Fakhri, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Arab Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) angkatan 2024, menyampaikan tausiah bertema makna cinta dalam Islam dalam kuliah tujuh menit (kultum) di Masjid Agung Al Azhar.
Dalam tausiahnya, Fakhri mengajak jamaah untuk merenungkan hakikat cinta dari perspektif Islam. Ia menjelaskan bahwa cinta merupakan fitrah yang ditanamkan Allah SWT dalam hati setiap manusia. Namun demikian, Islam tidak memaknai cinta semata sebagai perasaan, melainkan sebagai amanah yang menuntut tanggung jawab dan ketaatan kepada Allah. Hal inilah yang menjadi pokok bahasan dalam kultum bertema “Cinta dalam Islam: Antara Perasaan dan Tanggung Jawab.”
Fakhri menyampaikan bahwa Islam mengakui cinta sebagai naluri manusia, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 14 tentang kecintaan manusia terhadap berbagai hal duniawi. Meski demikian, ia menekankan bahwa ukuran cinta dalam Islam bukan terletak pada besarnya perasaan, melainkan pada bagaimana cinta tersebut dijaga agar tetap berada dalam koridor yang diridhai Allah SWT.
Untuk memperkuat pesannya, Fakhri mengutip pendapat Imam Ibnul Qayyim yang menyatakan bahwa cinta merupakan dasar dari setiap amal. Menurutnya, apabila cinta yang bersemayam di hati adalah cinta yang benar, maka amal perbuatan pun akan mengarah pada kebaikan. Sebaliknya, cinta yang tidak dibingkai dengan iman dan tuntunan syariat berpotensi menjerumuskan manusia pada kesalahan.
Ia juga menegaskan bahwa cinta sejati selalu diiringi dengan ketaatan, sebagaimana firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 31 yang menegaskan bahwa bukti mencintai Allah adalah dengan mengikuti Rasulullah SAW. Di akhir kultum, Fakhri meneladankan kisah cinta Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra yang dijalani dengan kesederhanaan dan kehormatan melalui pernikahan.
Melalui kultum tersebut, jamaah diajak untuk meluruskan makna cinta agar tidak sekadar menjadi emosional, melainkan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.