“Having a Venezuela that’s an oil producer is good for the United States because it keeps the price of oil down” – Donald Trump, 6 Desember 2026.

Donald Trump tidak menutup-nutupi bahwa salah satu motivasinya menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro didorong akan isu produksi dan ketersediaan minyak. Sampai saat ini, Venezuela masih menjadi negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, di atas Arab Saudi. Sejak Desember 2025, pasukan AS telah menyita setidaknya dua kapal tanker minyak besar di lepas pantai Venezuela.

Terlepas Trump mengungkit permasalahan sengketa nasionalisasi perusahaan minyak AS di Venezuela era Presiden Hugo Chavez pada awal 2000-an, motivasi Trump akan mengamankan sumber daya alam berbasis energi fosil seperti minyak dapat ditelusuri sejak awal-awal masa kampanye pada 2024. Slogan klasik “Drill, baby, drill” kembali menggema pada kampanye presiden Trump yang menunjukkan komitmennya dalam mengamankan produksi dan stok ketersediaan minyak AS.

Jika diamati selama setengah abad terakhir, muncul pertanyaan menarik “mengapa negara superpower seperti AS tetap menunjukkan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap energi fosil seperti minyak?” Pertanyaan ini menggugah penulis, karena jika dirunut sejak era oil price crisis pada 1973-1974 sudah lebih dari cukup untuk memberikan mimpi buruk terhadap AS dan dunia akan sisi negatif dari ketergantungan akan minyak.

Dilanjut dengan operasi militer AS di Irak pada 2002. Meskipun berlindung di balik justifikasi meruntuhkan rezim Saddam Hussein, terdapat upaya-upaya secara masif untuk melakukan konsesi terhadap ladang-ladang minyak di Irak melalui politisi dan korporasi AS.

Dengan berbagai fenomena ini, sejatinya negara sebesar AS telah beralih untuk memastikan ketersediaan energi berbasis sumber daya terbarukan yang lebih berkelanjutan. Namun kenyataannya jauh dari kata ideal. Dari sudut pandang penulis, ketergantungan AS terhadap energi fosil, seperti minyak, didorong oleh motivasi transaksional dalam membangun keamanan energi.

Penulis berpendapat, minyak dalam konsepsi keamanan energi transaksional AS dibangun atas tiga pilar yaitu minyak sebagai physical commodity; minyak memiliki delivery points yang jelas; dan minyak sebagai simbol petrodollar. 

Pertama, minyak dipandang secara fisik sebagai komoditas yang memiliki nilai intrinsik sangat besar. Rintangan yang harus dihadapi  AS dalam mengontrol keamanan energinya adalah ketergantungannya pada sumber minyak asing. Kesadaran AS akan semakin terbatasnya cadangan minyak dunia membawa konsekuensi tersendiri terhadap keamanan energi AS.

Salah satu sumber energi minyak yang diproduksi oleh AS adalah shale oil. Minyak tersebut diproduksi melalui batuan serpih (shale) dengan teknologi tinggi yang memakan biaya dan waktu lebih besar jika dibandingkan dengan produksi minyak secara konvensional. Biaya produksi shale oil pada 2024 mencapai angka US$30-35 per barel, sedangkan di waktu yang sama produksi minyak mentah di Timur Tengah hanya memerlukan biaya produksi berkisar U$S10 per barel.

Hambatan teknis ini mendorong AS untuk kembali melihat dunia luar, terutama wilayah-wilayah potensial yang memiliki cadangan minyak melimpah untuk dikuasai secara politik. Venezuela yang selama dua dekade terakhir mengambil posisi politik berlawanan dengan AS dalam politik internasional sempat luput dari skala prioritas politik luar negeri AS, termasuk ketika periode pertama kepemimpinan Trump (2016-2020).

Saat ini AS melihat Venezuela seakan-akan sebagai terra nullius (tanah kosong) yang menyimpan kekayaan sangat besar dalam bawah tanahnya. Dengan ketimpangan kekuatan militer yang sangat besar, ditambah problem krisis ekonomi yang dialami Venezuela selama satu dekade terakhir tidak memberikan hambatan berarti bagi AS untuk melangkah secara agresif untuk meruntuhkan rezim Maduro. Jika AS berhasil menguasai cadangan minyak Venezuela, maka mudah untuk AS untuk tetap terus mendanai militernya sebagai mesin perang.

Kedua, baik AS atau Trump melihat komoditas minyak sebagai komoditas yang memiliki jalur distribusi secara rigid karena memiliki beberapa choke points yang strategis. Selama ini AS memiliki ketergantungan yang sangat besar dengan pasokan impor minyak dari kawasan Timur Tengah yang durasi transportasi pengirimannya memakan waktu hingga 30 hari.

Dilema ini semakin kompleks ketika eskalasi konflik di Timur Tengah meningkat hingga menganggu arus transportasi minyak yang melintasi Selat Hormuz atau Terusan Suez. Sedangkan untuk Venezuela terletak dalam satu “american hemisphere” bersama dengan AS sehingga memiliki geographical proximity yang ideal dan tentunya akan memangkas durasi waktu transportasi minyak yang sangat besar jika dibandingkan dengan kawasan Timur Tengah.

Secara analisis transaksionalnya, mengamankan rute dari wilayah Venezuela ke Texas lebih mudah dimaksimalkan secara politik dan militeristik, jika dibandingkan dengan kembali berusaha mengamankan rantai pasok minyak dari wilayah Timur Tengah.

Ketiga, komoditas minyak dipandang sebagai simbol era petrodollar. Setelah keruntuhan sistem moneter Bretton-Woods pada 1970-an diikuti dengan krisis harga minyak dunia pada 1973-1974. Pascakrisis tersebut, AS memberikan perlindungan militer dan persenjataan canggih kepada Arab Saudi sebagai negara besar produsen minyak besar dan pemimpin OPEC ketika itu. Sebagai imbalannya, Arab Saudi setuju untuk menjual minyak mereka hanya dalam dolar AS dan menginvestasikan surplus pendapatan mereka kembali ke dalam surat utang AS. Karena Arab Saudi menggunakan dolar AS, maka negara-negara OPEC lainnya turut mengambil langkah yang sama (era petrodollar).

Sementara Venezuela, sejak era Hugo Chávez hingga Maduro, beberapa kali mencoba merusak hegemoni dolar ini dengan menjual minyak tidak menggunakan dolar AS. Jika negara seperti Venezuela (pemilik cadangan minyak terbesar dunia) berhasil menjual minyaknya dalam mata uang non-dolar secara permanen, maka akan menggoyahkan supremasi moneter AS di tingkat internasional.

Dengan menggulingkan rezim Maduro di Venezuela dan menggantikannya dengan pemerintahan baru pro-AS, maka AS juga berupaya memastikan bahwa setiap barel minyak yang akan diekspor dari Venezuela wajib dibayar dengan dolar AS. Langkah ini berupaya memperkuat kembali posisi dolar sebagai mata uang cadangan dunia yang sempat goyah akibat beberapa krisis ekonomi global.

Sebagai penutup, ketergantungan AS pada minyak hingga abad ke-21 bukanlah sebuah ketidaksengajaan sejarah, melainkan sebuah pilihan sistemik. Minyak adalah satu-satunya komoditas fisik yang mampu menyatukan aspek biaya rendah (cost), kontrol wilayah (geographical proximity), dan dominasi finansial (dollar supremacy) dalam satu genggaman.

Penulis : Wildan Faisol, S.Sos., M.Si., Dosen Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Al-Azhar Indonesia

Sumber : katadata.co.id