Select Page

Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) menjadi tuan rumah Forum Penerjemahan dan Penerbitan Kesusastraan Tiongkok-Indonesia Keenam yang berlangsung di Auditorium Lantai 3 UAI pada Kamis, 1 Oktober 2026. Forum ini mempertemukan akademisi, praktisi penerbitan, mahasiswa, dan masyarakat untuk membahas penerjemahan, penerbitan, serta pertukaran pengetahuan dan kebudayaan antara Indonesia dan Tiongkok.

Kegiatan tersebut dihadiri Rektor UAI Prof. Dr. Widodo Muktiyo, Dr. Soraya, S.Pd., M.Hum., selaku Plh. Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UAI, Dr. Nanda Lailatul Qadriani, S.Pd., M.TCSOL., selaku Ketua Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok (BMKT) UAI, serta Akhmad Safik, S.E., M.H., LL.M., selaku Dewan Pusat Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok (PBMKT) UAI. Hadir pula Wang Daxin, Direktur pihak Tiongkok PBMKT UAI, Lan Yina, Wakil General Manager China National Sci-Tech Information Import and Export Corporation, para narasumber, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Forum yang dimoderatori Dr. Nanda Lailatul Qadriani, S.Pd., M.TCSOL. menghadirkan sejumlah pembicara dari bidang penerbitan dan kajian Tiongkok. Zhang Zhisheng, Deputy Director of the Digital Textbook Publishing Center, Higher Education Press, membahas pengembangan sumber daya pembelajaran digital. Sementara Yu Wanyang, postdoctoral researcher sekaligus editor pada International Division, Guangxi Normal University Press Group, memaparkan perjalanan penerbitan serta kerja sama internasional, termasuk dengan negara-negara ASEAN.

Selanjutnya, Natalia Soebagjo, sinolog dan akademisi kajian Tiongkok, membahas pengalamannya dalam mempelajari Tiongkok serta mendalami bahasa dan kebudayaannya. Sementara itu, Toto Subagyo, Head of Teacher Academy Periplus Education, mengulas perdagangan buku di Indonesia, khususnya perkembangan buku-buku hasil terjemahan, dengan salah satu contoh yang dibahas adalah The Art of War karya Sun Tzu.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Widodo Muktiyo menekankan pentingnya penerjemahan dan penerbitan dalam memperkuat hubungan Indonesia dan Tiongkok. “Buku membuka percakapan, melampaui jarak dan bahasa,” ujar Prof. Widodo. Rektor UAI juga menyampaikan pentingnya keberlanjutan forum melalui kerja sama dalam penerjemahan karya, pengembangan bahan bacaan dan bahan ajar, serta pertukaran pengetahuan kedua negara.

Dalam laporannya, Akhmad Safik, S.E., M.H., LL.M., selaku Dewan PBMKT UAI, menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang mendukung penyelenggaraan forum. Ia juga menyampaikan pentingnya mendorong semakin banyak karya sastra dan budaya Indonesia-Tiongkok untuk saling diterjemahkan serta mempererat kerja sama kedua negara di bidang pendidikan, bahasa, dan kebudayaan.

Dari pihak Tiongkok, Lan Yina menyampaikan bahwa sastra dan penerjemahan berperan penting dalam memperkuat pertukaran budaya Tiongkok dan Indonesia. Ia juga mendorong penguatan kerja sama dalam penerjemahan, perdagangan hak cipta, dan penerbitan bersama agar karya kedua negara semakin dikenal.

Bagi UAI, penyelenggaraan forum ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pembelajaran bahasa dan kebudayaan Tiongkok di lingkungan kampus. Forum tersebut juga memperkuat jejaring UAI dengan akademisi, penerbit, dan mitra dari Tiongkok sekaligus membuka peluang pengembangan kerja sama di bidang penerjemahan, penerbitan, pendidikan, dan kebudayaan.