Ferdy Arianto, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Arab Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) angkatan 2024, menyampaikan kuliah tujuh menit (kultum) di Masjid Agung Al Azhar. Kultum tersebut mengangkat tema “Ketika senang kita bersyukur, ketika susah kita bersabar, maka hidup seorang mukmin selalu bernilai ibadah.”
Dalam kultumnya, Ferdy mengajak jamaah untuk merenungkan makna syukur yang sesungguhnya. Ia menegaskan bahwa kehidupan seorang mukmin senantiasa berada dalam kebaikan, bukan karena hidupnya selalu mudah, melainkan karena hatinya selalu terhubung dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saat memperoleh kesenangan, seorang mukmin bersyukur, dan ketika ditimpa kesulitan, ia bersabar. Kedua keadaan tersebut bernilai pahala di sisi Allah.
Ferdy menjelaskan bahwa bersyukur dalam kondisi sulit bukan berarti menafikan rasa sedih atau bersikap pasrah tanpa usaha. Islam justru mengajarkan umatnya untuk tetap berikhtiar, berdoa, dan mencari jalan keluar, sembari menjaga prasangka baik kepada Allah. Setiap ketentuan-Nya diyakini mengandung hikmah, baik sebagai penghapus dosa, sarana peningkatan derajat, maupun bentuk perlindungan dari keburukan yang tidak diketahui.
Ferdy menyampaikan, terdapat tiga tingkatan syukur dalam Islam. Pertama, syukur dengan hati, yakni menerima dan ridha terhadap ketentuan Allah. Kedua, syukur dengan lisan melalui ucapan alhamdulillah dan memperbanyak zikir. Ketiga, syukur dengan perbuatan, yaitu memanfaatkan nikmat Allah untuk ketaatan dan kebaikan, baik melalui ibadah, sedekah, maupun perbaikan diri.
Menutup kultumnya, Ferdy mengajak jamaah membiasakan kalimat “Alhamdulillah ‘ala kulli hal” sebagai bentuk syukur dalam setiap keadaan. Ia menegaskan bahwa orang yang bersyukur akan memiliki hati yang lebih tenang dan jiwa yang lapang karena meyakini bahwa Allah selalu membersamainya.