanfaatkan isu agama dalam kehidupan berpolitik masih menjadi polemik saat ini. Untuk menjawab mengenai persinggungan antara agama dengan politik, diperlukan adanya dialog lebih dalam lagi antara berbagai pihak sehingga diperoleh kejelasan apa yang dimaksud dengan politisasi agama dan apa indikatornya. Dengan latar belakang itulah Universitas Hasyim Asy’ari,  Pusat Kajian Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari, dan Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) mengadakan seminar dengan tema “Politisasi dan Legitimasi Agama.”

    Acara yang diadakan di Auditorium Arifin Panigoro, UAI pada hari Kamis, 10 Mei 2018 ini menghadirkan Dr. (H.C) Ir. KH. Salahuddin Wahid (Rektor UNHASY Tebuireng) yang diwakilkan oleh Prof. Dr. H Haris Supratno (wakil retor 1 Universitas Hasyim asya’ari) sebagai keynote speaker. Dalam paparannya,  beliau menyatakan “Politisasi agama diperbolehkan selama untuk kepentingan dan kebaikan bangsa, bukan kepentingan perorangan atau golongan tertentu”. Menjelang pilkada dan pemilu ini ia berharap agar seluruh pihak duduk bersama untuk mendiskusikan politisasi agama seperti apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan.

    Selain Prof. Haris, hadir pula lima narasumber yang dibagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama yaitu Dr. KH. Haedar Nashir, M.Si. (Ketua Umum PP Muhammadiyah), Habib Muchsin Alatas (Ketua DPP FPI), dan Prof. Dr. (H.C.) K.H. Ma’ruf Amin (Ketua Umum MUI).  Menurut Ma’ruf Amin, “Agama dan politik saling mempengaruhi, politik kebangsaan itu juga harus mendapat pembenaran dari agama. Agama, negara dan Pancasila itu kan saling menopang.” Politik dalam agama menurutnya mampu menjadi salah satu cara untuk menitipkan aspirasi ajaran islam secara keseluruhan, dalam kesatuan nasionalisme. “Yang penting adalah bagaimana kita melakukan komunikasi” ujarnya. Secara hukum Indonesia memang bukan negara islam, tapi dengan mayoritas umat islam di dalamnya negara ini harus mampu welcome  atau terbuka terhadap syariat islam. Agar tentram masyarakatnya, dan dapat hidup berdampingan meskipun dengan latar belakang agama yang berbeda. Sedangkan menurut Habib Muchsin Alatas, politisasi memang bisa mengarah ke hal hal yang negatif, tetapi dengan keyakinan bahwa politik  dapat diselaraskan dengan agama akan mampu menjadikan politik sebagai ladang dakwah yang luar biasa  memberikan kemajuan bagi umat manusia.

    Pada sesi kedua, hadir tiga pembicara, yaitu Irjen Pol. Drs. Gatot Eddy Pramono, M.Si (Kasatgas Nusantara Mabes Polri), dan Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD, S.H., S.U. (Guru Besar UII). Pada sesi ini Prof. Mahfud menjelaskan banyak bagaimana agama dapat berperan secara seimbang dalam dunia politik. Bahkan masalah masalah keagamaan yang kerap timbul ditengah masyarakat hanyalah alat yang digunakan para penganut radikalisme untuk melancarkan provokasi mereka terhadap pemerintahan “Masalah kita itu, bukan masalah perbedaan agama, tetapi karena ketidakadilan pemerintah terhadap masyarakat, lalu digunakan oleh penganut radikalisme sebagai senjata provokasi publik, dan agama adalah sasaran utamanya.”

    Acara yang dibuka oleh sambutan dari Dr. H. Mif Rohim, M.A. (Ketua Pusat Kajian Pemikiran Hasyim Asy’ari Tebuireng) dan Dr. Agus Surono, S.H., M.H. ini dihadiri tidak hanya oleh para akademisi, namun juga oleh para ulama, cendikiawan, dan politisi. Seminar ini mencari formula ditengah kasus pilkada dengan isu agama yang serius dibicarakan akhir akhir ini. Seminar ini bermaksud untuk menjembatani banyaknya perbedaan pendapat yang sedang bergejolak ditengah masyarakat. Dengan menghadirkan pembicara yang representatif diharapkan dialog singkat ini mampu menyatukan aspirasi masyarakat akan aspek agama dan politik. “Negara ini adalah milik kita semua, oleh karena itu harus kita jaga agar tetap nyaman dan aman untuk kehidupan kita” ujar Prof.  Mahfud sebagai pesan yang menutup acara Seminar Nasional kali ini.

    Para penyelenggara berharap melalui seminar ini dapat membantu menciptakan suasana pemilihan kepala Negara dan daerah yang bersih dan bermartabat serta tetap menjaga nilai-nilai agama agar tidak terjadi disintegrasi NKRI.

    Continue Reading
  • Executive Lecture dan Talkshow “Meningkatkan Sadar Zakat, Infak dan Wakaf Menuju Pemberdayaan Perekonomian Umat”

    8 May 2018
    505 Views
    Comments are off for this post

     

    Jakarta (08/05) – Zakat, infak,  sedekah, dan  wakaf (ziswaf) merupakan bentuk perintah dan anjuran bagi umat muslim. Dalam Al Quran surah Al Baqarah ayat 195, Allah SWT berfirman “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. Berkenaan dengan kepemilikan harta dan pemanfaatannya melalui ziswaf, diharapkan dapat menciptakan keadilan dan pemerataan pada umat Islam. Untuk itu, lembaga amil ziswaf yang dibentuk dan dikelola, baik oleh masyarakat maupun oleh pemerintah bertujuan untuk mengoptimalkan pengelolaan ziswaf bagi tercapainya tujuan tersebut. Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) melalui Pusat Integrasi Islam dan Mata Kuliah Umum bekerjasama dengan Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Al Azhar pada hari Selasa, 8 Mei 2018, bertempat di Auditorium Arifin Panigoro, lantai 3 gedung UAI mengadakan Executive Lecture dan Talk Show dengan Tema “Meningkatkan Sadar Zakat, Infak dan Wakaf Menuju Pemberdayaan Perekonomian Umat.”

    Dibuka dengan sambutan kepala PII MKU Prof. Dr. Nurhayati Djamas yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Umum YPI Al Azhar. Menurut Prof. Nurhayati Djamas ada dua aspek penting  dalam kegiatan ini yaitu membantu mengembangkan mental islam yang kokoh pada setiap bidang dan membentuk mindset keilmuan islam. Keduanya dapat disinkronkan satu sama lain dalam konteks perkembangan ekonomi di Indonesia.

    Faransyah Jaya hadir sebagai keynote speaker  selaku ketua Program OK OCE mewakili Gubernur DKI Jakarta, Bapak H. Anies Rasyid Baswedan, Ph.D. Pada kesempatan tersebut menyampaikan peran dan pemanfaatan program OK OCE bagi pemberdayaan masyarakat untuk mengatasi kesenjangan sosial ekonomi. Ada tujuh tahapan dalam pelatihan OK OCE yaitu pendaftaran (P1), pelatihan (P2), pendampingan (P3), perizinan (P4), pemasaran (P5), pelaporan keuangan (P5), dan akses permodalan (P7). Faran mengatakan peserta pelatihan yang lulus dalam pelatihan akan mendapatkan izin usaha yang sah.

    Selain coach Faran, hadir pula dua orang narasumber yaitu Direktur Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Bapak Dwiyanto dan  Direktur Eksekutif Laznas Al Azhar, Sigit Iko Sugondo. Dwiyanto tampil terlebih dahulu dengan memaparkan materi mengenai “Arah Kebijakan BI dengan Tata Kelola Keuangan Syariah bagi Pemberdayaan Ekonomi Umat”, dilanjutkan dengan Sigit Iko yang membawakan materi mengenai “Optimalisasi Pengelolaan Ziswaf bagi Peningkatan kesejahteraan Umat.”

    Selain unsur sivitas akademika UAI, acara ini juga dihadiri oleh para muzaki Laznas Al Azhar, guru, masyarakat umum, dan pengurus Yayasan Pesantren Islam Al Azhar (YPIA). Di satu sisi, Universitas Al Azhar Indoesia dan Laznas Al Azhar memperoleh masukan bagi perumusan langkah program pemanfaatan Ziswaf bagi kesejahteraan umat semoga dengan kegiatan ini diharapkan agar masyarakat memiliki pemahaman dan kesadaran untuk  menjalankan kewajiban zakat dan aturan agama terkait dengan harta.

     

    Continue Reading
  • Mahasiswi Sastra Tiongkok Universitas Al Azhar Indonesia Meraih Tiga Piala di Ajang Lomba Tahunan ‘Chinese Bridge ke-17’ Tingkat DKI Jakarta

    3 May 2018
    944 Views
    Comments are off for this post

     

    Jakarta, Minggu 29 April 2018. Alhamdulillahirabbil ‘alamin tiga mahasiswi Sastra Tiongkok Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) berhasil meraih tiga piala lomba keterampilan berbahasa mandarin ‘Chinese Bridge’ yang ke-17 tingkat mahasiswa DKI Jakarta. Elsa Annisa (CN2016) Juara I kategori non-Tionghoa, Ambar Widiawati (CN2015) Juara Penampilan Terbaik dan Khalida Puti Geni (CN2015) Juara Harapan. Selanjutnya Elsa Annisa dan Ambar Widiawati akan mewakili Jakarta untuk bertanding di tingkat Nasional yang akan digelar dalam waktu dekat.

    Acara ini diikuti oleh 19 peserta yang mewakili berbagai perguruan tinggi di Jakarta, seperti Universitas Bina Nusantara (BINUS), Universitas Tarumanegara (UNTAR), Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Darma Persada (UNSADA), Universitas Bunda Mulia (UBM), dan Universitas Al Azhar Indonesia (UAI). Prodi Sastra Tiongkok UAI mengirimkan 5 (lima) mahasiswi, yaitu Elsa Annisa. Ambar Widiawati, Khalida Puti Geni, Rida Yunita (CN2017) dan Fortune Hanifa (CN2016)

    ‘Chinese Bridge’ adalah lomba paling bergengsi dan paling ditunggu-tunggu oleh pelajar Indonesia yang memiliki kemampuan bahasa mandarin setiap tahunnya. Perlombaan ini terdiri dari beberapa tingkat, mulai dari tingkat sekolah menengah hingga universitas, tingkat kota, provinsi, nasional hingga internasional. Adapun keterampilan yang diuji mencakup kecakapan berpidato, menjawab pertanyaan secara spontan, penampilan bakat seni Tiongkok, pengetahuan tentang kebudayaan dan kondisi geografis Tiongkok.

    Peserta yang berhasil menjadi juara di tingkat Nasional nantinya akan mewakili Indonesia untuk berkompetisi kembali di tingkat internasional, yaitu di Tiongkok. Semoga mahasiswi sastra Tiongkok UAI Elsa dan Ambar dapat memberikan penampilan terbaiknya pada kompetisi di tingkat Nasional nanti ! Amiin ya rabbal alamin.

    Continue Reading
  • Penandatanganan MOU dan Workshop Publikasi Artikel Jurnal Internasional

    2 May 2018
    415 Views
    Comments are off for this post

    Jakarta (04/05)- Dalam rangka menindaklanjuti MoU UAI untuk Fakultas Sains dan Teknologi  dengan Johannes Kepler University dan @wash (International Organization For Information Integration and Web based Application and Services), maka pagi tadi telah  dilaksanakan pertemuan dengan Prof. Ismail Khalil dengan Rektor Universitas Al Azhar Indoensia Prof. Dr. Ir. Asep Saefudin M.Sc., untuk pembahasan kegiatan selanjutnya. Prof. Ismail Khalil merupakan Deputy Head of the Institute of Telecooperation, Johannes Kepler University, Linz Austria dan president dari @wash yang juga editor-in Chief dari 4 jurnal Internasional terindeks Scopus yaitu IJWSI, IJPCC, JMM dan IJMCMC.

    Setelah dilakukan penandatangan MOU, acara dilanjutkan dengan kegiatan “Workshop Publikasi Artikel Jurnal Internasional” yang dilaksanakan diruangan serbaguna dan dihadiri oleh para dosen dari dalam dan luar kampus. Workshop yang dimulai sejak pukul 09.00 ini membahas banyak tentang bagaimana sebuah jurnal atau paper dapat sukses ditulis dan diterima oleh lembaga yang diajukan dalam skala Internasional. Prof. Ismail sebagai pembicara utama juga memberikan konsultasi secara cuma cuma bagi para dosen yang ingin berdiskui perihal jurnal yang mereka tulis, melalui email yang diberikan.

    Prof. Ismail sendiri mengakui bahwa hampir dari 50% jurnal yang diajukannya ditolak begitu saja oleh lembaga yang terkait. Namun, beliau meyakini bahwa itu adalah proses belajar manusia yang tidak akan puas dan berhenti pada satu titik. Beliau juga memberikan beberapa tips bagaimana memilih lembaga yang memiliki keterkaitan khusus dengan jurnal yang kita tulis, sehingga jurnal tersebut dapat diterima. Semoga dengan berlangsungnya penandatanganan MOU ini dapat terus menunjang sistem pembelajaran yang ada dikampus khususnya untuk Fakultas Sains dan Teknologi. Dan mampu menjadikan peluang bagi kampus maju dalam skala Internasional.

     

    Continue Reading
  • Bangkitkan Jiwa Mudamu Lestarikan Budaya Nasional di Tradco 2018

    23 April 2018
    1051 Views
    Comments are off for this post

    Jakarta 21 April 2018 – Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KOMIK) Universitas Al-Azhar Indonesia mengadakan acara Traditional Dance Competition (TRADCO) dengan tagline Bangkitkan Jiwa Mudamu, Lestarikan Budaya Nasional. Acara ini terdiri dari perlombaan saman yang diikuti oleh SMA se-derajat di wilayah JABODETABEK. TRADCO akan diselenggarakan di auditorium Arifin Panigoro Universitas Al-Azhar Indonesia pada tanggal 21 April 2018.

    TRADCO 2018 merupakan ajang perlombaan tari tradisional pertama yang diselenggarakan oleh KOMIK periode 2017/2018 dan akan menjadi program kerja tetap KOMIK di tahun-tahun selanjutnya. Untuk pertama kalinya TRADCO diselenggarakan dengan mengangkat tema tari tradisional saman (ratoh jaroe). Kompetisi ini diselenggarakan sebagai wadah kreativitas yang bertujuan untuk meningkatkan apresiasi dan kecintaan dalam melestarikan kesenian Indonesia. “Dengan diadakannya TRADCO ini, saya berharap dapat meningkatkan kecintaan kita para pemuda bangsa terhadap Indonesia yang kaya akan budaya.” Jelas Muhammad Iqbal selaku ketua pelaksana TRADCO 2018.

    Selain lomba, dalam acara ini nantinya akan ada penampilan special dari dua bintang tamu, bazaar makanan minuman, dan akan ditutup dengan pengumuman untuk para pemenang lomba.

    Continue Reading
  • Kampanyekan Anti Narkoba Dalam Acara Musik G Minor  “Gain Musik Without Narcotics and Drugs”

    23 April 2018
    532 Views
    Comments are off for this post

    Jum’at 20 April 2018, Bertempat di Ruang Auditorium Arifin Panigoro Universitas Al Azhar Indonesia, Satuan Mahasiswa (SATMA) ARTPENA UAI   bekerja sama dengan UKKM Musik Sore UAI mengadakan acara Sosialisasi Pencegahan Pemberantasan Penyalah Gunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di lingkungan kampus Universitas Al Azhar Indonesia, acara ini dibuka oleh Wakil Rektor III ibu Dr. Nita Noriko, MS. Sekaligus mewakili Rektor  UAI yang sedang bertugas di tempat lain.

    Tema dari kegiatan ini adalah :“Gain Music Without Narcotics Or Drugs” (Bersatu tanpa narkoba, senada untuk berkarya)

    Tema  ini dimaksudkan  untuk  menjadikan para generasi muda kita bebas dari pengaruh  NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan zat adiktif lainnya ) dalam berkarya dan membangun bangsa ini, dan merubah persepsi tentang musik  yang sangat identik dengan pemakaian Narkoba. Sedangkan tujuan diadakannya acara ini adalah agar mahasiswa/pelajar  mempunyai  kesadaran yang tinggi akan bahaya penyalahan Gunaan Narkoba yang dapat merusak masa depan mereka dan kehancuran negeri ini, dan diharapkan mereka ikut membantu dalam upaya pencegahahan penyalah gunaan Narkoba dilingkungan mereka belajar dan juga sebagai  bagian dari Upaya dalam mempersiapkan Generasi Muda Indonesia yang tangguh menuju  Indonesia Emas untuk membangun negeri ini tanpa pengaruh Narkoba.

    Acara yang  disajikan dalam  bentuk Talkshow dan selingan  band akustik ini sangat   menarik dan tidak membosankan bagi peserta yang hadir,  mereka tetap mengikuti acara sejak dari mulai hingga akhir acara , adapun kampus-kampus yang mengisi acara  untuk band Akustik adalah dari Kampus Uhamka, Esa Ungggul, Trilogi , IBS (Indonesia Banking School) dan dari Universitas Al Azhar Indonesia sebagai tuan rumah, sedangkan untuk pemateri talkshow disampaikan oleh  KBP Dr. Sulastiana,S.I.P.,S.H.,M.Si. atau biasa dipanggil bu Ana,  belau adalah salah satu Dewan Penasehat Artipena (DPP Artipena) yang sekarang bertugas di MABES POLRI dan sebelumnya  bertugas di BNN (Badan Narkotika Nasional) sebagai Kasubdit Lingdik BNN dan juga sebagai salah satu ketua Program Studi S3 STIK (Sekolah Tinggi  Ilmu Kepolisian) Jakarta.

    Hadir pada acara tersebut para Dekan,Kaprodi,Dosen,kepala Direktorat/Unit Pelaksana Tugas, karyawan  dan mahasiswa  UAI, perwakilan dari perusahaan sponsor (EMS Foundation) dan  mahasiswa/pelajar dari beberapa perguruan tinggi/sekolah  lain yang ada di Jakarta.

    Acara ini  ditutup dengan do’a dan pembagian Door price bagi pemenang DoorPrice, diharapkan  kegiatan  ini bisa menjadi bekalan  buat peserta yang hadir sehingga mereka bisa mempunyai kekuatan (imunitas) didalam menangkal  bahaya penyalah gunaan Narkoba  baik untuk diri pribadi, keluarga dan lingkungan dimana mereka tinggal. (Muhammad Rusdi)

     

    Continue Reading
  • Workshop dasar-dasar menggambar Manga (Komik Jepang)

    20 April 2018
    655 Views
    Comments are off for this post

    Pada tanggal 20 April 2018, Program Studi Sastra Jepang Universitas Al Azhar Indonesia mengadakan workshop dasar-dasar mengambar manga dengan narasumber ibu Yulianis Elisabeth Leona Permana (Pengajar di Machiko Manga School 2009-2018). Pertama-tama mahasiswa belajar menggambar proporsi tubuh wanita muda dengan karakter moe. Kemudian dilanjutkan dengan menggambar tokoh pria, tokoh pria yang digambar contohnya adalah tokoh Saitama (action). Hal penting yang perlu diingat adalah saat menggambar tokoh wanita maupun pria perlu ada referensi, seperti foto, gambar dari majalah, figure dan lain-lain.

    Kemudian setelah itu mahasiswa berlatih menggambar latar belakang. Ketika menggambar latar belakang kita sangat memerlukan perspektif yaitu messen (garis khatulistiwa), sehingga didapatkan latar yang seimbang. Langkah berikutnya yaitu mahasiswa belajar menggambar angel bawah (aori) yang dilihat dari sisi samping, untuk menggambar angel bawah bagian atas lebih besar dari bagian bawah tubuh. Selain itu mahasiswa juga belajar menggambar ekspresi tokoh. Ekspresi dapat dengan mudah diketahui dari arah alis atau mata, kerutan di dahi, dan garis bibir. Pada kesempatan ini mahasiswa juga belajar teknik pencahayaan pada manga, bagian yang paling dekat dengan cahaya adalah bagian yang paling terang , yang paling jauh diarsir untuk menunjukkan agak gelap.

    Kemudian beberapa mahasiswa bertanya teknik untuk menggambar poni, lipatan baju, topi dan awan. Ternyata untuk menggambar poni harus tahu arah potongan rambutnya. Kemudian untuk membuat lipatan baju harus memperhatikan arah tangan. Lalu untuk menggambar topi, bagian kepala dipotong sesuai dengan dalamnya lingkaran topi dan untuk menggambar awan harus diperhatikan cuacanya.

    Untuk menggambar tokoh laki-laki dan wanita sebetulnya sama, hanya kaki tokoh laki-laki lebih panjang sedangkan perempuan lebih pendek, kemudian tokoh wanita bagian pinggul dan dadanya lebih lebar.

    Untuk menulis manga, cerita dan background lingkungan harus ditulis sedetail-detailnya guna pencitraan tokoh ke depannya. Kemudian harus ditentukan deco (tokoh utama) dan boko (tokoh pendukung). Untuk kotak-kotak cerita, dicorat-coret dulu pada selembar kertas, jangan langsung dijadikan cerita, ini dilakukan untuk kesempurnaan saat membuat manga. Saat membuat cerita manga, ada hal-hal yang harus diperhatikan yaitu KiShoTenKetsu. Kishoten merupakan kependekkan dari Ki yaitu permulaan (pendahuluan), Sho yaitu pendalaman cerita dan karakter, Ten yaitu klimaks cerita. Selain itu ada satu hal yang tidak kalah penting yaitu Ketsu/ Ochi, Ketsu adalah akhir cerita yang tidak terduga.

    Demikianlah workshop dasar-dasar membuat manga yang disampaikan oleh ibu Leona, mahasiswa sangat tertarik sekali dengan workshop ini dan mereka langsung mengaplikasikan apa yang disampaikan oleh ibu Leona dengan langsung membuat tokoh manga di selembar kertas. Semoga workshop ini dapat bermanfaat bagi para mahasiswa dan semoga pada kesempatan berikutnya program studi sastra Jepang dapat mengadakan workshop dan kuliah umum yang bermanfaat dan  sesuai dengan kebutuhan para mahasiswa. Aamiin.

    Continue Reading
  • Seminar LGBT (Lingkungan Gaul Berakhir Tragis)

    17 April 2018
    768 Views
    Comments are off for this post

    Manusia diciptakan hanya dua jenis kelamin laki laki dan perempuan, derajatnya sama hanya tugasnya yang berbeda” ujar Dokter Inong yang memberikan penjelasan bahaya LGBT sebagai pemicu utama  penyakit HIV dan AIDS.

    Jakarta (16/04) – Isu LGBT menjadi topik hangat yang tidak bisa dienyahkan dari masyarakat begitu saja. Pembahasannya yang kian serius, mengajak kita sebagai generasi muda untuk melihat kembali  bagaimana seharusnya masyarakat menyikapi fenomena LGBT ini. LGBT adalah singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender. Keberadaan kaum LGBT kerap memicu banyak perdebatan. Bahkan saat ini, para pelaku tersebut meminta agar komunitas mereka diakui keberadaannya di Indonesia. Mengusung tema tersebut Alumni Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia bekerjasama dengan KOMIK (Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi) menghadirkan seminar LGBT (Lingkungan Gaul Berakhir Tragis).  Acara ini menghadirkan pembicara pembicara hebat yang pakar di bidangnya yaitu : Dr. Dewi Inong Irana Sp.KK (Pakar Kesehatan), Ihsan Gumilar (Pakar Neuropsychology) dan Aliyah B.P Hasan (Pakar Psikologi Islam) acara ini juga di moderatori oleh ibu Soraya S.Sos.,M.Si. “Ada 5 hal : propaganda yang dilakukan scara terus menerus melalui media, dukungan badan Internasional, propaganda internasional, aturan hukum yang tidak jelas dan  dukungan oleh kalangan selebritis.” Ujar beliau ketika membuka sesi seminar.

    “Manusia diciptakan hanya dua jenis kelamin laki laki dan perempuan, derajatnya sama hanya tugasnya yang berbeda” ujar Dokter Inong yang memberikan penjelasan bahaya LGBT sebagai pemicu utama  penyakit HIV dan AIDS.  Bahkan tertera dalam GBHN bahwa hubungan suami istri atau seks yang sah secara hukum agama dan Negara Republik Indonesia adalah yang hanya dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Maka dapat dengan sangat sadar disimpulkan bahwa LGBT bukanlah sebuah kondisi normal yang keberadaanya patut diwajarkan oleh publik. Dampak-dampak kesehatan paling besar yang ditimbulkan di adalah 78% pelaku homo seksual terjangkit penyakit kelamin menular. Selain itu, virus HIV akan lebih mudah untuk disebarkan melalui hubungan anal. Penelitian Koblin (2006) telah menunjukkan bahwa resiko terjadinya HIV meningkat pada pelaku intercourse secara anal.

    Hal ini tentu saja mengkhawatirkan karena perilaku tersebut mengakibatkan penurunan moral, harkat dan martabat manusia dalam kehidupan nyata, baik dalam kehidupan individu, sosial, maupun dalam hubungannya dengan alam dan sang Pencipta. LGBT tanpa disadari merupakan sebuah bentuk Proxy War, yaitu bentuk perang tanpa sejata yang menyerang pola pikir dan logika masyarakat. Kualitas manusia, pemiskinan Negara, dan ketahanan keluarga maupun nasional telah dipastikan hancur secara perlahan jika isu LGBT dibiarkan.

    Permasalahan LGBT dan dampak besar yang dibawanya tak berhenti hingga disitu. LGBT dalam psikologi bahkan bukan penyakit jiwa, melainkan perilaku abnormal, yang tidak patologis dalam hal fungsi keseluruhan. Pembahasan LGBT pun berlanjut dari sisi psikis dengan judul Indonesia diantara persimpangan atau penyimpangan (Neuro Psychological Prespective). Bagaimanapun perilaku menyimpang bernama LGBT harus diatasi. Banyak cara yang bisa dilakukan seperti mengajak, membimbing, bahkan memaksa masyarakat untuk mematuhi nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Acara ini berhasil membuka fikiran mahasiswa akan masalah serius yang dihadapi oleh fenomena LGBT, semoga dengan acara ini setiap individu mampu membentengi diri dan lingkunganya dari hal hal negative sebagai dampak dari isu LGBT.

     

    Continue Reading