Muhammad Abyudaya Wikrama, mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) angkatan 2024, menyampaikan kultum tujuh menit di Masjid Agung Al Azhar dengan tema “Menjadikan Ramadan Tahun ini Sebagai The Best Version of Us.”
Dalam kultumnya, Abyudaya mengajak jamaah merenungkan makna Ramadan sebagai bulan penuh berkah dan ampunan. Ia menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan menumbuhkan akhlak mulia. Mengutip Surat Al-Baqarah ayat 183, ia menjelaskan bahwa puasa menjadi sarana untuk meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah, sekaligus menguji sejauh mana seorang hamba mampu memperbaiki dirinya.
Abyudaya mengingatkan bahwa seringkali Ramadan berlalu tanpa perubahan berarti karena banyak orang hanya fokus pada rutinitas lahiriah, seperti membeli baju baru atau menyiapkan hidangan, tanpa menata hati dan memperbaiki perilaku. Oleh karena itu, Ramadan seharusnya menjadi kesempatan untuk “re-konstruksi diri,” menjadikan diri kita versi terbaik. Hal ini dimulai dengan meneguhkan niat yang tulus kepada Allah, fokus pada kualitas ibadah dan amal, serta membersihkan hati dari dendam dan prasangka buruk terhadap sesama.
Ia menekankan pentingnya keberanian memperbaiki diri tanpa takut gagal. Allah tidak mencari hamba yang sempurna, tetapi hamba yang mau kembali dan bertaubat. Kesalahan masa lalu bukan penghalang, melainkan peluang untuk memperbaiki diri dan mendapatkan keberkahan Ramadan.
“Jangan sampai Ramadan cuma jadi ritual pindah jam makan, tapi nggak pernah sampai ke perbaikan iman; saatnya logout dari drama dunia, dan login ke pelukan Allah buat jemput versi terbaik diri kita,” tutupnya.
Dengan memperkuat niat, menata hati, dan menjaga akhlak, setiap muslim dapat menyambut bulan suci sebagai momentum untuk transformasi diri yang nyata, bukan sekadar ritual semu.