• Workshop Seni Merangkai Bunga Jepang “Ikebana”

    14 December 2018
    130 Views
    Comments are off for this post

    Tanggal 12 Desember 2018, Program Studi Sastra Jepang Universitas Al Azhar menyelanggarakan kegiatan Workshop Seni Merangkai Bunga Jepang “Ikebana”. Workshop ini dibantu oleh voluntir dari Jepang, Ibu Kawai Reiko. Workshop kali ini diselenggarakan dengan tujuan meningkatkan pemahaman terhadap nilai-nilai budaya Jepang, dengan melihat, menyentuh, dan merasakan secara langsung. Kali ini tema yang diangkat adalah “Ikebana”.

    Pada kesempatan ini mahasiswa tidak hanya mempraktekan membuat rangkaian bunga (Ikebana), akan tetapi juga belajar sejarah dan filosofi dari seni merangkan bunga Jepang “Ikebana”. Aliran seni merangkai bunga yang dipelajari adalah aliran “Ikenobo” yang merukapan aliran ikebana terbesar di Jepang, sedangkan gaya yang dipraktekan kali ini adalah gaya bebas atau disebut “Moribana”.

    Di akhir acara diadakan lomba rangkaian bunga terbaik, yang dimenangkan oleh grup Hilda Indriani, Nur Iftita Fitri, Bella Chyntia Nurani, Arina Manasikana, Astasyah Alif, Airyn Azzahra Hidayati, Meggah Tri Sakti.

    Continue Reading
  • Beban Kuliah Ditinjau Ulang agar Fokus Kualitas

    13 December 2018
    131 Views
    Comments are off for this post

    JAKARTA, KOMPAS- Beban kuliah mahasiswa jenjang sarjana (S-1) di perguruan tinggi sedang ditinjau ulang oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Kemungkinan beban satuan kredit semester yang saat ini 144 dipangkas menjadi hanya 120 SKS. Dengan demikian, perkuliahan dapat lebih mendalam dan fokus untuk memantapkan kompetensi lulusan.

    Direktur Pembelajaran Kemenristek dan Dikti Paristiyanti Nurwardani di Jakarta, Rabu (12/12/2018), mengatakan, Kemenristek dan Dikti sudah membuat tim khusus umtuk mengkaji beban SKS untuk jenjang sarjana. “Saat ini sedang dikaji dan kira-kira awal tahun sudah ada kebijakan resmi,” ujarnya.

    Menurut Paristiyanti, Menristek dan Dikti Mohamad Nasir berharap relevansi pendidikan tinggi semakin kuat sehingga lulusan mampu adaptif dengan tuntutan perubahan. Pembaharuan dalam kurikulum dan beban SKS dikaji untuk menyesuaikan dengan perubahan kebutuhan sumber daya manusia di era revolusi industry 4.0.

    Perlu Kedalaman

    Rektor Universitas Al Azhar Indonesia Asep Saefuddin mengatakan, beban SKS di perguruan tinggi Indonesia memang masih berbasis kuantitas, bukan kualitas. Indikatornya pun sering berbasis pada jumlah, bukan kedalaman. “Untuk mencapai hasil belajar yang menghasilkan lulusan berkualitas, diperlukan pembelajaran yang mendalam. Mahasiswa butuh waktu untuk membaca, , mendapatkan materi, lalu dibiasakan untuk mengerjakan proyek atau paper yang akan membuat mahasiswa menguasai materi dengan baik, ‘’ ujar Asep.

    Rektor Universitas Sebelas Maret Ravik Karsidi menambahkan, saat ini rata-rata SKS si perguruan tinggi Indonesia secara jumlah memang banyak, tetapi secara substansi kurang dalam sehingga perlu diperdalam. Padahal, di era sekarang banyak perkembangan ilmu dan kecakapan baru yang juga perlu dikuasai. Peluang tidak melulu kuliah dengan jumlah SKS yang banyak, tetapi dengan berbagai program atau kegiatan, salah satunya magang di industri.

    Sementara itu, Rektor Binus University Harjanto Prabowo mengatakan, terkait dengan rencana untuk menata jumlah SKS, seharusnya yang difokuskan pada capaian pembelajaran yang dituju. Di Binus University ada program pengayaan selama dua semester yang memberikan kesempatan mahasiswa memilih pemagangan, kewirausahaan, studi di luar negeri, pengabdian masyarakat, atau memilih penelitian.

    Adapun Rektor Gadjah Mada Panut Mulyono mengatakan, jumlah SKS erat kaitannya dengan kompetensi atau capaian hasil pembelajaran. Saat ini globalisasi berjalan dengan pesat. Kemitraan antara perguruan tinggi Indonesia dan perguruan tinggi luar negeri sudah bagus dan semarak. (ELN)

    Sumber: KOMPAS

     

    Continue Reading
  • Indonesia Syariah Economic 2018

    12 December 2018
    194 Views
    Comments are off for this post

    Jakarta (10/12) – Sulit dibantah bahwa Universitas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dalam ukuran mikro, daerah-daerah yang memiliki universitas selalu mempunyai kehidupan ekonomi yang baik. Namun,  manfaat kehadiran universitas bukan sekadar perubahan lanskap ekonomi mikro daerah. Jauh lebih besar lagi, kampus merupakan entitas yang bisa memicu pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi. Bertajuk “Peluang Bisnis Syari’ah di Tahun Politik 2019” Universitas Al Azhar Indonesia bekerjasama dengan Masyarakat Ekonomi Syari’ah (MES) dan Medcom.id mengadakan seminar “Indonesia Syariah Economic Outlook” yang membahas bagaimana perkembangan ekonomi islam di masa kini dan gambarannya di masa depan. Mengundang Ust. Yusuf Mansyur (Paytren) sebagai salah satu narasumber acara, seminar ini juga turut mengundang Riyanto Sofyan (KEMENPAR). Acara yang juga dibuka langsung oleh Rektor Universitas Al Azhar Indonesia Prof. Dr. Ir Asep Saefuddin M.Sc., ini juga dihadiri oleh mahasiswa dari beragam fakultas dan program studi.

    “Syariah dan halal ini jarang dilakukan risetnya. Padahal, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia sudah barang tentu kita harusnya menjadi rujukan untuk syariah ataupun halal,” Ujar Rektor UAI dalam kesempatanya memberikan sambutan. Kalimat ini seperti pembuka yang menegaskan kembali bagaimana eksistensi ekonomi syariah dalam lingkup bisnis masyarakat Indonesia. Dengan potensi masyarakat yang mumpuni dan mayoritasnya beragama muslim, Indonesia seharusnya mampu menjadi salah satu acuan berkembangnya ekonomi syariah dalam sebuah negara demokrasi.

    “Syariah dan halal center di negeri jiran yang saya tahu itu juga ada di negara asing seperti di Tiongkok, Korea, dan Jepang. Itu (semua) dikuasai oleh mereka (Malaysia). Padahal penduduknya tidak seperti kita dalam arti jumlah penduduk. Di sini, kita kurang memanfaatkan itu,” tegas Rektor Universitas Al Azhar Indonesia. Beliau menilai kondisi itu terjadi lantaran masyarakat Indonesia memiliki karakteristik instant society. Padahal, syariah memiliki efek berkeadilan bagi masyarakat. Bahkan, syariah dari segi ilmu pengetahuan sangat luar biasa dan berpeluang memberi efek positif bagi masyarakat. Sedangkan di Indonesia sendiri walaupun ada tapi belum begitu terkenal. Maka, perlu ada upaya bersama termasuk mengedepankan riset-riset dari sisi akademisi untuk mengembangkan syariah dan halal di Tanah Air. Jelasnya ketika berbicara mengenai problematika bisnis ekonomi syariah di Indonesia.

    Dari sekian banyak aspek yang dapat menunjang perkembangan ekonomi syariah di Indonesia, Program penguatan perguruan tinggi, termasuk memberikan mandat untuk menyokong industri strategis juga dapat menjembatani kesenjangan antara universitas dan dunia usaha. Pola penguatan ini dapat disesuaikan dengan jenis perguruan tinggi, yakni universitas riset, pengajaran, vokasi, atau politeknik. Menurut beliau dengan bermodalkan pola seperti itu, barulah perguruan tinggi bisa mempunyai efek positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

    Ditutup dengan sesi tanya jawab, seminar yang kembali membuka pikiran mahasiswa akan dunia bisnis syariah ini berlangsung sangat menarik dengan banyak hal bermanfaat yang dapat diambil didalamnya tentunya. Dengan adanya seminar ini diharapkan dapat membuka pikiran kita dan mata kita untuk mengoptimalkan isu syariah dan halal termasuk konsep-konsep keilmuan sehingga riset-riset di dalam bidang ekonomi khususnya syariah bisa terus dikembangkan.

    Continue Reading
  • Preparing Yourself For The Digital Media Revolution

    5 December 2018
    422 Views
    Comments are off for this post

    Jakarta (04/12)- Melihat perkembangan Industri teknologi yang sangat pesat, peran media sebagai salah satu yang mengiringi perkembanganya adalah topik yang selalu menarik untuk dibahas. Kali ini Universitas Al Azhar Indonesia bekerjasama dengan KOMIK (Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi) mengadakan Seminar mengenai “Preparing Yourself For The Digital Media Revolution” yang di narasumberi langsung oleh Naratama Rukmananda (Program Director/Producer VOATV New York & Writer). Acara yang diramaikan oleh seluruh mahasiswa FISIP ini berlangsung sangat menarik. Dalam semiar ini mahasiwa diajak untuk menelaah kembali bagaimana peran media dalam industri masa kini dan jangkauannya yang sangat luas.

    Menurut pria yang kini menjabat sebagai Produser VOATV ini, media saat ini sudah menjadikan setiap generasi yang akan datang dituntut untuk memiliki multitallent skill, mampu diposisikan di bagian manapun dan dapat beradaptasi cepat dengan apa yang dikerjakan. Tentu saja ini mempertegas kembali bahwa kita sebagai individu tidak bisa jika hanya bergantung pada tools (alat) yang digunakan untuk memberikan hasil yang maksimal, tetapi perlu juga adanya mindset yang kuat untuk menjadikan hal hal yang sebelumnya tidak mungkin menjadi mungkin terjadi. Naratama juga sempat menceritakan  bagaimana ia mendapatkan kesempatan untuk meliput acara Comic On di Turki dan menyiarkan siaran live hanya dengan menggunakan skype. Kecanggihan teknologi menuntut pekerjaan dan informasi untuk disampaikan secara cepat dan dengan akses yang mudah, tak heran banyak media yang beralih dari stasiun televisi menuju jejaring media sosial karena dianggap memiliki efektivitas yang tinggi. Seperti halnya masyarakat yang mulai menikmati film melalui platform digital Netflix yang kini telah menyediakan ribuan film yang dapat diakses dengan mudah dimanapun dan kapanpun. Platform digital dan sosial media seperti inilah yang tanpa kita sadari membentuk mindset (pola pikir) masyarakat yang menikmatinya.

    Its all about perception, mindset, its about taste” Ujar Program Director yang juga telah menulis beberapa buku ini. Menurutnya rasa yang dibangun dan diterapkan di masyarakat itu bisa sangat berbeda dan memberikan pengaruh yang luar biasa dan ini yang sering lupa untuk dibahas dibangku perkuliahan oleh para generasi muda, bukan hanya bagaimana menyelesaikan sesuatu dengan sempurna, namun juga ada rasa yang tertanam di dalamnya. “You have to bulid your taste, you have to bulid your mindset” tegasnya, karena tanpa kita sadari dengan mindset dan taste yang kita miliki dapat mengarahkan dan mempengaruhi mindset banyak orang di sekeliling  kita.

    Setelahnya Naratama menjelaskan berbagai macam industri media maupun teknologi yang saat ini membutuhkan banyak sekali tenaga kerja untuk mendalami bagaimana sosial media bekerja. Naratama berpesan pada generasi masa kini untuk tidak terpaku pada lapangan pekerjaan yang tersedia di institusi maupun lembaga pemerintah, ada banyak pekerjaan di luar sana yang dapat dilakukan sesuai dengan apa yang diminati.  “there was a lot opportunity di industri 4.0 yang bisa kalian raih dan gali kedepannya” pesannya sebelum menutup seminar dengan sesi tanya jawab. Dikemas dengan sangat menarik dan santai seminar ini mendapatkan antusiasme yang tinggi dari seluruh mahasiswa yang hadir.

    Continue Reading
  • Collaborative Online International Learning (COIL) Between Japanese and English Departement Students Al Azhar Indonesia University, and Kansai University Students

    1 December 2018
    284 Views
    Comments are off for this post

    Pada hari ini Jumat, 20 November 2018, telah dilaksanakan diskusi antara mahasiswa Program Studi Sastra Jepang, Program Studi Sastra Inggris Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), dengan mahasiswa Kansai University (KU). Diskusi jarak jauh ini dilakukan secara online dalam bentuk video conference.  Mahasiswa UAI dan KU melakukan diskusi mengenai budaya khususnya budaya Indonesia dan Jepang. Sebelum berdiskusi mahasiswa UAI dan KU yang terbagi dalam grup membuat video tentang budaya negara masing-masing dan saling memberikan komentar mengenai isi video tersebut di media sosial.

    Tema yang ditampilkan di video yang dibuat oleh mahasiswa UAI adalah, budaya berjabat tangan, budaya ber kumpul, tabu, etika makan, dll, sedangkan mahasiswa KU membuat video dengan tema vending machines, Origami, makanan Jepang, kantin kampus, dan lain-lain. Di ujung diskusi masing-masing perwakilan grup mempresentasikan hal-hal yang dipelajari dari video dan diskusi langsung jarak jauh.

    Diskusi jarak jauh dengan menggunakan Video Conference ini merupakan projek kerjasama antara Universitas Al Azhar Indonesia dan Kansai University yang dilaksanakan setiap semester dengan tujuan untuk memperdalam pemahaman budaya antar negara, meningkatkan rasa percaya diri menggunakan bahasa asing dan memperluas hubungan antar bangsa yang merupakan bagian dari globalisasi. Diskusi jarak jauh ini disebut juga dengan Collaborative Online International Learning (COIL) dan merupakan kersama UAI dan KU tahun ke- 3.

     

     

    Continue Reading
  • International Seminar on Early Childhood Care Education Learning Best Practice From Other Countries University of Al Azhar Indonesia

    30 November 2018
    199 Views
    Comments are off for this post

                Jakarta (29/11)- Jum’at kemarin Universitas Al Azhar Indonesia mengadakan acara “International Seminar On Early Childhood Care Education” yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi dan Pendidikan Universitas Al Azhar Indonesia serta dihadiri oleh berbagai guru dan peserta dari dalam maupun luar kampus. Acara yang merupakan salah satu bentuk media belajar mahasiswa diluar kelas ini juga turut mengundang Dr. Yoshie Kaga (Progamme Specialist in Early Chilhood, UNESCO Paris), Masatoshi Jimmy Suzuki (Associate Professor, Hyogo University of Teacher Education) dan Dr. Dan Cloney (Research Fellow, Teaching Learning and Leadership Australian Council for Education Research). Dibuka langsung ole Rektor Universitas Al Azhar indonesia Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, M.Sc. ini dimoderatori langsung oleh Bapak Lukmanul Hakim (Direktorat PGTK PAUD dan Diknas). Diskusi yang juga terselenggara berkat kerjasama Universitas Al Azhar Indoensia dengan ECCE (Early Chilhood Care Education) ini berlangsung dengan sangat menarik dan interaktif.

    ECCE around the World” sendiri adalah salah satu program yang mencakup berbagai topik tentang pendidikan dan perawatan anak usia dini dari perspektif peneliti di seluruh dunia (childresearch.net). Pendidikan dan perawatan anak usia dini bervariasi sesuai dengan budaya, bahasa dan karakteristik negara tertentu. Program seminar Internasional yang bertajuk “ECCE Around The World” ini mempromosikan pemeriksaan ulang pendidikan anak usia dini di negara sendiri sambil memperkenalkan perkembangan di tempat lain. Dewasa ini, pemerintah Indonesia telah menaruh perhatian signifikan untuk meningkatkan tingkat partisipasi ECCE di Indonesia yang meliputi 33 Provinsi dengan penduduk yang telah mencapai 200 juta jiwa. Program ini membatu pemerintah untuk berfokus pada kualitas pengajaran dan tantangan-tantangan yang akan dihadapi program PAUD di Indonesia kedepannya. Oleh karena itu ECCE hadir ditengah tengah generasi masa kini dalam Seminar Internasional untuk memperkenalkan lebih akan program-program edukasi dari negara lain yang kemudian bisa dijadikan acuan belajar, inspirasi maupun motivasi  untuk diterapkan di Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia.

    Menuju sesi diskusi dengan menilik bagaimana Jepang mendidik generasi mudanya untuk berlaku disiplin dan tertib, Masatoshi menjawab “by teaching them a ceremony”. Beliau menjelaskan bahwa kegiatan ceremony (upacara) memiliki efek yang besar dalam membentuk karakter disiplin anak. Karena secara tidak langsung dalam upacara setiap anak diajarkan untuk bersikap tegap dan memakai pakaian seragam untuk lebih menggambarkan  kedisiplinan. Sedangkan berkaca dari Negara Australia, mereka menggunakan sistem kualifikasi bagi sleuruh fasilitator yang ada di masing masing sektor pendidikan anak usia dini yang didirikan. Sertifikasi menurut Dr. Dan Cloney mampu membantu mengurangi kecemasan orang tua akan pendidikan buah hatinya dan tentunya akan memberikan jaminan pendidikan tersendiri.

    Menciptakan generasi unggulan memang tidak selalu mudah, ada tahapan dan proses dengan cara yang berbeda dari setiap budaya yang melatar belakanginya. Setiap cara yang digunakan harus terintegrasi dengan baik sehingga mampu meningkatkan daya pikir anak usia dini yang kemudian akan menjadi acuan pola belajar dan berfikirnya dimasa depan. Diakhiri dengan sesi foto bersama, acara ini membuka banyak fikiran mahasiswa untuk terus memperbaiki Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia.

     

    Continue Reading
  • Pelatihan Penggunaan Buku Marugoto A1 Untuk Pengajar Bahasa Jepang di SMA/k, Perguruan Tinggi dan Kursus Se-Jabodetabek

    28 November 2018
    256 Views
    Comments are off for this post

    Sabtu, 23 November 2018, Program Studi Sastra Jepang Universitas Al Azhar Indonesia mengadakan Pelatihan Penggunaan Buku Ajar Marugoto A1. Narasumber pelatihan ini adalah Ibu Evi Lusiana yang merupakan staf ahli pendidikan bahasa Jepang di The Japan Foundation sampai dengan Oktober 2018.Pelatihan ini dihadiri oleh 15 orang peserta yang merupakan pengajar bahasa Jepang di SMA/K , Perguruan Tinggi, dan Kursus Bahasa Jepang Se-Jabodetabek.

    Pada kesempatan ini diperkenalkan buku Marugoto yang merupakan buku yang dibuat berdasarkan JF Standar, dan cara penggunaan atau cara pengajarannya. Selain itu peserta dapat mengalami pengajaran menggunakan Marugoto A1 melalui simulasi pengajaran.

    Continue Reading
  • Wujudkan Generasi Emas Indonesia 2045 yang Cerdas dan Sadar Pajak

    9 November 2018
    1029 Views
    Comments are off for this post

    Jakarta (09/11) – Siang tadi, Auditorium Arifin Panigoro Universitas Al Azhar Indonesia dipenuhi oleh mahasiswa yang berkaos biru, dengan muka yang sangat antusias dan bersemangat. Mereka berbaris rapih diatas alas duduk yang telah disediakan oleh panitia sembari memegang bendera kuning dan biru. Menjawab setiap pertanyaan yang diberikan oleh panitia dengan penuh semangat. Acara yang dimulai sejak pukul 9 pagi ini merupakan bentuk kerjasama Universitas Al Azhar Indonesia dengan Direktorat Jendral Pajak yang bergerak bersama dalam mengedukasi masyarakat mengenai pajak di Indonesia. Bertajuk “Bertutur Pajak” acara yang merupakan puncak Pekan Inklusi 2018 ini diadakan serentak oleh Direktorat Jendral Pajak di sekolah maupun kampus se Indonesia.  Dibuka oleh Dr. Suparji, SH., MH (Ketua Program Studi Pasca Sarjana Ilmu Hukum) acara ini berhasil menarik antusiasme mahasiswa yang berasal dari beragam program studi tersebut.

    Acara ini merupakan sebuah kegiatan mengajar kesadaran pajak kepada siswa/i dan mahasiswa/i yang dilakukan oleh pegawai di setiap unit kerja DJP pada saat yang bersamaan serentak di seluruh Indonesia. Dengan tujuan melalui peringatan Hari Pajak dan Kampanye Program Inklusi Kesadaran Pajak dalam Pendidikan, Masyarakat secara bersama mampu  wujudkan generasi Emas Indonesia 2045 yang Cerdas dan Sadar Pajak.

    Melalui program ini, nilai-nilai pajak dan pemahaman tentang pajak akan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran/mata kuliah tertentu yang akan diterima oleh para peserta didik secara berulang. Dibentuk  dalam kuis tanya jawab pilihan ganda berhadiah yang disesuaikan dengan tingkat pendidikan yang ada. Program besar ini akan diawali dengan “kick off” kegiatan “Pajak Bertutur” yang akan dilaksanakan serentak dalam satu hari. Seluruh kantor pajak di Indonesia akan menurunkan insan-insan DJP ke sekolah-sekolah, mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi, dengan melibatkan 111.000 peserta didik.

    Menuju 10 peserta terakhir, persaingan antar peserta semakin menantang. Para tim pendukung pun memberikan support kepada masing masing peserta yang masih bertahan. Acara edukasi inilah yang membantu generasi muda untuk kembali membuka pikiran akan peraturan peraturan yang berjalan di Indonesia. Semoga kedepannya semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya taat pajak yang kemudian akan memberikan dampak besar bagi pembangunan Indonesia.

     

    Continue Reading
  • Membedah Peluang Emas untuk Menghadapi Tantangan 100 tahun Indonesia di “Indonesia Emas 2045”

    7 November 2018
    458 Views
    Comments are off for this post

    “Kita ini mempunyai krisis moral yang cukup memprihatinkan, rasa nasionalisme dan cinta tanah air ini kadangkala kalah dengan ketamakan manusia. Kebijakan kita dibeli, metal kita yang bodoh dan Birokrasi yang dijual” Ujar Prof. Mahfud MD, SH, selaku keynote speaker.

    Jakarta (07/11) – Rabu pagi, Universitas Al Azhar Indonesia mengadakan seminar bertajuk “Indonesia Emas 2045” yang turut menghadirkan pembicara pembicara yang pakar dibidangnya. Membahas bagaimana tantangan menuju 100 tahun Indonesia, generasi muda perlu tahu, berbagai tantangan Indonesia di 2045 untuk menghadapi perubahan kondisi dan era teknologi yang akan ada. Acara yang mengundang Dr. Mahfud MD, SH, sebagai keynote speaker ini juga turut menghadirkan beberapa narasumber untuk menemani diskusi ringan mengenai Indonesia Emas 2045 yaitu : Yenny Wahid (Aktivis dan Politisi), Prasetyo Andy Wicaksono (Digitalpreneur) dan Reza Rahadian (Aktor). Dihadiri oleh jajaran dosen dari berbagai Universitas se- Indonesia, acara yang juga dibuka untuk umum ini juga diramaikan oleh kehadiran berbagai mahasiswa dari kampus kampus luar.

    Menelaah 100 tahun Indonesia merdeka selalu membawa banyak topik menarik yang harus dibahas. Perkembangan ekonomi, perihal ketahanan negara hinggal moral dan budaya masyarakat didalamnya memiliki aspek masalah tersendiri. Sebagai generasi muda yang akan memegang masa depan bangsa, mengetahui lebih dalam tantangan yang harus dihadapi adalah sesuatu yang sangat penting untuk menyusun strategi kedepannya. “Kita ini telah sampai pada era 4D sebagai Future Energy yaitu : Digitalization, Distraction, Decarbonisation dan Democratization. Yang kemudian akan kita hadapi dengan  3C yaitu : Competence, Calmness dan Collaboration” ujar Prof. Dr. Ir Asep Saefuddin selaku Rektor Universitas Al Azhar Indonesia. Dalam sambutannya beliau menjelaskan pentingnya bagi generasi muda untuk sadar akan tantangan yang akan datang di era yang terus berkembang.

    Dilanjutkan dengan sambutan oleh Prof. Mahmud MD, SH selaku Keynote speaker beliau mengatakan bahwa seluruh generasi muda akan berhasil sebagai generasi penerus jika setiap individu mampu merawatnya dengan baik. Menelaah apa yang akan dirawat, Indonesia memiliki demografi penduduk yang saat ini berkisar sebanyak 266 juta penduduk dengan perkiraan pertumbuhan mencapai 4 juta penduduk setiap tahunya. Ini menjadi pertimbangan yang serius ketika masyarakat Indonesia tidak mampu lagi menyeimbangi pertumbuhan SDM dengan produktivitas dan ketersediaan sumber daya alam yang ada. Dan salah satu krisis yang sedang kita alami adalah krisis moral, beliau berujar “Kita ini mempunyai krisis moral yang cukup memprihatinkan, rasa nasionalisme dan cinta tanah air ini kadangkala kalah dengan ketamakan manusia. Kebijakan kita dibeli, mental kita yang bodoh dan Birokrasi yang dijual”. Seperti salah satu konflik Indonesia dengan Malaysia masih hangat tentang hukum WTO Agreement yang menuai banyak kritikan dan kerap dianggap tidak sehat untuk perkembangan ekonomi di Indonesia. “Dimana nasionalisme ? dimana ke indonesiaannya ?” ujar beliau yang turut prihatin terhadap kondisi birokrasi di Indonesia.  Maka, tugas setiap generasi adalah mengubah semua itu dan membenahi apa apa yang saat ini sudah salah, menemukan  kembali rasa nasionalisme yang perlahan semakin menghilang.

    Setelah mendapatkan gambaran singkat mengenai persoalan di Indonesia oleh Prof. Mahfud, acara dilanjutkan dengan diskusi ringan bersama narasumber yang telah hadir. Dari Yenny Wahid yang merupakan putri dari mantan presiden Indonesia Abdurrahman Wahid ini, ketika ditanya mengenai pembekalan apa yang cocok bagi generasi masa kini, beliau menjawab “kita harus berjuang dengan keadaan yang tentunya berbeda kedepannya, karena kitalah yang akan menentukan masa depan bangsa” ujarnya.  Sedangkan Prasetyo Andy Wicaksono yang lebih dekat dengan dunia digital ini, ia mengutarakan berbagai hal mengenai bagaimana menciptakan peluang untuk terus berkreasi khususnya di platform digital. Menurutnya masyarakat sudah harus melihat permasalahan yang kerap di keluhkan dijejaring media sosial, sebagai suatu karya untuk melakukan perubahan. “Salah satu kunci untuk bertahan di era masa depan adalah dengan berfikir kritis mengapa dan kenapa” ujarnya.

    Sampailah diskusi ke pembicara yang telah banyak ditunggu, aktor yang kerap membintangi film layar lebar ini sengaja diundang untuk memberikan pendapat dari prespektif generasi muda masa kini. Menurut Reza Rahadian aktor yang pernah memerankan sosok BJ. Habibie ini, salah satu kunci untuk terus berkarya dan mengasah kemampuan adalah dengan memulainya dengan hal hal yang tidak kita suka, selalu terobsesi untuk menjadi yang paling unggul dan memenuhi diri dengan berbagai asupan yang baik. Acara yang ditutup dengan penyerahan sertifikat secara simbolis kepada mahasiswa ini, berjalan sangat efektif dan partisipatif. Semoga kedepannya kampus sebagai media belajar, mampu menghadirkan kegiatan diluar kelas yang terus memotivasi mahasiswa untuk terus berkarya.

     

    Continue Reading
  • Mengenal Budaya Global di Festival Sastra 5 Budaya Universitas Al Azhar Indonesia

    7 November 2018
    320 Views
    Comments are off for this post

     

      Jakarta (06/11) – Suara riuh mahasiswa memenuhi ruangan auditorium lantai 3, diikuti oleh gemuruh tepuk tangan yang saling bersahutan. Di dalamnya sekelompok mahasiswa dari Program Studi Sastra Tiongkok Fakultas Imu Pengetahuan Budaya Universitas Al Azhar Indonesia sedang menampilkan teater apik kisah budaya Indonesia yaitu Malin Kundang. Dikemas dalam sebuah karya yang menarik, acara yang bertajuk “Festival Sastra 5 Budaya” ini merupakan program kerja  dari KMFIPB Universitas Al Azhar Indonesia yang kerap diadakan hampir setiap tahun kepengurusannya. Bekerjasama dengan civitas akademika kampus, acara ini tidak hanya melibatkan satu program studi saja. Namun, seluruh prodi yang tergabung dalam Fakultas Imu Pengetahuan Budaya yaitu Sastra Arab, Sastra Inggris, Sastra China dan Sastra Jepang turut berpartisipasi menampilkan buadaya yang mereka pelajari didalamnya. Dibuka oleh Rektor Universitas Al Azhar Indonesia Prof. Dr. Ir Asep saefuddin M.Sc., acara ini juga dihadiri oleh dekan FIPB Dr. Faisal Hendra, M.Ed., jajaran dosen FIPB dan mahasiswa dari berbagai fakultas.

    Dimulai dengan lomba pidato dan cerdas cermat yang bertemakan nasionalisme dan hari pahlawan, acara ini merupakan salah satu bentuk sinergi generasi muda dalam memperingati Hari Pahlawan, sebagai wujud cinta tanah air. Dalam sambutanya Rektor Universitas Al Azhar Indonesia sangat mengapresiasi acara mahasiswa yang menggambarkan keberagaman budaya di Indonesia. Beliau mengaku bahwa potensi mahasiswa untuk terus belajar budaya global sangatlah tinggi. Setiap mahasiswa harus terbuka untuk mempelajari budaya lain agar dapat bersaing secara global. “Please provide the best from you, because i know you can do that. Semoga sukses acaranya, prosesnya hingga akhir acaranya” ujar Rektor UAI ketika memberikan sambutan di awal acara. Beliau berharap agara kedepannya setiap budaya yang dipelajari juga mampu menjadi peluang untuk mengenalkan budaya Indonesia pada dunia.

    Dilajutkan dengan sambutan oleh dekan FIPB, beliau mengatakan bahwa ada banyak pencapaian yang harus di apresiasi sejak berdirinya FIPB di UAI. Seperti yang terbaru ini ditahun 2017 adalah pergantian nama dari Fakultas Sastra ke Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya kemudian di tahun 2018 ini juga ada peningkatan jumlah mahasiswa yang terdaftar menjadi 188 orang. Tidak berhenti sampai disitu, beliau juga telah mencanangkan pencapaian untuk 2019 yang segera diaminkan serentak oleh mahasiswa yang hadir, yaitu pencapaian mahasiswa baru untuk keseluruhan FIPB sejumlah 385 orang. “Mudah mudahan semangat mahasiswa ini dapat memberikan prestasi untuk satu tahun kedepan” ujar beliau sebelum menutup sambutan yan diberikan.

    Selain menampilkan berbagai karya mahasiswa dari tiap Program Studi yang ada, acara ini juga memberikan apresiasi bagi mahasiswa FIPB yang berprestasi dalam bidang akademik maupun non akademik. Apresiasi ini diharapkan mampu memotivasi mahasiswa lainnya untuk terus berlomba mencetak prestasi untuk kedepannya.

    Continue Reading