Ramadhan kerap dimaknai sebagai bulan menahan lapar dan haus. Namun di balik pengalaman fisik itu, puasa sesungguhnya bergerak di wilayah yang lebih luas, menyentuh cara manusia membangun makna, merespons simbol, serta mengolah pengalaman batin. Dari sudut pandang semiotika kognitif, puasa tidak hanya dijalani tubuh, tetapi juga dipahami melalui tanda, bahasa, dan proses mental.

Semiotika kognitif sendiri merupakan bidang kajian yang menelaah bagaimana makna terbentuk melalui interaksi antara sistem tanda dan cara kerja pikiran. Pendekatan ini mempertemukan semiotika, yang mengkaji simbol dan representasi, dengan ilmu kognitif, yang mempelajari proses mental manusia. Kajian ini menjadi bagian dari ranah ilmu yang dipelajari di Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris Universitas Al-Azhar Indonesia.

Ketua Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris Universitas Al-Azhar Indonesia, Thafhan Muwaffaq, S.S., M.A., melihat puasa sebagai pengalaman yang sejak awal sudah terbingkai dalam struktur kognitif. Seorang Muslim, sadar atau tidak, telah memiliki gambaran mental tentang Ramadhan. Ada pengetahuan yang tersusun di kepala tentang sahur, berhenti makan dan minum saat Subuh, menjalani hari dengan berbagai bentuk pengendalian diri, hingga berbuka di waktu Maghrib dan menutup malam dengan tarawih.

“Sebagai Muslim, kita punya pengetahuan tentang ibadah puasa di bulan Ramadhan, dan pengetahuan itu sifatnya skematik,” jelasnya. Skema tersebut terbentuk dari pengalaman yang diwariskan keluarga, pendidikan, hingga lingkungan sosial. Puasa dengan demikian bukan sekadar dijalani, tetapi juga dimaknai melalui pola konseptual yang telah tertanam dalam pikiran.

Di titik ini, puasa memperlihatkan wajahnya sebagai praktik yang bersifat kultural. Ia hidup sebagai bagian dari budaya yang ditransmisikan lintas generasi. Tradisi, kebiasaan, hingga ritme sosial Ramadhan memperkuat pemahaman kolektif tentang bagaimana bulan suci ini dijalani. Meski demikian, makna puasa tidak selalu berhenti pada ranah bersama. Ada ruang personal di mana individu menambahkan lapisan interpretasinya sendiri.

Bagi sebagian orang, Ramadhan menjadi momen memperbaiki kualitas diri. Puasa dimaknai sebagai latihan kesabaran, penguatan iman, atau jeda reflektif dari rutinitas harian. Nilai religius yang melekat padanya berpadu dengan pengalaman batin yang unik pada tiap individu. Dalam sudut pandang semiotika kognitif, proses ini menunjukkan bagaimana pengalaman spiritual dibangun melalui interaksi antara pengetahuan, simbol, dan pengalaman personal.

Makna tersebut juga dibentuk oleh simbol yang hadir sepanjang Ramadhan. Atribut seperti baju koko, sarung, hingga visual bernuansa Islami dalam iklan dan media menjadi tanda yang memperkaya asosiasi masyarakat terhadap puasa. Simbol tidak identik dengan puasa itu sendiri, tetapi berperan sebagai representasi yang menghubungkan pengalaman ibadah dengan ekspresi budaya. “Simbol itu sesuatu yang mewakili hal lain,” ungkap Thafhan. Kehadiran simbol bukan kewajiban, melainkan lahir dari keterkaitan yang dibangun dalam kehidupan sosial. Simbol membantu menciptakan suasana, identitas, sekaligus persepsi kolektif tentang Ramadhan.

Selain simbol, kebiasaan baru kerap lahir mengikuti ritme puasa. Aktivitas seperti mengaji di masjid atau memperbanyak ibadah sering menjadi pilihan ketika rutinitas harian berubah. Keterbatasan yang muncul di siang hari Ramadhan mendorong individu mencari bentuk kegiatan yang terasa selaras, baik secara spiritual maupun sosial. Kebiasaan ini memperlihatkan bagaimana makna puasa diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.

Bahasa pun memiliki peran penting dalam membingkai pengalaman puasa. Ungkapan seperti “menahan diri” dan “sabar” memperluas pemahaman tentang puasa, dari sekadar tidak makan dan minum menjadi pengendalian emosi dan dorongan. Seiring waktu, konsep-konsep tersebut membentuk cara individu menjalani Ramadhan dengan kesadaran yang lebih kaya.

Pengalaman lapar dan haus menghadirkan dimensi reflektif yang kuat. Kondisi ini mempertemukan manusia dengan rasa keterbatasan, sesuatu yang jarang disadari dalam keseharian. Dari sana, puasa membuka ruang empati, rasa syukur, hingga kesadaran spiritual yang lebih dalam. Rasa yang awalnya fisik berubah menjadi pengingat makna.

Pengalaman yang berulang setiap tahun juga memperkaya makna Ramadhan secara kolektif. Individu tidak hanya mengingat sensasi berpuasa, tetapi juga menyaksikan bagaimana orang lain menjalaninya. Ada proses saling mengamati, menyesuaikan, bahkan meniru, yang perlahan membentuk pemahaman sosial tentang puasa dan nilai-nilai yang menyertainya.

Kaprodi Bahasa dan Kebudayaan Inggris UAI mengajak mahasiswa memandang puasa sebagai latihan mengelola diri. Pengalaman berpuasa dapat dianalogikan dengan perjalanan akademik karena sama-sama menuntut disiplin, kesadaran, serta kemampuan meregulasi dorongan. “Puasa itu bisa dimaknai sebagai cara melatih self regulatory skill,” ungkapnya.

Ramadhan akhirnya hadir bukan sekadar sebagai bulan ibadah, tetapi juga sebagai ruang pemaknaan. Puasa menghubungkan tubuh, pikiran, bahasa, dan budaya dalam satu pengalaman yang terus diperbarui dari tahun ke tahun.