• Bangkitkan Jiwa Mudamu Lestarikan Budaya Nasional di Tradco 2018

    23 April 2018
    403 Views
    Comments are off for this post

    Jakarta 21 April 2018 – Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KOMIK) Universitas Al-Azhar Indonesia mengadakan acara Traditional Dance Competition (TRADCO) dengan tagline Bangkitkan Jiwa Mudamu, Lestarikan Budaya Nasional. Acara ini terdiri dari perlombaan saman yang diikuti oleh SMA se-derajat di wilayah JABODETABEK. TRADCO akan diselenggarakan di auditorium Arifin Panigoro Universitas Al-Azhar Indonesia pada tanggal 21 April 2018.

    TRADCO 2018 merupakan ajang perlombaan tari tradisional pertama yang diselenggarakan oleh KOMIK periode 2017/2018 dan akan menjadi program kerja tetap KOMIK di tahun-tahun selanjutnya. Untuk pertama kalinya TRADCO diselenggarakan dengan mengangkat tema tari tradisional saman (ratoh jaroe). Kompetisi ini diselenggarakan sebagai wadah kreativitas yang bertujuan untuk meningkatkan apresiasi dan kecintaan dalam melestarikan kesenian Indonesia. “Dengan diadakannya TRADCO ini, saya berharap dapat meningkatkan kecintaan kita para pemuda bangsa terhadap Indonesia yang kaya akan budaya.” Jelas Muhammad Iqbal selaku ketua pelaksana TRADCO 2018.

    Selain lomba, dalam acara ini nantinya akan ada penampilan special dari dua bintang tamu, bazaar makanan minuman, dan akan ditutup dengan pengumuman untuk para pemenang lomba.

    Continue Reading
  • Kampanyekan Anti Narkoba Dalam Acara Musik G Minor  “Gain Musik Without Narcotics and Drugs”

    23 April 2018
    287 Views
    Comments are off for this post

    Jum’at 20 April 2018, Bertempat di Ruang Auditorium Arifin Panigoro Universitas Al Azhar Indonesia, Satuan Mahasiswa (SATMA) ARTPENA UAI   bekerja sama dengan UKKM Musik Sore UAI mengadakan acara Sosialisasi Pencegahan Pemberantasan Penyalah Gunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di lingkungan kampus Universitas Al Azhar Indonesia, acara ini dibuka oleh Wakil Rektor III ibu Dr. Nita Noriko, MS. Sekaligus mewakili Rektor  UAI yang sedang bertugas di tempat lain.

    Tema dari kegiatan ini adalah :“Gain Music Without Narcotics Or Drugs” (Bersatu tanpa narkoba, senada untuk berkarya)

    Tema  ini dimaksudkan  untuk  menjadikan para generasi muda kita bebas dari pengaruh  NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan zat adiktif lainnya ) dalam berkarya dan membangun bangsa ini, dan merubah persepsi tentang musik  yang sangat identik dengan pemakaian Narkoba. Sedangkan tujuan diadakannya acara ini adalah agar mahasiswa/pelajar  mempunyai  kesadaran yang tinggi akan bahaya penyalahan Gunaan Narkoba yang dapat merusak masa depan mereka dan kehancuran negeri ini, dan diharapkan mereka ikut membantu dalam upaya pencegahahan penyalah gunaan Narkoba dilingkungan mereka belajar dan juga sebagai  bagian dari Upaya dalam mempersiapkan Generasi Muda Indonesia yang tangguh menuju  Indonesia Emas untuk membangun negeri ini tanpa pengaruh Narkoba.

    Acara yang  disajikan dalam  bentuk Talkshow dan selingan  band akustik ini sangat   menarik dan tidak membosankan bagi peserta yang hadir,  mereka tetap mengikuti acara sejak dari mulai hingga akhir acara , adapun kampus-kampus yang mengisi acara  untuk band Akustik adalah dari Kampus Uhamka, Esa Ungggul, Trilogi , IBS (Indonesia Banking School) dan dari Universitas Al Azhar Indonesia sebagai tuan rumah, sedangkan untuk pemateri talkshow disampaikan oleh  KBP Dr. Sulastiana,S.I.P.,S.H.,M.Si. atau biasa dipanggil bu Ana,  belau adalah salah satu Dewan Penasehat Artipena (DPP Artipena) yang sekarang bertugas di MABES POLRI dan sebelumnya  bertugas di BNN (Badan Narkotika Nasional) sebagai Kasubdit Lingdik BNN dan juga sebagai salah satu ketua Program Studi S3 STIK (Sekolah Tinggi  Ilmu Kepolisian) Jakarta.

    Hadir pada acara tersebut para Dekan,Kaprodi,Dosen,kepala Direktorat/Unit Pelaksana Tugas, karyawan  dan mahasiswa  UAI, perwakilan dari perusahaan sponsor (EMS Foundation) dan  mahasiswa/pelajar dari beberapa perguruan tinggi/sekolah  lain yang ada di Jakarta.

    Acara ini  ditutup dengan do’a dan pembagian Door price bagi pemenang DoorPrice, diharapkan  kegiatan  ini bisa menjadi bekalan  buat peserta yang hadir sehingga mereka bisa mempunyai kekuatan (imunitas) didalam menangkal  bahaya penyalah gunaan Narkoba  baik untuk diri pribadi, keluarga dan lingkungan dimana mereka tinggal. (Muhammad Rusdi)

     

    Continue Reading
  • Workshop dasar-dasar menggambar Manga (Komik Jepang)

    20 April 2018
    469 Views
    Comments are off for this post

    Pada tanggal 20 April 2018, Program Studi Sastra Jepang Universitas Al Azhar Indonesia mengadakan workshop dasar-dasar mengambar manga dengan narasumber ibu Yulianis Elisabeth Leona Permana (Pengajar di Machiko Manga School 2009-2018). Pertama-tama mahasiswa belajar menggambar proporsi tubuh wanita muda dengan karakter moe. Kemudian dilanjutkan dengan menggambar tokoh pria, tokoh pria yang digambar contohnya adalah tokoh Saitama (action). Hal penting yang perlu diingat adalah saat menggambar tokoh wanita maupun pria perlu ada referensi, seperti foto, gambar dari majalah, figure dan lain-lain.

    Kemudian setelah itu mahasiswa berlatih menggambar latar belakang. Ketika menggambar latar belakang kita sangat memerlukan perspektif yaitu messen (garis khatulistiwa), sehingga didapatkan latar yang seimbang. Langkah berikutnya yaitu mahasiswa belajar menggambar angel bawah (aori) yang dilihat dari sisi samping, untuk menggambar angel bawah bagian atas lebih besar dari bagian bawah tubuh. Selain itu mahasiswa juga belajar menggambar ekspresi tokoh. Ekspresi dapat dengan mudah diketahui dari arah alis atau mata, kerutan di dahi, dan garis bibir. Pada kesempatan ini mahasiswa juga belajar teknik pencahayaan pada manga, bagian yang paling dekat dengan cahaya adalah bagian yang paling terang , yang paling jauh diarsir untuk menunjukkan agak gelap.

    Kemudian beberapa mahasiswa bertanya teknik untuk menggambar poni, lipatan baju, topi dan awan. Ternyata untuk menggambar poni harus tahu arah potongan rambutnya. Kemudian untuk membuat lipatan baju harus memperhatikan arah tangan. Lalu untuk menggambar topi, bagian kepala dipotong sesuai dengan dalamnya lingkaran topi dan untuk menggambar awan harus diperhatikan cuacanya.

    Untuk menggambar tokoh laki-laki dan wanita sebetulnya sama, hanya kaki tokoh laki-laki lebih panjang sedangkan perempuan lebih pendek, kemudian tokoh wanita bagian pinggul dan dadanya lebih lebar.

    Untuk menulis manga, cerita dan background lingkungan harus ditulis sedetail-detailnya guna pencitraan tokoh ke depannya. Kemudian harus ditentukan deco (tokoh utama) dan boko (tokoh pendukung). Untuk kotak-kotak cerita, dicorat-coret dulu pada selembar kertas, jangan langsung dijadikan cerita, ini dilakukan untuk kesempurnaan saat membuat manga. Saat membuat cerita manga, ada hal-hal yang harus diperhatikan yaitu KiShoTenKetsu. Kishoten merupakan kependekkan dari Ki yaitu permulaan (pendahuluan), Sho yaitu pendalaman cerita dan karakter, Ten yaitu klimaks cerita. Selain itu ada satu hal yang tidak kalah penting yaitu Ketsu/ Ochi, Ketsu adalah akhir cerita yang tidak terduga.

    Demikianlah workshop dasar-dasar membuat manga yang disampaikan oleh ibu Leona, mahasiswa sangat tertarik sekali dengan workshop ini dan mereka langsung mengaplikasikan apa yang disampaikan oleh ibu Leona dengan langsung membuat tokoh manga di selembar kertas. Semoga workshop ini dapat bermanfaat bagi para mahasiswa dan semoga pada kesempatan berikutnya program studi sastra Jepang dapat mengadakan workshop dan kuliah umum yang bermanfaat dan  sesuai dengan kebutuhan para mahasiswa. Aamiin.

    Continue Reading
  • Seminar LGBT (Lingkungan Gaul Berakhir Tragis)

    17 April 2018
    612 Views
    Comments are off for this post

    Manusia diciptakan hanya dua jenis kelamin laki laki dan perempuan, derajatnya sama hanya tugasnya yang berbeda” ujar Dokter Inong yang memberikan penjelasan bahaya LGBT sebagai pemicu utama  penyakit HIV dan AIDS.

    Jakarta (16/04) – Isu LGBT menjadi topik hangat yang tidak bisa dienyahkan dari masyarakat begitu saja. Pembahasannya yang kian serius, mengajak kita sebagai generasi muda untuk melihat kembali  bagaimana seharusnya masyarakat menyikapi fenomena LGBT ini. LGBT adalah singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender. Keberadaan kaum LGBT kerap memicu banyak perdebatan. Bahkan saat ini, para pelaku tersebut meminta agar komunitas mereka diakui keberadaannya di Indonesia. Mengusung tema tersebut Alumni Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia bekerjasama dengan KOMIK (Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi) menghadirkan seminar LGBT (Lingkungan Gaul Berakhir Tragis).  Acara ini menghadirkan pembicara pembicara hebat yang pakar di bidangnya yaitu : Dr. Dewi Inong Irana Sp.KK (Pakar Kesehatan), Ihsan Gumilar (Pakar Neuropsychology) dan Aliyah B.P Hasan (Pakar Psikologi Islam) acara ini juga di moderatori oleh ibu Soraya S.Sos.,M.Si. “Ada 5 hal : propaganda yang dilakukan scara terus menerus melalui media, dukungan badan Internasional, propaganda internasional, aturan hukum yang tidak jelas dan  dukungan oleh kalangan selebritis.” Ujar beliau ketika membuka sesi seminar.

    “Manusia diciptakan hanya dua jenis kelamin laki laki dan perempuan, derajatnya sama hanya tugasnya yang berbeda” ujar Dokter Inong yang memberikan penjelasan bahaya LGBT sebagai pemicu utama  penyakit HIV dan AIDS.  Bahkan tertera dalam GBHN bahwa hubungan suami istri atau seks yang sah secara hukum agama dan Negara Republik Indonesia adalah yang hanya dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Maka dapat dengan sangat sadar disimpulkan bahwa LGBT bukanlah sebuah kondisi normal yang keberadaanya patut diwajarkan oleh publik. Dampak-dampak kesehatan paling besar yang ditimbulkan di adalah 78% pelaku homo seksual terjangkit penyakit kelamin menular. Selain itu, virus HIV akan lebih mudah untuk disebarkan melalui hubungan anal. Penelitian Koblin (2006) telah menunjukkan bahwa resiko terjadinya HIV meningkat pada pelaku intercourse secara anal.

    Hal ini tentu saja mengkhawatirkan karena perilaku tersebut mengakibatkan penurunan moral, harkat dan martabat manusia dalam kehidupan nyata, baik dalam kehidupan individu, sosial, maupun dalam hubungannya dengan alam dan sang Pencipta. LGBT tanpa disadari merupakan sebuah bentuk Proxy War, yaitu bentuk perang tanpa sejata yang menyerang pola pikir dan logika masyarakat. Kualitas manusia, pemiskinan Negara, dan ketahanan keluarga maupun nasional telah dipastikan hancur secara perlahan jika isu LGBT dibiarkan.

    Permasalahan LGBT dan dampak besar yang dibawanya tak berhenti hingga disitu. LGBT dalam psikologi bahkan bukan penyakit jiwa, melainkan perilaku abnormal, yang tidak patologis dalam hal fungsi keseluruhan. Pembahasan LGBT pun berlanjut dari sisi psikis dengan judul Indonesia diantara persimpangan atau penyimpangan (Neuro Psychological Prespective). Bagaimanapun perilaku menyimpang bernama LGBT harus diatasi. Banyak cara yang bisa dilakukan seperti mengajak, membimbing, bahkan memaksa masyarakat untuk mematuhi nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Acara ini berhasil membuka fikiran mahasiswa akan masalah serius yang dihadapi oleh fenomena LGBT, semoga dengan acara ini setiap individu mampu membentengi diri dan lingkunganya dari hal hal negative sebagai dampak dari isu LGBT.

     

    Continue Reading
  • UAI dan BAWASLU mengadakan Seminar yang Bertajuk “Pemilih Jaman Now: Mencari Pemimpin Berintegritas Tanpa Politik Uang”

    13 April 2018
    579 Views
    Comments are off for this post

    Dengan memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT, tepatnya, pada hari Jumat, tanggal 13 April 2018,  akan diselenggarakan Penandatangan  Nota Kesepahaman (MOU) antara Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia (BAWASLU) dengan Universitas  Al Azhar Indonesia (UAI). Kerjasama ini diawali dengan mempersembahkan Seminar “Pemilih Jaman Now: Mencari Pemimpin Berintegritas Tanpa Politik Uang”, di Auditorium Arifin Panigoro, UAI. Seminar ini menghadirkan pembicara Bapak Rahmat Bagja, SH., L.L. (Anggota BAWASLU & Dosen FH UAI) dan Bapak Dr. Suparji, SH., MH. (Ka. Prodi Pasca Sarjana Ilmu Hukum UAI).

    Seminar ini dilatarbelakangi adanya keniscayaan penyelenggaraan  pesta demokrasi di Indonesia  secara JUJUR, RAHASIA dan ADIL,  dengan mengedepankan etika dan hukum sebagai landasan  pengelolaannya. Dengan mempertimbangkan  pemilih Jaman Now sebagai  hak potensial pemberi suara yang jumlahnya sangat fantastik, ditambah penyeberan pemilih dengan tingkat medan – topografi wilayah yang sangat variatif serta berbagai permasalahan yang melingkupinya  menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi  Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan BAWASLU.

    Berbagai tantangan itu menguji bangsa Indonesia agar dapat berkoordinasi dan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan sedini mungkin, dengan tingkat antisipasi yang terukur dan akurat, agar setiap masalah yang muncul dapat diantisipasi dengan baik. Penyiapan regulasi, sumber daya, dan modal sosial  termasuk political will pemerintah dan DPR menjadi dinamika yang senantiasa dinamis. Untuk itu dibutuhkan  strategi yang dijalankan kedepan khususnya para penyelenggara dan pengawas harus semakin cerdas, efektif dan kolaboratif

    Dalam hitungan hari, Bangsa Indonesia kembali akan menyongsong PILKADA serentak gelombang ke III tahun 2018.  Pesta demokrasi terbesar ketiga ini merupakan pagelaran yang cukup menarik perhatian banyak pihak,  baik politisi maupun  berbagai lapisan masyarakat yang menggantungkan banyak harapan akan lahirnya PEMIMPIN YANG BERINTEGRITAS.  Setidaknya ada 171 daerah, terdiri dari 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten dan  prosesi persiapan menuju PEMILIHAN UMUM LEGISLATIF dan EKSEKUTIF  tahun 2019.

    Sementara generasi muda sebagai bagian dari Jaman Now yang dapat membawa perubahan, memiliki pola pikir yang kritis, dan visioner terhadap berbagai hal perlu  terlibat dalam proses pengawasan partisipatif.. Dengan adanya kiprah generasi milenial untuk terlibat aktif dalam pengawasan pemilu, paling tidak mereka berani menjadi  pejuang demokrasi dengan mencegah pelanggaran sekaligus berani menolak aksi politik uang. Mengingat mereka merupakan pemilik masa depan Indonesia yang gemilang.

     

    Continue Reading
  • Technology, Innovation and The Future of Industries

    13 April 2018
    346 Views
    Comments are off for this post

    Jakarta- Perkembangan teknologi yang begitu pesat saat ini berjalan lurus dengan perkembangan inovasi di berbagai aspek kehidupan. Pembahasan mengenai pentingnya meningkatkan inovasi di berbagai aspek kehidupan kerap dilaksanakan di berbagai tempat, tak terkecuali di perguruan tinggi. Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), sebagai enterprising university senantiasa melakukan berbagai kegiatan dalam mendorong pengembangan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah executive lecture yang dilaksanakan hari ini, Jumat, 13 April 2018 bertempat di Ruang Auditorium Arifin Panigoro, UAI.

    Acara yang menghadirkan Prof. Dr. Jusman Syafii Djamal sebagai pembicara ini mengusung tema “Technology, Innovation and The Future of Industries”. Pada paparannya, guru besar ITB ini menyampaikan bahwa orang-orang yang menguasai teknologi adalah manusia yang bersumber daya. Menurut Mc Kinsey, pada tahun 2030 Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-7 di dunia, hal tersebut didukung dengan jumlah anggota kelas konsumen menengah di Indonesia yang mencapai 135 juta.

    Sebelumnya, Rektor UAI, Prof. Dr. Asep Saefuddin, M. Sc. menyampaikan dalam sambutannya, bahwa pentingnya penguasaan teknologi yang berkesinambungan dan bersinergi. Sinergi yang dimaksud adalah antara pihak pemerintah, swasta, perguruan tinggi, dan masyarakat. Selain unsur sivitas akademika UAI, acara ini juga dihadiri oleh jajaran kemenristekdikti, kementerian perindustrian, BPPT, pimpinan dari beberapa perguruan tinggi di Jakarta, para pengurus ASPIRASI, dan pengurus Yayasan Pesantren Islam Al Azhar (YPIA).

    Diharapkan dengan adanya acara ini dapat memotivasi para pelaku industri dan masyarakat untuk dapat meningkatkan kesadaran pentingnya inovasi di berbagai aspek.

    Continue Reading
  • “De Creatore, The Creation of English Literature” Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Al Azhar Indonesia

    12 April 2018
    351 Views
    Comments are off for this post

    Jakarta (12/04) – Menengok Auditorium Arifin Panigoro yang tak pernah sepi pengunjung, kali ini Universitas Al Azhar indonesia mengadakan sesuatu yang berbeda dari acara acara sebelumnya, bukan seminar atau kuliah umum, tetapi sebuah acara kompetisi Sastra “De CreatoreThe Creation of English Literature dengan tema : Art Fair, Earth Hour yang diadakan oleh mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Universitas Al Azhar Indonesia.  Acara ini merupakan ajang  perlombaan yang dibagi menjadi dua kategori yaitu Solo singing and Poetry Musicalization dengan tema : Climate Changes Awareness. Selain dihadiri oleh dosen dosen sastra Inggris selaku juri perlombaan,  acara ini juga dihadiri oleh Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya  Bapak. Dr Faisal Hendra, M.Ed dan dibuka oleh Rektor Universitas Al Azhar Indonesia Bapak Dr. Ir Asep Saefudin M,Sc.

    Menggandeng sekitar 15 peserta dari dua kategori perlombaan, acara ini berhasil membungkus kegiatan akademis menjadi ajang untuk menunjukan bakat masing-masing mahasiswa tanpa harus keluar dari konteks Sastra Inggris yang ada. Ditengah break acara, Humas Universitas Al Azhar Indonesia menemui Ketua Panitia De Creatore, Amalia.  Acara yang baru diadakan tahun ini merupakan salah satu program kerja Divisi kesenian dari KMFS Inggris dengan harapan mampu memberikan warna baru bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Al Azhar Indonesia. Amalia berharap dengan banyaknya media pembelajaran yang dihadirkan untuk menuangkan bakat seperti acara, seminar maupun perlombaan, maka mahasiswa pun akan semakin terpacu untuk terus belajar dan memperkaya potensi yang dimiliki satu sama lain.

    “Berhubung dekat dengan  tanggal 22 April adalah hari bumi sedunia, makanya kita kasih tema Earth Hour” ujar amalia menjelaskan tema acara kali ini. Selain lomba menyanyi dan membacakan puisi, acara yang telah disiapkan dalam kurun waktu dua bulan ini juga menghadirkan art corner yang berisikan karya gambar dan  handwriting  mahasiswa. Harapan Amalia kedepannya mahasiswa akan lebih aktif lagi menggunakan bahasa inggris dalam aktvitas sehari hari, ia juga berharap program bahasa UAI dimana dalam satu hari salam seminggu, mahasiswa diwajibkan menggunakan bahasa inggris dalam lingkungan kampus dapat mmbantu meningkatkan keahlian mahasiswa dalam praktek berbahasa. Semoga acara ini kedepannya mampu menampung lebih banyak bakat mahasiswa dan dapat terus dikembangkan menjadi lebih baik oleh panitia panitia ditahun selanjutnya.

     

    Continue Reading
  • Seminar Cloud Computing : Infrastruktur Ekonomi Digital Indonesia dan Launching Indonesia Cloud Award 2018

    12 April 2018
    309 Views
    Comments are off for this post

    Jakarta (10/04)- Universitas Al Azhar Indonesia bekerjasama dengan Asosiasi Cloud Computing Indonesia (ACCI) dan APTIKOM mengadakan seminar yang bertajuk “Cloud Computing: Infrakstruktur Ekonomi Digital Indonesia” acara yang dibarengi oleh Launching Indonesia Cloud Computing Award 2018 ini dihadiri oleh 4 Keynote Speaker dan 14 Speaker yang pakar dibidangnya. ACCI sendiri merupakan Asosiasi yang berdiri sejak 14 Juni 2017 yang didirikan oleh 21 pendiri, dengan visi menjadi wadah yang mampu menselaraskan perkembangan teknologi cloud computing serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk memenuhi kebutuhan industri dibidang teknologi informasi. Sedangkan APTIKOM

    Acara yang diselengarakan di Auditorium Universtas Al Azhar Indonesia mengundang  Rudiantara (Menteri Komunikasi dan Informasi), Ilham Akbar Habibie (Ketua Tim Pelaksana WANTIKNAS), Ucok Zainal Hasibuan (Ketua Umum APTIKOM) dan Asep Saefudin (Rektor Universitas Al Azhar Indonesia). Selain 4 Keynote Speaker ada 14 Speaker lain yang turut diundang dalam seminar kali ini yang masing masing dibagi menjadi 3 panel diskusi dengan judul yang berbeda.

    Diskusi Panel pertama dimulai dengan judul “Regulasi, market, SDM dan Infrakstruktur penunjang Cloud Computing” dengan speaker oleh Azhar Hasyim (Direktur E- Bussines Kominfo), Mevira Munindra (County Head of Consulting IDC), I Made Wiryatama (Dosen & peneliti Universitas Gunadharma), Merza Fachys (Ketua ATSI), Jamalul Izza (Ketua Umum APJII) dan Soegiharto Santoso (Ketua Umum APTIKNAS). Mengutip materi yang diberikan oleh ibu Mevira Murindra bahwa mulai 2018 setiap organisasi lambat laun akan mengadopsi digital-native operating model untuk bersaing dengan bagian terkecil dari global economy. “Multicloud management, multicloudsecurity and cloud at the edge are the key changes in cloud environment in the next 3 years” ujarnya. Khusus Opsi perangkat keras cloud  juga akan berkembang sesuai permintaan dengan XaaSfor AI, IoTsulation dan komputasi yang kompleks.  IDC sendiri kini Fokus pada tahap awal mengembangkan kerangka kerja integrasi terstruktur di seluruh platform cloud untuk mengurangi pengerjaan ulang dan rekayasa ulang proses, serta mempertahankan kelincahan dalam platform IT di perusahaan.

    Berlanjut ke Diskusi Panel Kedua mengenai “Layanan Cloud Computing Infrastuktur Ekonomi Digital” dengan speaker Sutedjo Tjahjadi (Managing Director Datacomm Cloud), Noerman Taufik (CEO Indonesia Cloud), Muhammad Bahesti (CTO Dekstop IP), Tony Seno Hartono (National Technology Officer Microsoft Indonesia) dan Fanky Christian (Sekretaris Jendral ACCI). Pada diskusi ini Bapak Noerman taufik menjelaskan beberapa peran indonesian cloud bagi perusahaan maupun individu masyarakat, yaitu Cloud Infrastruktur yang meliputi public, private dan Hybird, Cloud Service, Cyber Security dan Cloud Business Solution. Setelah membicarakan konsep program dan strategi yan digunakan dalam Cloud, diskusi pun berlanjut ke topik praktisi yaitu, bagaimana cloud nantinya akan dijalankan di masyarakat dalam ranah industri, pemerintah, ekonomi maupun pendidikan  dengan judul “Cloud Computing Best Practice” semuanya disajikan dalam Diskusi Panel Ketiga, diskusi ini diisi oleh Kristiono Setyadi (CTO The Jakarta Post), Charles Sitorus (Directur IT PT. Pos Indonesia), Panji Gautama (CTO Kudo), Denny Hermawan (Dosen & Peneliti Universitas Al Azhar Indonesia) dan Totok Sediyantoro (Government Relation ACCI).

    Ditutup dengan sesi pertanyaan oleh peserta seminar, semoga acara ini dapat membuka pikiran dan menambah banyak pengetahuan mahasiswa akan perkembangan teknologi masa kini yang semakin maju, terutama dalam bidang IT.

    Continue Reading
  • Keseruan Beauty Class Universitas Al Azhar Indonesia bersama  Femaledaily Goes to Campus

    11 April 2018
    360 Views
    Comments are off for this post

    Jakarta (9/4) – Humas Universitas Al Azhar Indonesia dengan KOMIK (Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi) bekerjasama mengadakan acara Femaledaily Goes to Campus. Melihat kebutuhan mahasiswa akan skin care yang kian meningkat, menjadikan topik skin care adalah salah satu yang telah ditunggu tunggu oleh sebagian besar mahasiswi Universitas Al Azhar Indonesia. Dihadiri langsung oleh CO Founder Femaledaily Afi Assegaf, Arlien Panambang selaku Brand Deputy dari PT Rohto dan kak Annetta Darandri selaku senior editor Femaledaily. Acara yang juga merangkap  beauty class ini memberikan pengalaman seru bagi 100 mahasiswa yang telah hadir di Auditorium Panigoro Universitas Al Azhar Indonesia. “Cantik dari luar itu dibutuhkan, namun juga jangan lupakan cantik yang datang dari dalam” ujar Dr. Nita Noriko ketika memberikan sambutan selaku Wakil Rektor 3 Universitas Al azhar Indonesia.

    Di sesi pertama kak Anneta menjelaskan banyak tentang fitur apa saja yang disajikan oleh aplikasi femalebeauty yang tersedia di Appstore maupun Playstore. Aplikasi yang merupakan program terbaru femaledaily ini bergerak seputar gaya hidup terutama kebutuhan untuk skin care dan kosmetik bagi usia remaja maupun dewasa, tentu saja ini akan memudahkan generasi muda untuk memilih skin care dan kosmetik yang sesuai dengan tipe wajah.  Lalu berlanjut ke Career Talkshow yaitu bagaimana pengalaman beliau terkait first jobber, menurut kak Anneta memasuki dunia kerja setelah kuliah adalah hal yang akan memberikan pengalaman baru bagi tiap individu. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan dari materi hingga ke psikologi. Kak Anetta juga membagikan beberapa tips yang bisa membantu mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja, yaitu : 1) Social media presence, menurut data ada 61% perusahaan yang akan memeriksa akun sosial media yang dimiliki oleh calon pekerja dan 50% terbukti lebih mempekerjakan karyawan mereka yang aktif dalam media sosial dibandingkan dengan yang tidak aktif sama sekali, 2) Curiculum Vitae, yaitu bagaimana menyiapkan CV yang menarik dan menyajikan karakter yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh pihak perusahaan “its how to make unique selling point in yourself” ujarnya, 3) Internship, melakukan kesalahan ketika magang adalah hal yang kerap dimaklumi, karena tidak ada keberhasilan tanpa kegagalan sedikitpun justru dari kegagalan itulah akhirnya kita belajar untuk tidak mengulanginya lagi di dunia kerja.

    Dilanjutkan dengan acara yang ditunggu tunggu yaitu skin care talk show oleh kak Affi Assegaf, dan kak Arlien Panambang dengan topik  “skin care 101 : for beginners”. Membahas lebih banyak tentang skin care produk, sehingga kita dengan sendirinya bisa tahu  produk apa yang cocok untuk kulit kita. “Use skincare based on your skin, not on your age” ujar kak Afi menjelaskan bagaimana seharusnya memilih produk skin care yang tepat. Karena menurut kak Afi, tekstur kulit tidak berubah sesuai usia saja namun juga ada beberapa aspek yang menyebabkan kulit terus berubah yaitu stress, hormonics, diet, pollution, weather dan exposure. Pesan terpenting bagi setiap wanita saat ini adalah untuk menggunakan sunscreen setiap hari. Sunscreen sangat berguna untuk melindungi kulit dari sinar uv matahari yang jika dabaikan akan merusak permukaan kulit. Maka, sunscreen sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan perlindungan kulit.

    Ditutup dengan Beauty Class dan pengumuman tiga pemenang kontes foto Instagram Femaledaily Goes to Campus, acara ini berhasil memberikan kesan dan pengalaman yang berharga. Semoga kedepannya kerjasama kampus dengan tim Femaledaily akan terus berjalan dan membawa pengaruh yang positif bagi banyak generasi muda Indonesia.

     

    Continue Reading
  • Bedah Buku Falsafah Pancasila Epistimologi Keislaman Kebangsaan

    6 April 2018
    522 Views
    Comments are off for this post

    Falsafah ketuhanan dengan nilai reigio-magis menjadi suatu nilai konstanta yang denganya manusia Indonesia dapat bergerak secara dinamis, sebagai manusia yang monopluralis. Konsep akan pengakuan atas keesaan Allah yang mengendalikan diri dan alam pijaknya, menundukkan manusia kedalam ruang kendali kekuasaan-Nya yang tanpa batas (Qs. Al-A’raaf (7) : 158)” (Synopsis, Buku Falsafah Pancasila).

    Jakarta (06/05) –Acara “Bedah Buku Falsafah Pancasila Epistimologi Keislaman Kebangsaan” yang diadakan oleh Program Studi Hukum Universitas Al Azhar Indonesia, telah disambut dengan antusiasme yang tinggi oleh banyak peserta yang hadir. Buku ini bahkan  ditulis langsung oleh Dosen Fakultas Hukum Universitas Al Azhar Indonesia Bapak Dr. Fokky Fuad Wasitaatmadja. Dalam bedah buku ini banyak menjelaskan bagaimana pancasila dalam kiprahnya sebagai fondasi bangsa Indonesia sangat  erat kaitanya dengan nilai nilai religius islam. Selain sang penulis buku, acara ini juga turut menghadirkan Dr. Hendra Nurtjahyo (Kepala Pusat Studi Pancasila, Universitas Pancasila) sebagai pembedah buku.

    Buku yang di deklarasikan terbit ditahun 2018 ini sebenarnya telah siap naskahnya sejak malam takbiran bulan Ramadhan tahun 2017. Terinspirasi dari sebuah pemikiran perdebatan falsafah, dimana dalam perdebatan itu beliau menemukan kalimat “Pancasila itu kafir”,  penggalan kalimat inilah yang kemudian berhasil menggerakkan Pak Fokky untuk menulis buku ini. Berbeda dengan gagasan yang diungkapkan oleh Buya Hamka bahwa Pancasila adalah bentuk bagaimana umat Islam bertauhid, semakin menggunggah niat besar Pak Fokky untuk menjelaskan kembali bagaimana sejarah islam menjadi bayang bayang yang tidak bisa dipisahkan dari nilai kandungan Pancasila. Pancasila dengan status kafir tidak bisa dibenturkan, karena menurut beliau Pancasila bukanlah sebuah agama. Namun, dengan falsafah Pancasila ini manusia Indonesia menyadari bahwa ruang kebebasan dan kemerdekaan yang ia raih atas kehendak-Nya. Kesadaran akan nilai-nilai imateri ke dalam dirinya menjadikan ia bergerak dinamis dalam lingkar ide-ide spiritualisme, sehingga islam dan pancasila memiliki kaitan yang sangat erat.

    “Buku adalah karya monumental, problematika yang tertulis dalam bukulah yang akan dicatat dalam sejarah, bukulah yang akan menjelaskan bagaimana gambaran pemikiran yang dimiliki oleh seorang penulis” ujar Dr. Hendra yang sangat mengapresiasi karya pemikiran Pak Fokky yang dituangkan dalam sebuah buku.  Eksistensi negara Indonesia berada di Pancasila, ditengah banyak ideologi negara yang mulai ter-degedrasi, pancasila masih kukuh terhadap nilai nilai yang dikandungnya. Oleh karena itu, Pak Hendra sangat meyetujui bahwa pembahasan dalam buku ini sangat penting untuk mengingatkan kembali eksistensi atau keberadaan nilai yang sempat terlupakan dalam Pancasila.

    Dalam sesi terakhir beliau menjelaskan tentang bagaimana menerapkan nilai nilai pancasila pada generasi masa kini. Melihat generasi yang kian praktis, sudah seharusnya menjadikan kita untuk turut berfikir kreatif.  Misalnya dengan melakukan pendekatan sosial menggunakan teknologi IT, dalam project film ataupun media berbasis aplikasi contohnya yang kian dekat dengan kehidupan generasi masa kini.  Masyarakat sudah seharusnya sadar bahwa pancasila bukan hanya sekedar teori,  tapi justru keberadaanya sangat dekat dengan kehidupan sehari hari.  Pak Fokky secara umum berhasil membungkus karyanya dengan susunan yang sangat apik sehingga jelas memudahkan kalangan masyarakat terutama mahasiswa untuk memahami maksud, tujuan  dan pesan  yang ingin disampaikan.  Buku ini menjabarkan dengan apik bahwa Falsafah Pancasila adalah kesatuan values atau nilai- nilai yang muncul dalam kesadaran manusia Indonesia atas keEsaan Allah Ta’ala dan rasa kebersamaan dengan sesama manusia lain. Semoga Kehadiran buku ini dapat menunjang sistem pembelajaran mahasiswa  dan membuka banyak mata para pembaca akan nilai nilai imateri dalam kandungan pancasila yang bukan hanya kutipan semata.

     

    Continue Reading