Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) kembali menunjukkan kontribusinya dalam diskursus global melalui kehadiran Ketua Program Studi (Kaprodi) Ilmu Hubungan Internasional, Ramdhan Muhaimin, M.Soc.Sc., dalam wawancara bersama Elshinta pada Sabtu, 21 Maret 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia mengulas dinamika konflik internasional yang melibatkan Amerika Serikat (AS) – Israel dan Iran dari perspektif geopolitik kontemporer. Pembahasan ini menyoroti dilema yang dihadapi AS sekaligus mengindikasikan adanya penurunan hegemoni global.
Dilema Amerika dan Kekuatan Strategis Iran
Ramdhan menjelaskan bahwa perkembangan konflik selama kurang lebih tiga minggu terakhir memperlihatkan posisi Amerika Serikat yang berada dalam situasi dilematis. Di satu sisi, Amerika Serikat bersama Israel menjadi pihak yang memulai eskalasi konflik, namun di sisi lain menghadapi kesulitan dalam menentukan langkah untuk mengakhirinya. Menurutnya, kondisi ini terjadi karena kekuatan Iran yang berada di luar prediksi, sekaligus kemampuannya memainkan strategi secara efektif.
Ia menyoroti peran strategis Iran dalam mengendalikan jalur energi global, khususnya melalui Selat Hormuz yang menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan energi dunia. Selain itu, kawasan Bab el-Mandeb yang berada dalam pengaruh kelompok Houthi di Yaman turut memperkuat posisi Iran dalam mengontrol distribusi energi internasional. Kombinasi kedua jalur ini menjadikan Iran memiliki daya tawar yang signifikan dalam konflik yang berlangsung.
Indikasi Pergeseran Kekuatan Global
Lebih lanjut, Ramdhan menilai bahwa konflik ini tidak hanya berlangsung dalam bentuk militer, tetapi juga mencakup perang informasi dan propaganda. Di tengah dinamika tersebut, ia melihat adanya ketidaksinkronan dalam pernyataan yang disampaikan oleh pihak Amerika Serikat, yang pada akhirnya memperlihatkan ketidakpastian arah kebijakan.
“Kalau kita menggabungkan berbagai fakta global hari ini, arahnya menunjukkan adanya penurunan hegemoni Amerika sebagai negara adidaya,” ujarnya.
Kaprodi Ilmu Hubungan Internasional UAI menambahkan bahwa kondisi ini membuka peluang bagi negara lain seperti Rusia dan Tiongkok untuk memperluas pengaruhnya di tingkat global tanpa harus terlibat langsung dalam konflik terbuka. Selain itu, dinamika ini juga berpotensi berdampak pada stabilitas pasokan energi global, meskipun tidak sepenuhnya menghentikan distribusi.
Melalui wawancara ini, Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Al-Azhar Indonesia kembali menegaskan peran akademisi dalam menghadirkan analisis yang tajam dan konstruktif terhadap isu-isu global, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam memahami perkembangan geopolitik internasional yang terus berubah.