Menjelang Ramadhan, timeline media sosial biasanya mengalami pergeseran suasana. Konten reflektif, pesan kebaikan, hingga ajakan memperbaiki diri hadir silih berganti, berdampingan dengan hiburan yang nyaris tak pernah benar-benar sepi. Fenomena ini menghadirkan pertanyaan menarik, di tengah arus scroll tanpa henti, apakah media sosial sekadar menjadi distraksi, atau justru dapat bertransformasi menjadi ruang penyebaran makna?
Dr. Nanang Haroni, S.Ag., M.Si., Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), memandang media sosial sebagai ruang yang pada dasarnya netral. Nilainya, menurutnya, tidak terletak pada platform, melainkan pada bagaimana manusia menggunakannya. Media sosial dapat menjadi sarana memperkuat pesan-pesan positif, namun pada saat yang sama juga rawan disinformasi. “Media itu netral, yang menentukan tetap manusianya,” ungkapnya.
Salah satu tantangan utama di era digital adalah kaburnya batas kepakaran. Ruang media sosial memungkinkan siapa pun berbicara tentang apa pun, bahkan tanpa landasan pengetahuan yang memadai. Situasi ini menuntut publik untuk lebih kritis dalam menerima informasi. Pesan yang edukatif bukan sekadar menarik atau viral, tetapi memiliki rujukan yang jelas, logika yang sahih, serta sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan membedakan opini, interpretasi, dan fakta menjadi keterampilan yang semakin penting.
Kehati-hatian dalam menyaring informasi menjadi kebutuhan mendasar. Informasi yang diterima perlu diverifikasi, dibandingkan dengan sumber lain, dan diuji akurasinya sebelum dikomentari atau dibagikan kembali. Kebiasaan ini menjadi semakin relevan saat Ramadhan, ketika arus pesan keagamaan membanjiri ruang digital dan sering kali diterima tanpa proses validasi yang memadai. “Jangan langsung percaya begitu saja,” tegasnya, mengingatkan pentingnya cek dan ricek sebelum membagikan informasi.
Selain isi pesan, cara penyajian turut menentukan daya pengaruh sebuah konten. Di tengah karakter media sosial yang serba cepat, pesan dituntut ringkas, jelas, dan mampu menarik perhatian dalam waktu singkat. Relevansi dengan pengalaman audiens, pilihan bahasa, hingga kekuatan narasi menjadi faktor penting dalam memastikan pesan dapat diterima sekaligus dipahami secara utuh.
Pengaruh pemengaruh (influencer) juga menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika komunikasi digital. Popularitas kerap kali membentuk persepsi kredibilitas, meskipun keduanya tidak selalu berjalan seiring. Tidak semua figur yang berpengaruh memiliki otoritas atau kompetensi di bidang yang dibicarakan. Dalam konteks pesan Ramadhan, terutama yang menyentuh ranah keagamaan, publik dituntut lebih cermat dalam menilai sumber.
Fenomena konten musiman turut memperlihatkan dinamika lain. Nilai-nilai positif kerap kali menguat saat momentum tertentu, namun meredup di luar periode tersebut. Padahal, pesan kebaikan idealnya dibangun secara konsisten, bukan sekadar mengikuti euforia sesaat. Ramadhan dapat dimaknai sebagai titik awal untuk memperbaiki kualitas komunikasi digital, bukan sekadar fase sementara mengikuti tren.
Pada akhirnya, media sosial tetaplah ruang yang dapat diisi dengan beragam kemungkinan. Ia bisa menjadi arena kebisingan, tetapi juga dapat menjadi medium refleksi. Di tengah arus scroll yang tak pernah berhenti, barangkali yang paling dibutuhkan bukan sekadar konten yang ramai, melainkan pesan yang jernih, relevan, dan membawa makna.
Dalam semangat Tarhib Ramadhan, Dr. Nanang Haroni mengajak sivitas akademika UAI untuk menjadikan momentum ini sebagai ruang memperbaiki cara berkomunikasi di dunia digital. “Ramadhan bukan hanya tentang memperbanyak ibadah, tetapi juga memperbaiki kualitas diri, termasuk dalam menyampaikan dan menerima informasi,” ungkapnya.
Ramadhan pun kembali hadir sebagai ruang perenungan, bukan hanya bagi individu dalam memperbaiki diri, tetapi juga bagi ekosistem komunikasi digital untuk menata ulang arah, etika, dan kualitas pesan yang disampaikan.