Jakarta, 29 Oktober 2025 — Rangkaian Forum Budaya UEA 2025 “UAE as the Bridge of Arabic Language to the World” yang diselenggarakan oleh Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) bersama Kedutaan Besar Uni Emirat Arab (UEA) berlanjut ke hari kedua dengan sesi sharing dan diskusi interaktif bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Uni Emirat Arab.”
Mengenal Uni Emirat Arab bersama Alumni Mahasiswa UEA
Sharing session ini disampaikan oleh para narasumber yang merupakan alumni universitas di UEA, yaitu Muhammad Mualfi Fahrul Fanani, B.A., Faiz Ilyas Mukhtar, B.Sc., Muhamad Paisal Akbar, B.A., dan Amirah Husein Ahmad, B.A. Mereka saling berbagi pengalaman menempuh pendidikan di negeri Teluk tersebut. Menurut mereka, UEA bukan hanya dikenal lewat ikon-ikon modern seperti Dubai dan Burj Khalifa, tetapi juga melalui komitmennya dalam mengembangkan pendidikan, kebudayaan, dan inovasi global.
Para narasumber menjelaskan bahwa sejarah berdirinya Uni Emirat Arab dimulai pada 2 Desember 1971, ketika enam dinasti sepakat membentuk satu negara, yaitu Abu Dhabi, Dubai, Sharjah, Fujairah, Umm Al-Quwain, dan Ajman. Kemudian pada 10 Februari 1972, Ras Al-Khaimah bergabung sebagai emirat ketujuh. Abu Dhabi menjadi ibu kota negara, sementara Sharjah dikenal sebagai pusat kebudayaan dan pendidikan.
Culture Shock di UEA
Dalam sesi ini, mereka menggambarkan sistem pendidikan di UEA yang modern, tertib, dan multikultural, di mana berbagai bangsa hidup berdampingan dengan harmonis. Para narasumber juga memperkenalkan tradisi khas khushmak atau salam hidung yang melambangkan rasa hormat dan keakraban dalam budaya Arab. Mereka menambahkan bahwa pemisahan aktivitas pria dan wanita di UEA justru menciptakan rasa aman serta menjaga privasi perempuan.
Selain berbagi pengalaman kehidupan di sana, para alumni menjelaskan bahwa setiap wilayah di Uni Emirat Arab memiliki keunggulan pendidikan tersendiri. Abu Dhabi dikenal dengan bidang perminyakannya, Dubai unggul dalam teknologi dan kecerdasan buatan (AI), sedangkan Sharjah menjadi pusat pendidikan dan kebudayaan. Mereka juga memberikan informasi praktis mengenai tata cara pendaftaran kuliah dan peluang beasiswa di universitas-universitas UEA, serta mendorong peserta untuk mengenal lebih dalam kehidupan akademik melalui kegiatan dan media sosial Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) UEA.
Penutup dari Duta Besar UEA dan Pengumuman Lomba
Duta Besar UEA untuk Indonesia, H.E. Abdulla Salem Al Dhaheri, menyampaikan kata penutup dengan memberikan apresiasi kepada Rektor, dosen, serta seluruh mahasiswa UAI atas terselenggaranya forum ini.“Saya berharap acara ini dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan dan penyebaran bahasa Arab yang sangat indah dan luar biasa,” ujar Al Dhaheri.
Usai sesi penutupan, acara dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba yang telah diselenggarakan selama dua hari. Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia, Prof. Dr. Widodo Muktiyo, bersama Duta Besar Uni Emirat Arab, H.E. Abdulla Salem Al Dhaheri, menyerahkan secara langsung hadiah dan piagam penghargaan kepada para pemenang.
Selain sesi berbagi inspiratif, hari kedua Forum Budaya UEA 2025 turut dimeriahkan dengan penampilan Tari Melayu dan pertunjukan Angklung dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UAI.
Forum Budaya UEA 2025 menjadi ajang penting untuk mempererat hubungan diplomatik, budaya, dan akademik antara Universitas Al-Azhar Indonesia dan Uni Emirat Arab.
- Mengenal Uni Emirat Arab
- Mengenal Uni Emirat Arab
- Mengenal Uni Emirat Arab
- Mengenal Uni Emirat Arab
- Mengenal Uni Emirat Arab
- Mengenal Uni Emirat Arab
- Mengenal Uni Emirat Arab
- Mengenal Uni Emirat Arab
- Mengenal Uni Emirat Arab








