Select Page

Memiliki ribuan pengikut di media sosial tidak selalu berarti seseorang memiliki hubungan yang bermakna. Fenomena tersebut menjadi salah satu sorotan Prof. Taufik Kasturi, S.Psi., M.Si., Ph.D., Wakil Rektor I Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), saat membahas paradoks konektivitas digital dalam Borneo Global Psychology Conference 2026 yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) secara hybrid pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Mengangkat tema “Digital Transformation, Mental Health and Islamic Ethics: Challenges and Opportunities in Global Society”, Prof. Taufik membahas bagaimana perkembangan teknologi digital yang memudahkan komunikasi dan akses informasi juga menghadirkan tantangan seperti kesepian, kecemasan, perbandingan sosial, information overload, dan kelelahan digital. Menurut beliau, persoalan di era digital bukan sekadar tentang kurangnya koneksi, tetapi bagaimana konektivitas dapat membangun hubungan manusia yang bermakna. “Komunikasi digital dapat menghubungkan kita, tetapi juga dapat membuat kita gelisah,” ungkap beliau.

Dalam pemaparannya, Wakil Rektor I UAI turut mengaitkan kehidupan digital dengan prinsip-prinsip Islam, seperti tawakal, adab, tabayyun, dan wasathiyah. Prinsip tersebut menjadi landasan untuk menyikapi ketidakpastian, membangun hubungan dengan orang lain, menghadapi derasnya informasi, serta menjaga keseimbangan dalam penggunaan teknologi.

Pembahasan tersebut juga dilengkapi dengan konsep muraqabah dan muhasabah sebagai bagian dari refleksi dalam menjalani kehidupan digital. “Bagaimana saya merespons dengan kesadaran akan Allah? Muraqabah, tanggung jawab, nilai, dan spiritualitas. Hal ini menjadi sangat praktis dalam kehidupan digital,” ungkap Prof. Taufik.

Melalui pemaparannya, Wakil Rektor I UAI menekankan bahwa teknologi tidak perlu ditolak, tetapi perlu ditempatkan sebagai sarana yang tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. Tantangannya adalah mengubah konektivitas menjadi hubungan yang bermakna, informasi menjadi kebijaksanaan, serta interaksi digital menjadi ruang yang memperkuat hubungan antarmanusia.

Keterlibatan Prof. Taufik dalam forum tersebut menjadi bagian dari kontribusi UAI dalam memperluas pertukaran gagasan akademik, khususnya mengenai psikologi Islam, kesehatan mental, dan etika dalam menghadapi transformasi digital.