Ramadhan selalu menghadirkan perubahan besar dalam ritme konsumsi masyarakat Indonesia. Bukan sekadar musim peningkatan belanja, bulan suci ini menjadi titik pertemuan antara nilai religius, kebutuhan emosional, dan kebiasaan digital. Temuan riset tentang perilaku konsumen Muslim termasuk fokus pada religiusitas, halal awareness, dan kepercayaan terhadap brand menunjukkan bahwa keputusan belanja selama Ramadhan jarang hanya bersifat fungsional, ia dibentuk oleh makna spiritual dan konteks sosial yang lebih luas. Ketika masyarakat memasuki bulan penuh makna ini, keputusan pembelian mereka mulai digerakkan oleh nilai-nilai religius, preferensi halal, hingga perubahan rutinitas harian. Perspektif ini sangat selaras dengan fokus penelitian saya yang banyak menyoroti keterkaitan religiusitas, halal awareness, dan consumer behavior dalam konteks konsumen Muslim di Indonesia.
Belanja Naik, Preferensi Berubah
Setiap memasuki Ramadhan, kebutuhan konsumen meningkat drastis. Hal ini selaras dengan temuan bahwa preferensi konsumen Muslim sangat dipengaruhi momen religius yang memicu peningkatan pembelian makanan khusus, pakaian baru, hingga hadiah Lebaran. Pola konsumsi Ramadhan menunjukkan lonjakan pengeluaran, terutama untuk makanan, pakaian, bingkisan Lebaran, dan produk rumah tangga. 75% konsumen merencanakan pembelian pakaian baru menjelang Idulfitri, sementara 65% mengalokasikan dana untuk kebutuhan konsumsi keluarga.
Namun, Ramadhan beberapa tahun terakhir menunjukkan fenomena baru: konsumen semakin hemat, selektif, dan cenderung memilih brand lokal. Laporan “The Ramadan Reset” menegaskan bahwa tekanan ekonomi mendorong masyarakat untuk mencari nilai lebih, bukan sekadar promo besar. Mereka lebih sadar harga, lebih berhati-hati, dan lebih menghargai produk buatan Indonesia.
Peran Religiusitas: Dari Kesadaran Halal hingga Brand Trust
Penelitian tentang konsumen Muslim menegaskan bahwa religiusitas memengaruhi cara mereka memilih produk terutama yang berkaitan dengan halal, keamanan, dan kepercayaan terhadap brand.
Di Ramadhan, nilai ini semakin menguat. Konsumen lebih selektif memastikan kehalalan produk, memilih brand yang etis, dan mengutamakan kenyamanan bertransaksi. Keputusan pembelian bukan hanya soal memenuhi kebutuhan, tetapi memastikan keselarasan dengan nilai spiritual yang mereka jalani selama bulan suci.
Digitalisasi Ramadhan: Dari Dapur ke E-Commerce
Transformasi digital ikut membentuk perilaku belanja Ramadan. Aktivitas belanja online melonjak tajam, didorong oleh kenyamanan dan promosi. Laporan e-commerce menunjukkan bahwa kategori fashion muslim, makanan, dan perlengkapan anak mendominasi transaksi menjelang Lebaran.
Hal ini sejalan dengan temuan bahwa konsumen semakin bergantung pada platform digital dari pencarian menu sahur, belanja kebutuhan harian, hingga berburu diskon dadakan. Ramadan juga memperlihatkan peningkatan konsumsi konten digital, terutama video pendek bertema keluarga, inspirasi ibadah, dan tips Ramadan. Temuan ini paralel dengan riset saya terkait online convenience, trust, dan perceived usefulness sebagai faktor penting yang memengaruhi niat beli di kanal digital. Ramadhan menjadi momen ketika semua faktor ini mencapai puncaknya: konsumen memprioritaskan kemudahan, keamanan, dan kepercayaan terhadap platform yang mereka gunakan.
Konsumsi yang Lebih Bermakna
Meski ada peningkatan belanja, Ramadhan modern memperlihatkan pergeseran ke arah intentional spending membeli lebih sedikit tetapi lebih bernilai. Konsumen menimbang fungsi, keberlanjutan, hingga unsur lokal dari produk yang mereka pilih. Tren ini tercermin dalam laporan yang menyoroti meningkatnya minat terhadap produk lokal dan keputusan belanja yang lebih etis.
Dengan kata lain, Ramadhan semakin mendorong masyarakat kembali pada nilai-nilai inti: kesederhanaan, berbagi, dan kesadaran akan makna di balik konsumsi.
Implikasi bagi Brand
Melihat dinamika ini, ada beberapa catatan penting bagi pelaku usaha:
- Tonjolkan nilai, bukan sekadar diskon. Konsumen kini mencari kualitas dan relevansi, bukan promo agresif.
- Pastikan kehalalan dan kredibilitas. Kepercayaan adalah kunci, terlebih di bulan suci.
- Optimalkan kanal digital. Ramadan identik dengan peningkatan trafik e-commerce dan konsumsi konten.
- Gunakan pesan emosional dan berbasis keluarga. Ramadan adalah momentum emosional yang kuat; storytelling yang tepat dapat membangun kedekatan dengan konsumen.
Ramadhan bukan hanya momentum spiritual, tetapi juga ekosistem perilaku konsumen yang sangat dinamis. Jika ditarik dari sudut pandang riset yang saya lakukan, dapat disimpulkan bahwa nilai religiusitas, preferensi halal, kepercayaan terhadap brand, serta perubahan gaya hidup digital semuanya berkelindan membentuk pola konsumsi Ramadhan yang unik.
Ramadhan mengajarkan bahwa konsumsi bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan, tetapi juga tentang nilai, etika, dan makna. Perilaku konsumen di bulan suci adalah cerminan dari keseimbangan antara identitas spiritual dan adaptasi terhadap modernitas.
Penulis : Dr. Hanny Nurlatifah, S.Pi., M.M., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Al-Azhar Indonesia.