Penulis : Rijal Arslan, S.E., M.M., Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Al-Azhar Indonesia
Sudah banyak teori-teori tentang pengelolaan keuangan yang disampaikan baik dari tulisan maupun melalui content-content di sosial media yang pasti pembaca maupun penikmatnya juga sudah mengerti, namun pertanyaannya mengapa masih banyak yang belum bisa mempraktikannya dengan baik? mungkin karena terlalu banyaknya informasi yang diterima terutama yang paling sering beredar adalah informasi mengenai bagaimana caranya menjadi cepat kaya.
Jika melihat teori-teori ekonom terdahulu, sebenarnya banyak yang bisa diaplikasikan dengan sedikit improvisasi pengalaman pribadi. Dalam Islam kita memahami jika hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka kita termasuk orang yang beruntung, begitu pula sebaliknya, jika lebih buruk dari hari sebelumnya maka kita termasuk orang yang merugi. Dimana dalam konsep tersebut pasti setiap orang ingin menjadi bagian yang beruntung, sehingga perlu diminimalisir kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan dalam mengelola keuangan, minimal keuangan pribadi maupun rumah tangga.
Pada momen lebaran ini, pendapatan setiap bulan yang biasanya hanya sebesar 1x gaji meningkat minimal 100% atau lebih. Perlu dibuat perencanaan yang baik agar penghasilan yang besar dapat digunakan secara efektif dan dapat memenuhi seluruh kebutuhan yang ada.
Pada praktiknya kita bisa mengadopsi teori memegang uang tunai yang dipopulerkan oleh john maynard keyness yang sedikit diimprovisasi sebagai cara pengelolaan keuangan secara Islami.
Terdapat 3 tahapan motif yaitu motif transaksi, berjaga-jaga dan spekulasi yang bisa digunakan sebagai urutan penggunaan uang. Kesalahan yang sering terjadi adalah ketiga motif tersebut telah terpenuhi oleh setiap orang, namun urutannya kadang berantakan. Urutan yang sesuai akan menjaga uang kita tetap dapat terkelola dengan baik.
Jika diaplikasikan dengan cara Islami, maka motif tersebut dapat ditambahkan motif agama di urutan paling awal yaitu dalam bentuk zakat, saat pendapatan tersebut masuk, tentunya hal pertama yang perlu dikeluarkan adalah zakat penghasilan. Dalam kaitannya dengan ramadhan dan idul fitri atau lebaran maka ditambahkan dengan zakat fitrah maupun zakat maal.
Urutan berikutnya adalah motif transaksi, dalam motif ini, pengeluaran yang biasa dilakukan adalah membeli pakaian baru, pengeluaran buka bersama dan puncaknya adalah war tukar uang receh untuk dibagikan ke anak-anak maupun keponakan saat Idulfitri. Tentunya pengeluaran-pengeluaran musiman tersebut harus juga tetap menjaga pengeluaran transaksi bulanan yang biasa dilakukan, seperti pengeluaran makan sehari-hari, pendidikan maupun transportasi.
Jika dari pengeluaran-pengeluaran tersebut masih terdapat surplus, maka bisa masuk ke motif kedua, yaitu motif berjaga-jaga, motif berjaga-jaga ini bisa berbentuk komitmen maupun kontinjen. Pengeluaran motif berjaga-jaga komitmen yaitu pengeluaran berjaga-jaga yang sudah terjadwal, seperti tabungan untuk persiapan uang tahunan sekolah anak, persiapan bayar sewa tempat tinggal maupun persiapan bayar pajak kendaraan, sedangkan berjaga-jaga kontinjen merupakan pengeluaran yang tidak terjadwal, seperti sakit maupun kecelakaan, pengeluaran tidak terjadwal ini dapat dicover oleh pengeluaran membeli asuransi, baik asuransi ekonomis (BPJS Kesehatan), maupun asuransi yang dibayar full sendiri, tergantung kebutuhan. Tidak ada hal spesifik lebaran pada motif berjaga-jaga ini.
Jika setelah motif ini masih juga terdapat surplus, baru bisa mendapat tiket ke motif selanjutnya, yaitu motif spekulasi, atau lebih mudah disebut investasi. Disinilah kesalahan sering terjadi, banyak orang menggunakan dana motif-motif sebelum ini untuk dimasukan ke investasi.
Padahal urutan motif spekulasi ini ada di urutan terakhir, sehingga sering didengar istilah berinvestasilah dengan uang dingin, maksudnya adalah uang yang tersisa setelah seluruh kebutuhan dari motif-motif di atas terpenuhi.
Dengan teraturnya urutan pengeluaran yang dilakukan, diharapkan pengelolaan keuangan akan semakin baik, sehat, dan sustainable.
Namun meski telah dilakukannya semua perencanaan di atas, bukan berarti kita bisa langsung menjadi crazy rich, old money maupun dapat menjalankan kehidupan slow living, namun setidaknya dengan penerapan ini, dapat menumbuhkan rasa syukur maupun rasa cukup yang mampu menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang Allah SWT dalam mencari kekayaan.