Kesadaran terhadap pikiran, hati, dan niat menjadi bagian penting dalam praktik mindfulness. Dalam perspektif Islam, kesadaran tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan ketenangan dan performa diri, tetapi juga untuk memperkuat kesadaran spiritual dan hubungan dengan Allah. Perspektif inilah yang dibahas dalam kuliah umum Program Studi Psikologi Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) bersama Wadud Hassan, Head of Muraqaba School, pada Selasa, 6 Oktober 2026.
Dalam pemaparannya, Wadud Hassan menjelaskan bahwa mindfulness dalam perspektif Islam mencakup kesadaran terhadap pikiran, tubuh, hati, dan niat. Praktik tersebut dapat membantu seseorang mengendalikan perhatian, mengelola emosi, serta meningkatkan kesadaran diri.
Wadud Hassan membedakan mindfulness secara umum dengan pendekatan Islam yang mengaitkan praktik kesadaran dengan hubungan kepada Allah. “Melakukan mindfulness hanya untuk menjadi kuat secara mental atau mencapai performa optimal saja tidak cukup. Kita perlu menggunakannya untuk Allah dan memberikan manfaat bagi ciptaan-Nya,” jelasnya.
Wadud Hassan juga mengenalkan Hudur Al-Qalb, yaitu praktik menghadirkan kesadaran hati kepada Allah. Praktik ini dapat dilakukan selama dua hingga lima menit dengan mengesampingkan berbagai gangguan, membiarkan pikiran yang muncul berlalu, kemudian mengarahkan kembali perhatian kepada Allah.
Wakil Dekan FPP UAI Bahrul Ulum, BSc., M.A., Ph.D., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Program Studi Psikologi UAI dalam menghadirkan perspektif yang memperkaya pemahaman mengenai manusia. Bahrul Ulum juga menekankan pentingnya keterbukaan dalam menerima perspektif dan pengetahuan baru. “Saya berharap kita semua dapat mengikuti kegiatan ini dengan hati dan pikiran yang terbuka, sehingga apa yang disampaikan hari ini dapat menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.”
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Program Studi Psikologi UAI dalam memperluas wawasan mahasiswa melalui integrasi perspektif psikologi dan spiritualitas Islam.














