Marhaban yaa Ramadhan. Ungkapan ini sering kita dengar di berbagai tempat saat umat Islam menyambut datanya bulan suci. Spanduk terbentang, media sosial dipenuhi ucapan, dan masyarakat menghidupkan berbagai tradisi penyambutan, termasuk tradisi “munggahan” yang kami lakukan di Fakultas Psikologi dan Pendidikan UAI pekan ini. Tradisi tersebut tentu memiliki nilai silaturahmi dan kebersamaan. Namun, apakah penyambutan Ramadan cukup berhenti pada seremonial dan simbol kebahagiaan semata? Ramadan kerap dipahami sebatas momentum ritual tahunan yang datang dan pergi. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, Ramadan adalah proses pendidikan ruhani yang sistematis dan transformatif.
Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam, setiap ibadah memiliki dimensi tarbiyah, yaitu mendidik, membina, dan membentuk karakter. Puasa, tilawah, zakat, dan qiyamul lail bukan sekadar kewajiban formal, melainkan instrumen pembinaan jiwa. Oleh karena itu, memasuki Ramadan tanpa persiapan sama halnya dengan menghadapi ujian tanpa belajar. Urgensi amalan sunnah sebelum Ramadan terletak pada fungsinya sebagai proses pematangan spiritual dalam menyambut bulan yang penuh keberkahan.
Amalan sunnah dapat dianalogikan sebagai pemanasan sebelum memasuki pertandingan besar. Tanpa pemanasan, tubuh terasa kaku dan rentan cedera; tanpa persiapan ruhani, ibadah Ramadan terasa berat dan kurang bermakna. Ketika seseorang membiasakan diri dengan puasa sunnah, tilawah Al-Qur’an, qiyamul lail, serta sedekah sebelum Ramadan, maka saat bulan suci tiba, hati dan fisiknya telah siap. Sunnah bukan hanya pelengkap, melainkan jembatan untuk menyempurnakan kualitas ibadah wajib.
Beberapa amalan sunnah yang dianjurkan menjelang Ramadan antara lain memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, meningkatkan tilawah Al-Qur’an, memperbanyak istighfar, memperluas sedekah, serta membiasakan qiyamul lail meskipun hanya dua rakaat secara konsisten. Rasulullah Saw sendiri memberikan teladan dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah r.a. bahwa beliau tidak pernah berpuasa dalam suatu bulan lebih banyak daripada bulan Sya’ban (HR. Bukhari No. 1969 dan Muslim No. 1156). Hal ini menunjukkan adanya persiapan spiritual sebelum memasuki Ramadan.
Menjaga Konsistensi
Dalam kajian pendidikan Islam, pembiasaan (ta’wid) adalah metode tarbiyah yang sangat efektif dalam membentuk karakter. Amalan sunnah yang dilakukan secara konsisten melatih disiplin, kesabaran, dan pengendalian diri. Seseorang yang telah terbiasa bangun malam atau menahan lapar melalui puasa sunnah tidak akan merasa “kaget” saat menjalani puasa Ramadan. Dengan demikian, sunnah berfungsi sebagai latihan mental dan spiritual yang memperkuat fondasi ketakwaan.
Bagi mahasiswa dan masyarakat umum, kunci konsistensi terletak pada kesederhanaan dan keberlanjutan. Mulailah dari hal kecil dan realistis: tilawah satu halaman per hari, puasa sunnah sekali sepekan, atau qiyamul lail dua rakaat sebelum tidur. Bangun lingkungan yang saling mengingatkan dan niatkan semua sebagai proses pembinaan diri, bukan beban. Transformasi spiritual tidak lahir dari euforia sesaat, tetapi dari langkah kecil yang dilakukan terus-menerus.
Puasa pada hakikatnya bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan melatih kesadaran spiritual (muraqabah), yakni merasa diawasi Allah dalam setiap keadaan. Menurut Imam Al-Ghazali (1058–1111 M) dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, khususnya pada pembahasan bab Asrar al-Shaum, menegaskan bahwa puasa merupakan sarana tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan pengendalian diri. Dalam kitab tersebut, beliau menguraikan keutamaan puasa, kewajiban dan sunnah-sunnahnya, hingga rahasia serta dimensi batin yang menjadi ruh ibadah ini. Untuk menumbuhkan kecintaan terhadap puasa, Al-Ghazali mengutip sabda Nabi Saw: “Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pintu yang disebut ar-Rayyan, yang tidak dimasuki kecuali oleh orang-orang yang berpuasa” (HR. Bukhari No. 1896). Penegasan ini menunjukkan bahwa puasa memiliki kedudukan istimewa, bukan hanya sebagai kewajiban syariat, tetapi sebagai jalan pembinaan spiritual yang mendalam.
Lebih lanjut, Imam Al-Ghazali mengklasifikasikan puasa ke dalam tiga tingkatan. Pertama, shaum al-‘umum, yaitu puasanya orang kebanyakan yang menahan perut dan kemaluan dari syahwat. Kedua, shaum al-khusus, yaitu puasanya orang-orang saleh yang tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga seluruh anggota badan; mata, telinga, lisan, tangan, dan kaki; dari perbuatan dosa. Ketiga, shaum khusus al-khusus, yakni puasanya hati dari segala keinginan rendah dan pikiran duniawi, serta memusatkan kesadaran hanya kepada Allah Swt. Pada tingkatan tertinggi ini, bahkan memikirkan selain Allah dan akhirat dianggap mengurangi kesempurnaan puasa. Dengan demikian, amalan sunnah sebelum Ramadan menjadi sarana latihan untuk naik dari sekadar puasa lahiriah menuju puasa yang hidup secara makna, sehingga Ramadan tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga menghadirkan transformasi jiwa.
Namun demikian, terdapat beberapa kesalahpahaman yang perlu diluruskan. Ada anggapan bahwa amalan sunnah tidak terlalu penting karena bukan kewajiban. Padahal, sunnah berfungsi menyempurnakan dan menguatkan ibadah wajib. Ada pula yang berpikir bahwa sunnah harus dilakukan dalam jumlah besar dan berat, sehingga akhirnya sulit konsisten. Bahkan, sebagian orang khawatir puasa sunnah sebelum Ramadan akan mengurangi semangat saat Ramadan, padahal justru sebaliknya: ia melatih kesiapan fisik dan mental. Sunnah hendaknya dipahami sebagai sarana pembinaan, bukan ajang kompetisi religi.
Dampak positif amalan sunnah sejatinya dapat dirasakan dari perubahan sikap dan kualitas batin. Hati menjadi lebih tenang, ibadah terasa lebih ringan, emosi lebih terkendali, dan muncul kerinduan terhadap kebaikan. Dalam perspektif pendidikan Islam, perubahan karakter inilah indikator keberhasilan ibadah. Jika sebelum Ramadan seseorang sudah merasakan kedekatan yang lebih kuat dengan Allah, maka itu pertanda bahwa proses persiapan spiritualnya berjalan dengan baik.
Akhirnya, pesan yang ingin disampaikan sederhana namun mendasar, yaitu jangan menunggu Ramadan untuk berubah. Ramadan adalah puncak, bukan titik awal transformasi diri. Persiapan melalui amalan sunnah yang sederhana tetapi konsisten akan menjadikan Ramadan lebih bermakna dan berdampak. Sebagai insan akademik sekaligus umat Muslim, kita perlu memandang Ramadan sebagai proses pendidikan spiritual yang dimulai dari hari ini. Sehingga ketika Ramadan tiba, kita tidak hanya menjalaninya, tetapi benar-benar merasakannya dan bertumbuh karenanya.
Penulis : Dr. Tata Septayuda Purnama, S.S., M.Si., Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Al-Azhar Indonesia