Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Prof. Taufik Kasturi, S.Psi., M.Si., Ph.D., mengisi Kuliah Subuh dalam Sholat Subuh Berjamaah Keluarga Besar YPI Al Azhar. Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Agung Al Azhar pada Sabtu, 10 Januari 2026. Tema khutbah kali ini adalah “Kesehatan Mental & Al-Qur’an di Kalangan Generasi Z.”
Kuliah Subuh dibuka dengan penegasan bahwa kesehatan mental bukan fenomena baru. “Karakter dasar manusia dari masa ke masa tidak banyak berubah, hanya cara kita berinteraksi dan memaknai kehidupan yang dipengaruhi teknologi,” ujar Wakil Rektor I. Beliau mencontohkan kasus kekerasan dalam keluarga yang telah terjadi sejak puluhan tahun lalu. Namun di era media sosial, peristiwa tersebut lebih sering terekspos ke publik dan berpotensi dinormalisasi. Kondisi ini bisa menumpulkan kepekaan moral dan empati masyarakat.
Prof. Taufik menegaskan bahwa tindakan ekstrem, termasuk menyakiti diri sendiri atau orang lain, tidak bisa dipahami dari satu peristiwa saja. Setiap tindakan merupakan akumulasi dari berbagai faktor, mulai dari pola pengasuhan, sistem pendidikan, lingkungan sosial, hingga cara individu menghadapi tekanan.
Dalam kuliah subuhnya, Wakil Rektor I mengangkat istilah “Generasi Stroberi” untuk menggambarkan generasi muda saat ini, Generasi Z. “Generasi Stroberi adalah generasi yang tampak kuat dan percaya diri dari luar, namun rapuh ketika berhadapan dengan tekanan dan kegagalan,” ujar beliau. Pola pikir yang cenderung hitam-putih membuat sebagian anak muda kesulitan menemukan solusi saat harapan gagal.
Prof. Taufik menyoroti perubahan pola ekspresi emosi Generasi Z. “Jika sebelumnya kemarahan atau tekanan lebih sering diekspresikan ke luar, kini banyak anak muda justru menginternalisasikannya hingga berdampak pada kesehatan mental,” ujar beliau. Kondisi ini diperparah oleh menurunnya kualitas interaksi dalam keluarga dan tekanan sosial yang lebih luas, termasuk perbandingan di media sosial, sehingga membuat sebagian anak muda rentan merasa tidak cukup dan kehilangan kepercayaan diri.
Beliau menjelaskan struktur jiwa manusia terdiri atas beberapa lapisan, yaitu sensing, reasoning, empathy, dan spiritual. “Lapisan sensing berkaitan dengan pencarian sensasi tanpa kedalaman makna. Reasoning mempertimbangkan dampak dan kebermanfaatan tindakan. Empathy menghubungkan logika dengan kepekaan kemanusiaan. Spiritual menjadi lapisan terdalam yang mengaitkan manusia dengan Allah SWT sebagai fondasi ketahanan mental,” ujar beliau.
Menurut Prof. Taufik, lemahnya lapisan spiritual membuat individu mudah impulsif dan kehilangan arah. Oleh karena itu, membangun internal support system penting. Sistem ini meliputi pemahaman tujuan hidup, menerima diri, self-control, serta mengembangkan growth mindset dan kemampuan coping. “Masalah adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Yang menentukan bukan ada atau tidaknya masalah, melainkan bagaimana seseorang meresponsnya secara sehat dan bijaksana,” ujar beliau.
Kuliah Subuh kesehatan mental Generasi Z ini menjadi pengingat bahwa ketahanan mental terbentuk dari kesadaran diri, kemampuan menghadapi masalah, dan fondasi spiritual yang kuat. “Hadis Rasulullah SAW tentang keutamaan sabar dan syukur menjadi gambaran kekuatan internal support system seorang mukmin yang bertumpu pada iman, kesabaran, dan rasa syukur,” pungkas Prof.Taufik.








