Penulis : Dr. Nanang Haroni, S.Ag., M.Si., Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al-Azhar Indonesia
Di dunia seperti apa kita kini berada? Sejauh mana kita menyadari bagaimana seharusnya menjejakkan kaki ketika yang nyata belum tentu realitas? Di era layar gemerlap, kita sering kali merasa dekat satu sama lain, namun sebenarnya tersekat. Media sosial menjanjikan koneksi, tapi tak jarang justru menyemai fiksi. Ada relasi, tapi seringkali sarat basa-basi. Kita bergegas memoles citra di beranda, sementara hangatnya sapa di dunia nyata kian sirna. Tak jarang, hubungan interpersonal menjadi rapuh, penuh prasangka yang sering kali berujung gaduh.
Beruntung, dari 12 bulan yang kita nikmati, Allah SWT memberi kita satu bulan hebat: Ramadhan. Puasa menjeda kita dari hiruk-pikuk ego. Melampaui tahan lapar mendera, ia menjadi penyucian jiwa dari bermacam noda. Misalnya, bahwa tak ada ruang dusta dalam puasa. Jika tak tahan dan akhirnya batal menahan haus sebelum magrib tiba, Anda juga tidak akan tahan mengakui bahwa Anda berpuasa. Percayalah.
Di tengah banjir informasi yang memicu emosi, puasa hadir sebagai rem untuk berhenti sejenak dari kompetisi. Kita diajak untuk menundukkan ego, agar tak selalu merasa paling hebat atau paling jago. Kita menjeda gejolak yang biasa. Ini, serupa tindakan penting dalam fenomenologi yang oleh filsuf Edmund Husserl disebut “Epoche”. Tepatnya, sebuah tindakan menunda penilaian atau bracketing terhadap informasi apapun yang diperoleh.
Kita patut memanfaatkan proses puasa untuk belajar menunda reaksi cepat terhadap peristiwa yang digambarkan media, atau komentar miring di kolom notifikasi. Sebaliknya, kita harus memberi ruang bagi empati untuk tumbuh. Jangan pernah membiarkan jemari diperintah otak yang dikuasai amarah.
Puasa adalah sebuah absurditas yang nyata. Di saat dunia memuja pemuasan tanpa jeda, seorang muslim yang mukmin memilih lapar sebagai kawan bicara. Tubuh dipaksa melawan metabolisme yang biasa, menahan dorongan alami demi makna-makna tak kasatmata. Bahwa di balik raga yang melemah dan letih, tersimpan rahasia yang membuat jiwa kembali jernih.
Secara biologis, tubuh melakukan autofagi—sebuah proses di mana sel memakan bagian yang rusak demi keberlanjutan hidup yang lebih tegak. Namun secara spiritual, puasa adalah bentuk—meminjam istilah Kierkegaard—sebagai Leap of Faith, lompatan iman. Kita meninggalkan logika perut yang berisik, demi mendengar bisikan batin yang lebih intrinsik.
Dalam jeda makan dan minum yang panjang, spirit menemukan cara untuk pulang. Ia memasuki ruang-ruang yang selama ini berdebu dan terabaikan, ruang yang tertutup oleh tumpukan ambisi dan hiruk-pikuk keduniawian.
Ketika lambung mulai sunyi dari santapan, di sanalah hati mulai penuh dengan harapan. Ruang yang dulu sesak oleh ego yang membatu, kini meluas, menyambut hangatnya Sang Satu. Bukan sekadar tentang siapa dan apa yang kita punya, tapi tentang kembali ke fitrah, jauh dari fana. Puasa adalah cara kita berhenti menjadi mesin, lalu belajar kembali menjadi manusia yang batin.
Bahwa dalam lapar yang merambat pelan, ada sabar yang kita tenun perlahan. Dalam haus yang menyiksa raga, ada kasih yang mulai terbuka tangga.
Lalu, Lebaran
Tubuh yang diuji, jiwa yang ditempa, hasrat yang dijeda pada akhirnya seolah diberi hadiah langsung. Idul Fitri. Kita menjadi sesuci bayi. Bersiap dengan catatan baru. Tak akan mudah, tapi itu harapan yang akan selalu dihidupkan setiap Hari Raya Lebaran, sepanjang usia masih tersisa. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Dalam Ar-Rahman, 31 kali Sang Maha Pemberi Nikmat mengulang-tegas ayat ini.
Hari raya mungkin tentang kegembiraan melewati satu bulan yang menantang. Tapi penghayat puasa akan menikmati sebuah paradoks: kebahagiaan sekaligus kesedihan. Para ulama melantunkannya dalam ratap: “Ya Allah, akankah kau beri aku kesempatan untuk bertemu Ramadhan lagi?” Satu bulan yang mendera itu, di ujungnya, dalam iktikaf nan khusyu, akan terasa sebagai hari-hari yang begitu dirindukan sebelum ia berakhir.
Pada akhirnya kita tahu bahwa Lebaran adalah momen krusial untuk mencairkan beku yang kaku. Mungkin di antara kita ada terjebak dalam polarisasi dan sekat yang diciptakan oleh deras, cepat, dan manipulatifnya arus informasi di media. Idul Fitri adalah saatnya kita merapat untuk kembali mengikat. Hubungan yang retak karena perbedaan pilihan atau kata-kata yang tajam, kini saatnya dibasuh dengan maaf tulus dan mendalam.
Buatlah perjumpaan yang otentik, kata filsuf Martin Buber. Hubungan interpersonal yang berkualitas terjadi ketika kita melihat orang lain sebagai subjek yang utuh, bukan sekadar objek di layar yang bisa kita nilai dengan satu sentuhan. Saatnya meningkatkan skil melihat dengan hati: menatap mata tanpa distraksi gawai. Mendengar dengan teliti: menyimak cerita tanpa buru-buru menghakimi. Meminta maaf dengan berani: mengakui salah tanpa mencari-cari alibi.
Membangun hubungan interpersonal pasca-Lebaran adalah tantangan nyata. Jangan biarkan keramahan ini hanya menjadi ritual tahunan yang hampa makna. Kita butuh konsistensi dalam menjaga lisan, agar setiap interaksi tidak meninggalkan goresan luka atau tangisan.
Di dunia yang serba cepat dan instan, kehadiran yang tulus adalah kemewahan. Mari jadikan momen suci ini sebagai fondasi untuk membangun komunikasi yang penuh nutrisi, bukan sekadar mencari validasi di dunia siber yang penuh ilusi.
Maaf bukan sekadar kata di ujung lidah yang menari,
Tapi janji untuk saling menjaga hati setiap hari.
Lebaran adalah awal untuk kembali menjadi sejati,
Menghargai kehadiran manusia di sisi, bukan hanya bayangan di dalam galeri.
Dosa di mana. Dosa kapan. Salah kepad siapa. Lacur karena apa.
Yang teringat di kepala. Atau tiada karena alpa.
Kuminta sepenuh padaMu. Putihkan semua dalam bingkai waktu.
Tuhan. Apalah dayaku. Sekadar tubuh jiwa dalam pelukan ragu.
Terlalu cintaku pada dunia. Terus berharap banyak di Tengah nikmat tak terhingga.
Berserah itu susah. Maka kupikir, Kau nilai apa sujudku terserah.
Aku debu dari debu. Salatku isinya memikirkan ibadahku yang butut.
Atau yang lain. Seringkali setumpuk keinginan yang membubung.
Seurat leher. Sedekat itu jarakMu.
Sejengkal langkah. Lebih panjang dari ketahudirianku.
Takut padaMu, tak jua sedalam takut kehilangan harga diri.
Padahal apalah hargaku, bagiMu.
Hari ini, izinkan kusesapi wangi kasih ibuku.
Dan cinta tanpa syarat keluarga.
Kelak, kami ingin Kembali padaMu
Dengan kegembiraan seperti hari ini.