Penulis : Dr. Yusup Hidayat, S.Ag., M.H., Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Al-Azhar Indonesia

Ali Syariati seorang intelektual Iran mengupas dengan apik bagaimana sosok Fir’aun, Haman, Qarun, dan Bal’am menghancukan peradaban umat manusia dengan keangkuhannya masing-masing. Mereka adalah empat sosok musuh perubahan yang menindas orang-orang mustad’afin.

Fir’aun merupakan tokoh representasi penguasa (tirani politik) dengan kekuasaannya yang besar angkuh dan sombong menindas rakyat. Dengan tangan besinya, semua sumber daya dia kuasai. Suara-suara kritis disumpal dengan siksaan dan penderitaan bagi mereka yang berani menyuarakannya.

Qarun merepresentasikan kelompok pemilik modal, pengusaha besar (Kapitalis oligarki). Simbol kapitalis rakus yang menguasai berbagai sumber daya ekonomi, melakukan eksploitasi terhadap para pekerja dan menimbun kekayaan. Kelompok ini bersekutu dengan fir’aun untuk mempertahankan status quo dan saling mengambil keuntungan.

Haman merupakan tokoh penting yang merepresantasikan kalangan intelektual, cerdik cendekiawan (Techno-birokrat), ahli yang menjual ilmu mereka dalam rangka melegitimasi apa-apa yang dilakukan Fir’aun yang tidak berpihak kepada rakyat. Haman digambarkan sebagai sosok yang menjadi fasilitator kezaliman sistemik.

Sementara itu bal’am adalah merupakan representasi tokoh agama yang melegitimasi penguasa zalim. Keempat sosok yang disebutkan berkonspirasi melakukan penindasan kalangan mustds’afin, mengeruk sumber daya alam guna keuntungan keempat golongan tersebut dan para pengekornya.

Dalam surat Al-Ankabut disebutkan:

وقرون وفرعون وهمن ولقدجاءهم موسي بالبينات فاستكبروا في الأرض وماكانوا سالمين

“(Dan) juga Qarun, Fir’aun dan Haman, sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di muka bumi, dan tiadalah mereka orang yang luput dari kehancuran. (Al-Ankabut:39).

Kemudian dalam surat al-Qashas disebutkan:

وقال فرعون يأيهاالملأماعلمت لكم من اله غيري فأوقدلي ياهمن علي الطين فاجعل لي صرحا لعلي أطلع الي اله موسي واني لأظنه من الكاذبين

“Dan berkata Fir’aun: Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”.

Bagaimana jika dunia dipimpin oleh sosok-sosok seperti fir’aun,Qarun, dan Haman. Di akhir ayat 39 surat Al-Ankabut disebutkan bahwa pada akhirnya mereka akan hancur.

Ayat ini memberi pesan yang jelas bahwa manusia-manusia yang sombong dan angkuh dari penguasa politik yang didukung oleh para oligarki, para intelektual dan tokoh agama pada akhirnya akan mengalami kehancuran. Mereka adalah para perusak peradaban umat manusia.

Situasi dunia saat ini pun tidak lepas dari sosok-sosok penindas dengan kemasan yang lebih canggih. Ambisi menjadi penguasa dunia, pengendali sumber daya ekonomi, mengaku sebagai ras pilihan bahkan merendahkan eksistensi bangsa-bangsa lain tampak kasat mata. Standar kebenaran dan aturan sudah tidak bisa disepakati lagi. Kalau ada kesepakatapun, berstandar ganda pada implementasinya.

Dalam kondisi seperti demikian, kehancuran peradaban sudah di depan mata jika tidak ada yang mampu untuk mengendalikannya. Dunia tidak lagi diatur oleh norma-norma mulia baik yang bersumber dari Ilahi maupun hasil pemikiran akal sehat manusia, tetapi lebih dihasilkan dari nafsu Ankara murka para preman kekuasaan. Sungguh suatu ironi peradaban umat manusia.

Namun demikian Al-Qur’an mengingatkan akan prasangka baik atas keputusan Allah dan arahan untuk selalu optimis akan rahmat Allah SWT. Setiap diri muslim diperintahkan untuk mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran.

Meminjam istilah Ali Syariati, setiap diri harus menjadi nabi-nabi sosial (Raushan Fikr) yang tidak hanya sibuk dalam alam intelektual saja tapi bagaimana terlibat dalam melakukan perubahan dari skala yang kecil sampai dengan skala yang besar.

Kitapun perlu bertanya kepada diri kita, adakah watak Firaun dan teman-temannya menempel di diri kita? Kalau ada, kitapun perlu menyelesaikannya dengan sesegera mungkin sebelum menyelesaikan sesuatu yang di luar diri kita.

Ali Syariati mengingatkan kita bahwa Fir’aun dan koleganya adalah musuh yang harus disadarkan dan dikembalikan kepada kodratnya sebagai manusia yang menjunjung nilai-nilai peradaban yang tinggi. Jika tidak demikian, sudah selayaknya mereka berhenti untuk mengambil peran dominan dalam kehidupan umat manusia.

Sumber : krjogja.com