“Revenge Eating” dan Sahur Mie Instan-Nasi Dituding Biang Kerok ‘Brain Fog’ & Turunnya Produktivitas Kerja Selama Puasa. Ahli Gizi UAI Berikan Solusi ‘Sahur Hack’ Berbasis Sains.
JAKARTA SELATAN, 12 Februari 2026 – Menjelang Ramadan 1447 H, tantangan terbesar masyarakat urban bukan lagi sekadar menahan lapar, melainkan menjaga produktivitas tetap prima di tengah tuntutan hustle culture. Banyak pekerja dan mahasiswa yang mengalami penurunan performa drastis atau brain fog (kabut otak/sulit konsentrasi) di siang hari selama berpuasa.
Menanggapi fenomena ini, Ketua Program Studi Gizi Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Andi Muh Asrul Irawan, S.Gz., M.Si., menegaskan bahwa akar masalahnya bukan pada ibadah puasanya, melainkan pada “kultur kuliner” yang salah kaprah.
Dalam sesi edukasi kesehatan jelang Ramadan hari ini, Andi membongkar kebiasaan-kebiasaan yang dianggap wajar namun justru menjadi “bom waktu” bagi metabolisme tubuh.
Bukan Detoks, Malah “Revenge Eating”
”Secara sains, puasa adalah fase istirahat dan detoksifikasi organ. Masalahnya, mindset kita seringkali ‘balas dendam’ (revenge eating) saat berbuka. Seharian kosong, lalu lambung dihajar mendadak dengan gorengan berminyak, es teh manis kental, hingga makanan bersantan dalam satu waktu,” ujar Andi di kampus UAI, Jakarta Selatan.
Ia menjelaskan, lemak jenuh dari gorengan membutuhkan waktu cerna paling lama. Akibatnya, aliran darah terpusat di sistem pencernaan, menyebabkan pasokan oksigen ke otak berkurang. “Inilah jawaban kenapa banyak yang ‘teler’ atau mengantuk parah saat shalat Tarawih. Itu bukan karena khusyuk, tapi karena begah,” tegasnya.
“Sahur Hack” untuk Kaum Sibuk
Andi juga menyoroti kebiasaan sahur praktis ala anak kos atau pekerja muda: mie instan pakai nasi.
”Ini adalah kombo karbohidrat sederhana dengan indeks glikemik tinggi. Gula darah akan melonjak cepat, lalu anjlok (crash) sekitar jam 10 pagi. Efeknya? Lemas, pusing, dan mood berantakan. Ditambah natrium tinggi dari bumbu yang bikin haus seharian,” jelas Andi.
Sebagai solusi yang realistis bagi masyarakat modern yang sibuk, Andi memberikan beberapa “Sahur & Iftar Hacks” berbasis sains:
- Aturan “Darurat Mie Instan”: Jika terpaksa sahur dengan mie instan, wajib menambahkan protein (telur/tahu) dan serat (sawi/sayuran) sebagai “polisi tidur” agar gula darah tidak melonjak drastis. Kurangi bumbu hingga 50% untuk mencegah dehidrasi.
- Stop “Balas Dendam” Gorengan: Batasi konsumsi gorengan maksimal satu buah saat berbuka hanya sebagai ‘obat kangen’. Utamakan berbuka dengan kurma dan air putih, lalu beri jeda 10-15 menit sebelum makan berat agar otak sempat memproses sinyal kenyang.
- Strategi Hidrasi 2-4-2: Jangan minum sistem “rapel” saat sahur karena akan langsung terbuang lewat urin. Gunakan pola: 2 gelas saat berbuka, 4 gelas dicicil malam hari, dan 2 gelas saat sahur untuk menjaga level cairan tubuh.
- Geser Jadwal Kopi: Hindari kopi saat sahur karena sifat diuretiknya (memicu buang air kecil). Waktu terbaik menikmati kopi saat Ramadan adalah setelah jam makan malam atau usai Tarawih.
”Tujuan kami memberikan edukasi ini adalah agar masyarakat bisa menjalani Ramadhan dengan cerdas, menjaga kesehatan mental dan fisik, serta mencapai produktivitas maksimal. Jangan sampai bulan puasa justru menjadi ajang perburukan kesehatan karena kita hanya menuruti lapar mata, bukan kebutuhan tubuh,” tutup Andi.
Penulis : Andi Muh Asrul Irawan, S.Gz., M.Si., Ketua Program Studi Gizi Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI).