Dunia Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), khususnya autisme, sering kali diibaratkan sebagai sebuah teka-teki besar bagi masyarakat awam. Selama ini, banyak yang melihat autisme hanya dari permukaan saja, seperti kesulitan berkomunikasi atau perilaku yang dianggap “aneh”. Namun, jika kita bersedia duduk sejenak dan menyelami kehidupan mereka lebih dalam, kita akan menemukan sebuah realitas yang kaya akan makna, ketangguhan, dan keunikan yang menantang batas empati kita sebagai manusia.

Salah satu hal paling mencerahkan sekaligus menyentuh yang baru diketahui adalah fenomena meltdown. Selama ini, masyarakat sering kali menyamakan meltdown dengan tantrum biasa pada anak. Padahal, secara neurologis, keduanya sangat berbeda. Jika tantrum adalah perilaku yang sengaja dilakukan untuk mendapatkan sesuatu, meltdown adalah kondisi di mana seorang individu dengan autisme kehilangan kendali karena sistem sarafnya mengalami kelebihan beban sensorik (sensory overload).

Bayangkan jika berada di sebuah ruangan di mana sepuluh televisi menyala dengan saluran berbeda, lampu neon menyala sangat terang, dan seseorang terus-menerus menyentuh kulit dengan kasar. Itulah yang sering dirasakan anak autisme dalam situasi yang bagi kita terlihat “normal”. Saat terjadi meltdown, mereka tidak bukan melakukan hal yang menurut kita nakal tapi mereka sedang mengalami penderitaan sensorik yang nyata. Mengetahui hal ini mengubah cara memandang interaksi di ruang publik. Kita tidak lagi melihat mereka dengan tatapan menghakimi atau risih, melainkan dengan pemahaman bahwa mereka sedang berjuang melawan apa yang ada di dalam kepala mereka sendiri.

Dalam pandangan Islam, keberadaan teman-teman dengan autisme bukan tanpa alasan. Islam sangat menjunjung tinggi martabat manusia melampaui kemampuan fisik atau kognitifnya. Setiap anak, termasuk anak autisme, adalah fitrah dan ciptaan Allah yang suci. Mereka sering disebut sebagai “Ahli Surga” karena mereka tidak memiliki beban taklif (kewajiban agama) yang sama dengan manusia dewasa pada umumnya, sehingga mereka tetap dalam keadaan murni dari dosa.

Refleksi spiritual ini diperkuat oleh teguran Allah kepada Nabi Muhammad SAW dalam Surah ‘Abasa. Melalui surah tersebut, Allah memberikan pesan universal bahwa perhatian dan kasih sayang tidak boleh dipilah-pilih berdasarkan kondisi fisik atau status sosial. Islam memandang ABK sebagai amanah besar bagi orang tua dan masyarakat. Kehadiran mereka adalah ladang amal yang nyata. Bagi orang tua, mereka adalah jalan menuju kesabaran tingkat tinggi, dan bagi masyarakat, mereka adalah ujian sejauh mana kita mampu mempraktikkan nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam). Islam mengajarkan bahwa perbedaan adalah keniscayaan agar manusia saling mengenal dan menolong, bukan untuk saling meminggirkan.

Apa yang bisa kita lakukan? Membentuk masyarakat inklusif tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan pemerintah, melainkan butuh kontribusi nyata dari setiap individu. Pertama, kita harus menjadi edukator di lingkungan terdekat. Menghapus stigma dimulai dari cara kita berbicara. Kita harus berhenti menggunakan istilah-istilah terkait disabilitas sebagai bahan gurauan. Selain itu, saat melihat orang tua yang anaknya sedang mengalami meltdown di tempat umum, kontribusi terbaik kita adalah tidak memberikan pandangan sinis. Jika tidak bisa membantu secara fisik, memberikan senyuman suportif atau sekadar memberikan ruang privasi sudah merupakan langkah inklusif yang besar.

Lalu yang kedua, akomodasi lingkungan. Bagi mereka yang bekerja di bidang desain, arsitektur, atau pelayanan publik, sangat penting untuk memikirkan elemen ramah sensorik. Misalnya, menyediakan area tenang (quiet room) di pusat perbelanjaan atau menggunakan pencahayaan yang tidak terlalu menyilaukan. Di era digital, kita bisa berkontribusi dengan membuat konten yang mudah diakses dan menghargai keragaman cara berpikir.

Dunia autisme mengajarkan kita bahwa “normal” hanyalah sebuah perspektif. Dengan memahami fenomena meltdown, kita belajar tentang empati yang lebih dalam. Dengan melihat dari sudut pandang Islam, kita belajar tentang martabat manusia yang hakiki. Dan melalui aksi nyata, kita membangun jembatan untuk masa depan di mana tidak ada lagi dinding yang memisahkan “kita” dan “mereka”. Inklusi adalah tentang merayakan harmoni di tengah perbedaan, memastikan bahwa setiap manusia, apa pun spektrumnya, merasa diterima dan dicintai.

Penulis : Nazwa Rahmadani, Mahasiswa Universitas Al-Azhar Indonesia

Sumber : Kompasiana