Penulis : Dr. Fokky Fuad, S.H., M.Hum., Dekan Fakultas Hukum Universitas Al-Azhar Indonesia
Perempuan bukan sebatas bentuk tubuh fisik yang membedakannya dengan laki-laki. Diksi kata perempuan sendiri terambil dari kata empu atau yang dituankan, yang dimuliakan. Jika sebelumnya digunakan diksi kata wanita yang bermakna wani ditata, harus mau diatur, kini kata perempuan menunjukkan kekuatan dan peran.
Perempuan bukan semata sosok yang dikendalikan oleh laki-laki dan tunduk pada segenap aturan patriaki. Perempuan juga pembangun peradaban umat manusia. Perempuan menjadi tulang punggung pembangun bangsa melalui pendidikan yang ia berikan pada anak-anaknya.
Tidak dapat dipungkiri sebuah kenyataan bahwa Ibu adalah tempat pertama kali anak-anak menerima pendidikan. Seorang Ibu adalah sosok yang pertama kali menanamkan nilai-nilai kepada anak-anaknya. Tidak ada seorang Ibu pun yang akan menanamkan keburukan bagi anaknya. Disinilah seorang anak menerima segala yang ia ketahui untuk pertama-kalinya.
Dalam sejarah Mesir Kuno, Ratu Cleopatra (69-30 SM) menjadi seorang ratu yang ikonik. Ia menguasai ilmu matematika, astronomi, kedokteran, dan fasih dalam beberapa bahasa. Dengan keahliannya ia mampu membangun kekuatan Negeri Mesir dan bahkan menjalin aliansi dengan Romawi (nationalgeographic.grid.id., 2023).
Dalam sejarah peradaban Nusantara perempuan telah mengambil peran publik. Ratu Sima dari Kerajaan Kalingga merupakan salah satu pemimpin perempuan yang tersohor dalam sejarah. Ia yang hidup di era Kenabian Muhammad Saw merupakan seorang Ratu yang sangat tegas dan adil dalam memerintah Kerajaannya. Ia menjadikan Kerajaan Kalingga menjadi pusat perdagangan dengan menjadikan Jepara sebagai pusat pertemuan para pedagang dari berbagai belahan dunia (cnbcindonesia.com, 2025).
Hadirnya Laksamana Malahayati dengan pasukan Inong Balee menjadi bukti sebuah peran aktif perempuan dalam melawan kehadiran kaum imperialis Portugis hingga Belanda.
Pasukan Inong Balee merupakan pasukan yang beranggotakan para janda syuhada yang gugur menghadapi kolonialisme. Laksamana Malahayati beritikad membentuk pasukan tempur yang terdiri dari para janda tersebut. Pasukan ini menjadi salah satu pasukan yang menakutkan Portugis.
Dengan kekuatan mencapai 2000 perempuan mampu mengendalikan 100 kapal perang dan terlibat dalam pertempuran fisik melawan Portugis hingga Belanda. Pasukan ini mampu menghancurkan kekuatan armada Belanda bahkan mampu membunuh pimpinannya, yaitu Cornelis de Houtman pada tahun 1599 (detik.com, 2024)
Di Pulau Jawa kegigihan kaum perempuan dalam mengusir imperialisme Belanda hadir dalam sosok Nyi Ageng Serang (1752-1828). Nyi Ageng Serang terlibat dalam membantu Pangeran Diponegoro guna menghancurkan kekuatan Belanda di Jawa.
Dalam usia yang tidak lagi muda yaitu 73 tahun, bersama dengan cucunya, R.M. Papak berhasil menghancurkan kekuatan Belanda di daerah Puwodadi, Semarang, Demak, Kudus, hingga Rembang. Ia merupakan prajurit yang ahli dalam mengatur strategi penyamaran dalam menghancurkan kekuatan Belanda di Jawa Tengah (Vredeburg.id, t.t.).
Dari kisah-kisah di atas tampak bahwa peradaban Nusantara bukanlah sebuah peradaban rendah dan tertinggal. Ia adalah sebuah peradaban yang sangat tinggi yang begitu mendominasi kekuatan di Asia. Yang menarik adalah bahwa tingginya peradaban Nusantara dibuktikan melalui gerak aktivitas kaum perempuannya.
Amerika Serikat sebagai negara yang maju patut mengakui hal ini. Sejak ia merdeka di tanggal 4 Juli 1776 hingga tulisan ini dibuat belum pernah ada satupun kepala negaranya yang berasal dari kaum perempuan. Hal ini jauh berbeda dengan Indonesia yang sejak merdeka telah memiliki kepala negara perempuan yaitu Presiden Megawati Soekarnoputeri.
Penutup
Tuhan menciptakan perempuan bukan sebatas pelengkap kehadiran manusia. Sejak era kenabian hingga imperialisme Eropa, bahkan era moderen perempuan telah menunjukkan peran sebagai sokoguru yang menguatkan bangunan peradaban manusia.
Sumber : RMOL JATENG