Ramadhan tahun 2026 ini menjadi spesial bagi Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Al-Azhar Indonesia dengan hadirnya kegiatan RealHIji (Realita HI dan Jati Diri) yang diselenggarakan oleh Laboratorium HI berkolaborasi dengan Korps Mahasiswa HI (KOMAHI) sebagai ruang diskusi yang mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an dan korelasinya dengan studi Hubungan Internasional. Kegiatan ini dilaksanakan di sela-sela kegiatan perkuliahan secara bauran (hybrid) dengan sesi luring di Yahya A. Muhaimin Room dan daring melalui Zoom Meeting selama sembilan hari pada 2 Maret-12 Maret 2026 yang secara resmi dibuka oleh Kaprodi HI UAI, Ramdhan Muhaimin, M.Soc.Sc.
RealHIji mengusung tema utama yang menghubungkan ajaran Al-Qur’an dengan konsep 3S (State, Self, and Soul). Dengan tujuan untuk mengingatkan kita bahwa dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan, baik pada tingkat individu maupun dalam konteks global, identitas sebagai seorang Muslim perlu senantiasa tertanam dalam diri. Nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an diharapkan dapat menjadi kompas utama dalam menavigasi kehidupan serta memahami berbagai fenomena global.
Kegiatan ini menghadirkan para Dosen HI UAI sebagai narasumber, di antaranya Yuherina Gusman, Ph.D., Dr. Ujang Komarudin, M.Si., Dr. Rizal A. Hidayat, M.M., Ramdhan Muhaimin, M.Soc.Sc., Syafiuddin Fadlillah, M.Si., Wildan Faisol, M.Si., Dr. Heri Herdiawanto, M.Si., Yusy Widarahesty, Ph.D., dan R. Mokhamad Luthfi, M.Si. Di setiap sesi diskusi, narasumber menyampaikan paparan materi secara padat dan bermakna. Dalam pemaparannya, para Dosen turut menyoroti pentingnya perspektif Islam dalam memahami berbagai isu global. Perspektif ini diharapkan dapat menjadi bekal penting bagi Mahasiswa HI UAI dalam memperkuat kemampuan analisis serta mengembangkan kapasitas riset selama menempuh studi.
Salah satu isu yang turut dibahas selama sesi diskusi RealHIji adalah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Para narasumber menekankan bahwa Mahasiswa HI UAI perlu bersikap kritis dalam memahami perkembangan isu tersebut dengan melakukan kajian yang komprehensif, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi atau hoaks. Isu lain yang turut menjadi perhatian dalam diskusi adalah Board of Peace (BoP). Dalam pemaparannya, narasumber menganalogikan BoP sebagai bentuk solidaritas yang perlu dicermati secara kritis. Hal ini merujuk pada kemungkinan adanya solidaritas yang tampak kuat dan kompak di luar, namun pada kenyataannya memiliki pondasi yang kurang kokoh di dalamnya. Oleh karena itu, narasumber menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menilai suatu bentuk solidaritas. Salah satu cara untuk memahami hal tersebut adalah dengan menelaah kembali tujuan, nilai, anggota yang ada di dalam serta arah gerak dari komunitas atau entitas yang bersangkutan.
Sebagaimana yang dicontohkan oleh narasumber, BoP memiliki tujuan awal untuk membela hak kemanusiaan dan perdamaian yang ada di dunia termasuk fokusnya di Palestina. Namun, dalam perkembangannya negara pendiri BoP justru melakukan serangan dan bertentangan dengan semangat kemanusiaan. Kondisi ini menunjukan kontradiksi antara tujuan yang awalnya ingin dicapai dengan praktik yang dijalankan komunitas tersebut. Melalui kegiatan RealHIji ini, diharapkan tercipta ruang dialog yang mempertemukan nilai-nilai spiritual dengan pemahaman akademik, sehingga Mahasiswa HI UAI tidak hanya mampu menganalisis berbagai isu global secara kritis, tetapi juga tetap berpegang pada nilai-nilai moral yang bersumber dari Al-Qur’an.









