Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Dr. Yusup Hidayat, S.Ag., M.H., menyampaikan kuliah subuh yang berlangsung selepas Sholat Subuh berjamaah di Masjid Agung Al Azhar pada Sabtu, 14 Februari 2025. Dalam ceramahnya, beliau mengajak jamaah untuk mempersiapkan diri secara spiritual sekaligus melakukan introspeksi menjelang datangnya bulan suci Ramadan.

Kegiatan ini turut dihadiri jajaran pejabat Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al-Azhar, yaitu Sekretaris Pembina, Muhammad Suhadi, S.Kom, Anggota Pembina, Mas’adi Sulthani, M.A., Ketua Pengawas, Dr. Ir. Ahmad Husin Lubis, M.Sc., Ketua Bidang Pendidikan Dasar & Menengah, Drs. Nuri Muhammadi, Ketua Bidang Dakwah & Sosial, Dr. Zahrudin, M.A., Sekretaris Umum, Drs. Budiyono, M.Pd., serta Sekretaris, Drs. Ono Ruhiana, M.Pd.

Dalam tausiyahnya, Dr. Yusup menjelaskan bahwa para ulama memaknai bulan Rajab sebagai fase menanam kebaikan, Sya’ban sebagai waktu menyirami dan menguatkan amalan, serta Ramadan sebagai momentum memanen pahala. Oleh karena itu, bulan Sya’ban hendaknya diisi dengan peningkatan kualitas ibadah.

“Ramadan tidak semestinya disambut sekadar sebagai rutinitas tahunan, tetapi sebagai panggilan jiwa untuk memperbaiki diri,” ujar Dr. Yusup. Menurut beliau, kesiapan spiritual menjadi kunci agar Ramadan benar-benar menghadirkan perubahan dalam kualitas iman dan akhlak.

Wakil Rektor III mengingatkan jamaah untuk mengevaluasi konsistensi ibadah, khususnya dalam menjaga sholat berjamaah lima waktu. “Sholat bukan hanya kewajiban, tetapi cerminan disiplin, keikhlasan, dan kesungguhan kita sebagai hamba Allah,” tegas beliau.

Dalam tausiyahnya, Dr. Yusup menegaskan bahwa hati adalah pusat dari seluruh kualitas diri manusia. Dari hati lahir niat, sikap, hingga arah perilaku seseorang. Ketika hati bersih, maka ucapan, tindakan, dan amal ibadah akan mencerminkan kebaikan.

Beliau mengingatkan bahwa terdapat berbagai penyakit hati yang harus dibersihkan, salah satunya adalah hasad (dengki). Hasad bukan sekadar rasa iri, melainkan kondisi batin yang membuat seseorang tidak rela melihat orang lain memperoleh kebaikan. Sifat ini dapat mengikis keikhlasan, merusak persaudaraan, serta melemahkan kualitas ibadah.

Karena itu, Dr. Yusup mengajak jamaah untuk senantiasa melakukan muhasabah, memperbanyak istighfar, dan menumbuhkan rasa syukur agar hati tetap bersih. Dengan hati yang terjaga, Ramadan diharapkan menjadi momentum pembenahan karakter sekaligus peningkatan kedewasaan spiritual.

Selain menyoroti aspek ibadah personal, Wakil Rektor III UAI juga menyinggung pentingnya menjaga persaudaraan dan harmoni sosial. Mengacu pada spirit Piagam Madinah, beliau menegaskan bahwa nilai persatuan, toleransi, dan saling menghormati merupakan bagian penting dari ajaran Islam.

Menutup kuliah subuhnya, Dr. Yusup menegaskan bahwa Ramadan harus dijadikan ruang untuk memperkuat iman, membersihkan hati, serta memperbaiki kualitas hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.