Penulis : Dr. Fokky Fuad, S.H., M.Hum., Dekan Fakultas Hukum Universitas Al-Azhar Indonesia

Berakhirnya Bulan Ramadhan akan disusul oleh takbir di awal bulan Syawal pertanda memasuki Hari Raya Idulfitri. Di Hari Idulfitri, kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia merayakan dengan penuh kebahagiaan. Puasa Ramadhan yang dijalankan menunjukkan relasi vertikal transendental antara manusia dan Tuhan, sekaligus juga relasi horizontal nan humanis antar sesama manusia yang ditunjukkan melalui zakat dan silaturahim.

Memasuki Bulan Syawal, Idulfitri menjadi moment kebahagiaan bagi Umat Islam dimanapun, karena saat itu sejatinya manusia telah kembali memasuki dimensi kesejatian, yaitu dengan terbebasnya jiwa dari belenggu dunia. Ramadhan yang telah dijalani membersihkan batiniyah manusia.

Silaturahim sebagai Tradisi Sosial Keagamaan

Idulfitri menyatukan rasa kemanusiaan setiap umat Islam. Di saat Perayaan Idulfitri setiap orang akan mempererat jalinan silaturahim yang selama ini dirasakan masih kurang. Setiap jiwa yang selama ini terpisah jarak, disatukan dalam persaudaraan. Bahwa kebahagiaan bukanlah semata dirasakan oleh setiap individu, melainkan dirasakan oleh semua orang.

Ekspresi Idulfitri dalam wujud Lebaran mencoba untuk menterjemahkan kehendak Allah dalam lingkup budaya manusia. Silaturahim (Qs.4:36) ditunjukkan dengan saling berkunjung pada sanak keluarga, tetangga, sahabat, teman, dan lainnya agar pertalian persaudaraan tidak musnah tertelan waktu dan zaman.

Tidak semua Ibadah Idulfitri di setiap bangsa akan disambung dengan tradisi silaturahim. Budaya Kaum Muslimin di Nusantara selalu melekatkan ibadah sholat Idulfitri dengan ibadah muamallah. Bahwa hubungan transendental (hablum minallah) melalui puasa Ramadhan & Sholat Idulfitri dengan Tuhan selalu dilekatkan dengan hubungan erat antar sesama manusia (hablum minnanas) melalui silaturahim dalam tradisi Nusantara yaitu halal bil halal.

Lebaran, Mudik, dan Dinamika Sosial Ekonomi

Para perantau yang telah meninggalkan kerabatnya di kampung halaman kembali pulang untuk membangun semangat persaudaraan. Hubungan yang retak diharapkan kembali erat melalui silaturahim antar perantau dengan handai taulan di kampung halaman. Kembalinya para perantau yang hendak bersilaturahim ini berdampak pula pada peningkatan ekonomi tempat asal apara pemudik. Para perantau yang hadir membawa uang dalam jumlah besar untuk dibelanjakan di daerahnya. Sebuah sisi positif dari hubungan silaturahim yang berdampak pada rizki yang diperoleh.

Persaudaraan dalam Perspektif Keislaman dan Kebangsaan

Silaturahim dalam makna kultural Muslim di Nusantara yaitu menghubungkan setiap manusia dalam ikatan persaudaraan, walau dalam makna religi lebih bermakna menghubungkan sesama saudara yang berasal dari hubungan ikatan darah keturunan. Makna kultural mencoba memperluas makna-makna teologis bahwa setiap jiwa Muslim dipersaudarakan dalam iman dan kebaikan.

Memperhubungkan setiap jiwa kaum Muslimin kemudian diperluas pula dengan persaudaraan antar setiap anak bangsa Indonesia. Bahwa setiap warga bangsa ini hidup dalam persaudaraan, tidak untuk saling melukai dan merugikan. Gagasan persaudaraan ini menjadi wujud dari berjalannya hubungan antar manusia dalam budaya hukum masyarakat di Nusantara.

Walau tidak dihubungkan dengan hadits Nabi, tetapi konsep hubhul wathon minal iman atau hubungan kemanusiaan antar sesama anak bangsa bukanlah hal aneh dalam Islam, karena ia berasal dari tabiat manusia. Ia bersifat alamiah sebagai manusia yang mencintai tempat lahirnya (Mughni, 2021).

Ramadhan sebagai Pendidikan Spiritual dan Sosial

Idulfitri tidak hanya mengingatkan manusia akan relasi transendental melainkan pula hadir untuk mengingatkan manusia bahwa ada manusia lainnya yang hadir disampingnya. Ia yang hadir untuk siap membantu, dan menolongnya dalam kesulitan yang dihadapi. Hubungan antara si Kaya dan si Miskin dirajut melalui zakat dan silaturahim ini. Ramadhan hingga Idulfitri adalah sebuah rangkaian peribadatan yang mencoba membentuk ulang manusia setiap tahunnya dari debu-debu kapitalisme & juga efek negatif postmodernisme moderen yang memperlakukan manusia semata objek.

Melalui Ramadhan manusia diingatkan akan kuasa Allah atas alam semesta melalui hadirnya al-Qur’an. Melalui Ramadhan pula ia diingatkan atas hakikatnya sebagai makhluk bertuhan sekaligus berakal budi (Qs.[96]:1-4). Melaluinya pula manusia berakal budi ini diingatkan untuk selalu menjalin rasa persaudaraan melalui silaturahim.

Hubungan manusia yang terjadi dalam Islam tidak hanya berlandaskan relasi humanisme tetapi lebih dalam lagi diikat oleh ide transendental Ketuhanan. Bahwa bukan eksistensi manusia yang membangun semangat persaudaraan selalu berada dalam relasi religius. Ini tidak lain bertujuan bahwa manusia bukan hanya sebagai makhluk yang berkehendak, tetapi makhluk yang mengakui eksistensi Tuhan dalam dirinya (Qs.[31]:34).

Rangakaian ibadah Ramadhan hingga Idulfitri yang menjadikan manusia begitu mudah untuk berderma melalui shadaqah, infaq, dan zakat, dilanjutkan dengan silaturahim antar sesama hanyalah sebuah arena pendidikan dari Allah bagi jiwa setiap kaum Muslimin. Pertarungan yang sesungguhnya akan terjadi setelah Ramadhan & Idulfitri berakhir.

Menjaga Spirit Ramadhan dalam Kehidupan

Sejatinya jiwa kedermawanan terus hidup dalam sanubari setiap Muslim. Pendidikan religius humanis yang diperolehnya selama Ramadhan hingga Idulfitri sejatinya terus terbawa dalam kesehariannya di luar Ramadhan dan Idulfitri. Ia yang mampu membawa jiwa Ramadhan dan Idulfitri akan menjadi manusia insan kamil, manusia yang mampu meletakkan eksistensi bertuhan dalam jiwanya.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (Qs. al-Baqarah [2]: 30).

Sumber : suarakreatif.com